Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Dosa
Malam pekat menyelimuti Ibu Kota Kerajaan Angin Langit. Di bawah gemerlap cahaya lentera dari istana dan paviliun mewah yang menaungi para bangsawan, terdapat sebuah dunia yang tak pernah tersentuh oleh dekrit kerajaan maupun cahaya matahari.
Jian Chen mengenakan jubah hitam kelam yang menyatu dengan bayangan. Wajahnya tertutup oleh topeng besi bermotif hantu bergigi taring, menyembunyikan identitasnya sebagai murid pribadi Tetua Tertinggi Akademi. Pedang Penguasa Kosong yang terbungkus oleh lilitan kain rami kasar bersandar kokoh di punggungnya, tampak seperti bongkahan pilar batu yang dibawa oleh sosok raksasa, alih-alih seorang pemuda fana.
Berdasarkan petunjuk Feng Wuya, Jian Chen menyelinap ke sebuah lorong rahasia di balik air terjun kering di pinggiran barat kota. Lorong berbatu itu melingkar tajam menembus perut bumi. Penjaga gerbangnya adalah dua kultivator Kondensasi Qi Tingkat Delapan dengan aura pembunuh yang menguar bagai kabut berdarah.
Jian Chen melemparkan sepuluh Batu Spiritual Tingkat Rendah sebagai biaya masuk—harga yang sangat merobek kantong bagi kultivator fana biasa, sengaja dipasang untuk menyaring semut-semut lemah agar tidak mengotori jalan masuk.
Gerbang batu perunggu di hadapannya terbuka perlahan, menampilkan pemandangan Kota Dosa.
Tempat itu adalah sebuah gua raksasa yang diterangi oleh batu-batu pendar berwarna merah darah yang tertanam di langit-langit gua. Bangunan-bangunan batu berjejal tak beraturan. Aroma arak fermentasi murah, karat darah kering, dan hawa nafsu bercampur baur menyengat hidung. Kultivator dengan wajah penuh bekas luka, buronan berdarah dingin, dan para pembelot sekte berlalu-lalang tanpa hukum. Di sini, nyawa manusia lebih murah daripada segelas air.
Di pusat kota bawah tanah itu, sebuah bangunan yang menyerupai kawah gunung berapi terbalik berdiri sangat mendominasi. Sorak-sorai buas dan raungan kesakitan bergema dari dalamnya, menggetarkan dinding gua.
Itulah Arena Asura.
Jian Chen melangkah mendekati meja pendaftaran yang dijaga oleh seorang pria tua bungkuk bermata satu.
"Pendaftaran laga kematian. Sepuluh Batu Spiritual," geram pria bungkuk itu tanpa mengangkat wajahnya dari lembaran perkamen.
Jian Chen meletakkan batu-batu yang memancarkan cahaya biru murni itu di atas meja kayu yang lapuk.
"Nama julukan?"
"Kekosongan," jawab Jian Chen singkat dari balik topeng hantunya.
"Tingkat kultivasi?"
Jian Chen membiarkan Seni Melahap Surga Primordial-nya melonggarkan sedikit segelnya. "Kondensasi Qi Tingkat Tujuh."
Pria bungkuk itu mencibir, matanya yang tersisa melirik jubah hitam dan pedang berbalut kain milik Jian Chen. "Tingkat Tujuh? Di gelanggang ini, itu hanyalah pakan untuk binatang buas. Kau akan dimasukkan ke arena tingkat besi malam ini juga. Tanda tangani kontrak jiwa ini. Arena Asura tidak bertanggung jawab jika kepalamu terpisah dari lehermu dan hartamu dirampas oleh pemenang."
Jian Chen menggigit ujung jarinya dan membubuhkan cap darahnya tanpa ragu sedikit pun. Ia menerima sebuah medali besi berkarat dengan ukiran angka 'Sembilan Ratus Sembilan Puluh Sembilan'.
Tak lama, seorang pelayan bisu memandu Jian Chen melewati lorong gelap yang lembap menuju lorong petarung. Suara gemuruh ribuan penonton semakin memekakkan gendang telinga. Bau darah segar begitu kental hingga rasanya bisa dikecap di lidah.
"Pertarungan berikutnya!" teriak wasit dari tengah arena berpasir yang telah basah oleh lautan darah. "Seorang pendatang baru, 'Kekosongan', melawan sang penjagal berantai kita yang telah memenangkan lima laga berturut-turut dengan merobek jantung musuhnya... Si Beruang Darah, Tu Ba!"
Gerbang jeruji besi yang berat berdenting dan terangkat. Jian Chen melangkah keluar ke atas pasir berdarah. Ribuan pasang mata menatapnya dari tribun batu.
Dari gerbang seberang, seorang pria raksasa setinggi sembilan kaki melangkah keluar. Tubuhnya dipenuhi otot yang membengkak tidak wajar dan bekas tebasan senjata tajam. Ia tidak membawa pedang, melainkan mengenakan sepasang sarung tangan besi yang dipenuhi paku-paku tajam sepanjang telunjuk. Aura Kondensasi Qi Tingkat Delapan Awal meledak dari tubuhnya, menekan udara di dalam arena.
