“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 – Rumah yang Tidak Hangat
Malam sudah larut ketika Ardila sampai di rumah.
Lampu ruang tamu masih menyala, memantulkan cahaya kuning lembut ke dinding putih yang terlihat terlalu sepi. Rumah itu sebenarnya cukup besar, tapi entah kenapa terasa dingin.
Bukan karena udara.
Lebih karena suasananya.
Ardila melepas sepatu pelan lalu meletakkan tas kerjanya di atas meja. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang sejak tadi terasa berisik.
Pertemuan dengan Areksa di kafe masih terbayang jelas di kepalanya.
Tatapan dingin itu.
Nada suara yang sinis.
Seolah semua yang dulu pernah mereka miliki sudah berubah menjadi sesuatu yang asing.
Ardila menggeleng kecil.
Ia tidak ingin memikirkannya lagi.
Setidaknya tidak malam ini.
Baru saja ia melangkah menuju kamar, suara pintu depan tiba-tiba terbuka.
Ardila menoleh.
Rafa masuk ke dalam rumah.
Kemejanya sedikit kusut, wajahnya terlihat lelah seperti orang yang baru pulang dari pekerjaan panjang. Ia meletakkan kunci mobil di meja tanpa melihat Ardila.
“Kamu baru pulang?” tanya Ardila pelan.
Rafa tidak langsung menjawab.
Ia membuka kancing lengan bajunya sebelum akhirnya berkata datar,
“Iya.”
Ardila berdiri beberapa langkah dari lelaki itu.
“Kerja lagi?”
Rafa menatapnya sebentar.
“Apa kelihatannya aku habis jalan-jalan?”
Nada suaranya tajam.
Ardila terdiam sesaat. Dua hari. Baru dua hari sejak mereka resmi menikah. Tapi rumah ini sudah terasa seperti tempat orang asing tinggal bersama.
Rafa berjalan ke arah sofa lalu duduk dengan lelah.Ardila ikut duduk di kursi seberangnya.
Sunyi.
Hanya suara jam dinding yang terdengar pelan.Tiba-tiba Rafa menghela napas panjang.
“Kamu selalu sibuk.” Ardila mengerutkan kening.
“Apa?”
“Kamu terlalu sibuk dengan kerjaanmu.”
Ardila langsung menatapnya.
“Mas—”
“Pagi kerja. Pulang malam. Bahkan sekarang pun kamu baru pulang.”
Nada suaranya terdengar seperti keluhan.
Ardila tidak langsung menjawab. Ia menahan sesuatu di dalam dirinya. Lalu akhirnya ia berkata, “Kamu juga nggak pernah peduli sama aku.”
Rafa menatapnya tajam. “Maksud kamu?”
Ardila berdiri. Emosi yang ia tahan sejak tadi mulai naik ke permukaan.
“Bukannya kita baru dua hari menikah?”
Rafa masih diam. “Tapi kamu bahkan nggak pernah menyentuhku.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat sunyi. Seolah semua suara di dunia berhenti.
Rafa menatap Ardila tanpa ekspresi.
“Jadi itu masalahmu?”
Ardila menghela napas kesal.
“Aku cuma bilang fakta.”
Ia menyilangkan tangan di dada.
“Kamu pulang malam. Kamu sibuk dengan pekerjaanmu. Bahkan ketika kita di rumah, kamu seperti nggak peduli aku ada atau nggak.”
Rafa berdiri perlahan.
Langkahnya mendekati Ardila.
“Aku kerja untuk rumah ini.”
“Nggak ada yang melarang kamu kerja!”
Ardila membalas cepat.
“Tapi kamu bahkan nggak pernah mencoba menjadi suami yang benar-benar ada di sini!”
Rafa menatapnya tajam.“Apa kamu menyesal menikah denganku?”
Pertanyaan itu membuat Ardila terdiam. Beberapa detik berlalu.Kemudian ia berkata pelan, “Aku cuma merasa… kita seperti orang asing.”
Kalimat itu seperti sesuatu yang memicu kemarahan Rafa.Tiba-tiba tangannya bergerak.
Plak!
Suara tamparan terdengar keras di ruang tamu. Ardila terpaku. Wajahnya menoleh ke samping karena pukulan itu.
Pipinya terasa panas. Perih. Beberapa detik ia bahkan tidak bisa bergerak.
Tidak bisa bicara.
Ia perlahan mengangkat tangan menyentuh pipinya sendiri.Matanya mulai berkaca-kaca.
“Mas…”
Suaranya hampir seperti bisikan. Rafa berdiri di depannya dengan napas yang sedikit berat.
Matanya masih tajam. “Jangan bicara seolah aku yang salah,” katanya dingin.
Air mata Ardila akhirnya jatuh. “Kamu menampar aku…”
Rafa mengalihkan pandangannya. “Aku sudah cukup lelah hari ini.”
Ardila menatapnya tidak percaya. “Jadi itu alasanmu?”
Rafa tidak menjawab. Ia hanya berjalan melewati Ardila menuju kamar.
Langkahnya tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Ardila berdiri sendirian di ruang tamu.
Air matanya terus jatuh.
Baru dua hari mereka menikah.
Dua hari.
Tapi rumah ini sudah terasa seperti tempat yang penuh dengan jarak. Ia perlahan duduk di sofa. Tangannya masih menyentuh pipinya yang memerah. Dalam diam ia bertanya pada dirinya sendiri.Apakah ini benar-benar kehidupan yang ia pilih?Atau justru awal dari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Di kamar, pintu tertutup rapat. Dan di ruang tamu yang sunyi itu… Ardila menangis sendirian.