Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Sudah tiga hari lamanya Enzo berada di rumah sakit. Tiga hari yang seharusnya terasa membosankan, namun entah kenapa justru terasa… berbeda.
Biasanya, ia akan menghabiskan waktu dengan wajah datar, dingin, dan tidak tertarik dengan apapun selain pekerjaannya. Tapi kali ini, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Bukan soal bisnis, bukan juga soal kesehatan.
Melainkan… seseorang.
Sejak pemeriksaan terakhir yang dilakukan oleh Evelyn, wanita itu sudah tidak pernah lagi muncul di hadapannya. Tidak ada suara tegasnya yang sedikit galak, tidak ada tatapan tajamnya yang seolah menilai seluruh hidup Enzo dalam satu detik.
Ruangan yang biasanya terasa sepi, kini terasa lebih… sepi dari biasanya.
Enzo duduk bersandar di ranjang, matanya menatap kosong ke arah jendela. Ia bahkan tidak sadar sudah beberapa kali melirik ke arah pintu, seolah menunggu seseorang masuk.
Apa yang aku tunggu? batinnya kesal sendiri.
Tok.
Pintu terbuka. Seorang perawat masuk sambil membawa alat pemeriksaan rutin.
“Selamat pagi, tuan. Saya akan memeriksa kondisi anda,” ucapnya sopan.
Enzo tidak langsung menjawab. Ia masih menatap pintu, memastikan… mungkin saja ada seseorang yang menyusul masuk.
Namun nihil. Hanya perawat itu saja yang masuk ke dalam ruangannya.
Ia menghela napas pelan, lalu akhirnya bertanya dengan nada datar, “Di mana dokter Evelyn?”
Perawat itu sedikit terkejut. Selama ini, Enzo hampir tidak pernah memulai percakapan, apalagi menanyakan seseorang secara spesifik.
“Dokter Evelyn sedang keluar kota, tuan. Beliau masih mengikuti seminar,” jawabnya.
Enzo mengangguk pelan. Wajahnya tetap datar, tapi entah kenapa ada sedikit perubahan di sorot matanya. Bukan kecewa… mungkin lebih ke arah tidak puas.
“Oh.”
Hanya satu kata itu yang keluar. Singkat. Padat. Tapi cukup untuk membuat suasana jadi canggung.
Perawat itu kembali melanjutkan pemeriksaan. Namun belum juga selesai, Enzo kembali bersuara.
“Kalau begitu, urus kepulangan saya hari ini.”
Kalimatnya tegas. Bukan permintaan. Jelas itu perintah.
Perawat itu langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh bingung. “Bukannya masih besok, tuan? Waktu itu anda sendiri yang meminta untuk memperpanjang masa perawatan.”
Enzo menoleh perlahan. Tatapannya dingin, menusuk, membuat perawat itu refleks menelan ludah.
“Bukan urusanmu,” ucapnya tenang namun penuh tekanan. “Lakukan saja yang saya mau.”
“Ba-baik, tuan…”
Perawat itu langsung mengangguk cepat, hampir seperti ayam mematuk beras. Ia memilih diam dan melanjutkan pekerjaannya tanpa berani bertanya lagi.
Begitu perawat itu keluar dari ruangan, suasana kembali hening.
Enzo menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit. Untuk pertama kalinya, ia merasa keputusan pulang ini… sedikit terburu-buru.
Ia memejamkan mata sejenak, lalu mendengus pelan.“Hanya karena dokter itu tidak ada…” gumamnya pelan, seolah menyangkal pikirannya sendiri.
Namun belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, bayangan kecil tiba-tiba muncul di kepalanya.
Seorang anak kecil dengan pipi chubby, suara cempreng, dan kepercayaan diri setinggi langit.
“Om ganteng, nanti Jula ke sini lagi ya…”
Enzo membuka matanya cepat.
Ia menghela napas panjang, lalu menutup wajahnya dengan tangan.
“Apa-apaan ini…” gumamnya.
Baru kali ini dalam hidupnya, ia merasa… terganggu oleh dua perempuan yang bahkan tidak ada hubungan apapun dengannya.
Satu dokter galak. Satu anak kecil yang terlalu percaya diri soal cinta.
