Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. TERBUAI PESONA ASLAN
Suara Aslan yang tegas membuat Alana menggigil ringan. Ketika ia akhirnya terpaksa melihat ke arah matanya, pandangan biru yang dalam itu langsung menusuk jauh ke dalam jiwanya—seolah ada kekuatan ajaib yang membuatnya terpana dan tidak bisa lagi mengalihkan pandangan. Ia melihat bagaimana mata pria itu berkilau dengan keinginan dan kesetiaan yang mendalam, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan bisa ada pada seseorang.
Tanpa sadar, napas Alana menjadi lebih pendek. Tangan Aslan yang masih memegang tangannya perlahan bergeser, menyentuh kulitnya yang terbuka di pergelangan tangan dengan gerakan yang lembut namun penuh dengan maksud. Setiap sentuhan seperti membawa arus listrik yang menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa terbuai dan sedikit kehilangan kendali.
"Sadarilah, Alana," ucap Aslan dengan suara yang rendah dan merdu, sementara matanya tetap terpaku pada wajahnya. Ia menarik tubuhnya lebih dekat lagi, hingga dada mereka hampir bersentuhan. "Kita sedang bermain permainan yang tidak bisa kita hentikan begitu saja. Permainan dimana hati kita adalah satu-satunya yang bisa memutuskan hasilnya."
Alana merasakan bagaimana dada Aslan naik turun dengan napas yang dalam, dan setiap gerakan itu membuatnya semakin terjebak dalam aura yang kuat dan memikat. Ia ingin berlari, ingin menjauh dari perasaan tidak nyaman yang semakin membanjiri dirinya, namun tubuhnya seolah terkunci dan tidak bisa bergerak. Tangan kanannya yang masih menggenggam tali tas mulai berkeringat, dan ia bisa merasakan bagaimana kakinya hampir melemah.
Namun Aslan tidak berniat melepaskannya. Tangan kirinya yang berada di bahu Alana perlahan bergeser ke lehernya, menjaga wajahnya tetap menghadap dirinya dengan lembut namun tegas. Ia merasakan bagaimana kulit Alana yang lembut dan hangat di bawah ujung jarinya, dan keinginan untuk memeluknya dengan erat serta mencintainya dengan sepenuh hati semakin kuat menguasainya.
"Aku menginginkanmu lebih dari apa pun di dunia ini, Alana," bisik Aslan dengan suara yang penuh dengan hasrat, sementara hidungnya menyentuh dahinya yang lembut. "Namun aku akan menahannya sekuat hati yang aku punya karena aku tidak ingin menyakitimu. Aku hanya ingin kamu memahami betapa dalamnya perasaanku padamu."
Alana merasa bingung dan tertekan. Ia tidak bisa menolak pesona yang terpancar dari Aslan, namun pada saat yang sama, rasa tidak nyaman dan keinginan untuk menjaga jarak juga semakin kuat. Ia melihat bagaimana bibir Aslan yang penuh dengan hasrat hampir menyentuh bibirnya, dan napasnya hampir terhenti.
"Aslan... tolong..." bisiknya lagi, suara yang gemetar kini semakin lemah. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan atau lakukan. Semua yang ia rasakan saat ini adalah kebingungan dan kerinduan yang saling bertentangan dalam hatinya.
Tetapi Aslan hanya mengangguk perlahan, matanya tetap penuh dengan cinta dan kesetiaan yang mendalam. Ia tidak akan melepaskan Alana sebelum dia memahami betapa pentingnya dia baginya—bahkan jika itu berarti harus membuatnya merasa tidak nyaman untuk sementara waktu. Bagi Aslan, cinta yang dia rasakan pada Alana adalah sesuatu yang layak untuk diperjuangkan, sesuatu yang tidak akan pernah dia biarkan pergi begitu saja.
Sebelum Alana bisa berkata apa-apa lagi, Aslan perlahan menggeser tubuhnya agar berdiri lebih dekat, menyempitkan ruang gerak yang tersisa untuk gadis itu. Tangan kirinya tetap berada di lehernya dengan lembut namun pasti, sementara tangan kanannya menjepit erat pergelangan tangannya—seolah membentuk lingkaran yang tidak bisa dilampaui. Alana merasa seperti terkurung dalam lingkaran hangat yang berasal dari tubuh pria itu, setiap gerakan kecilnya hanya membuat jarak di antara mereka semakin tipis.
