Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Abraham memacu motornya menembus kegelapan malam, masker hitam menutupi wajahnya yang menyimpan amarah luar biasa.
Ia melesat secepat kilat menuju kediaman orang tua Prita di kawasan elit kota.
Dalam pikirannya, hanya ada satu kemungkinan: Papa Broto terlibat dalam hilangnya Prita.
Namun, sesampainya di sana, rumah besar itu tampak sepi dan gelap.
Gerbangnya terkunci rapat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
"Permisi, Pak," tanya Abraham kepada seorang tetangga yang kebetulan sedang berada di depan rumah.
"Apa Bapak tahu ke mana keluarga Pak Broto pergi?"
"Oh, Mas. Pak Broto tadi pergi buru-buru bareng beberapa orang pakai mobil hitam. Katanya mau ke villa keluarga yang di daerah pegunungan itu," jawab tetangga tersebut dengan ragu.
Tanpa membuang waktu, Abraham kembali menyalakan mesin motornya.
Ia tahu villa yang dimaksud adalah tempat yang terpencil dan jauh dari keramaian—tempat yang sempurna untuk menyembunyikan sesuatu.
Sementara itu, di sebuah ruangan luas di dalam villa yang dingin, Prita mulai mengerang.
Kepalanya terasa sangat berat, efek dari bius yang diberikan Imran masih menyisakan rasa mual yang hebat.
Perlahan, ia membuka matanya. Pandangannya kabur, namun ia segera menyadari ada sesuatu yang salah.
Tangannya terikat kuat ke belakang di sebuah kursi kayu.
Saat ia menunduk, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Ia tidak lagi mengenakan kaus dan celana santai yang ia pakai di mess pagi tadi.
Tubuhnya kini sudah dibalut dengan kebaya putih mewah yang lengkap dengan payet-payet indah—kebaya pengantin yang seharusnya ia pakai di hari pernikahannya dengan Imran.
"Sudah bangun, Sayang?"
Suara dingin Imran menggema dari sudut ruangan yang remang-remang.
Imran melangkah maju, memegang segelas anggur di tangannya, menatap Prita dengan pandangan yang mengerikan.
"Lepaskan aku, Imran! Kamu gila!" teriak Prita, suaranya parau.
Ia berusaha memberontak, namun ikatan itu terlalu kuat hingga melukai pergelangan tangannya.
"Gila karena mencintaimu? Mungkin," jawab Imran sambil mengelus pipi Prita dengan punggung jarinya.
"Tapi hari ini, pernikahan yang tertunda itu akan tetap terlaksana. Papa kamu sudah di sini, penghulu sudah dalam perjalanan. Tidak akan ada teknisi miskin yang bisa menyelamatkanmu kali ini."
Air mata Prita luruh. Di tengah keputusasaannya, ia hanya bisa membatin, memanggil nama pria yang kini menjadi seluruh dunianya.
"Mas Abraham, tolong aku..."
Pintu kayu jati besar di ruangan itu terbuka dengan kasar.
Pak Broto melangkah masuk dengan raut wajah kaku dan dingin, seolah tidak melihat penderitaan yang terpancar dari mata putrinya sendiri.
Ia menoleh ke arah Imran yang sedang menyesuaikan jas pengantinnya di depan cermin.
"Imran, bersiaplah. Penghulu sudah menunggu di ruang tengah. Kita selesaikan ini sekarang juga sebelum ada gangguan lain," ucap Pak Broto dengan nada otoriter.
"Pa! Tolong dengerin Prita!" jerit Prita dengan suara parau. Air matanya mengalir deras membasahi riasan wajah yang dipaksakan padanya.
"Prita sudah menikah, Pa! Prita sudah sah jadi istri Mas Abraham! Papa nggak bisa melakukan ini, ini dosa, Pa!"
Pak Broto akhirnya menoleh, namun tatapannya tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun.
"Pernikahan di bawah tangan dengan laki-laki rendahan itu tidak ada artinya di mata Papa. Hari ini, kamu akan menikah dengan pria yang sederajat dengan keluarga kita. Itu harga mati."
Imran mendekat, ia menarik paksa lengan Prita agar berdiri meskipun tangan gadis itu masih terikat.
Dengan senyum penuh kemenangan, ia membisikkan kata-kata yang menyakitkan.
"Ayo, Sayang. Kita menikah sekarang. Jangan buat tamu-tamu kita menunggu terlalu lama," ucap Imran sambil berusaha menyeret Prita menuju pintu.
"LEPASKAN AKU!!" Prita meronta sekuat tenaga, kakinya menendang-nendang lantai, berusaha mencari pegangan agar tidak terbawa.
"AKU TIDAK MAU! AKU ISTRINYA ABRAHAM! TOLONG!!!"
"Diam, Prita! Jaga martabat keluarga!" bentak Pak Broto sambil memberi isyarat pada anak buah Imran untuk membantu memegangi Prita.
Di tengah keputusasaan itu, Prita hanya bisa berdoa dalam hati.
Suasana villa yang terpencil itu membuatnya merasa suaranya tidak akan terdengar oleh siapa pun. Namun, di luar sana, deru mesin motor yang dipacu gila-gilaan mulai mendekati gerbang villa, membelah kesunyian malam pegunungan.
Prita diseret masuk ke ruang tengah yang luas. Kedua tangannya kini tidak lagi terikat ke belakang, namun dua orang bertubuh besar memegangi lengannya dengan sangat kuat.
