NovelToon NovelToon
Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.

Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.

Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.

Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.

Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.

Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…

Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Menerima Wasiat

Malam keempat puluh.

Gerimis masih terdengar di luar rumah, udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Satu per satu tamu yang sejak sore memenuhi rumah itu telah pulang.

Kini rumah kembali sunyi.

Aroma teh hangat tercium di udara. Beberapa kerabat duduk di atas karpet, membentuk lingkaran kecil di tengah ruangan.

Tidak ada yang benar-benar mengajak untuk duduk bersama. Tapi semua orang tahu percakapan ini harus dilakukan malam ini.

“Kamu masih tetap pada rencanamu, Langit?” Pakde Handoko membuka pembicaraan. Suara pria itu tenang, tapi berat.

Semua mata langsung tertuju pada Langit.

Langit yang sejak tadi duduk dengan punggung tegak hanya mengangguk pelan.

“Masih,” jawabnya mantap. “Aku tidak akan mengubah keputusanku.”

Ishani yang duduk beberapa langkah darinya menundukkan kepala. Tangannya tanpa sadar meremas ujung gamis yang dikenakannya. Kain itu terasa kusut di antara jemarinya. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Pak Handoko menghela napas panjang. “Langit…,” katanya perlahan. “Kamu tahu ini bukan keputusan kecil.”

Ia menatap pemuda itu dalam-dalam. “Orang-orang akan membicarakan kalian.”

Ruangan terasa semakin sunyi.

“Kamu dan Biru kembar,” lanjutnya. “Wajah kalian hampir sama.”

Langit menundukkan kepala sebentar.

Kata ‘kembar’ selalu terasa seperti dua sisi mata pisau baginya. Sepanjang hidupnya, orang-orang selalu menyebut mereka bersama. Langit dan Biru. Kini Biru tidak ada. Dan ia tetap disebut dalam bayangan yang sama. 

“Saya tidak pernah bermaksud menjadi pengganti,” ucapnya akhirnya. Suaranya pelan, tapi jelas. “Saya tidak bisa menggantikan Biru.”

Ia mengangkat wajahnya kembali. “Saya hanya ingin menjaga mereka. Seperti janji saya pada Biru.”

Pak Handoko menatapnya tajam.

“Menjaga?” ulangnya. Nada suaranya berubah sedikit lebih keras. “Menikah dengan seseorang bukan sekadar cara menjaga.”

Ia bersandar sedikit ke belakang. “Jadi ini apa, Langit? Tugas?”

Ruangan terasa semakin tegang. “Beban yang harus kamu pikul?”

Langit menggeleng pelan. “Bukan.” Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Ini tanggung jawab.”

Nada suaranya tetap tenang, tapi kali ini lebih tegas. “Dan saya tidak pernah main-main dengan tanggung jawab.”

Ishani semakin kuat meremas kain gamisnya. Kata-kata Langit terdengar begitu mantap. Tapi justru itu yang membuat dadanya terasa sesak.Ia tidak tahu harus merasa lega atau justru semakin takut.

Langit melanjutkan, suaranya lebih pelan. “Saya akan melindungi Ishani dan bayinya.”

“Selama ini kamu sudah melakukannya,” kata Pak Handoko.

Ia menatap Langit lama. “Tapi menikah dengan seseorang hanya karena ingin melindunginya… itu bukan keputusan sederhana.”

Langit tidak menjawab. Ia hanya menunduk sebentar, lalu kembali menegakkan punggungnya.

Pak Handoko kemudian mengalihkan pandangannya. “Ishani,” panggilnya lembut.

Ishani tersentak sedikit. Semua mata langsung tertuju padanya. Terutama Langit. Napasnya tertahan tanpa ia sadari.

“Ishani,” ulang Pak Handoko.

“Bagaimana denganmu?” 

Ruangan terasa semakin hening.

“Apa kamu masih tidak setuju?”

Ishani memejamkan mata sejenak. Ia mencoba menguatkan hatinya.

