Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditemani Mantan
Sopir yang tidak tahu apa-apa malah berkata dengan santai: "Wah, udah sampe depan rumah sakit nih Bu Sarah. Cepat aja ya kita masuk, biar adikmu bisa diperiksa lebih lanjut."
Sarah hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Dia melihat ke arah adiknya yang masih tidur dengan tenang, lalu menghela napas panjang.
Setelah tiba di rumah sakit, Putra langsung dibawa ke ruang gawat darurat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Setelah pemeriksaan menyeluruh, dokter memutuskan untuk merawatnya di kamar rawat inap agar kondisinya bisa dipantau dengan cermat.
"Saudara akan ditempatkan di blok B, nomor kamar 217, lantai 3," ucap perawat sambil memberikan kartu identitas kamar kepada Sarah. "Silakan ikuti saya ya Bu Sarah, saya akan membimbing Anda sampai ke kamar nya."
Sarah mengangguk dan mengikuti perawat sambil terus memegang tangan adiknya yang masih tertidur. Mereka naik lift yang membawa mereka ke lantai 3, lalu berjalan melalui koridor yang tenang namun sedikit menyeramkan. Setelah beberapa langkah, mereka sampai di depan sebuah pintu dengan tulisan besar "BLOK B - 217".
Perawat membuka pintu dan mengajak Sarah masuk. Kamarnya cukup luas dengan dua ranjang satu sudah ditempati oleh pasien lain yang sedang tidur nyenyak, dan yang satunya disiapkan untuk Dede. Mereka dengan hati-hati menempatkan Dede di ranjang yang sudah disiapkan, lalu perawat melakukan pengecekan terakhir sebelum keluar untuk memberikan kesempatan kepada Sarah dan Dede untuk beristirahat.
Tak lama setelah Sarah duduk di sisi ranjang Dede, dering hp yang tergeletak di atas meja sisi ranjang tiba-tiba berbunyi dengan suara yang cukup keras, membuatnya sedikit terkejut. Dia cepat mengambilnya dan melihat nama yang muncul di layar – Rizky.
"Hallo..." ucap Sarah dengan suara lembut, hati masih sedikit berdebar karena kejadian tadi .
"Hallo Sarah! Aku udah di RS nih, adik kamu di kamar mana?" suara Rizky terdengar tegas tapi penuh perhatian dari sisi lain.
Sarah sedikit heran dan mengerutkan kening. "Kok kamu tahu adik ku sakit?"
"Aku tadi ke rumah kamu, terus kata bibimu kamu lagi antar adik mu ke RS. Aku khawatir jadi langsung datang kesini," jelas Rizky dengan cepat.
"Oh gitu ya..." Sarah menghela napas lega, merasa sedikit lebih tenang karena ada orang yang datang membantunya. "Blok B, lantai 3, nomor 217."
"Oke, aku kesana sekarang ya!" ucap Rizky sebelum akhirnya menutup panggilan.
Sarah meletakkan hp nya kembali di meja dan melihat ke arah adiknya yang masih tertidur. Dia merapikan selimut di tubuh adiknya dengan lembut, sambil berbisik pelan: "Rizky udah datang deh, dede. Kita tidak sendirian lagi..."
Tak sampai lima menit kemudian, pintu kamar perlahan terbuka dan Rizky masuk dengan tangan penuh tas plastik berisi makanan dan minuman. Dia langsung menutup pintu dengan hati-hati agar tidak mengganggu pasien lain yang sedang tidur.
"Kamu harus makan sedikit ya, Sarah. Kamu pasti belum makan kan?" ucap Rizky dengan suara pelan sambil meletakkan tasnya di atas meja.
Sarah mengangguk perlahan, matanya sudah mulai terasa berat karena lelahnya seharian ini. "Aku memang belum makan apa-apa sejak siang tadi," ucapnya dengan suara pelan.
Rizky langsung membuka tas plastik dan mengeluarkan makanan hangat – nasi putih, lauk ayam bakar, dan sayuran rebus yang masih mengeluarkan uap panas. "Aku bawa makanan dari rumah kamu lho. Bibimu kasih buat kamu sama adikmu, katanya kalau sudah sadar harus makan sedikit demi sedikit," katanya dengan senyum hangat.
Sarah melihat makanan itu dan merasa mata nya berkaca-kaca. "Terima kasih banyak, Rico... aku maksud Rizky ,Rizky, maaf aku bingung," ucapnya dengan sedikit terkejut karena kelelahan yang membuatnya salah panggil nama.
"Hehe gapapa Sarah, aku tahu kamu lagi capek," balik Rizky dengan ramah, lalu dia melihat ke arah Dede yang masih tidur. "Kabarnya gimana nih? Dokter bilang apa?"
"Dokter bilang kondisi nya sudah mulai stabil, tapi harus tetap dipantau karena serangan maag nya cukup parah," jelas Sarah sambil mengambil sendok dan mulai makan sedikit demi sedikit. Rasa makanan yang hangat membuat tubuhnya sedikit terasa lebih kuat.