Beberapa menit kemudian, pintu kembali diketuk. Joe masuk dengan wajah yang seperti biasa tenang, tapi sedikit penasaran.
“Tuan, saya dengar anda ingin pulang hari ini?” tanya Joe.
Enzo langsung duduk tegak, kembali ke mode dinginnya. “Iya.”
Joe mengangkat alis. “Bukannya anda yang bilang ingin menambah waktu di sini karena… suasananya tenang?”
Enzo diam sejenak. Lalu menjawab singkat, “Sudah bosan.”
Joe menyipitkan mata, jelas tidak percaya. “Bosan… atau karena dokter yang anda tunggu tidak datang?” tebaknya santai.
Enzo langsung menoleh tajam. “Sejak kapan kamu jadi banyak bicara?”
Joe tersenyum kecil. “Sejak saya sadar, tuan mulai berubah.”
“Keluar.”
“Baik, tuan.”
Namun sebelum benar-benar keluar, Joe berhenti di pintu dan menambahkan dengan santai, “Oh ya, saya juga dengar… dokter Evelyn pergi bersama rekannya, dia laki-laki tuan”
Langkah Joe langsung cepat keluar sebelum sesuatu melayang ke arahnya.
Sementara itu, di dalam ruangan…Enzo terdiam.
Entah kenapa, informasi terakhir itu justru membuatnya semakin tidak nyaman.
Ia kembali bersandar, menatap kosong ke depan.
“Awas kau Joe…” gumamnya pelan.
Beberapa detik kemudian, sudut bibirnya bergerak tipis. Bukan senyum sepenuhnya, tapi cukup untuk menunjukkan ada sesuatu yang berubah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Akhirnya selesai juga. Aku hampir saja kehilangan otakku, Eve,” keluh Nadira sambil melepas masker dan menjatuhkan tubuhnya ke kursi dengan dramatis, seolah baru saja keluar dari medan perang, bukan ruang operasi.
Evelyn yang berdiri di sampingnya hanya melirik sekilas, lalu menyeringai kecil. “Tidak apa, nanti biar aku ganti dengan otak sapi. Katanya lebih tahan banting.”
Nadira langsung menoleh tajam. “Kurang ajar.”
Evelyn tertawa kecil, jelas tidak merasa bersalah sedikit pun. “Tenang saja, aku pilihkan yang kualitas premium. Biar kamu sekalian upgrade.”
“Upgrade apaan? Jadi hewan ternak?” balas Nadira kesal.
Namun meski mulutnya mengomel, tangannya sudah lebih dulu menarik lengan Evelyn. “Ayo keluar. Kalau aku lama-lama di sini, bisa-bisa aku benar-benar operasi diriku sendiri.”
Evelyn menurut saja, masih dengan sisa tawa di wajahnya. Mereka berdua berjalan keluar dari ruangan seminar medis yang sejak pagi dipenuhi presentasi, diskusi, dan yang paling melelahkan—pertanyaan-pertanyaan absurd dari peserta yang seolah ingin menguji kesabaran dokter.
Begitu pintu dibuka, suasana langsung berubah.
Di luar, area seminar sudah seperti pasar malam versi medis. Berjejer stand-stand farmasi dengan berbagai warna mencolok, spanduk besar, dan suara promosi yang bersahut-sahutan.
“Dokter, mampir sebentar ya! Ada produk terbaru!”
“Free sample, dok! Bisa langsung dicoba!”
“Souvenir gratis, dok! Limited edition!”
Nadira langsung berhenti di tempat, matanya berbinar. “Eve…”
Evelyn sudah langsung curiga. “Jangan bilang kamu tertarik.”
“Gratisan, Eve,” jawab Nadira penuh makna, seolah itu sudah cukup menjelaskan segalanya.
Evelyn menghela napas. “Kamu itu dokter bedah, bukan ibu-ibu arisan.”
“Gratis itu tidak mengenal profesi,” sahut Nadira bijak, lalu tanpa malu langsung menyeret Evelyn ke salah satu stand.
“Selamat siang, dok! Silakan lihat produk kami,” sambut Medical representative dengan senyum profesional.