“Aku…,” suaranya pelan. Tangannya kembali meremas ujung gamis. “Mas Biru tidak ingin meninggalkan kami sendirian.”

Kalimat itu keluar hampir seperti bisikan.

“Karena itu dia menitipkan kami pada Kak Langit.”

Perlahan ia mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan Langit. Ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya saat melihat pria itu. Wajah yang begitu mirip dengan Biru, tapi juga sangat berbeda.

“Aku hanya ingin Mas Biru tenang di sana,” lanjutnya. Suaranya sedikit bergetar. “Aku… menerima.”

Ia menarik napas panjang. “Aku akan menjalankan amanahnya.”

Langit tidak bergerak. Matanya masih tertuju pada wanita yang selama ini ia panggil adik ipar.

“Isha…”Suara Bu Maura terdengar pelan dari sisi ruangan. “Kamu yakin?”

Ishani menoleh pada ibu mertuanya. Ia mengangguk perlahan.

Namun wajah Bu Maura justru terlihat semakin cemas. “Kalian tidak tahu keluarga ayahnya Langit,” katanya tiba-tiba.

Semua orang menoleh padanya.

“Mereka keras. Mereka sangat memandang status.” 

Bu Maura menundukkan pandangannya sebentar sebelum melanjutkan. “Saya pernah hidup di dalam keluarga itu.”

Langit menegang. “Bu…,” ucapnya pelan.

Tapi Bu Maura menggeleng pelan.

“Aku hanya tidak ingin Ishani mengalami hal yang sama.”

Pak Handoko menghela napas panjang. Ia menatap Langit sekali lagi.

“Langit.” Suaranya rendah. “Saya tidak bisa bilang ini keputusan yang mudah.”

Ia menoleh sebentar pada Ishani, lalu kembali pada Langit. “Tapi kalau ini benar-benar pilihan kalian…”

Ia berhenti sebentar.

“Dan kamu siap menanggung semua akibatnya…” Pak Handoko mengangguk pelan. “Baiklah.”

Semua orang seperti menahan napas.

“Setelah masa iddah selesai,” lanjutnya, “Ishani akan menikah dengan Langit.”

Langit menghembuskan napas keras tanpa sadar. Seolah sesuatu yang sejak tadi menekan dadanya akhirnya sedikit terlepas.

Semua mata kembali tertuju padanya. 

“Langit.” Pak Handoko memanggil lagi.

Kali ini suaranya lebih dalam. “Saya meletakkan kebahagiaan keponakan saya dan anaknya di tanganmu.”

Tatapan mereka bertemu. “Jangan pernah kecewakan saya.”

Langit menegakkan punggungnya. “Demi janji saya pada Biru,” jawabnya tegas, “Ishani dan bayinya akan menjadi prioritas utama dalam hidup saya.”

Air mata Ishani akhirnya jatuh.

Ia menundukkan wajahnya.

Apakah ini yang membuatmu begitu yakin dengan Kak Langit, Mas? batinnya.

Kamu tahu dia tidak akan pernah melanggar janjinya.

Di luar, gerimis masih turun perlahan.

Malam itu keputusan telah diambil.

Wasiat Biru akhirnya diterima.

Namun tidak seorang pun benar-benar tahu  bahwa menjalankan wasiat itu akan membawa mereka pada ujian yang jauh lebih besar dari sekadar kehilangan.

**********

Subuh datang perlahan.

Gerimis yang sejak malam turun akhirnya berhenti. Udara pagi yang sejuk masuk melalui jendela ketika Langit melangkahkan kaki ke dalam rumah.

Ia baru saja pulang dari menunaikan shalat subuh di masjid dekat rumah.

Langit menutup pintu pelan agar tidak menimbulkan suara keras. Rumah masih sepi. Sebagian besar orang pasti masih terlelap setelah hari yang panjang semalam. Ia baru saja hendak membuka pintu kamarnya ketika sebuah suara memanggilnya.

“Lang….”

Langit berhenti. Ia menoleh.

