AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 18
Shena sudah masuk ke dalam mobil nya. Tubuhnya menegang dengan kemarahan yang hampir mencapai ubun-ubun.
BRAKK!
Shena memukul setir dengan keras.
"SIAL! Ini semua pasti karena bocah ingusan itu! Kurang ajar!"
Shena menyambar ponselnya yang tadi sempat dia lembar di jok samping. Dia mencari nomor seseorang di kontak nya kemudian menekan ikon hijau untuj menghubungi nomor tersebut.
Shena : Cari keberadaan seseorang untuk ku! Aku akan mengirimkan foto nya dan identitasnya!
Mr.X : Baik.
Shena memutus sambungan setelah nya. Dia laku mencari foto Audrey di akun sosial media kakak ipar nya itu lalu mengcapture nya dan segera di kirim ke orang suruhan.
Shena mengetik pesan.
"Namanya Audrey, dia kuliah di Avalor University dan sedang menjalani KKN. Cari tau dimana dia KKN, kirim alamatnya segera!"
Klik!
Pesan itu terkirim berikut foto Audrey di dalamnya.
🏵️
Tiga hari berjalan dengan cepat, Audrey baru saja membuat makan malam dengan teman-teman yang lain.
"Bawa kedepan, Yas." Titah Audrey pada Yasmin, salah satu teman mahasiswi nya yang juga satu kamar dengannya dan Lula.
"Siap, Bos!" Jawab Yasmin dan langsung membantu membawa beberapa lauk bersama Lula ke ruang tengah yang sudah di sulap menjadi rumah makan lesehan ala-ala.
"Wah...Enak banget kayanya. Siapa yang masak nih ?" tanya James dengan mata berbinar ketika melihat menu ikan bakar yang sedikit gosong serta acar yang berisi potongan timun, bawang merah, wortel dan cabai.
"Tuh, Istri Bos besar." Kata Lula sambil melirik Audrey yang membawa menu lain, tempe mendoan yang baru saja matang lengkap dengan sambal kecapnya.
"Lo dapet ikan dari mana, Drey ? Perasaan tadi kita keliling desa nggak nemu tukang ikan ?!" Potong kawan yang lain.
"Oh, tadi gue di kasih Pak RT. Katanya dia habis mancing, lumayanlah gurame gratis dua ekor, mana gede-gede banget, udah di bersihin pula." Sahut Audrey yang mengambil posisi duduk di tengah-tengah Lula dan Yasmin.
"Ayo makan, setelah ini kita harus obrolin kegiatan untuk besok." Kata James sebagai ketua.
Mereka pun makan sambil berbincang ringan.
"Drey, nggak nyangka ternyata lo bisa masak."
"Elah, biasa aja kali. Lagian gue juga liat disini resepnya.." Audrey mengangkat layar ponselnya yang masih menampilkan sebuah video tutorial membuat ikan bakar.
Semua orang tertawa, namun hanya satu orang yang diam saja tapi tatapannya tak pernah lepas memandangi Audrey. Tidak lain orang itu adalah Dean. Kebetulan duduk mereka saling berhadapan dan hanya di sekat oleh makanan di tengah-tengah mereka.
Selesai makan, Audrey, Lula serta beberapa kawan perempuan mereka membersihkan dapur dan piring kotor. Sesuatu yang tidak pernah di lakukan hampir semua dari mereka jika dirumah sendiri. KKN mereka ini bukan hanya sekedar kewajiban yang harus mereka jalani sebagai mahasiswa, namun ini juga memberi pelajaran hidup yang sangat berharga, terutama untuk Audrey, yang paling dikenal sebagai anak Mami.
Pukul 9 malam sebelum mereka tidur, mereka menyempatkan membicarakan program untuk besok. Audrey sesekali mengangkat suara untuk memberikan pendapat. Beruntung di tim mereka ada James sebagai 'Kordes' yang cekatan serta berjiwa kepemimpinan tinggi dan Audrey yang terkenal memiliki otak yang encer.
"Sudah malam. Kita akhiri hari ini, besok kita lanjutkan lagi dengan semangat yang baru." James mengulurkan tangan, menghadapkan telapak tangan di atas, disusul tangan Andrew, Kendra lalu Dean kemudian yang lainnya.
"Kelompok KKN 243!" Pekik James.
"PASTI BISA!" Jawab kesembilan orang dengan suara lantang kemudian di iringi sorakan penuh semangat.
Setelah itu semua orang masuk ke kamar masing-masing.
"Dean! Bisa keluar sebentar ?! Ada yang mau gue omongin.." Kata James sesaat setelah mereka masuk ke kamar.
Dean tidak menjawab tapi mengikuti James di belakang.
Mereka duduk di teras depan sambil menikmati gerimis yang baru saja jatuh membasahi tanah desa.
