season 1 & 2 (S2 Part 87 - end)👇
Arland Adiwijaya, 25th. Nekad menikahi kekasihnya yang bernama Glesty Nasya 24th, tanpa sepengetahuan keluarganya sendiri.
Mengaku sebagai supir taxi, nyatanya dia seorang Tuan Muda Adiwijaya.
Setelah terungkapnya kenyataan tentang Arland, Glesty bersama kedua adiknya pergi meninggalkan Arland, dimana saat itu Arland tengah 'terbaring koma' karena kecelakaan, dan oleh keluarganya pria itu dibawa ke kota Paris untuk dirawat.
7 tahun kemudian Arland terbangun dan harus menerima kenyataan pahit, bahwa istrinya sudah tidak lagi bersamanya. Sementara ditempat lain, Glesty hidup bahagia bersama kedua anak kembarnya laki-laki dan perempuan yang bernama (Arles dan Lean) berusia 6th, anak dari pernikahannya dengan Arland.
"Mah, Papa kami ada di mana?" Kalimat itu adalah saat pertama kali putranya tanyakan tentang ayah mereka.
Akhirnya Arland memutuskan kembali ke Tanah Air membawa rasa BENCI dan RINDU-nya pada Glesty.
Bagaimanakah ketika mereka tiba-tiba bertemu lagi setelah lebih dari 7 tahun?
Sinopsis Season 2, ada di part 87 ya!
Terima kasih sudah mampir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersyukur Memiliki Si Kembar
Hening...
Hening....
Hening....
Lea benar - benar tidak tahu harus menjawab apa..
Devan masih menggenggam tangan Lea dengan satu tangan..
"Fokuslah menyetir".. kata Lea.
"Apa kamu ragu denganku?" Tanya Devan.
Lea menatap kearah Devan.
"Tidak.. aku sangat yakin dengan perasaanmu. Tapi masalahnya disini adalah perasaanku Dev".. Batin Lea.
"A.. aku akan memikirkannya Dev". Jawabnya.
"Oke, tapi jangan lama-lama ya sayang.. Aq sudah tidak tahan untuk ingin segera mengikatmu." Ucapnya sambil menoleh sekilas dan menyuguhkan senyum manisnya.
"Aduh... senyumannya.. apa senyum itu hanya diberikan padaku"? Dev.. jangan pernah berikan senyuman itu ke orang lain. biar aku saja yang menikmatinya." Lagi- lagi Lea membatin.
Devan melihat dari ekor matanya bahwa Lea sedang menatapnya dengan tatapan terpesona.
"Alin, kenapa tidak membiarkanku melamarmu segera? Kita bisa menikah secepatnya, dan kamu bisa terus memandangku kapanpun".
"Em... em... em...
Lea tergagap mengetahui Devan menangkap basah dirinya.
"Hehehe...
"Aduh... aku benar - benar mati kutu. Kenapa juga dia tahu aku sedang menatapnya? memangnya matanya ada disamping?
Cup..
lagi - lagi Devan mencium tangan Lea yang dari tadi memang ia genggam, membuat pipi Lea kembali bersemu merah.
Deg.. deg... deg...
"Kamu adalah pacarku. Tapi kenapa aku merasa tidak bisa memilikimu? apakah aku tidak punya perasaan yang sama denganmu? Tapi hatiku bilang, aku senang dengan sikapmu. Tapi aku juga merasa tidak berhak mendapatkan kasih sayang tulusmu. Devan.. maukah kamu memaafkanku nanti?"
Ingin sekali Lea mengucap semuanya itu. Tapi ia juga takut kalau keadaan akan berubah nantinya. Dan dia benar - benar tidak siap.
\=\=\=\=\=\=\=
Di tempat lain
Arland, Rina dan Aurel sudah tiba di rumah utama milik keluarga mereka..
"Ma.. Aurel mau langsung istirahat ta.. Aurel cape ma." Ucap Aurel. Ia juga pamit kepada papi Arlandnya.
Kini Arland dan Rina tengah duduk di ruang keluarga.
"Lan... apa yang tadi kamu ingin ceritakan"?
Ternyata Rina masih penasaran. Ia takut Arland akan berubah pikiran dan tidak mau menceritakan hal tadi.
"Kak.. ini tidak begitu penting."
"Iya ceritakan saja". tagih Rina.
"Begini kak, saat aku masih dalam keadaan koma, aku bermimpi bertemu dengan seorang gadis kecil. tapi aku tidak bisa melihat wajahnya".
"Lalu"?
" Ya.. mumgkin saja itu juga bukan mimpi. Bagaimana mungkin orang bisa bermimpi dalam keadaan koma?
"Terus"?
"Gadis kecil itu sering mendatangiku, dan memanggilku..... papa. Dialah yang memintaku bangun kak. Bisa dibilang aku sangat berterima kasih padanya. Karna jika bukan karenanya, mungkin saja aku belum bangun. Jelas Arland.
"Apa ada hal yang seperti itu terjadi kak?" tanya Arland.
"Bisa saja itu cara Tuhan untuk membangunkanmu Lan. Yang kakak dengar, orang yang terbaring koma memang mengalami mimpi - mimpi aneh." Jawabnya.
Rini terlihat berfikir.
"Apa jangan - jangan! Ah.. tidak.. tidak.. apa yang kupikirkan?" Batinnya.
"Saat aku membuka mata aku mencari - cari keberadaan gadis kecil itu. Tapi yang kulihat hanya seorang dokter dan 3 orang perawat."
"Gadis kecil itu tidak lagi datang lewat mimpiku kak.. tapi ada saat - saat dimana aku tiba - tiba seperti mendengar suaranya".
Arland menceritakan panjang lebar.
"Aku hanya baru menceritakan hal ini pada kakak. Hehe.. tapi aku sungguh baik - baik saja kak. Aku tidak terganggu sama sekali dengan hal itu." Jelasnya lagi.
"Jika kau merasa terganggu, kabari saja aku Land. Aku punya kenalan dokter....
"Stop kak.. tidak perlu menghawatirkanku. Aku sangat tidak terganggu dengan kehadirannya. Aku malah berharap akan bertemu dengannya lagi. Entah itu lewat mimpi atau mungkin saja dia muncul dihadapanku secara nyata. Aku ingin bilang.... terima kasih telah membangunkanku".
Arland tersenyum ke arah kakak iparnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari sudah malam, waktu menunjukkan pukul 21.00.
"Besok anak-anak akan pulang. Sebaiknya aku segera tidur, besok pagi aku harus bangun pagi, ke pasar, dan menyiapkan masakan yang mereka sukai." Glesty bergumam sendirian".
"Trima kasih ya Tuhan, Engkau telah menempatkan mereka disisiku".
Glesty lagi - lagi bersyukur karena memiliki anak kembarnya disisinya.
Tiba - tiba saja, pikirannya mengingat kejadian 7 tahun lalu, dimana keluarga Arland memutuskan hubungan pernikahan yang baru ia bangun selama 2 bulan dengan suaminya.
"Terima kasih, karena kalian hanya membawanya." "Terima kasih karena tidak merampas anak - anakku juga."
Glesty sangat bersyukur karena ia tidak mengatakan tentang kehamilannya waktu itu.
"Kau dan keluargamu memang mengerikan. Dengan mengatasnamakan cinta, kau menikahiku dalam sebuah sandiwara. Lalu kemudian keluargamu mengambil kembali dirimu, membawamu pergi dariku. Mereka bahkan mengancam keselamatan kedua adikku! Bagaimana jika aku memberitahukan tentang kehamilanku waktu itu? Bisa saja mereka langsung melenyapkannya, atau merampas anak - anak dariku setelah mereka lahir. Kalian sungguh luar biasa." Glesty kembali bergumam dengan perasaan sedih.
Glesty merasa ngeri memikirkan kekuasaan yang dimiliki keluarga Arland. Ia sangat takut keluarga itu mengetahui keberadaan anak - anaknya.
"Tapi dimana kamu sekarang? Apa kamu baik-baik saja?