Bu Maura berdiri tidak jauh dari ruang makan. Wajah wanita itu tampak lelah, tapi matanya masih terjaga.

“Bisa ibu bicara sebentar?” tanyanya pelan. Ia menatap Langit dengan sendu.

Langit tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ibunya beberapa detik, lalu berjalan ke arah meja makan. Ia menarik salah satu kursi dan duduk.

Tanpa kata. Bu Maura ikut mengambil tempat di hadapannya.

Beberapa detik berlalu dalam diam. “Lang,” Bu Maura akhirnya membuka pembicaraan. “Ibu menghormati keputusanmu dan Ishani. Meskipun… ibu tidak setuju sepenuhnya.”

Langit bergerak sedikit di kursinya.

Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Kakinya mengetuk lantai pelan, seperti sedang menahan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan.

“Kenapa ibu sulit sekali menerimaku?” tanya Langit tiba-tiba. Nada suaranya tidak tinggi, tapi terdengar tajam.

Bu Maura terhenyak.

“Lang--”

“Ibu takut aku akan mengambil kehidupan Biru?” lanjut Langit.

Bu Maura menggeleng cepat. “Bukan itu maksud ibu.”

Langit mengembuskan napas kasar. “Ini bukan mauku, Bu,” katanya pelan, tapi jelas. “Ini maunya Biru.”

Ia menatap ibunya lurus. “Ishani saja sudah paham. Kenapa ibu tidak mau….”

Kalimatnya terhenti di tengah. Langit menatap ibunya lebih tajam. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi ia menahannya.

Bu Maura menunduk. “Ibu hanya mengkhawatirkan keluarga besar Wicaksana,” ujarnya akhirnya.

Tangannya saling menggenggam di atas meja. “Bagaimana kalau mereka tidak menerima Ishani?”

Langit tidak menjawab.

“Ayahmu…,” lanjut Bu Maura pelan. Nada suaranya berubah getir. “Ayahmu bahkan tidak datang pada pemakaman Biru.”

Ruangan menjadi hening, bahkan sangat hening. 

Langit berdiri tiba-tiba. Kursinya sedikit bergeser karena gerakan itu. “Aku bukan Ayah,” katanya tegas.

Bu Maura mendongak.

Langit menatapnya lurus. “Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti Ishani.”

Tanpa menunggu jawaban, Langit berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Pintu kamar itu tertutup pelan. Ia tidak melihat saat bahu ibunya mulai bergoncang menahan tangis.

Bu Maura menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tahu jalan yang dipilih anaknya bukan jalan yang mudah. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa tidak mampu melindungi anaknya sendiri.

Pagi datang dengan cepat.  Langit berdiri di halaman rumah, memasukkan beberapa barang ke dalam bagasi mobil. Tas kecil. Beberapa kardus. Dan satu koper milik Ishani. Hari ini mereka akan kembali ke rumah Langit.

Ishani keluar dari dalam rumah dengan langkah pelan. Perutnya yang mulai membesar membuat gerakannya sedikit lebih hati-hati.

“Kak….”

Langit berhenti.

Ishani menyentuh lengannya pelan.

“Apa?”

Ishani terlihat ragu. Di tangannya ada sebuah bingkai foto. “Aku boleh membawa fotonya Mas Biru?”

Langit menoleh.

Ishani memegang erat foto itu. Di dalam bingkai, Biru sedang tertawa lepas. Wajahnya terlihat begitu hidup.

Untuk sesaat Langit hanya menatap foto itu. Lalu ia mengalihkan pandangannya.

Ishani menggigit bibirnya. Ia takut Langit tersinggung.

“Terserah,” jawab Langit singkat. Ia berbalik dan masuk kembali ke dalam rumah.

Ishani memandang punggungnya sebentar. Lalu menunduk menatap foto di tangannya. Beberapa menit kemudian, Ishani berpamitan dengan semua orang.

“Maaf ibu tidak bisa menemanimu di sana,” bisik Bu Maura ketika mereka berpelukan.

