"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Ini hasil yang lu minta." Dani langsung menyerahkan amplop coklat dengan logo RSUD kota tersebut.
Ryan membuka perlahan amplop itu dengan perasaan was-was dan juga takut. Jika benar Nayla adalah putri kandungnya, maka mau tak mau Ryan harus merawatnya. Tapi jika bukan, maka Ryan akan memberi hukuman yang setimpal untuk Naina.
Betapa lemasnya Ryan saat mengetahui bahwa Nayla benar Putri kandungnya. Bagaimana nasib kedepannya? Sedangkan satu tahun ke depan Maeta akan pulang. Jika Ryan lepas tanggung jawab pasti Naina dan Nayla akan membenci dirinya.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Dani tak acuh.
"Dia anakku."
"Baguslah. Varatanu memiliki penerus. Tinggal buat satu anak laki-laki ..."
Satu lemparan pulpen tepat sasaran mengenai kepala Dani. "Lu gila ya?" Teriak Dani kesal.
Ryan terdiam tak bisa berkata-kata.
Siang itu Ryan memutuskan untuk menjemput Naina dan Nayla di tempat yang telah di beritahukan sebelumnya.
Tok... Tok... Tok....
Pintu rumah itu diketuk berkali-kali, sampai akhir keluarlah seseorang berparas cantik. Naina tersenyum, karena orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
"Masuk dulu, Pak." Naina mempersilahkan Ryan untuk masuk.
"Saya belum pamitan kepada Cici dan Abang Chandra. Kebetulan mereka lagi di rumah sakit. Bagaimana kalo kita jenguk dan sekalian berpamitan."
"Atur saja gimana baiknya." Ucap Ryan tak acuh.
Naina hanya tersenyum dan berpamitan meninggalkan Ryan sebentar untuk mengemas pakaiannya.
"Ayah di depan sana. Nay temui Ayah dulu, gih."
Nayla yang mengerti maksud Ibunya itu pergi menemui ayahnya.
Ryan tersenyum begitu melihat gadis kecil bertubuh sedikit gempal itu. Ryan memeluk Nayla dan mencium kedua pipi tembem tersebut.
"Nay, mau tinggal sama Ayah, kan?" Tanya Ryan pada Nayla.
"Iya," jawabnya dengan suara nyaring.
Ryan bermain bersama Nayla. Bermain selayaknya Ayah dan anak. Baru kali ini Ryan merasakan kebahagiaan dan kehangatan yang selalu ia impikan. Mimpi menimang seorang anak, bermain bersama anaknya, kini menjadi nyata.
Meski saat ini Ryan tak bisa membuka hati untuk Naina, tapi tak bisa di bohongi, bahwa hatinya telah terpaut sepenuhnya pada Nayla, putrinya sendiri.
Saat hendak meninggalkan rumah, ternyata Chandra dan Cecil telah lebih dulu sampai ke rumah. Betapa terkejutnya Cecil melihat Naina membawa tas pakaian yang dulu ia kenakan sebelum ia tinggal di rumahnya.
"Kamu mau kemana, Na?" Tanya Cecil.
"Cici, kenalkan ini Ryan. Dia suamiku. Alhamdulillah kami telah bertemu kembali dan berniat tinggal bersama."
Ada rasa ragu dalam diri Cecil. Dia menatap sengit pada Ryan. Perasaan benci dan sebal melihat wajah Ryan. Mungkin karena sikap tak acuhnya dan tak bertanggung jawabnya terhadap istri dan anaknya yang membuat Cecil membenci Ryan.
"Kamu yakin?" Tanya Cecil.
"Iya, Ci. Bagaimana pun aku harus mengikuti keinginan suami. Aku berjanji akan sering-sering main ke sini."
"Baiklah. Aku pegang janjimu." Cecil tersenyum.
"Hey kamu!" Celetuk Cecil pada Ryan. "Awas ya, kalau sampai aku denger Nay dan Naina sengsara olehmu, aku sumpah kan kamu mati tertabrak kereta."
"Sayang," Chandra buru-buru menutup mulut istrinya itu.
Ryan hanya tersenyum sinis dan berlalu pergi seraya menggendong Nayla.
"Aku minta maaf atas sikap Ryan." Naina mewakili Ryan meminta maaf.
"Tidak apa-apa. Tolong sampaikan maaf kami pada suamimu. Terlebih sikap Cecil tadi." Ungkap Chandra.
Sesampainya di apartemen berukuran 10x10 meter persegi itu, sikap Ryan berubah. Ia terlihat acuh tak acuh pada Naina. Bahkan untuk sekedar berbicara pun rasanya enggan.
Apartemen itu sedikit kurang terawat karena sering di gunakan oleh Reyhan selama ia kuliah.
Apartemen yang memang di beli Ryan saat ia kuliah dulu, itu sempat di huni oleh adiknya selama 3 tahun ke belakang.
Ruangan yang terdiri dari 1 kamar utama dan 1 kamar tamu, dapur yang menyatu dengan ruang makan, serta ruang keluarga yang menyatu dengan ruang tamu. Tempat yang biasa menjadi tempat favorit Ryan adalah taman area balkon tempatnya bersantai dan menikmati malam.
