Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lorong Obsidian dan Kematian Bisu
Transisi dari hutan hujan tropis yang mendidih ke dalam mulut piramida megalitikum itu terasa seperti melangkah menembus dinding es.
Suhu udara anjlok nyaris lima belas derajat dalam hitungan detik. Kelembapan yang tadinya mencekik paru-paru lenyap, digantikan oleh udara kering, steril, dan berbau debu batu yang telah terkurung selama ribuan tahun. Tidak ada suara serangga. Tidak ada kicauan burung. Bahkan gema langkah kaki mereka seolah ditelan oleh dinding-dinding batu hitam pekat di sekeliling mereka.
Kolonel Rayyan Aksara menurunkan kacamata Night Vision binar matanya. Di bawah pendar hijau dari lensa tersebut, lorong piramida itu terlihat lurus, menurun tajam ke perut bumi, dan dibangun dari balok-balok batu obsidian murni yang di potong dengan presisi laser.
“Tidak ada ukiran. Tidak ada relief pencitraan,” bisik Lyra di belakang Rayyan, mengarahkan senter bahunya yang diredupnya ke dinding yang sehalus kaca gelap. Suaranya bergetar karena transisi suhu yang ektrem. “Candi Dieng dibangun untuk memuja. Tempat ini… tempat ini dibangun murni untuk brankas raksasa. Atau sebuah penjara.”
Rayyan mengangkat tangannya, mengepalkan tinju. Formasi berhenti.
Hidung Rayyan yang terlatih menangkap aroma yang sangat tidak sinkron dengan debu purba. Aroma itu amis, manis dan berkarat.
Darah segar.
“Perimeter rapat. Senjata siap,” desis Rayyan melalui radio internal yang di setel ke volume paling minim.
Ia memandu timnya melangkah sangat perlahan, menempel pada dinding sebelah kanan lorong. Sekitar dua puluh meter menuruni lorong gelap tersebut, cahaya senter mereka menangkap sebuah gundukan di atas lantai batu.
Itu adalah sesosok tubuh manusia,
Pria itu mengenakan seragam taktis loreng gurun—seragam tentara bayaran yang sama dengan yang mereka temui di Dieng. Posisinya tertelungkup dengan anggota tubuh tertekuk pada sudut yang tidak wajar.
Dito maju perlahan, menodongkan senapannya, sementara Jati mengamankan sudut depan. Rayyan menarik Lyra agar tetap berada di balik punggungnya saat mereka mendekati mayat tersebut.
“Clear,” lapor Dito pelan. Prajurit itu berjongkok, membalikkan tubuh mayat itu menggunakan laras senapannya.
Lyra membuang muka, menggigit bibir bawahnya keras-keras menahan mual. Wajah tentara bayaran itu membengkak ungu kehitaman, pembuluh darah di matanya pecah, dan dari sela-sela pelat rompi anti-pelurunya, tertancap tiga buah proyektil batu runcing seukuran jarum rajut.
“Bukan peluru,” gumam Rayyan, matanya memicing menganalisis proyektil itu tanpa menyentuhnya. “Panah batu. Terlontar dengan kecepatan sangat tinggi. Racun neurotoksin.”
“Teman-temannya meninggalkannya begitu saja,” Jati mendengus jijik, menyorotkan senternya ke arah lantai di depan mereka. “Kolonel, lihat lantainya.”
Lyra memberanikan diri menatap ke depan, menembus sela-sela lengan Rayyan.
Lantai lorong di hadapan mereka tidak lagi beruba batu obsidian datar. Lorong itu melebar menjadi sebuah anjung (ruangan transisi) yang lantainya terdiri dari ratusan ubin batu heksagonal (segi enam) berukuran kecil. Beberapa ubin tampak amblas ke bawah, dan di sekitar ubin yang amblas itulah terdapat bercak-bercak darah segar yang terseret maju.
“Sindikat itu mengorbankan orang-orang terdepan mereka sebagai pendeteksi ranjau hidup,” rahang Rayyan mengeras melihat kebrutalan taktik musuh. “Mereka memaksa orang ini berjalan menembus jebakan lantai tekanan, lalu sisa pasukan melangkah di atas ubin yang aman.”
“Jebakan ini murni mekanis,” Lyra melepaskan cengkeramannya dari jaket Rayyan dan melangkah maju satu langkah, berjongkok di tepi ubin heksagonal pertama. Insting arkeolognya kembali membakar ketakutannya.
“Jangan sentuh apapun, Lyra,” peringat Rayyan, ikut berjongkok di sampingnya, tubuh besarnya memblokir Lyra dari arah depan seandainya ada proyektil yang tiba-tiba melesat.
“Lantai ini bekerja berdasarkan keseimbangan beban.” Lyra menunjuk ke arah ubin-ubin yang tidak amblas. Di atas setiap ubin heksagonal, terdapat lubang-lubang kecil seukuran kelereng. Beberapa ubin memiliki satu lubang, ada yang tiga, lima, hingga belasan.”