Penonton bertaruh liar. Sebagian besar menertawakan Jian Chen yang tampak kurus dan hanya berada di Tingkat Tujuh. Di Kota Dosa, perbedaan satu tingkat kultivasi adalah jurang antara hidup dan mati.
"Hahaha! Daging segar lagi!" Tu Ba mengusap sarung tangan berdurinya yang masih meneteskan darah panas dari korban sebelumnya. Ia menatap Jian Chen dengan mata memerah. "Bocah kurus, aku akan meremukkan tulang rusukmu satu per satu agar penonton bisa mendengar nyanyian kematianmu yang indah!"
Jian Chen berdiri tenang seperti sumur tua yang tak beriak. Ia bahkan tidak melepaskan kain rami dari Pedang Penguasa Kosong di punggungnya. Ia hanya menatap Tu Ba dari balik topengnya layaknya menatap seekor babi hutan kelas rendah di Hutan Binatang Iblis.
"Kau terlalu banyak menyalak untuk sesosok mayat," suara serak Jian Chen bergema menembus keriuhan arena.
"Cari mati!"
Tu Ba meraung murka. Ia menerjang maju layaknya badak gunung yang mengamuk. Setiap langkahnya membuat pasir di arena bergetar. Kecepatannya sangat mengejutkan untuk ukuran tubuh sebesar itu. Sarung tangan besinya yang diselimuti Qi elemen tanah berwarna cokelat pekat menghantam lurus ke arah tengkorak Jian Chen.
Tenaga dari pukulan itu setidaknya mencapai tiga ribu kilogram! Udara menjerit saat duri-duri besi itu merobek kehampaan.
Di mata para penonton fana, Jian Chen seolah membeku karena teror.
Namun, tepat saat paku besi itu berjarak kurang dari sejengkal dari topeng hantunya, Jian Chen perlahan mengangkat tangan kanannya.
Pukulan Dominasi Primordial.
Ia sama sekali tidak menghindar. Ia menyambut tinju baja berlapis Qi Tingkat Delapan itu dengan tinju kosongnya sendiri. Tenaga empat ribu empat ratus kilogram murni meledak tanpa ampun, tanpa perlu menggunakan seutas Qi pun!
BOOOOOOM!
Suara ledakan mengerikan dari tulang dan besi yang bertabrakan membungkam seluruh arena dalam seketika.
Waktu di dalam gelanggang seakan terhenti. Sarung tangan besi berduri milik Tu Ba hancur berkeping-keping layaknya tanah liat yang rapuh. Tinju Jian Chen tidak melambat sedikit pun, ia terus melaju, menembus pertahanan Qi elemen tanah milik raksasa itu seolah merobek lapisan kertas tipis, dan mendarat telak di dadanya.
KRAAAAK!
Suara patahan tulang rusuk yang meremukkan telinga terdengar jelas ke seluruh penjuru tribun. Dada Tu Ba melesak ke dalam membentuk lubang cekung yang mengerikan. Raksasa setinggi sembilan kaki itu memuntahkan hujan darah, tubuh besarnya terpental ke belakang sejauh dua puluh langkah, lalu menabrak dinding batu arena hingga dinding tersebut retak memanjang.
Tu Ba jatuh ke tanah bagai karung daging busuk. Mati seketika, dengan jantung hancur berkeping-keping di dalam rongga dadanya.
Keheningan absolut menyelimuti puluhan ribu penonton. Napas mereka tercekat. Mata mereka membelalak tak percaya hingga nyaris keluar dari kelopaknya. Seorang jenius Tingkat Tujuh yang tak dikenal baru saja membunuh seorang veteran Tingkat Delapan yang kejam dengan satu pukulan frontal... tanpa senjata, dan tanpa teknik Qi elemen apa pun?!
Jian Chen menurunkan tangannya yang tidak tergores sedikit pun. Ia berjalan perlahan menghampiri mayat Tu Ba. Di bawah tatapan ngeri semua orang, ia berjongkok, seolah-olah sedang mencari Kantong Penyimpanan di pinggang mayat tersebut sebagai harta rampasan perang.
Namun, yang tidak diketahui oleh siapa pun, di balik jubah hitamnya, pusaran tak berdasar di Dantiannya sedang berputar liar.
"Seni Melahap Surga Primordial—Lumatkan!"
Hanya dalam tiga tarikan napas, esensi darah yang kuat dan sisa kultivasi Tingkat Delapan milik Tu Ba disedot habis tanpa sisa. Energi itu disuling, dibakar kotorannya, dan dialirkan murni ke dalam Meridian Primordial Jian Chen, mengubah mayat raksasa itu menjadi sedikit lebih kering layaknya kayu lapuk.
Jian Chen berdiri tegak. Ia mengikatkan kantong jarahannya ke sabuk, lalu menengadah menatap ke arah wasit yang masih mematung di pinggir arena.
Aura haus darah yang telah ia tahan sejak kehidupan masa lalunya akhirnya meledak dari balik topeng hantunya.
"Kirim penantang berikutnya," ucap Jian Chen dengan nada sedingin es abadi. "Malam ini... aku tidak akan melangkah keluar dari gelanggang berdarah ini sebelum sepuluh kepala menggelinding di kakiku."