Di depan sana, seorang penghulu sudah duduk dengan wajah bingung melihat pengantin wanita yang menangis histeris.
"Duduk!" perintah Pak Broto dengan suara rendah namun mengancam.
Prita dipaksa duduk bersimpuh di samping Imran. Imran tampak begitu tenang, ia bahkan sempat merapikan rambutnya dan menatap Prita dengan tatapan penuh kepemilikan.
"Pak Penghulu, silakan dimulai," ucap Imran mantap.
"Saya tidak mau! Pak, tolong saya! Saya sudah menikah!" teriak Prita, namun suaranya tenggelam oleh suara musik gamelan yang diputar keras untuk menyamarkan keributan.
Penghulu itu baru saja membuka kitabnya dan berdeham saat tiba-tiba...
BRAKKKK!!!!!
Suara dentuman keras menghantam gerbang depan villa hingga roboh.
Suasana yang tadinya terkendali berubah menjadi kacau balau.
Deru mesin motor yang meraung keras masuk ke halaman dalam, lampunya menyorot tajam ke arah pintu kaca ruang tengah.
Abraham turun dari motornya yang masih berasap.
Masker hitamnya sudah ia lepas, menampakkan wajah yang dipenuhi amarah yang membara.
Matanya langsung tertuju pada Prita yang duduk mengenakan kebaya pengantin.
"LEPASKAN ISTRIKU!!" suara Abraham menggelegar, bergetar karena emosi yang meluap.
"Hajar dia!" teriak Imran sambil menunjuk ke arah Abraham.
Enam orang anak buah Imran langsung merangsek maju. Namun, Abraham bukan lagi teknisi yang lembut.
Ia menghajar orang pertama dengan pukulan telak di rahang hingga tumbang.
Gerakannya cepat dan taktis. Ia menangkis serangan dari samping, memutar tubuhnya, dan memberikan tendangan keras ke perut lawan lainnya.
Satu per satu anak buah Imran tersungkur di lantai marmer villa.
Abraham tidak peduli jika ia terluka; yang ada di pikirannya hanyalah menjangkau Prita.
Dengan langkah penuh kemenangan setelah melumpuhkan penjaga terakhir, ia menatap tajam ke arah Imran yang mulai tampak pucat.
"Mas Ham!" teriak Prita dengan penuh harapan.
Melihat anak buahnya tumbang, Imran kehilangan kendali diri.
Ia merasa terhina karena rencananya dirusak oleh seorang pria yang ia anggap remah.
Dengan penuh kemarahan, Imran menerjang maju dan melayangkan pukulan ke arah wajah Abraham.
Abraham dengan sigap menghindar. Ia menangkap lengan Imran, memutarnya, dan memberikan satu pukulan telak ke ulu hati yang membuat pria kaya itu terhuyung ke belakang hingga menabrak meja kayu.
Imran mencoba bangkit dan menyerang lagi, namun Abraham jauh lebih terlatih dalam kerasnya kehidupan lapangan.
Dengan satu gerakan cepat, Abraham mengunci leher Imran dan menekannya ke dinding.
"Jangan pernah sentuh istriku lagi dengan tangan kotor itu," desis Abraham dengan nada yang sangat dingin hingga membuat nyali Imran menciut.
Abraham melepaskan Imran yang terbatuk-batuk di lantai, lalu ia segera menghampiri Prita. Dengan tangan yang kini gemetar karena rasa sayang, Abraham melepaskan ikatan pada tangan Prita yang memerah.
"Mas..." tangis Prita pecah saat ia jatuh ke pelukan suaminya.
"Kita pulang sekarang, Sayang," bisik Abraham sambil membopong tubuh Prita yang sudah sangat lemas.
Saat mereka hendak melangkah keluar, suara Pak Broto yang menggelegar menghentikan langkah mereka.
Wajah pria tua itu merah padam karena malu dan murka.
"Prita! Jika kamu melangkah keluar dari pintu ini bersama pria miskin itu, jangan pernah kembali!
Mulai detik ini, kamu bukan anakku lagi!" teriak Pak Broto dengan telunjuk menunjuk ke arah gerbang.
Langkah Abraham terhenti sejenak. Ia menatap Prita, memberi kesempatan pada istrinya untuk memilih. Namun Prita justru mengeratkan pelukannya pada leher Abraham, menyembunyikan wajahnya di sana tanpa menoleh sedikit pun ke arah ayahnya.
"Ayo pergi, Mas," ucap Prita lirih namun mantap.
Abraham melajukan motornya menjauh dari villa terkutuk itu. Namun, melihat kondisi Prita yang masih gemetar hebat dan pucat karena sisa pengaruh obat bius, Abraham sadar mereka tidak bisa langsung kembali ke mess yang jauh.
"Mas, aku pusing," gumam Prita lemah.
Abraham segera membelokkan motornya ke arah sebuah hotel di pinggiran kota yang cukup aman dan nyaman.
Ia segera memesan kamar agar Prita bisa beristirahat dengan tenang.
Sesampainya di kamar hotel, Abraham dengan lembut membaringkan Prita di atas tempat tidur yang empuk.
Ia melepas sepatu istrinya dan menyelimutinya hingga ke dada.
"Sudah aman, Prita. Kamu sudah bersama Mas sekarang," bisik Abraham sambil mencium kening istrinya lama. Malam ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun atau apa pun mendekati kamar mereka.