“Ini bukan pola rasi bintang,” Lyra bergumam cepat, otaknya memproses data dalam hitungan detik. “Ini adalah sistem bilangan prima purba. Ubin dengan jumlah lubang yang bisa dibagi bilangan lain adalah pemicu jebakan. Hanya ubin dengan jumlah lubang bilangan prima—seperti dua, tiga, lima, tujuh, sebelas—yang menahan beban mati.”
Rayyan menatap ubin-ubin itu. “Musuh sudah meninggalkan jejak ubin mana yang aman dengan darah mereka, Lyra. Kita tinggal mengikuti jejak merah itu.”
“Tidak bisa, Rayyan!” Lyra mendongak menatap Rayyan dengan panik. “Lihat darah yang terseret itu. Ubin yang mereka injak memang aman pada awalnya, tapi sistem mekanis purba ini dirancang dengan timer reset otomatis lain, mungkin adalah pemicu panah beracun untuk kita sekarang!”
Jati yang mendengar penjelasan itu langsung menarik kakinya yang nyaris melangkah ke ubin berdarah. Keringat dingin menetes di pelipis sang Letnan.
“Lalu apa polanya sekarang, Dokter?” Tanya Jati tegang.
“Pola bilangan primanya bergeser satu tingkat setiap kali sistem mereset,” Lyra berdiri, menatap hamparan ubin mematikan sepanjang lima belas meter di depan mereka. “Aku harus menghitung mundur dari ubin terakhir yang mereka injak untuk menemukan pola prima yang aktif saat ini.”
Lyra mulai bergumam, matanya melompat dari satu ubin ke ubin lainnya, menghitung lubang-lubang kecil itu di bawah cahaya redup senter.
“Kolonel, kita punya masalah lain,” potong Dito dari belakang, menatap alat pendeteksi suara seismik portabelnya. “Langkah kaki. Banyak. Mereka berhenti sekitar seratus meter di depan sana. Sepertinya mereka menemui jalan buntu atau pintu besar.”
“Kita harus menyusul mereka sebelum mereka menghancurkan apa pun yang ada di sana,” Rayyan menatap Lyra. “Sudah dapat polanya?”
Lyra mengangguk ragu. “Dapat. Jarak ubin yang aman melompat-lompat. Terkadang jaraknya sejauh satu setengah meter antar ubin yang aman. Aku tidak… aku yakin tidak bisa melompat sejauh itu tanpa kehilangan keseimbangan, Rayyan. Sepatuku sedikit kebesaran.”
Di sinilah letak kelemahan fatal Lyra. Otaknya tahu persis kemana harus melangkah, tetapi tubuhnya tidak selalu mau bekerja sama.
Rayyan tidak membuang waktu satu detik pun untuk berdebat.
Pria itu mengalungkan senapan serbunya ke belakang punggung. Tanpa aba-aba ia membalikkan tubuhnya membelakangi Lyra, lalu sedikit menekuk lututnya.
“Naik,” perintah Rayyan datar.
Lyra mengerjap. “K-Kolonel, maksudmu…?”
“Naik ke punggungku, Lyra,” potong Rayyan, menoleh dari balik bahunya dengan tatapan tajam yang tidak menerima penolakan. “Kau menjadi mata dan otakku. Tunjukkan padaku ubin mana yang harus kuinjak, dan aku yang akan melompatinya untukmu. Naik. Sekarang.”
Jantung Lyra merasa melorot ke perut. Namun waktu adalah kemewahan yang tidak mereka miliki. Lyra melingkarkan kedua lengannya erat-erat di leher Rayyan, menyandarkan dadanya ke punggung lebar pria itu yang terasa sekeras tameng baja.
Rayyan langsung mengaitkan kedua tangannya ke bawah paha Lyra, mengangkat tubuh gadis itu dengan satu sentakan ringan seolah Lyra sama sekali tidak memiliki berat.
“Jati, Dito. Ikuti persis jejak sepatuku. Jangan meleset satu sentimeter pun,” komando Rayyan.
Pria itu menatap hamparan ubin di depannya. “Ubin pertama, Lyra.”
“Arah jam dua, ubin dengan tujuh lubang,” bisik Lyra tepat di telinga Rayyan. Jarak bibir Lyra yang begitu dekat dengan telinga Rayyan membuat napas hangat gadis itu menyapu kulit sang Kolonel, mengirimkan desiran asing yang memabukkan di tengah ketegangan yang mematikan.
Rayyan melompat dengan tenaga ledak yang luar biasa terukur. Sepatu botnya mendarat sempurna di atas ubin berlubang tujuh. Terdengar bunyi klik logam yang sangat pelan dari bawah lantai, namun tidak ada panah beracun yang melesat.
“Aman. Selanjutnya?” Suara Rayyan rendah, otot-otot di tubuhnya menegang ekstrem menambah keseimbangan ekstra untuk dua orang.