"Dean, gue nggak akan basa basi mengingat kita teman sejak SMA. Gue minta lo profesional, De. Gue udah nahan-nahan sejak kita sampai di sini, tapi gue liat lo masih aja diem." James berbicara dengan suara pelan namun berat. Sebagai ketua kelompok tidak mungkin James diam saja melihat ketidakkompakan Dean karena masalah pribadi nya dengan Audrey.
Dean menunduk, bukan takut, tapi merasa tidak enak.
"Dean, lo tau sendiri Audrey itu menikah karena perjodohan. Dia nggak punya pilihan, De. Lo harus tau sikap lo yang kaya gini bikin Audrey tersiksa sebagai sahabat lo. Sekarang dia udah tau lo suka sama dia, tapi dia juga nggak bisa apa-apa."
Dean mengangkat wajahnya, terkejut saat tau ternyata Audrey sudah tau.
"Gue nggak bisa mentolerir lagi, De. Cukup tiga hari aja. Besok lo harus bersikap biasa lagi sama Audrey. Kalau lo nggak bisa, gue akan ngeluarin lo dari kelompok dengan alasan tidak profesional dan merugikan kelompok." Tegas James mengultimatum Dean.
Dean menatap James seperti tidak percaya kalau James akan setegas itu.
James berdiri, menepuk bahu Dean sambil berlalu masuk kembali ke dalam rumah.
Dean termenung di teras. Gerimis mulai berubah jadi hujan yang lumayan lebat membuat pria muda itu semakin merasa nelangsa.
Satu sisi hati nya masih patah, di sisi lain di paksa untuk kuat. Dean tidak perduli jika orang menganggap nya lemah karena dia memang dia merasa sesakit itu. Audrey, gadis pertama yang dia suka dan menjadi yang pertama juga menorehkan luka.
Sedangkan di kamar yang berbeda, Audrey berbaring di kasur dengan Yasmin, sementara Lula dengan kasur single sendiri.
Yasmin dan Lula sudah tidur dengan lampu kamar yang sudah di matikan, tinggal Audrey seorang diri yang masih terjaga meski waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
"Kenapa jadi kepikiran si kanebo kering terus ya ?!" Kata Audrey dalam hati sambil menatap foto pernikahan nya dengn Wira. Di foto itu Wira memang tidak tersenyum, namun Audrey tidak melihat raut keberatan atas pernikahan yang mereka jalani pada saat itu.
"Apa ini namanya kangen ?! Aku sangat ingin mendengar suaranya, meskipun selalu datar dan tidak mencerminkan kelembutan. Aku sangat ingin melihat wajahnya, meskipun keras tapi aku tau dia hangat." Audrey berbicara terus dalam hatinya sampai tak terasa terlelap sambil memeluk ponsel.
🏵️
Hujan deras melanda seluruh desa sejak semalam. Udara di desa semakin terasa dua kali lipat lebih dingin dari biasanya.
Audrey menggeliat sambil melenguh panjang.
"Astaga, dingin sekali." Ucap Audrey ketika selimut yang menutupi kaki nya jatuh ke lantai.
"Lul..jam berapa ini ?" tanya Audrey seraya mengambil selimut lalu memakai nya lagi.
"Jam delapan. James sama yang lain udah ngumpul di ruang tamu."
"Astaga, gue terlambat dong kalau gitu." Audrey bangun buru-buru, tapi Lula langsung bicara lagi.
"Udah tenang aja. Tadi gue udah bilang sama James dan yang lain kalau semaleman lo nggak bisa tidur. Jadi minta tambahan sedikit waktu sampai jam 9 nanti."
Audrey terdiam menatap Lula penuh tanya.
"Jadi lo tau semalem gue nggak bisa tidur ?" tanya Audrey memastikan.
Lula mengangguk menatap Audrey dengan tatapan yang entah.
"Drey, apa pernikahan lo seberat itu ?" tanya Lula kemudian.
Audrey mengerutkan keningnya, "Kok lo nanya gitu ?" tanya Audrey
Lula bangun dari kasurnya lalu duduk di atas kasur lain sebelahan dengan Audrey, "Semalem gue liat lo mandang foto pernikahan lo lama banget, terus gue liat sesekali lo nyeka air mata."
Audrey tak langsung menjawab. Tapi jika Lula tau bahwa ada yang lebih berat lagi yaitu harus menghadapi mertua dan ipar yang toxic, mungkin Lula jadi orang pertama yang menyuruhnya pisah dengan Wira.
"Sebenernya gue nggak ngerasa berat sama sekali ngejalanin pernikahan ini, Lul. Gue cuma lagi kepikiran aja, kok bisa hidup gue berubah seratus delapan puluh derajat dalam sekejap."
Lula menatap Audrey dengan sendu, "Drey, kalau lo mau cerita apapun itu gue selalu siap dengerin. Jangan ngerasa sendirian, Drey. Gue sahabat lo akan selalu jadi garda terdepan buat lo." Ucap Lula yang langsung di sambut pelukan oleh Audrey.
"Thanks, Lul. Lo emang sahabat gue."