NovelToon NovelToon
Gadis Hina

Gadis Hina

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: KheyraPutri

Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Bertemu

Di dalam sebuah hotel saat ini ada 2 manusia yang sedang bergumul berbagi peluh. Laki-laki dewasa yang sengaja menyewa jasa wanita penghibur lewat aplikasi.

Reina Wulandari biasa di panggil Reina. Dia terpaksa harus melakukan pekerjaan hina itu karena dirinya yang memang kurang mampu hidupnya.

Hidup hanya dengan neneknya yang sudah berumur sedangkan dirinya harus bersekolah. Meskipun sekolah dia mendapatkan beasiswa karena dia adalah siswa berprestasi namun untuk kebutuhan hidup dan neneknya dia harus mencari uang.

" Makasih baby." Khai melempar uang ke Reina hingga uang itu tersebar di atas ranjang dan selimut di mana Reina yang masih menangis terisak dengan badan yang masih di balut selimut.

Bagaimana tidak dia melakukan hal seperti itu padahal dia sendiri takut dosa namun pekerjaan seperti itu pasti sudah sangat hina dan mungkin tidak akan pernah mendapatkan ampunan.

Badan yang terasa sakit semua karena setiap Khai memanggilnya pasti dia akan di siksa bukan hanya untuk melampiaskan nafsu bejatnya saja.

Banyak luka memar yang Reina rasakan di mana dia yang selalu di tampar di pukul,di sabet dengan ikat pinggang itu yang selalu Reina rasakan jika di panggil Khai.

Khai pun membuang kantong bening ke tempat sampah lalu beranjak menuju kamar mandi.

Reina pun bangun dan memungut uang yang berserakan tadi dengan sisa tenaga dan air matanya yang terus mengalir. Dia juga memungut baju dan memakainya kembali lalu pergi dari sana.

Mengendarai sepeda motornya meninggalkan hotel itu dan berhenti di taman yang rumayan sepi. Mencari ketenangan untuk menenangkan dirinya lebih dulu sebelum pulang ke rumah.

Turun dari motornya dan mencari tempat duduk untuk dirinya menangis sejadi-jadinya. Setiap habis melakukan hal hina dia selalu menangis. Apakah nanti akan ada orang yang mau dengannya dan bisa menerima kekurangannya.

" Terkadang menangis bisa membuat lega namun tidak bisa menyelesaikan masalah." Ucap seorang laki-laki yang ada di sebelah Reina.

Entah sejak kapan dia duduk di sana namun saat dia duduk tadi belum ada siapapun di sana. Reina pun menoleh dan mengusap air mata dengan punggung tangannya. Dia memperhatikan laki-laki yang duduk di sebelahnya namun dia tidak mengenal laki-laki itu.

" Ini minum dulu,siapa tau abis nangis haus." Lelaki itu mengulurkan sebotol minuman dingin pada Reina.

Reina agak ragu menerimanya karena dia belum mengenal laki-laki itu.

" Tenang,nggak aku kasih obat kok. Ni lihat masih di segel." ucapnya masih menyodorkan pada Reina." Mau nggak ? Pegel nie tangan." Ucapnya lagi sambil memegang tangannya meringis pura-pura pegal.

Reina pun menerimanya. " Terimakasih kak." Ucap Reina dengan tersenyum.

" Waduh,kalau senyum cantik gini kenapa harus menangis ?" Ucap laki-laki itu. Dia pun langsung mengulurkan tangannya." Kenalin namaku Bramasta Dirgantara." dia pun memperkenalkan dirinya pada Reina.

" Namaku Reina kak." Jawab Reina menjabat tangan Bramasta sambil tersenyum manis namun dia langsung melepaskan jabatan tangannya karena khawatir Bramasta juga bukan orang baik.

" Nama yang cantik dan indah." Puji Bramasta tersenyum.

Reina hanya tersenyum menatap Bramasta dari samping di mana saat ini Bramasta yang sedang menatap ke depan di mana di depan mereka ada sebuah danau kecil.

Kulit Bramasta yang terlihat sangat putih bersih dengan hidung yang mancung di lihat dari samping saja sangat tampan.