"Mata kamu bilang sesuatu yang berbeda dari kata-katamu, Alana," bisik Aslan dengan suara yang meresap ke dalam telinganya. Matanya yang biru semakin dalam, memikat dan membimbing pandangan Alana agar tidak bisa lagi melarikan diri. "Kamu juga merindukanku, bukan? Kamu juga merasa bagaimana hati kita berdebar dengan irama yang sama?"
Alana ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia masih perlu waktu, namun lidahnya terasa kering dan tidak bisa mengeluarkan suara. Tubuhnya semakin terasa lemah, dan rasa tidak nyaman yang dulu ada mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih kompleks—percampuran antara ketakutan dan ketertarikan yang tidak bisa ia sangkal.
Tanpa memberi kesempatan bagi Alana untuk berpikir lebih jauh, Aslan mendekatkan wajahnya dengan gerakan yang lambat namun tidak bisa ditolak. Ketika bibirnya hampir menyentuh bibir Alana, ia merasakan bagaimana gadis itu sedikit mencoba untuk menjauh—namun ia tetap melanjutkan, memberikan ciuman singkat namun penuh dengan makna. Ciuman itu sedikit memaksa, namun tidak menyakitkan—seolah ia ingin menunjukkan bahwa dia adalah satu-satunya yang bisa membuatnya merasa seperti ini.
Dalam sekejap, dunia di sekitar mereka seolah lenyap. Alana merasakan bagaimana ciuman itu membawa sensasi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya—hangat, penuh dengan hasrat, dan membuatnya ingin lebih banyak. Meskipun awalnya ia mencoba untuk menolak, tubuhnya secara tak sadar merespons, mendekatkan diri sedikit ke arah Aslan.
Setelah beberapa saat, Aslan melepaskan ciumannya dan melihat wajah Alana dengan tatapan yang penuh dengan kepuasan dan cinta. Ia melihat bagaimana pipinya kemerahan, bagaimana napasnya menjadi tidak teratur, dan bagaimana matanya yang cokelat kini terbuka lebar dengan ekspresi yang campur aduk antara terkejut dan terpikat.
"Kau merasakannya juga, bukan?" ucap Aslan dengan suara yang rendah dan penuh keyakinan. Ia sedikit melepaskan jeratannya namun tetap menjaga jarak yang dekat, memberikan ruang bagi Alana untuk bernapas. "Rasanya bahwa kita memang dimaksudkan untuk bersama."
Alana masih terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Namun tanpa sadar, tangannya yang dulu menggenggam tali tas kini perlahan meraih lengan Aslan, menunjukkan bahwa ia mulai tertarik dan bersedia mengikuti permainan yang dimulai oleh pria itu. Meskipun bagian dari dirinya masih merasa ragu dan tidak nyaman, bagian lain dari dirinya—bagian yang selama ini ia sembunyikan—merasa ingin mengetahui lebih banyak tentang cinta dan hasrat yang ditawarkan oleh Aslan.
Aslan melihat gerakan kecil itu dan tersenyum lembut. Ia tahu bahwa perjuangan untuk memenangkan hati Alana belum selesai, namun kini ia tahu bahwa gadis itu sudah mulai terbuka dan mengikuti aliran perasaan yang tumbuh di antara mereka berdua. Bagi Aslan, ini adalah langkah awal yang berharga menuju masa depan yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan bersama dengan Alana.
Setelah beberapa saat, Alana menarik tangan perlahan dari genggaman Aslan dan menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat dari ciuman itu. Pipinya masih kemerahan, dan matanya tampak bingung namun juga penuh dengan rasa ingin tahu yang mendalam. Ia melihat ke arah Aslan dengan pandangan yang berbeda—tidak lagi hanya takut atau tidak nyaman, melainkan juga dengan rasa hormat dan ketertarikan yang semakin tumbuh.
