Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12- CKOD 12
Kelopak mata Bella bergerak pelan. Sangat perlahan karena memang rasanya begitu amat berat.
Seolah, ada beban yang menahannya untuk terbuka. Mungkin dirinya sendiri, di dalam hatinya, sebenarnya dia tidak ingin lagi membuka mata.
Napasnya bahkan tersendat halus saat kesadaran mulai merayap masuk. Terakhir kali yang ada di ingatannya adalah ketika dia berada di kamar mandi, dan Leo memberikan perintah agar dia cepat bangun. Karena pria itu menginginkan teh.
Perlahan, Bella membuka matanya, sedikit saja, memang hanya sedikit. Hanya cukup untuk membiarkan cahaya masuk dan menusuk penglihatannya yang masih kabur.
Namun perlahan yang terlihat di depannya hanya putih. Hal pertama yang Bella lihat adalah langit-langit putih bersih dengan lampu-lampu kecil yang memancarkan cahaya hangat. Tidak ada noda. Tidak ada retakan. Begitu tapi dan juga tenang.
Bella mengerjapkan mata, mencoba fokus.
Pandangan itu mulai jelas sedikit demi sedikit. Wanita itu perlahan menggeser bola matanya ke samping.
Dimana terdapat sebuah jendela besar dengan tirai abu-abu lembut yang tersingkap sebagian, membiarkan cahaya siang masuk dengan tenang. Sepertinya dia sudah bisa menebak, ada dimana dia sekarang.
Ya, dia ada di rumah sakit. Bella pingsan di kamar mandi dengan kepala membentur pintu, lalu terjatuh ke lantai. Suara keras yang terdengar sebelum Leo meninggalkan kamar, membuat pria itu kembali ke dalam kamar mandi. Mengetahui Bella pingsan, dengan cepat dia menutupi tubuh Bella dengan jubah mandi dan membawanya ke rumah sakit.
Bella juga sudah bisa menebak, dia bahkan di tinggalkan begitu saja setelah pria itu mengantarkannya ke rumah sakit ini.
Dan apa yang Bella kira itu memang benar. Leo memang meninggalkannya dan segera pergi ke kantor. Setelah mengurus semua administrasinya.
Namun Bella juga tidak terlalu perduli. Justru dengan begini, bukankah dia tidak akan melihat orang-orang yang hanya menatapnya dengan dendam itu, sekarang? itu lebih baik kan? meski hanya sebentar.
Tangan Bella bergerak sedikit, itu gerakan refleks karena dia memang sudah lama diam.
Namun begitu dia menggerakkan tangannya, rasa nyeri langsung menjalar. Bella meringis pelan.
Selang kecil menancap di kulitnya yang pucat. Perban putih membungkus sebagian lengannya. Di sela-sela kain bersih itu, samar-samar masih terlihat bekas luka lama, merah, keunguan dan beberapa yang mulai menghitam.
Matanya berkedip lagi. Dia menoleh lebih jauh. Ada sofa empuk. Meja kaca. Vas bunga segar.
Bibir Bella yang kering sedikit terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya napas yang terasa berat, seperti setiap tarikan udara harus diperjuangkan. Beberapa detik dia menatap ke sekeliling. Ruangan ini pasti mahal. Biasanya dia akan di tempatkan di ruangan yang murah kan?
Bella tersenyum getir. Mungkin lukanya sangat parah. Makanya dia tempatkan di tempat seperti ini. Alasannya sederhana, agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan. Karena di ruangan VIP. Tidak sembarang orang bahkan tenaga kesehatan bisa masuk. Sungguh ironis.
Sementara itu di ruangan lain, di rumah sakit yang sama. Tak disengaja juga sebenarnya, ternyata Oscar dan pihak penjara juga telah membawa Bagas ke rumah sakit ini sebelumnya.
Beberapa perawat yang kebetulan lewat di depan ruangan Bagas. Sedang membicarakan kondisi Bella. Karena memang tempat itu bangsal yang paling sepi. Mereka bisa bergosip disana.
"Ih kamu tahu gak, barusan aku lihat laporan hasil pemeriksaan pasien yang di rawat di ruangan VIP itu. Kalau gak salah, namanya Bella Clarissa..."
Bagas yang ada di dalam ruangan itu, dari yang semula matanya terpejam. Segera membuka matanya.
'Bella!' lirihnya dalam hati.
