NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 : Hanya Sampai Satu Bulan Nanti

Mungkin jika dihitung, ini sudah memasuki hari ke tiga puluh Kharisma menjadi istri Prabujangga. Tidak ada yang berubah, baik sikap menuntut suaminya ataupun apa yang diinginkannya setiap malam.

Prabujangga tidak pernah berbohong. Dia selalu menekankan setiap maksudnya, bahwa dia menginginkan seorang putra dari Kharisma.

Lalu apa yang bisa perempuan malang itu lakukan selain menerimanya? Bahkan ia kini sangat diawasi oleh Prabujangga. Setiap gerak-geriknya selalu saja diintai.

Tapi yang membuat Kharisma masih tak enak hati adalah Prabujangga yang kini sedikit canggung dengan ibunya.

Sudah tiga puluh hari, tapi sepertinya Prabujangga masih kesal karena masalah sebelumnya, saat Kharisma berkunjung ke kediaman Respati tanpa izin. Bahkan Kharisma sendiri masih enggan meminta maaf sampai sekarang.

Memangnya harus, ya? Bukannya ini salah Mas Prabu juga?

"Satu bulan lagi kita ikut Ivana ke dokter, katanya semua anggota keluarga juga ikut."

Yang memecah kecanggungan di meja makan adalah Batra yang baru saja sampai.

Laki-laki tua itu memasang senyum hangat, menampakkan jejeran giginya yang masih rapi dan mendaratkan diri di ujung meja kaca yang sudah dipenuhi oleh makanan. Uap-uap yang mengepul dari hidangan yang masih panas membawa aroma yang menggugah selera.

"Memangnya bulan depan usia kandungannya sudah berapa bulan? Sepertinya baru kemarin Mama dengar baru dua bulan," celetuk Nada, menyiapkan piring untuk sang suami dengan senyum hangatnya yang biasa.

"Empat bulan," Batra membalas sembari menyesap kopinya. "Memang sangat cepat. Itu benar, Prabu?"

Kharisma cepat-cepat menoleh ke arah Prabujangga, tidak merasa bahwa pertanyaan itu janggal pada awalnya.

Tidak sampai ia mendapati tatapan menyipit Prabujangga.

Laki-laki itu tidak menjawab, hanya mengangguk singkat.

"Memangnya Ivana siapa?"

Tak mampu membendung rasa penasarannya, Kharisma lantas bertanya.

Ia cukup yakin sejak satu bulan terakhir nama Ivana ini selalu saja menjadi topik perbincangan di atas meja makan. Baik saat sarapan ataupun makan malam.

Nada sejenak menghentikan kegiatannya, meletakkan piring di hadapan Batra dan menoleh ke arah Kharisma. Senyumnya sedikit surut.

"Ivana istri sepupunya Prabu, sayang," jawabnya lembut. "Bulan depan usia kandungannya empat bulan. Katanya sudah bisa dilihat jenis kelaminnya. Nanti kamu juga ikut ke sana sama Bunda, ya?"

Kharisma manggut-manggut, setuju dengan ajakan Nada meskipun ia sendiri tidak tau mengapa kehamilan Ivana ini sepertinya terlalu sering dibicarakan.

"Aku tidak pernah bertemu dengan Ivana ini, dia lebih tua dariku ya, Bunda?"

Kharisma menyuap makanannya, meskipun fokusnya kini mengarah pada Nada. Bahkan di sampingnya Prabujangga juga melakukan hal yang sama, hanya saja dia tampak sedikit tak hirau dengan topik pembicaraan.

"Lebih tua, sayang." Nada tersenyum manis, lantas duduk di sebelah Batra. "Dia juga sama seperti kamu dan Prabu. Bedanya, dia menikah di usia sembilan belas tahun, sementara waktu itu Indra umurnya dua puluh sembilan. Beda sepuluh tahun juga."

Kharisma mengernyit, mulutnya mengunyah pelan. "Sembilan belas tahun? Kenapa muda sekali, Bunda?"

Entah mengapa, Kharisma bisa langsung merasakan ketegangan sesaat setelah pertanyaannya itu dilontarkan.