Reina langsung buru-buru menundukkan kepalanya saat Bramasta yang juga menoleh menatap dirinya.

" Kamu kayaknya masih kecil ?" Tanya Bramasta di mana dia yang melihat Reina masih mengenakan baju sekolah.

" I-iya kak,eh apa seharusnya aku memanggil om ?" Tanya Reina agak ragu di akhir kalimatnya.

Bagaimana tidak karena penampilan Bramasta sendiri saat ini sangat rapi. Memakai baju kantoran dan jas.

" Om ?" Bramasta memperhatikan dirinya sendiri lalu berfikir.

" Apa aku terlihat setua itu ?" Ucapnya dalam hati.

" Aku belum setua itu lah,mungkin hanya- sedikit lebih tua dari kamu." Ucap Bramasta dengan tangan yang memperagakan sedikit.

Reina pun mengangguk mengerti. Entah kenapa detak jantungnya merasa tidak aman di perhatikan Bramasta, apalagi jika melihat senyuman Bramasta.

Tiba-tiba ponsel Reina berdering,tertera di sana panggilan dari Sumi tetangganya. Dia langsung menerima panggilan telepon itu.

" Ada apa buk sum ?" tanya Reina.

" Apa !!" teriaknya terkejut mendengar ucapan buk Sumi di seberang sana.

Reina langsung beranjak pergi dari sana meninggalkan Bramasta begitu saja dengan terburu-buru dan panik sampai melupakan Bramasta atau bilang terimakasih padanya.

Bramasta sendiri yang di tinggal begitu saja oleh Reina dia penasaran dan sempat meminta nomer ponsel Reina.

Alhasil diam-diam dia pun mengikuti Reina karena mungkin dia nanti bisa tau alamat rumahnya juga atau sedang membutuhkan pertolongan nanti. 30 menit perjalanan akhirnya mereka pun sampai.

Bramasta menghentikan mobilnya tepat di depan halaman rumah Reina namun cukup jauh jadi Reina tidak tau jika di ikuti Bramasta.

" Nenek..." panggil Reina begitu masuk ke dalam rumah.

Sumi tetangga Reina pun berdiri dari duduknya setelah memberikan air minum pada nenek Sri.

" Nenek nggak apa-apa kan ? Apa sebaiknya kita pergi saja ke rumah sakit." ucap Reina sangat khawatir duduk di bawah ranjang sambil memegang tangan neneknya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

" Nggak usah,nenek hanya kecapek'an saja kok,nanti juga baikan lagi." Ucap Sri menepuk tangan Reina lembut dan mengulas senyumannya memperlihatkan jika dirinya baik-baik saja dan tidak perlu pergi ke rumah sakit.

Dia menatap kasian cucunya yang mana wajahnya terlihat sangat kelelahan. Dia tau Reina itu bekerja membantu temannya berjualan online.

Sri sebenarnya meminta Reina hanya fokus untuk belajar saja biar dirinya saja yang bekerja. Ya,nenek Sri masih bekerja berjualan sayur keliling di usianya yang sudah sangat tua.

" Kamu pasti kelelahan, sebaiknya kamu segera bersih-bersih saja lalu makan." Suruh nenek Sri yang mana justru mengalihkan pembicaraan.

" Nanti aja,aku kan udah bilang jangan kecapek'an nek. Dan biar aku saja yang kerja,aku bawa uang pulang nek. Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit sekarang ya biar bisa di periksa dokter." ucap Reina terus memaksak neneknya agar mau di ajak pergi ke rumah sakit.

" Nggak perlu Reina,udah kamu simpan saja uangnya untuk kebutuhan kamu."

" Tapi aku kerja juga buat nenek." Ucap Reina yang tiba-tiba saja menitikan air matanya merasa bersalah karena memberikan uang haram itu untuk neneknya.

Terkadang dia memilih memberikan uang itu pada pengemis di jalanan atau untuk membeli peralatan sekolah.

" Kamu siapa ?" Tanya Sumi sedikit berteriak.

---------->>>>>

1
hanawati sumaharjana
bafhs utk mengusi wkt
hanawati sumaharjana
menarik utk trs diikuti smp tamat nih
Dewi KheyraPutri: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!