Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 : Sebuah ijin
Keesokannya harinya Serah pergi mencari Louis untuk menagih janji. Ia berjalan menelusuri lorong istana bersama dengan Cristine, sementara gadis-gadis lain tampak sedang menyiapkan sarapan sendiri untuk Serah di kamarnya.
Gadis-gadis itu tampak sibuk di dapur istana untuk menyiapkan sarapan sang putri. Khusus hari itu Brigatte diminta oleh Cristine untuk mengatur semua sarapan. Dia pun memilih teh dan roti panggang manis untuk sang putri, dan dilanjutkan ia meminta pada juru masak istana untuk membuat telur rebus, beberapa slice daging sapi panggang, tomat dan brokoli yang juga dipanggang, sup bubur jagung manis dan satu mangkuk potongan pisang segar.
Sementara itu Serah yang mengunjungi ruang kerja Louis mendapati pria itu sedang berbicara dengan William. Keduanya berhenti sesaat setelah melihat Serah masuk. William dengan cepat membungkuk memberikan hormat kepada Serah.
"Putri Serah...?" Louis pun segera beranjak menghampiri Serah yang berjalan ke arahnya.
"Selamat pagi, Yang mulia," ucap Serah sambil membungkuk, begitu pun Cristine yang ada di belakangnya.
"Ada keperluan apa pagi-pagi sekali sudah mencari ku?" Tanya pria itu pura-pura senang saat melihat Serah.
"Saya datang untuk menanyakan soal janji anda dengan Tuan Comwell, sekaligus untuk meminta ijin kembali ke Regina."
"Kembali ke Regina? Untuk apa?"
Raut wajah pria itu menjadi gusar. Sepertinya ia keberatan kalau Serah ingin pergi ke Regina sekalipun tempat itu adalah Kerajaan sang Ratu sendiri, tempat di mana ia berasal dan dibesarkan.
"Ada beberapa hal yang harus saya urus, terutama pengaturan bantuan logistik," jawab Serah menunjukkan keseriusan dan konsistensi ucapannya pada acara rapat kemarin.
"Serah, kau bisa mengirim pesan dari sini ke Regina untuk memberi perintah, tak perlu kembali ke Regina," balas Louis. Pria itu langsung berbalik membelakangi Serah dan berjalan kecil menjauhinya.
"Tapi saya ingin memastikan semua berjalan dengan melihatnya sendiri, apa saya tidak memiliki kebebasan untuk itu? Saya gak ingin dicap hanya sekedar memberi janji palsu." Serah mendesak, kata-katanya tajam di akhir kalimat. Cristine terdiam dengan sedikit rasa takut, lalu William diam-diam melirik ke arah Louis yang masih memunggungi. Dia tau Raja itu sedang marah.
Louis menggeram pelan, nyaris tak terdengar. Namun, kemudian ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sambil mendongak ke atas untuk menjaga kontrol emosi.
"Baiklah, kalau itu yang diinginkan, saya akan memberikan anda ijin," ujarnya sambil menghadap ke belakang kembali. Perlahan ia mendekati Serah dengan tatapan penuh intimidasi, "tapi ingat, anda tidak boleh berada di luar lebih dari satu minggu," lanjutnya berbicara dengan nada rendah dan intens tepat di sebelah telinga Serah yang terdiam merasakan hembusan napas kasar sang Raja yang kasar namun dingin menusuk seperti sebuah ancaman nyata.
"Saya mengerti, Yang mulia...," balas Serah lalu menoleh ke samping memberi tatapan tajam yang juga begitu intens. Seolah ia tak takut dengan peringatan dari Louis.
Lelaki itu terhenyak mendapati sikap Serah yang berbeda. Pandangan wanita itu tampak dingin. Ini sungguh berbeda dari Serah yang ia kenal sebelumnya. Dulu Serah menatapnya dengan rasa kagum, harapan juga tersirat kehangatan cinta. Sekarang, rasanya berbeda dan membuat Louis tak nyaman. Sorot mata itu seolah ingin menegaskan kekuatan dan kecerdasan yang dimiliki oleh sang Ratu dari kerajaan kecil yang ingin dikuasainya itu.
"Kapan anda akan berangkat?" Tanya Louis kembali mengatur diri.
"Siang ini, Yang mulia," jawab Serah dengan mengukir senyum tipis pada bibirnya yang merona.
"Aku akan meminta William untuk mengatur keberangkatan juga keperluan mu di jalan, juga janji dengan Tuan Comwell," ucap Louis pada akhirnya, lalu melirik ke arah sang penasehat.
"Saya akan segera menyiapkan semua keperluan Yang mulia." William pun langsung merespon. Tubuhnya membungkuk dalam, lalu setelahnya ia pergi meninggalkan ruangan untuk melaksanakan perintah.
"Terimakasih, Yang mulia, anda sungguh Raja yang baik hati dan pengertian," balas Serah mengukir senyum lebar, "kalau begitu saya juga akan undur diri," lanjutnya kemudian membungkuk di hadapan Louis yang diikuti oleh Cristine.