"Kita tidak boleh melakukan ini begitu saja, Aslan," ucapnya dengan suara yang masih sedikit gemetar namun sudah lebih mantap. Ia menarik tubuhnya sedikit menjauh, menetapkan jarak yang lebih nyaman baginya. "Aku memang merasakan sesuatu padamu... sesuatu yang kuat dan tidak bisa aku jelaskan. Tapi aku perlu waktu untuk memahaminya dengan benar."
Aslan mengangguk dengan penuh pengertian, meskipun bagian dalam dirinya merasa sedikit kecewa. Ia menyadari bahwa ia telah terlalu jauh melangkah tadi, bahwa meskipun Alana mulai terbuka, ia masih perlu menghormati batasan yang ada. Tangan kirinya terbentang di depannya, seolah ingin menjangkau gadis itu namun ia menahannya dengan sekuat hati.
"Kau benar, Alana," ucapnya dengan suara yang lembut dan penuh penghormatan. "Aku minta maaf jika aku membuatmu tidak nyaman. Aku hanya terlalu terbawa emosi dan keinginanku padamu. Aku akan memberikanmu waktu yang kamu butuhkan—sesuatu yang seharusnya kulakukan dari awal."
Mendengar kata-kata itu, Alana merasa sedikit lega. Ia melihat bagaimana Aslan mampu mengendalikan dirinya, bagaimana ia bersedia untuk menahan hasratnya demi kenyamanannya. Hal itu membuatnya semakin terpikat pada pria itu—bukan hanya karena pesonanya yang kuat, melainkan juga karena kesediaannya untuk menghormati keputusannya.
Namun tidak lama kemudian, Aslan melangkah mendekat lagi, namun kali ini dengan gerakan yang lebih lambat dan hati-hati. Ia tidak menyentuh tubuhnya, hanya berdiri cukup dekat agar suara bisiknya bisa terdengar jelas.
"Tetapi izinkan aku mengajakmu melakukan sesuatu," katanya dengan tatapan yang penuh dengan harapan. "Mari kita pergi ke tempat yang lebih tenang—sebuah kafe kecil di pinggir danau yang aku tahu. Kita bisa berbincang dengan tenang, mengenal satu sama lain dengan lebih baik tanpa tekanan apa pun. Hanya sebagai dua orang yang sedang mencoba memahami perasaan yang tumbuh di antara mereka."
Alana melihat ke arah Danau Jenewa yang mulai menghadap malam, kemudian kembali melihat wajah Aslan yang penuh dengan kesungguhan. Bagian dari dirinya ingin menolak dan kembali ke rumah untuk berpikir tenang, namun bagian lain dari dirinya ingin mengetahui lebih banyak tentang pria yang telah mengubah dunia perasaannya dalam waktu singkat.
Tanpa sadar, tangannya kembali meraih lengan Aslan dengan lembut. Ia merasa bahwa ini adalah pilihan yang harus ia buat sendiri—baik untuk menjauh atau untuk mengikuti aliran perasaan yang ada. Dan dalam hati yang dalam, ia tahu bahwa ia ingin memberikan kesempatan bagi dirinya dan Aslan untuk melihat apa yang sebenarnya bisa terjadi antara mereka berdua.
"Baiklah," ucapnya dengan suara yang tenang namun pasti. "Mari kita pergi ke kafe itu. Tapi kita hanya akan berbincang, ya? Tanpa tekanan apa pun."
Aslan tersenyum lebar, matanya bersinar dengan kegembiraan dan harapan. Ia mengangguk dengan penuh kesetiaan. "Tidak ada tekanan sama sekali, Alana. Janjiku padamu."
Sambil tetap menjaga jarak yang nyaman, mereka berjalan bersama menuju arah kafe yang disebutkan Aslan. Alana merasa seperti sedang memasuki babak baru dalam hidupnya—babak yang penuh dengan ketidakpastian namun juga dengan harapan yang besar. Meskipun ia masih merasa sedikit tidak nyaman dan ragu, ia juga merasa bahwa ini adalah langkah yang benar untuk mengambil kendali atas permainan perasaan yang telah dimulai, bukan hanya mengikutinya tanpa arah.