NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Hening yang mencekam memenuhi kabin mobil, hanya interupsi suara sapuan wiper dan rintik hujan yang menghantam atap besi. Aku mencoba mengalihkan pandangan ke jendela, namun tanganku yang kedinginan tak sengaja menyenggol tuas laci dashboard yang rupanya tidak tertutup rapat.

Laci itu terbuka sedikit, menyingkap isinya. Di sana, di antara tumpukan kabel pengisi daya dan buku manual mobil, terselip sebuah gantungan kunci rajut berbentuk matahari yang sudah sedikit kusam dan mulai terurai benangnya.

Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku membeku.

Itu adalah benda yang kubuat asal-asalan saat kami Kuliah tugas prakarya yang seharusnya kubuang, tapi Baskara memintanya dengan mata berbinar. "Ini matahari buat aku, Na. Biar kalau kamu galak, aku tetap merasa hangat," katanya dulu sambil tertawa kecil. Saat itu, aku hanya mencibir dan melempar benda itu ke arahnya tanpa perasaan.

Melihat benda itu masih ada di sana, di tempat yang begitu dekat dengan jangkauan tangannya setiap hari, membuat gema masa lalu menghantamku lebih keras dari petir di luar.

Aku teringat sore-sore saat kami kuliah. Baskara selalu menungguku di depan gedung fakultas dengan senyum yang sama, tak peduli berapa kali aku membalas pesannya dengan ketus atau berapa kali aku membatalkan janji temu secara mendadak hanya karena ingin pergi dengan teman sekelasku. Dia menyimpan matahari kecil itu, sementara aku... aku justru sibuk memadamkan sinarnya setiap hari dengan sikap cuek dan dingin.

Aku menatap gantungan kunci itu dengan pandangan mengabur. Rasa bersalah yang murni, tanpa campuran cinta, kembali menyesakkan dada. Bagaimana bisa pria sebaik ini menyimpan sampah dari wanita yang telah mengkhianatinya berkali-kali?

"Kenapa? Kamu kaget benda itu masih ada?" suara Baskara memecah kesunyian, datar namun penuh luka yang terpendam.

Aku tidak sanggup menjawab. Lidahku kelu. Aku hanya menatap lurus ke depan, membiarkan keheningan menyiksa kami berdua. Bayangan saat aku berjalan menggandeng pria lain di depan matanya kembali terputar, membuatku merasa menjadi manusia paling hina di dalam mobil ini.

Aku membeku dalam posisi itu, terjebak dalam pusaran memori yang menyakitkan, sampai aku tidak menyadari bahwa mobil telah berhenti sempurna.

"Sudah sampai," ucap Baskara pendek.

Aku tersentak, menoleh ke luar jendela dan mendapati lobi apartemenku sudah berada di depan mata. Aku bahkan tidak sadar kapan kami melewati kemacetan tadi.

"Terima kasih, Bas," lirihku, suaraku nyaris tak terdengar. Aku segera menarik tas dan keluar dari mobil tanpa berani menatap matanya lagi. Aku takut jika aku menatapnya lebih lama, aku akan hancur di hadapannya.

Aku melangkah cepat menembus sisa hujan menuju lobi, tidak menoleh ke belakang. Di belakangku, suara deru mesin mobil Baskara perlahan menjauh, membawa pergi matahari kecil yang kusam itu—dan meninggalkan aku sendirian dengan gema penyesalan yang tak kunjung usai.

Aku menutup pintu apartemen dengan punggung yang menyandar lemas pada kayu dingin itu. Suara kunci yang berklik menandakan aku telah benar-benar sendirian, namun kesunyian di dalam sini justru terasa lebih bising daripada badai di luar.

Aku merosot jatuh ke lantai, masih mengenakan blazer yang lembap. Tiba-tiba, rasa nyeri yang hebat menghantam dadaku—bukan sesak napas karena asma, melainkan denyut penyesalan yang begitu nyata hingga aku harus mencengkeram kemejaku kuat-kuyat tepat di atas jantung.

"Kenapa, Bas... kenapa kamu masih menyimpannya?" bisikku parau pada kegelapan ruangan.

Bayangan gantungan kunci matahari yang kusam itu terus menari di pelupuk mata. Benda tak berharga yang kubuat dengan setengah hati, namun dijaga olehnya dengan seluruh hati. Rasanya perih sekali menyadari bahwa di saat aku sibuk menghitung waktu kapan aku akan bosan dengannya, Baskara justru sibuk mengabadikan setiap serpihan kecil tentangku.

Aku teringat betapa jahatnya aku dulu. Saat dia menungguku dengan sabar di bawah terik matahari kampus hanya untuk memberiku air mineral, aku justru asyik tertawa di dalam kantin ber-AC dengan pria lain, sengaja mengabaikan panggilannya yang masuk berkali-kali. Aku pernah membiarkannya merasa tidak berharga, padahal dialah satu-satunya orang yang memperlakukanku seperti segalanya.

Rasa nyeri di dadaku semakin menjalar. Aku tidak mencintainya, aku yakin itu. Tapi melihat betapa tulusnya ia menjaga "sampah" dariku, membuatku merasa menjadi monster paling mengerikan. Aku telah menghancurkan seseorang yang begitu tulus hanya karena ego dan rasa bosan yang tidak berdasar.

Aku menekuk lutut, menyembunyikan wajah di sela-selanya, dan membiarkan air mata yang sejak tadi kutahan tumpah tanpa sisa. Gema masa lalu itu kini tidak lagi berisik; ia terasa seperti beban berat yang menindih dadaku, mengingatkanku bahwa beberapa permohonan maaf tidak akan pernah cukup untuk menebus waktu yang telah aku curi dari hidupnya.

Malam itu, di lantai apartemen yang dingin, aku menyadari satu hal: Baskara telah melangkah maju bersama Rasya, namun aku... aku justru baru saja mulai tenggelam dalam lautan rasa bersalah yang aku ciptakan sendiri.

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!