Bisa dilihat dari Batra yang meletakkan cangkirnya dengan sedikit tegang, Nada yang terdiam, dan juga Prabujangga yang berhenti dari kegiatannya.

Apa pertanyaannya itu salah?

"Perempuan bisa menikah di usia lima belas tahun jika pria yang dinikahinya sudah mapan."

Jawaban Prabujangga menjadi suara pemecah.

Kharisma menoleh, menatap suaminya yang kembali menggerakkan sendok dan garpu, tidak lupa dengan tampang dinginnya.

"Lima belas tahun?" Kharisma mengulangi dan menggeleng. "Tapi siapapun tidak boleh menikah di usia lima belas tahun, Mas. Mereka kan masih anak-anak."

Sedikit meninggi nada Kharisma saat menyahuti Prabujangga. Tapi apa? Suaminya itu bahkan tidak sibuk-sibuk menoleh ke arahnya.

"Anak-anak atau tidak, yang terpenting adalah pihak pria bisa bertanggungjawab. Lagipula di zaman sekarang banyak yang sudah menikah di usia segitu, kan?" balas Prabujangga sekenanya. "Perempuan hanya memiliki tugas begitu-begitu saja, memberi keturunan dan mengurus rumah. Berbeda dengan pria. Jika pria baru bisa bekerja saat lulus sekolah, wanita bisa menghasilkan anak di umur mereka yang kecil asalkan sudah mengalami menstruasi."

Jawaban Prabujangga langsung membuat Kharisma tercengang. Dia membeku, sendoknya melayang di atas piring dengan setengah sisa makanan.

Dia tidak bisa sepenuhnya mencerna apa yang Prabujangga katakan karena kapasitas otak yang kecil. Tapi apakah itu benar? Prabujangga mengatakan bahwa menikahi anak-anak itu adalah normal?

"Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk mengatakan hal seperti itu, Prabu."

Di sudut meja, Nada dengan nada tajamnya langsung menyasar Prabujangga.

"Kamu jangan coba-coba merendahkan perempuan dengan kata-kata seperti itu. Mama tidak mendidik kamu untuk mengatakan hal seperti itu."

"Sudah-sudah, kenapa harus memulai sarapan dengan bertengkar seperti ini?" Batra menengahi, helaan napas panjang lolos dari bibirnya. "Tidak bisa sarapan dengan tenang?"

Tapi untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Kharisma kini melihat Nada menggeleng dan menghapus fasad tenang penuh kasih sayangnya. Wanita itu bangkit, membiarkan kursi berderit keras di bawahnya.

"Putra kamu yang memulai. Kamu yang mengajarkan dia untuk berkata seperti itu, kan? Muak sekali aku mendengarkan masalah seperti ini sepanjang waktu," cecarnya, meninggikan suara dengan kemarahan yang sudah tidak bisa dibendung lagi. "Selalu saja anak, selalu saja keturunan."

Kharisma menunduk, merasa bersalah karena telah memulai percakapan seperti ini. Tangannya bertaut gugup di bawah meja.

Kharisma memperhatikan saat Nada melenggang pergi dari meja makan bahkan tanpa menyentuh sedikitpun makanannya di atas meja.

Seperti inilah gambaran tiga puluh hari terakhir antara Nada dan Prabujangga. Tegang, renggang, jauh...

Tapi saat Kharisma menoleh kembali ke arah Prabujangga, mengharapkan permintaan maaf atau paling tidak raut bersalah dari laki-laki itu.

Tapi di luar dugaan, justru Prabujangga melanjutkan sarapannya dengan ketenangan yang memuakkan.

...***...

"Mas! Mas Prabu!"

Suara derap langkah kaki terdengar di belakang Prabujangga. Bahkan dari kecepatan dan suara yang mengikuti, Prabujangga tidak sibuk-sibuk menebak lagi.

Itu sudah pasti istrinya.

Dengan ketertarikan yang hanya setengah, Prabujangga menoleh ke belakang, mendapati Kharisma dengan langkah cerobohnya melintasi jalan taman yang berbatu.

Gaun putih bermotif bunga berkibar di pergelangan kaki, dengan lengan gaun yang melorot lancang di bahu dan mengekspos tulang selangka yang mulus—sedikit dengan tanda kemerahan yang Prabujangga ciptakan kemarin.

