NovelToon NovelToon
Di Jual Kepada Mafia Rusia

Di Jual Kepada Mafia Rusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.

"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. WASIAT DI AMBANG MAUT

Udara di laboratorium bawah tanah itu mendadak terasa tipis, seolah oksigen dihisap keluar oleh ketegangan antara Alana dan Alexei. Alana berdiri mematung, jemarinya masih mengepal flash drive yang berisi bukti kebohongan Alexei, sementara pria itu berdiri di hadapannya dengan suntikan penenang yang berkilau dingin di bawah lampu neon.

​"Kau pikir kau bisa lari, Alana?" suara Alexei merendah, langkahnya perlahan mendekat. "Ke mana? Ke pelukan Wira yang baru saja mengumumkan kematianmu pada dunia? Atau ke pelukan pamanmu, Vadim, yang hanya menginginkan kepalamu di atas nampan?"

​Alana tidak menjawab. Pikirannya melayang kembali ke lantai sayap barat mansion beberapa bulan lalu, saat ia pertama kali melihat Nenek Sofia. Saat itu, Neneknya adalah sosok yang penuh duka, sebuah sandera yang membuatnya patuh. Dan sekarang, di sini, di ujung dunia yang membeku, Nenek Sofia kembali menjadi pusat dari gravitasinya.

​"Aku tidak ingin lari ke mereka," bisik Alana, suaranya bergetar. "Aku hanya ingin melihat Nenek. Sekarang."

​Alexei terhenti. Ia melihat kerapuhan yang nyata di mata Alana, kerapuhan yang tidak bisa dipalsukan. Dengan perlahan, ia menurunkan tangannya yang memegang suntikan. "Dia ada di unit medis sayap timur. Kondisinya kritis sejak penyergapan itu."

​Tanpa menunggu izin lebih lanjut, Alana berlari melewati Alexei. Ia tidak peduli jika pria itu mengejarnya atau menembaknya dari belakang. Ia berlari menyusuri lorong-lorong dingin vila hingga tiba di sebuah ruangan yang dipenuhi peralatan medis pendukung hidup.

​Di sana, di atas ranjang putih yang kontras dengan kulitnya yang pucat, Nenek Sofia terbaring. Tubuh tuanya tampak begitu kecil di bawah selimut tebal. Bibi Marta, wanita setia yang dulu mengasuh Alana saat kecil dan ikut dalam pelarian ini, berdiri di sudut ruangan dengan mata sembab. Bibi Marta hanya mengangguk pelan, memberikan ruang bagi Alana untuk mendekat.

​Alana berlutut di samping ranjang, meraih tangan Neneknya yang terasa sedingin es. "Nenek... ini Alana. Aku di sini."

​Mata Nenek Sofia terbuka perlahan. Pupilnya sulit fokus, namun saat melihat wajah Alana, sebuah binar redup muncul. Ia melepaskan masker oksigennya dengan gerakan lemah yang dipaksakan. Alana mencoba memasangkannya kembali, namun tangan Nenek Sofia menahannya.

​"Dengarkan... Alana kecilku..." bisik Nenek Sofia, suaranya hanya berupa embusan napas yang menyakitkan.

​"Jangan bicara dulu, Nek. Istirahatlah," tangis Alana pecah.

​"Tidak ada waktu..." Nenek Sofia terbatuk, darah tipis muncul di sudut bibirnya. "Wira... dia bukan lagi manusia yang kau kenal. Dia akan menghancurkanmu seperti dia menghancurkan ibumu, Elena. Dia tidak menginginkan putrinya... dia hanya menginginkan kendali."

​Nenek Sofia meremas tangan Alana dengan sisa tenaganya, matanya menatap tajam, seolah ingin mentransfer seluruh ketakutannya pada Alana.

​"Tetaplah dengan Alexei... Alana. Aku tahu dia adalah iblis... aku tahu dia penuh dusta... tapi dia adalah satu-satunya iblis yang akan membakar seluruh dunia demi menjagamu tetap hidup. Berjanjilah padaku... jangan pernah kembali pada Wira."

​"Tapi Nek, Alexei membohongiku! Dia memalsukan segalanya!" Alana memprotes di tengah isaknya.

​Nenek Sofia menggeleng lemah, senyum pahit tersungging di wajahnya yang keriput. "Di dunia kita... kebenaran hanyalah senjata yang digunakan pemenang. Pilihlah senjata yang bisa melindungimu. Berjanjilah... demi ibumu..."

​Napas Nenek Sofia mendadak berat. Monitor jantung di samping tempat tidur mulai mengeluarkan bunyi peringatan yang melengking. Tim medis pribadi Alexei segera merangsek masuk, menarik Alana menjauh.

​"Nenek! TIDAK! NENEK!" teriak Alana.

​Alexei muncul di belakangnya, merangkul tubuh Alana yang memberontak dengan kekuatan penuh. Ia membiarkan Alana menangis di dadanya saat dokter melakukan kompresi dada pada Nenek Sofia. Alana bisa merasakan detak jantung Alexei yang stabil di balik kemejanya, detak jantung seorang pria yang tetap tenang bahkan saat dunia di sekitarnya hancur.

​Setelah beberapa menit yang menyiksa, dokter menggeleng pelan ke arah Alexei. Nenek Sofia belum mati, namun ia jatuh ke dalam koma yang dalam. Peluangnya untuk bangun kembali sangat kecil.

​Alana mendadak diam. Tubuhnya lemas di pelukan Alexei. Pikirannya seperti benang kusut yang terbakar. Bukti medis di laboratorium mengatakan Alexei adalah pembohong besar. Namun, wasiat terakhir dari satu-satunya keluarga yang ia cintai mengatakan bahwa Alexei adalah pelindung satu-satunya.

​Siapa yang harus kupercaya? Logikaku atau wasiat Nenekku?

​Alana mendongak, menatap wajah Alexei yang kini menatapnya dengan rasa kasihan yang sangat meyakinkan. Alexei mengusap air mata di pipi Alana dengan ibu jarinya.

​"Dia mencintaimu, Alana. Dia tahu apa yang terbaik untukmu," bisik Alexei lembut.

​Alana menatap mata biru itu. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya luluh. Ia membiarkan dirinya percaya bahwa mungkin, hanya mungkin, Alexei melakukan semua kejahatan ini karena cinta yang terlalu besar, seperti kata Neneknya. Ia membenamkan wajahnya di leher Alexei, menghirup aroma parfum maskulin pria itu yang bercampur dengan bau obat-obatan.

​"Aku akan tinggal," bisik Alana pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku akan tetap di sini, sesuai keinginan Nenek."

​Alexei menghela napas lega, sebuah kemenangan besar terpancar dari bahunya yang kini tampak lebih tegak. Ia tidak tahu, atau mungkin ia terlalu sombong untuk menyadari, bahwa di balik pelukan itu, mata Alana menatap kosong ke arah pintu keluar.

​Alana telah membuat keputusan. Ia akan mengikuti wasiat Neneknya untuk "tetap bersama Alexei", tapi bukan sebagai tawanan yang pasrah. Ia akan tetap di sini sebagai parasit. Ia akan memakan kepercayaan Alexei, ia akan mempelajari setiap rahasia bisnis Dragunov, dan ia akan menggunakan perlindungan Alexei untuk menghancurkan Musuh-musuh ibunya terlebih dahulu.

​Dan setelah Mereka hancur, barulah ia akan berurusan dengan sang Iblis yang kini memeluknya.

​"Terima kasih, Alana," ucap Alexei, mencium rambutnya. "Kau tidak akan menyesali keputusan ini."

​Aku sudah menyesalinya, Alexei, batin Alana dingin. Tapi kau yang akan membayar harganya nanti.

1
Mia Camelia
haduh kok jadi rumit sih😔
My: Kalau terasa rumit, berarti kamu mulia melihat potongan puzzle- nya.. 👀
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰👍
Mia Camelia
cerita nya menarik
Mia Camelia
lanjut thor, cerita nya seru banget👍👍👍
putri
Alexei.. neraka yang indah itu macam mana?? 😄
My: wahh, terimakasih kehadirannya kak-
🥰
total 1 replies
putri
aku suka ceritanya.. tetap semangat kak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!