Namun, ketika ia hendak berbalik dan pergi, Louis menangkap lengannya secara tiba-tiba.
"Putri Serah, sepertinya anda lupa sesuatu," ucap Louis kemudian menarik wanita itu mendekat ke arah dirinya.
"Ya-Yang mulia...?" Serah terlihat terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari Louis.
"Kau tidak ingin mencium ku, Putri Serah?" Ucap Louis setengah berbisik dengan intens sambil mendekatkan tubuh Serah ke dalam pelukannya.
Serah yang merasa terkurung dalam penguasaan Louis mencoba untuk tidak panik dan mengontrol diri.
Begitu Louis mendekatkan wajahnya, Serah dengan lembut mengusap wajah pria itu dengan tersenyum sambil berkata, "ternyata Yang mulia bisa menawarkan diri seperti itu."
Ucapan Serah membuat Louis yang hampir menciumnya berhenti. Napasnya tertahan dan ekspresinya mengeras. Sementara Cristine yang menunggu sang Ratu di ambang pintu langsung berdebar. Ia bersiap untuk menunduk kalau sampai Raja Louis mau mencium Putri Serah.
Serah melihat perubahan Louis, tapi ia bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa. Ia berusaha mendekatkan diri ke Louis. Tapi pria itu langsung menolak.
"Lebih baik anda segera kembali ke ruangan dan persiapkan keberangkatan," ucapnya dengan datar. Sikapnya menjadi dingin. Ia melepaskan pelukannya dari Serah dan mundur menjauhi dari Serah.
"Baik, Yang mulia," balas Serah sempat sedikit melirik untuk melihat ekspresi kesal Louis dan mengulas senyum tipis.
Akhirnya wanita itu berjalan meninggalkan ruangan kamar Louis bersama dengan Cristine yang masih sedikit gugup.
.
.
Serah berjalan keluar sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perasaan lega. Cristine diam-diam memperhatikan sikap Serah dan mengernyit heran, kenapa sang Ratu malah terlihat seperti orang yang baru saja diselamatkan dari predator. Namun, ia memutuskan untuk diam dan menyimpan misteri itu dalam hati.
Saat itu, tanpa sepengetahuan Serah, Helena diam-diam memperhatikan dari sisi lorong lain. Begitu melihat Serah sudah tak kelihatan bersama dengan Cristine, gadis muda itu bergegas, berlari menyelinap ke ruangan kamar Louis.
"Yang mulia!" Helena membuka pintu kamar dan memanggil Louis yang terlihat masih merasa gelisah karena memikirkan sikap Serah.
"Helena?" Ia terkejut melihat kedatangan gadis itu. "Cepat tutup pintunya!" Ujar Louis yang langsung menurunkan nada suaranya tapi masih cukup terdengar.
Helena tersenyum simpul lalu menutup pintu itu rapat-rapat. Setelahnya ia berbalik dan berlari kecil dengan senyuman senang di wajahnya.
"Yang mulia, aku sangat merindukan mu!" Ujar Helena tanpa malu dan ragu langsung memeluk tubuh Louis dengan begitu erat.
"Ah, Helena, jangan seperti ini...." Namun Louis memberikan sikap yang berbeda. Ia segera melepas pelukan Helena dan menghindarinya.
"Yang mulia, ada apa?" Gadis itu menatap heran dengan sikap tak biasa dari sang Raja.
"Tak ada, aku hanya sedang berpikir," balas Louis yang sebenarnya terlihat jelas mood nya sedang tidak baik. Saat ini ia justru sedang merasa penasaran dengan sikap Serah yang membuatnya merasa tertarik.
"Bagaimana dengan tugasmu, apa kau sudah menemukan buku-buku itu?" Tanyanya dengan tajam.
"Aku..., soal itu aku belum bisa mendapatkannya Yang mulia...," jawab Helena ragu-ragu karena ia takut membuat Louis marah.
"Itu karena kau terlalu banyak bermain-main!" Louis mendengus kasar dan menegur Helena dengan keras.
"Tapi itu bukan salahku!" Helena langsung melawan. "Salahkan saja calon Ratumu yang tidak memilihku sebagai kepala pelayan pribadi nya!" Helena tak membuang kesempatan untuk mengadu soal ini. Ia melakukan protes keras. "Aku juga harus terjebak dengan Beatrice dari pagi hingga jam makan siang hanya untuk mempelajari tata krama!" Helena melipat tangan di dada dan mengalihkan wajahnya ke samping dengan raut kesal.
"Hentikan sikapmu itu, dan belajarlah serius dengan Lady Beatrice," ujar Louis penuh dengan tekanan. Helena yang terbentuk dengan sikap dingin pria itu segera mengatur diri. Ada rasa cemas yang mendadak menyusup ke hatinya. "Soal Serah, aku akan coba membicarakannya nanti," lanjutnya dan mulai merasa wanita itu menyadari kehadiran Helena adalah untuk mata-mata.
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib