yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23 Berlatih
Hujan semalam sungguh menggetarkan hati para penghuni pengungsian. Hujan lebat, angin kencang amat sangat mengerikan bagi kamu yang berada di dalam tenda.
Begitulah yang dialami keluarga Laila dan lainnya, mereka berpelukan mengucap takbir, tasbih dan tahlil membasahi bibir mereka. Berdoa semoga hujan menjadi Rahmat dan berkah bagi mereka bukan azab.
Setelah sejam hujan turun dengan deras dan di pastikan air mengalir dengan aman, barulah mereka bisa tidur dengan tenang.
Kini di pagi hari, barulah mereka bisa melihat apa efek dari hujan semalam. Genangan air besar di hadapan tenda mereka. Memang sengaja di buat seperti kolam air besar untuk menampung air hujan supaya tidak masuk ke dalam tenda mereka.
Walau sebagian air sudah meresap ke dalam tanah, namun tetap saja genangan air masih tersisa lumayan banyak. Air ini dimanfaatkan warga untuk di saring menggunakan alat penyaringan yang mereka punya. Dan di jadikan stok tambahan air bersih untuk keperluan mereka.
" Yaseer ide mu sangat bermanfaat jika sudah hujan begini... " Puji tuan Hamid salah satu anggota tuan Ahmad.
" Alhamdulillah kita bisa nambah air bersih tuan..." Syukur Yaseer akan ide nya yang bermanfaat.
" Kembangkan lagi ide brilian kamu nak, kelak kamu akan menjadi pahlawan yang sangat di nanti negri ini.." Motivasi tuan Hamid mengobarkan semangat Yaseer dalam berkarya lagi.
" Insyaallah tuan. Saya juga mohon bimbingannya dari orang-orang berpengalaman seperti tuan -tuan lainnya." Ujar Yaseer merendah.
Tuan Hamid tersenyum akan sikap Yaseer yang merendah begitu. Di usia nya yang baru sepuluh tahun sudah bisa berfikir membuat sesuatu yang bermanfaat, juga dengan sikap nya yang sopan dan rendah hati membuat siapa pun ingin mendekat.
" Kamu mau ikut berlatih dengan kami?" Tawar tuan Hamid setelah melihat jam di pergelangan tangannya.
" Berlatih apa tuan?" Tanya Yaseer berbinar.
" Bela diri. Karena kita disini tidak ada perlengkapan senjata, jadi kita hanya memantapkan bela diri saja. Gimana? Mau bergabung?" Tawar nya lagi.
" Mau tuan... Mau banget... !!" Seru Yaseer kegirangan. Inilah yang di tunggu-tunggu nya.
" Sebentar lagi— Kami akan berkumpul di belakang tenda sana. Tempat nya juga lebih luas dan tertutup dari jalan utama." Jelas tuan Hamid lagi.
Yaseer mengangguk mantap. Sudah lama ia ingin berlatih bela diri agar bisa melindungi keluarga nya dari gangguan orang jahat. Kini tawaran datang pada nya. Tak akan di sia-siakan lagi untuk menundanya. Ia pun pamit untuk memberitahu ummi nya.
Ia berlari dengan semangat mencari ummi nya. Di depan tenda sang ummi, ia mendapati seorang anak kecil seusia Abia, dan meminta nya memanggil umminya
" Assalamualaikum. Ade, bisa minta tolong panggilkan nyonya Laila, ?" Pinta Yaseer pada anak itu.
"Ummi nya Abia ya?" Tanya anak itu memastikan.
" Iya benar, ada di dalam kan? Tolong ya.." Pinta Yaseer lagi tak sabar.
Anak itu mengangguk dan masuk ke dalam tenda. Tak lama keluarlah Abia.
" Eh Kaka, cari ummi?". Tanya Abia.
" Iya ih buruan..." Desak nya.
" Ummi.... Ada kakak....!" Teriak Abia dari depan pintu tenda.
" Ish kamu nih, gak sopan begitu. Berisik.. Ganggu yang lain. " Tegur Yaseer akan tingkah Abia.
" hehe... Biar cepet. Tadi katanya buruan... " Kilah Abia tak mau di salahkan.
" Kenapa kak?" Tanya ummi ketika bertemu anak-nya.
" Ummi, aku izin ikut berlatih bela diri ya, tadi di tawari sama tuan Hamid.." Terang nya dengan semangat.
" Kamu yakin mau ikut bergabung?" Tanya ummi meyakinkan niat Yaseer.
" Iya ummi, aku udah lama nunggu kesempatan ini, tadi tuan Hamid malah nawarin langsung ke aku.." Girang nya.
Ummi terdiam sejenak menimbang keinginan Yaseer ini.
" Ummi... Kakak udah 10 tahun. Mumpung ada mereka yang mau melatih Yaseer. Kapan lagi coba. Aku mau jadi pelindung keluarga kita —"
" Lagipula ummi mengizinkan jika aku bisa beladiri kan?" Tanya Yaseer menagih perkataan ummi nya.
Laila sedikit tersentak akan niat kuat putra nya. Ya anaknya sudah sepuluh tahun, ia bahkan sudah bisa bekerja dan menghasilkan ide bermanfaat dengan otak dan tangannya sendiri. Tak ada celah bagi Laila untuk menunda tekad baik anaknya ini atau ia akan mematahkan semangat juang nya.
" Baiklah. Tapi apakah Kaka bisa berjanji untuk berhati-hati. Dan mengikuti arahan dengan baik?" Tanya umminya memberi peringatan supaya tak main-main.
" Insyaallah mi. Aku akan berlatih dengan baik sesuai arahan mereka—"
" Ummi mengizinkan kan..?" Tanya Yaseer dengan mata berbinar-binar.