"Kita tidur terpisah. Kamarmu ada di sebelah sana. Dan aku ingatkan kamu jangan coba-coba masuk ke kamar ku." Sinis Ryan dan berlalu pergi.
Naina hanya terdiam, ia tersenyum getir menatap nasibnya yang entah bagaimana. Suaminya itu benar-benar telah berubah. Seperti bukan Ryan yang ia kenal dulu. Apakah mereka dua orang berbeda?
Waktu terus berjalan. Tak terasa malam pun menyapa. Setelah selesai menata tempat tidurnya, Naina merasakan lapar. Dan ia teringat Nayla juga belum ia kasih makan dari tadi siang.
Naina mengetuk pintu kamar Ryan, memanggil suaminya dan juga anaknya, namun tak ada suara.
Dari tadi Ryan menguasai Nayla. Sampai-sampai Naina tidak tahu kalau Ryan membawa Nayla keluar dari ruangan itu. Tinggal Naina seorang diri. Ia mencari bahan makanan apa saja untuk dapat ia makan. Namun apartemen itu benar-benar seperti apartemen yang baru di huni. Tidak ada apapun. Bahkan air segelas pun tak ada.
Naina terdiam, ia mencoba berjalan menuju balkon yang sedikit tak terawat itu. Ia menatap indahnya suasana malam di kota. Tanpa terasa air matanya menetes tanpa permisi.
"Jangan melawan, Naina. Ingat. Jangan pernah melawan. Lalui saja dengan ikhlas dan serahkan semuanya pada yang Kuasa." Gumam Naina seraya mengusap air matanya.
Berjam-jam Naina menahan lapar, tepat pukul 10 malam Ryan bersama Nayla pulang. Naina buru-buru menemui mereka. Dilihatnya Nayla yang telah tertidur dalam pelukan Ryan.
Tanpa basa-basi, Ryan berlalu pergi meninggalkan Naina dan membawa Nayla untuk tidur bersamanya.
Naina tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya terdiam. Menatap nanar langkah suaminya. Ternyata sakit ya, bila kita bersama orang yang tak menganggap kita ada. Bahkan perbedaan kasta pun membuat kita terinjak-injak.
Dengan memberanikan diri, Naina mengetuk pintu kamar Ryan. Hatinya berdebar tak karuan. Bukan lagi berdebar tengang cinta, tapi berdebar karena rasa sakit yang tak bisa di ungkapkan.
"Apa?" Ucap Ryan dengan wajah masam.
"Maaf Pak. Apakah di sini tak ada sesuatu untuk di makan?" Lirih Naina ketakutan.
"Kelihatannya bagaimana?"
"Saya sudah cek di dapur tidak ada apapun. Bahkan satu gelas air minum pun tak ada." Naina masih menunduk kepalanya, tak kuasa menatap mata Ryan.
Sebisa mungkin Naina menyembunyikan air matanya agar tak terlihat lemah di mata Ryan.
"Kau sedang berbicara dengan tembok?" Bentak Ryan membuat Naina terperanjat.
"Maaf," lirihnya dengan isak tangis.
"Menyebalkan."
Ryan masuk ke dalam kamarnya dan memberikan kartu ATM pada Naina. "Sana cari makan sendiri."
Naina memegang kartu tersebut. Bingung. Ini pertama kalinya Naina memegang kartu ATM, bahkan Naina tak tahu bagaimana cara mengoperasikannya.
"Maaf Pak, saya tidak mengerti cara menggunakannya." Naina mengembalikannya lagi pada Ryan.
"Merepotkan." Ryan merogoh saku celananya dan memberikan uang 50 ribu pada Naina.
Sakit, sungguh sakit hati Naina. Rasanya ia ingin pergi, tapi apakah Ryan dapat merelakan Nayla? Pasti dengan uang dan kekuasaannya, Ryan dapat menyuap pengadilan sehingga Nayla jatuh pada dirinya.
Ryan langsung menutup pintu kamarnya dan membiarkan Naina mematung begitu saja. Naina tak ingin mati sia-sia. Ia pergi keluar untuk mencari makan. Apa saja asal dapat di makan.
Malam yang semakin ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Entah itu mereka yang sedang menongkrong atau yang baru pulang kerja.
Naina terdiam, memikirkan apakah 50 ribu ini bisa membeli sesuatu untuk dia makan? Naina mencari angkringan yang di nilai lebih murah daripada ia harus makan di sebuah rumah makan.
Akhirnya ada satu angkringan yang lumayan murah, Naina memesan nasi sekepal dan satu ayam goreng dengan air putih. Sebelumnya Naina sudah menanyakan harga dan itu cukup untuk uang yang ia bawa.
Naina berulang kali berpikir, sepertinya Ryan telah memiliki orang lain di hidupnya. Jika memang iya, benar adanya begitu. Maka Naina akan dengan lapang dada mundur dari kehidupan Ryan. Naina tidak akan mempertahankan Ryan atau pun rumah tangganya. Karena Naina tahu bahwa dirinya tak sepadan dengan Ryan.
Satu suap nasi yang masuk ke dalam mulutnya terasa sesak di dada. Bahkan untuk menelannya membutuhkan tenaga yang lebih. Air mata itu tak bisa berhenti. Bahkan menjadi tontonan orang-orang di sana. Naina malu, tapi sakit hatinya lebih menguasai dirinya.