Ishani tersenyum lembut. “Tidak apa-apa, Bu. Kak Langit menjaga kami dengan baik.”

Ia kemudian mencium tangan Bi Yani.

Lalu Pakde Handoko, dan Bude Anita.

Bu Anita menahan bahunya sebentar. “Kalau ada apa-apa, jangan segan memberi tahu kami.”

Ishani mengangguk. Ia kemudian berjalan menuju mobil.

Langit sudah duduk di kursi pengemudi.

Kacamata hitam bertengger di hidungnya. Ishani membuka pintu dan duduk di kursi penumpang.

Langit menyalakan mesin mobil. “Pasang sabuk pengamanmu,” perintahnya.

Ishani menurut.

“Ingat, kalau--”

“Kalau capek bilang,” potong Ishani.

Langit menoleh.

Ishani memandangnya kembali.

Untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara. Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Ada sesuatu yang terasa aneh dalam keheningan itu. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh keduanya.

“Baguslah,” kata Langit akhirnya. “Kalau sudah tahu.”

Ia mengalihkan pandangan ke depan. Mobil perlahan keluar dari halaman rumah.

Ishani masih memandang Langit dari samping.

Bagi Ishani, empat puluh hari tidak menyembuhkan apa-apa. Kehilangan itu masih terasa sama nyatanya seperti hari pertama. Namun waktu yang sama juga membuatnya menyadari sesuatu.

Bahwa tanpa ia sadari… kehadiran Langit perlahan menjadi bagian dari caranya untuk tetap berdiri.

1
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
karena ishani sadar diri. langit hanya saudara suaminya, tapi bukan siapa-siapa baginya
Mentariz
Biru pasti udah tenang di sana, langit pasti akan jaga kamu dan bayimu, ishani
Mentariz
Biru udah punya firasat sejak awal 😭
PrettyDuck
semoga menjadi lebih baik
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
PrettyDuck
apa ini berarti ishani setuju nikah sama langit??
PrettyDuck
Biru udah punya ketakutan ini dari awal 🥲
Filan
Nanti juga Langit akan dipandang sebagai Langit yang mengisi hati Ishani. Bukan pengganti Biru.
Semangat!
Filan
Itu toh alasannya?
Miu Nuha.
hidup terus dijalanin ish, Allah sudh atur semuany untuk kamu. semangat ya, masih banyk yg sayang sama kamu ❤
Miu Nuha.
bener, hiks 🤧
Miu Nuha.
baru kabar hamil aja udh bilang gitu, emang udh dapet tanda ya kalo bakal pergi 😫
Three Flowers
nyesek membayangkan perasaan Ishani... tapi apa daya, takdir berkata lain. mungkin jodohnya dengan biru memang sudah selesai, dan kemungkinan langit lah jodoh ishani berikutnya
Three Flowers
waduh... laki-laki mana yang tidak tertarik pada wanita cantik? yakin deh langit yang bucin duluan 😄
@dadan_kusuma89
Ishani, sesuatu yang mendesak terkadang tak perlu butuh banyak berpikir, tapi yang dibutuhkan adalah tindakan segera.
@dadan_kusuma89
Ingat, Ishani! semua demi kebaikan kamu dan janin dalam kandunganmu. Siap nggak siap, harus dipaksa.
@dadan_kusuma89
Ishani, langkah yang diputuskan Langit insya Allah sudah tepat. Kau tak perlu banyak mikir, ikuti saja.
@dadan_kusuma89
Langit, dengan kau menjawab "iya" meski dipanggil Biru, ini menandakan kau bukan orang yang egois.
Xlyzy
faham pak buk tapi gimana ga mungkin ishani di tinggal sendiri kan kondisi nya lagi ga baik loh
Xlyzy
bude Ama pade ngapa loh baru juga bukak pintu belom lagi duduk
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
😭 bisa-bisanya ada barang pemberian yang dipersiapkan begini. bahkan sebelum anaknya membuka mata. sedih aku seolah jadi istrinya 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!