Matanya langsung berkaca-kaca. Ya, Bagas telah mendapatkan kembali ingatannya. Tapi dia bahkan belum menunjukkan pada siapapun kalau dia sudah sadar. Dia masih berpura-pura koma. Semua itu dia lakukan untuk pemulihan tubuhnya dan sebuah rencana.
Bagas juga telah ingat semuanya, kejadian di malam, dimana dia dan Lusi kecelakaan. Dia benar-benar akan membersihkan dirinya. Tapi kalau dia di dalam penjara, itu akan sulit. Dia butuh rencana. Dan dia sedang memikirkan semuanya.
"Iya, yang datang di gendong buru-buru sama suaminya itu!"
"Heh, suaminya apa? dia keliatan perduli, kelihatan panik, tapi kali tahu gak setelah urus semua administrasi. Dia pergi. Hasil pemeriksaannya kamu tahu gak, dia mengalami kekerasann seksuall, pemaksaan. Bahkan sekujur tubuhnya luka. Baru laporan itu mau keluar, dokter bawa laporan itu masuk lagi pas dapat telepon dari seseorang. Huh aku sebagai perempuan rasanya gak tega. Kamu gak tahu sih, seluruh tubuhnya memar, merah, itu jelas bekas penyiksaan. Kamu tahu, di laporan lain, dia bahkan kekurangan nutrisi dan dehidrasi parah. Bibirnya pecah-pecah, tapi biru. Kamu bisa bayangin kan? apa yang sudah dia alami!" suara perawat itu meninggi.
Sebagai seorang perawat, tentu saja dia tahu. Apa yang telah terjadi pada Bella.
"Ih kok suaminya gitu ya, dilaporin aja harusnya. Soalnya kata mbak Nana, yang ambil laporan di klinik Melati. Dia juga lihat Bella disana!"
"Parah kan? tapi mau gimana lagi. Keluarga suaminya orang yang berpengaruh!"
"Apa dia gak punya orang tua ya? kakak gitu? kasihan tahu!"
"Heh, kalian berdua sedang apa? laporan medis ruangan Lily di tunggu dokter Hanung!"
Di dalam ruangan, tangan Bagas terkepal sangat kuat. Air matanya bahkan mengalir dari kedua sudut matanya.
'Leo! aku akan habisi kamu setelah aku bersihkan namaku dan membawa Bella pergi!' batin Bagas.
Bagas menyeka air matanya. Dia harus bisa secepatnya menghubungi anak buahnya. Mereka semua menghancurkan perusahaannya, bekerja sama dengan paman Bagas dan Bella yang serakah, Aswandi. Dia benar-benar tidak akan memaafkan keluarga Alexander dan Aswandi.
Ceklek
Bagas kembali memejamkan matanya, ketika mendengar suara langkah mendekat ke pintu, dan pintu ruangan rawatnya itu terbuka.
"Bagaimana kondisinya, dia masih koma?" tanya Oscar pada dokter.
"Dari hasil pemeriksaan, pasien masih koma. Benturan di kepalanya sangat keras. Tak ada respon, tangan dan kakinya juga tampak tak berfungsi. Kami masih memeriksa lanjut, kemungkinan benturan keras itu membuat beberapa syarafnya tidak berfungsi lagi!" jelas dokter pada Oscar.
Oscar menoleh ke arah Bagas yang terbaring tak bergerak. Dia juga tidak mengira kalau Bagas hanya pura-pura. Karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Tendangan yang dilakukan oleh orang bayarannya, Kepala Bagas memang terbentur sangat keras di dinding. Darahnyaa juga sangat banyak saat itu. Hingga Oscar percaya, kalau Bagas memang koma.
Sementara itu, seorang perawat yang sedang istirahat, pergi keluar dari rumah sakit. Dia memegang sebuah kertas berisi nomor telepon dan mama seseorang.
"Tuan Aditya, aku harus telepon dia dari telepon umum. Lalu katakan tuan Bagas ada di rumah sakit!" gumamnya berjalan cepat mencari telepon umum atau dimana saja dia bisa menelepon dengan tidak menggunakan ponsel.
***
Bersambung...
Author, boleh ngamuk gak, sama suami & keluarga nya..?
Karena menurut ku keluarga suaminya ada gila²nya.. 🤭
Pengen aja jadi psikopat jika di posisi si Bella..
Biar di babat habis mereka semua.. 🤭
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