Nadira langsung berubah jadi versi paling ramah dari dirinya. “Wah, ini obat apa ya?”
Evelyn melipat tangan di dada, hanya memperhatikan dengan ekspresi datar. Ia sudah hafal, ini bukan soal obat, ini soal… souvenir.
Benar saja.
“Saya boleh minta souvenirnya?” tanya Nadira tanpa basa-basi.
SPG itu sedikit terdiam, lalu tersenyum lagi. “Boleh dok"
“Isinya apa?” Nadira makin serius.
“Ada tumbler, notes, dan pulpen eksklusif.”
Tanpa pikir panjang, Nadira langsung mengambil brosur seperti sedang menandatangani kontrak besar. “Saya tertarik.”
Evelyn menatapnya tidak percaya. “Kamu bahkan belum dengar penjelasannya.”
“Tidak perlu. Tumblernya lucu,” jawab Nadira santai.
Evelyn menutup wajahnya dengan tangan. “Aku tidak kenal orang ini.”
Belum selesai di satu stand, Nadira sudah melirik ke stand lain yang terlihat lebih ramai.
“Eve, yang itu bagi tote bag!”
Evelyn langsung ditarik lagi sebelum sempat protes.
Beberapa menit kemudian…
Evelyn berdiri dengan wajah lelah, sementara di tangan Nadira sudah penuh dengan berbagai barang: tumbler, tote bag, pulpen, gantungan kunci, bahkan snack yang entah dari stand mana.
“Kamu serius?” tanya Evelyn datar.
Nadira tersenyum puas. “Ini namanya memanfaatkan kesempatan.”
“Kamu ini dokter spesialis atau kolektor souvenir?”
“Dua-duanya bisa,” jawab Nadira tanpa rasa bersalah.
Saat mereka berjalan lagi, tiba-tiba seorang staf memanggil, “Dokter Evelyn?”
Evelyn menoleh.
“Iya?”
“Anda dapat doorprize dari sesi tadi.”
Nadira langsung menegang. “Doorprize?! Apa hadiahnya?!”
Staf itu tersenyum. “Blender, dok.”
Nadira langsung menatap Evelyn dengan penuh harap. “Eve… kita sahabatan kan?”
Evelyn menyipitkan mata. “Kamu mau blender itu?”
“Buat penelitian,” jawab Nadira cepat.
“Penelitian apa?”
“Menghaluskan… bahan makanan sehat,” jawabnya ngasal.
Evelyn langsung menghela napas panjang. “Ambil saja. Aku tidak butuh.”
Nadira hampir melompat kegirangan. “Aku sayang kamu, Eve!”
Evelyn mengangkat tangan, menahan Nadira yang hampir memeluknya. “Jangan lebay.”
Namun di tengah keramaian itu, tanpa disadari, pikiran Evelyn sempat melayang sejenak.
Entah kenapa, suasana ramai seperti ini mengingatkannya pada seseorang yang biasanya membuat harinya tidak pernah benar-benar tenang.
Satu pria dengan wajah dingin.
Evelyn menggeleng pelan, lalu kembali fokus pada Nadira yang masih sibuk menghitung hasil “perburuan”-nya.
“Sudah puas?” tanya Evelyn.
Nadira mengangguk mantap. “Sangat.”
“Kalau begitu, ayo pulang sebelum kamu niat buka stand sendiri.”
Nadira tertawa kecil. “Ide bagus juga sih…”
Evelyn hanya bisa menggeleng sambil berjalan lebih dulu.
"Ev, aku kemarin lihat dokter Farhan jalan dengan perempuan. Kata teman yang lain sih anak koas" ucap Nadira. Meskipun dia tidak satu tempat praktek dengan Evelyn, tapi dia tetap masih mendengar gosip sesama dokter.
"Itu kekasihnya. Sudah belum lama dia menjalin hubungan dengan anak koas itu" ucap Evelyn.
"Kamu cemburu ya?" goda Nadira.
"Ck, untuk apa aku cemburu dengan kadal muara itu" sanggah Evelyn dengan wajah memerah.
SEMANGATT TERUSS KAKK UP NYAA!! HEHEE DITUNGGUUU🤍🤍🤍🤍
deg2an.....
trus nunggu...kpn update lg...