"Mas kenapa tidak berhenti?! Tidak mendengar kalau aku memanggil?!" suara kesal Kharisma diikuti oleh napas yang terengah-engah.

Sebelah alis Prabujangga terangkat, mengamati bagaimana perempuan di hadapannya membungkuk dengan tangan memegangi siku. Terlihat lelah sekali sepertinya.

"Saya hanya malas menanggapi, bukan tidak mendengar," balas Prabujangga, tidak repot-repot berbohong.

Kharisma mencebik kesal, bibirnya mengerucut cemberut sembari mencoba menegakkan tubuh dan mengatur napas.

"Mas Prabu kenapa bicara seperti itu pada Bunda? Kenapa membuat Bunda kesal terus?" tanya Kharisma, matanya menyipit tak suka.

Kharisma memang sudah merencanakan ini, berniat mengintrogasi Prabujangga atas apa yang dia katakan dan lakukan pada Nada akhir-akhir ini. Bahkan setelah sarapan selesai, Kharisma diam-diam mengikuti Prabujangga pergi dari meja makan.

"Bicara seperti apa?"

"Seperti saat di meja makan tadi."

"Saya tidak bicara apapun padanya."

Mata Kharisma melotot, tidak percaya dengan jawaban Prabujangga.

Bukankah tadi sudah jelas-jelas Prabujangga yang membuat Nada marah? Bukankah dia yang selalu membuat Nada kecewa satu bulan terakhir ini?

Atau jangan-jangan bukan cuma satu bulan terakhir ini saja?

"Mas jangan berpura-pura seperti itu. Aku tau selama ini Mas Prabu dan Bunda tidak banyak bicara," cecar Kharisma, seakan-akan sedang memaksa maling untuk mengakui perbuatannya.

Tapi Prabujangga tidak sama sekali menunjukkan ketertarikan.

"Saya tidak berpura-pura," balas Prabujangga malas. "Tadi saya bicara pada kamu, tapi dia ikut-ikutan membalas. Apa itu salah saya sekarang? Saya menjawab pertanyaan kamu tadi, jika kamu lupa."

Kharisma terdiam.

Itu ada benarnya juga.

"Jangan membuang-buang waktu saya dengan pertanyaan tidak penting seperti ini. Saya masih memiliki hal yang jauh lebih penting untuk dikerjakan selain meladeni pertanyaan tidak bergunamu ini," imbuhnya ketika Kharisma tidak menjawab. "Jangan menekan kesabaran saya dengan sikapmu yang seperti ini."

Prabujangga mendekat, ujung telunjuknya menyentuh dagu Kharisma dan mendongakkan wajah perempuan itu dengan lembut.

"Seharusnya kamu bersyukur karena saya mampu menunggu selama ini. Menerima sikapmu yang lebih mirip anak-anak daripada wanita dewasa berusia dua puluh satu tahun," ujarnya, menatap lekat netra coklat Kharisma. "Ini sudah satu bulan, dan saya masih menunggu kabar kehamilanmu sampai sekarang."

Pembahasan ini lagi.

"Satu bulan lagi, jika anak Ivana adalah laki-laki, kamu tau bahwa saya akan menjadi orang yang gagal," Prabujangga mengimbuhi, mengusap pipi Kharisma dengan gerakan yang lembut meskipun tidak menggambarkan ucapannya. "Tapi saya selalu berharap agar bayi itu adalah perempuan."

Kharisma menundukkan kepala, mulai kehilangan kendali dirinya jika sudah berhadapan langsung dengan Prabujangga.

Laki-laki itu telah dengan sempurna mengendalikan dirinya.

"Beruntunglah karena saya masih berusaha sampai sekarang. Tapi jika kamu belum memberikan saya kabar baik sampai bulan depan..."

Kharisma mendongak, matanya mencari-cari jawaban sebelum bibir Prabujangga mengucapkannya.

Jantungnya berdegup kencang, saraf-sarafnya bereaksi akan ketegangan yang ia cap sebagai pertanda kabar buruk.

"Mungkin saya akan menggunakan yang lainnya untuk meraih keturunan."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!