“Lurus ke depan, lompati dua ubin. Ubin dengan sebelas lubang,” bisik Lyra, matanya menyipit fokus. Ia meremas bahu Rayyan semakin kuat.
Rayyan kembali melompat. Kali ini pijakannya semakin licin karena sisa darah musuh, namun kekuatan betis dan keseimbangan inti pria itu mencengkeram lantai batu bagai cakar macan.
Setiap kali Rayyan mendarat, tubuh Lyra menekan punggung pria itu, dan lengan Rayyan yang menyangga paha Lyra akan mengerat secara posesif. Mereka bergerak dalam ritme yang luar biasa intim; otak brilian sang arkeolog memandu kekuatan brutal sang komandan. Dua dunia yang bertolak belakang, bersatu dengan presisi yang menyelamatkan nyawa mereka berempat.
“Terakhir,” napas Lyra sedikit memburu. “Di ujung kiri, dekat pilar batu. Tiga belas lubang. Itu ubin transisi ke lantai yang aman.”
Rayyan mengambil ancang-ancang. Jaraknya nyaris dua meter, cukup jauh untuk lompatan tanpa awalan lari, ditambah beban tubuh Lyra.
“Berpegangan yang kuat,” gumam Rayyan.
Pria itu mengerahkan seluruh tenaga di kedua kakinya dan menerjang maju melintasi udara yang dingin. Mereka melayang sejenak sebelum sepatu bot Rayyan mendarat dengan bunyi dentuman tumpul tepat di luar zona lantai heksagonal.
Rayyan terhuyung selangkah ke depan akibat momentum beban; namun ia memutar tubuhnya untuk memastikan seandainya mereka jatuh, Lyra tidak menghantam batu. Pria itu berhasil menstabilkan diri, berdiri kokoh di atas lantai batu padat yang aman.
Jati dan Dito melompat menyusul dengan sukses satu menit kemudian.
Lyra menghela napas panjang, menenggelamkan matanya sejenak di perpotongan leher dan bahu Rayyan, menghirup aroma maskulin pria itu sebagai pelampiasan rasa leganya.
“Kita berhasil,” bisik Lyra.
Rayyan perlahan menurunkan Lyra hingga ujung sepatu gadis itu kembali menyentuh lantai. Namun, alih-alih melepaskannya sepenuhnya, Rayyan menahan kedua sisi pinggang Lyra, membiarkan tubuh mereka tetap berdekatan.
Pria itu merunduk, napasnya sedikit terengah, matanya berkilat menatap Lyra dalam remang cahaya senter.
“Kerja bagus, Mitra,” ucap Rayyan, ibu jarinya membelai pelan pinggang Lyra di atas seragam taktisnya. Sebuah apresiasi yang lebih dalam dari sekedar kata-kata militer.
Tiba-tiba, suara dentuman keras yang menggetarkan lantai batu menghentikan momen mereka.
DUUAARR!!
Suara ledakan C4 modern itu berasal dari ujung lorong, memecah keheningan piramida Megalitikum tersebut.
Rayyan seketika melepaskan Lyra, menarik senapannya dari punggung ke depan dada dalam sekejap mata. Wajahnya kembali menjadi topeng kematian.
“Mereka meledakkan pintu utama di ruang pusat,” rahang Rayyan mengeras, matanya menatap tajam ke arah kegelapan lorong di depan. “Dito, Jati. Kunci target. Mode eliminasi. Kita habisi mereka dari belakang sebelum mereka mencuri isi ruangan itu.”
“Rayyan,” Lyra menahan lengan pria itu, matanya membelalak panik. “Ledakan C4 di dalam struktur megalitik yang saling menopang tanpa semen? Mereka bukan saja merusak sejarah… mereka memicu sistem pertahanan terakhir piramida ini!”
Benar saja. Sesaat setelah suara ledakan mereda, terdengar suara gerusan batu raksasa yang saling bergesekan dari dalam dinding di sekeliling mereka. Suara itu begitu berat dan dalam, menyerupai erangan raksasa bumi yang baru saja terbangun dari tidur ribuan tahun.
Dan dari sela-sela balok batu obsidian raksasa itu, mulai menyembur keluar uap berwarna kuning kehijauan yang berbau sangat menyengat seperti belerang yang dicampur amonia pekat.
“Gas vulkanik beracun!” Pekik Lyra, menutup hidungnya dengan lengan bajunya. “Sistemnya melepaskan kantung gas metana dan hidrogen sulfida purba dari bawah tanah!”
“Masker gas! Pasang sekarang!” Teriak Rayyan.
Pria itu menyambar masker gas taktis dari pinggangnya, namun bukannya memakaikan ke wajahnya sendiri, Rayyan menarik Lyra mendekat dan memasangkan masker karet itu dengan paksa ke wajah Lyra, mengencangkan talinya di belakang kepala gadis itu sebelum Lyra sempat menghirup racun mematikan itu.
Asap kuning kehijauan mulai mengisi lorong dengan cepat, menyelimuti mereka dalam kabut kematian yang pekat.