Melihat tatapan mata putranya yang berbinar penuh semangat itu, tak kuasa ia menolak. Laila pun mengangguk setuju.
" Yeay Alhamdulillah. Terimakasih ummi.." syukurnya memeluk umminya senang.
" Yeay kakak nanti betulan jadi bodyguard sholeh dong... " Celetuk Abia bertepuk tangan sekali.
" Insyaallah... Nanti kalo Kaka sudah jago, nanti Kaka ajarin Abia sama akak juga. Ya.." Tawar Yaseer.
" Yeay.. Aku jadi jagoan juga deh .. " Seru Abia ikut senang.
" Ya udah, aku kesana dulu ya mi. Takut telat. Aku latihan di belakang tenda sana yang luas.." Pamit Yaseer teringat kalau waktu latihan sebentar lagi di mulai.
" Kak, aku sama akak boleh lihat?" Tanya Abia sebelum kakanya pergi.
" Lihat aja.. " Jawab Yaseer sambil melambai tangan berlari.
" Yuk mi lihat Kaka berlatih.." ajak Abia.
" Iya nanti kita lihat ya. biar Kaka semangat.." setuju umminya menyemangati.
*****
Yaseer mengikuti latihan dengan sungguh-sungguh. Di mulai dengan pemanasan, dan gerakan-gerakan ringan untuk pemula.
Push-up, sit up, belajar memukul, menendang dan menangkis. Semua pelajaran di serapnya dengan baik dan cepat.
Ummi, Hania dan Abia menonton edisi latihan mereka dengan takjub. Cahaya matahari yang belum terlalu terik membuat latihan lebih semangat. Keringat sudah bercucuran tanda bahwa tenaga mereka terkuras cukup banyak, namun tak menyurutkan semangat mereka untuk terus bergerak.
Cukup lama Laila dan dua anaknya menonton latihan itu. Hingga akhirnya mereka kembali ke tenda untuk mengerjakan yang lainnya. Ummi ke dapur umum, Hania mencuci baju di bantu oleh Abia.
****
Setelah dua jam berlatih, mereka beristirahat menghilangkan lelah. Yaseer biarpun masih pemula, namun gerakannya sudah terbilang cukup bagus. Mungkin karena niat yang penuh dan semangat dari keluarga nya menjadikannya lebih sungguh-sungguh belajar.
" Gerakan mu sudah cukup bagus nak... " Ujar Tuan Ahmad mendekati Yaseer yang sedang rebahan diatas tanah.
Seketika Yaseer bangkit dan menunduk sopan.
" Terima kasih tuan.. —"
" Saya baru pertama kali ikut, jadi masih kaku.. " Aku nya sedikit malu.
" Tak apa, dengan rajin berlatih nanti juga akan luwes dan respon tubuh mu akan mengikuti nya." Ujar tuan Ahmad memaklumi.
" Iya tuan. Terimakasih saya di izinkan ikut bergabung di sini.." Ungkap Yaseer bersyukur.
" Jangan patah semangat yah...—
Yasser mengangguk mantap.
" Apa cita-citamu nak?" Tanya tuan Ahmad sambil menyuruhnya untuk duduk kembali.
" Saya ingin menjadi pelindung keluarga saya tuan.." Jawab Yaseer mantap
" Ayahmu? Saudaramu yang lain kemana?" Tanya tuan Ahmad mencari informasi.
" Baba saya sudah wafat dua tahun lalu tertembak saat kerusuhan di Masjidil Aqsho. Dan Abang saya di tangkap penjajah itu hingga saat ini belum kembali.." Jawab Yaseer lirih di akhir nya.
" Lalu keluargamu yang lain?"
" Sekarang tinggal ummi, kakak dan adik perempuan saya. " Terang Yaseer lagi.
" Wah.. Pantas saja kamu semangat berlatih. Rupanya para bidadari yang kamu lindungi.," Kelakar tuan Ahmad menyunggingkan senyum bangga.
Yaseer tersenyum malu-malu. Iya hanya dia laki-laki satu-satunya saat ini di rumahnya. Makanya ia sangat terobsesi untuk menjadi "bodyguard" kata ummi nya.
" Tugas laki-laki memang berat nak. Oleh karenanya kuatkan pundak mu untuk memikul tanggungjawab besar atas keluarga mu—
" Serahkan pada Allah segala kesusahan dan keresahan ketika menjalani nya. Niscaya Allah akan memberikan jalan keluarnya.." Nasehat tuan Ahmad.
Yaseer merenungi mencerna nasihat tuna Ahmad. Ya tanggung jawabnya berat. Dan itu sudah ia rasakan semenjak kehilangan ayah dan abangnya. Kini ia semakin yakin akan tekadnya untuk menjadi "bodyguard" keluarganya.
" Insyaallah. Terimakasih tuan atas nasehat tuan, sangat berarti untuk saya.." Ucap Yaseer menunduk kan kepalanya sedikit sebagai rasa sopannya pada orang tua.
Tuan Ahmad menepuk pundaknya memberi semangat dan mengelus kepalanya layaknya seorang ayah pada anaknya.
" Berjalan lah atas kehendak Allah. Jangan jadikan nafsu mu sebagai tujuan tindakan mu." Nasehat tuan Ahmad mengingatkannya pada baba nya. Air mata meleleh dari matanya.
Tuan Ahmad memeluk nya memberi sandaran. Ia pun teringat akan anak nya yang sudah tiada akibat kekejaman penjajah.
Sedang Yaseer seakan merasakan lagi pelukan baba nya. Yaseer memejamkan matanya berharap rasa ini masuk dalam memori nya.
'Baba... Yaseer rindu baba... ' Perih batinnya.
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.