NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Lilin di Ruang Hukuman

Gelap di sini bukan sekadar tidak ada cahaya.

Gelap di sini hidup. Merayap di kulit, masuk lewat pori-pori, menetap di paru-paru seperti kabut yang menolak pergi. Alea Anandara sudah beberapa jam—atau mungkin hanya beberapa menit, sulit membedakan—di ruang ini. Tanpa jendela. Tanpa suara. Tanpa apa pun kecuali dingin yang menusuk tulang dan bau yang tidak mungkin ia lupakan: anyir, manis, dan sedikit asam. Bau sesuatu yang pernah hidup, lalu mati, lalu dibiarkan membusuk.

Ia menekan punggung ke dinding. Tangan kanannya meremas ujung blus hingga keringat dingin membasahi telapak tangan. Matanya sudah beradaptasi dengan kegelapan, tapi itu malah lebih buruk—karena sekarang ia bisa melihat samar-samar bentuk kotak-kotak tua, bayangan benda yang tidak ia kenali, dan di sudut, sesuatu yang menyerupai tumpukan kain. Atau bukan kain.

Alea menelan ludah. Jangan panik. Kau psikiater forensik. Kau sudah melihat mayat, sudah masuk ke ruang autopsi, sudah—

Suara gesekan.

Halus. Pendek. Seperti korek api digoreskan ke permukaan kasar.

Alea membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya menyipit mencoba menembus kabut gelap di seberang ruangan. Di sana, tepat di sudut yang paling dalam, muncul titik kecil berwarna jingga. Sebuah api. Lilin. Nyala kecil itu bergoyang pelan, seolah ditiup oleh napas yang tidak ada.

Dan di balik nyala itu, Alea melihat wajah anak laki-laki.

Damian Kecil.

Ia duduk bersila di lantai semen yang retak, memegang lilin putih di kedua telapak tangannya. Piyama sutra biru tua yang terlalu besar untuk tubuhnya basah di bagian kerah, seperti baru saja menangis. Rambut hitamnya kusut, menutupi setengah dahi. Tapi matanya—dua bulatan hitam pekat yang sama persis dengan Damian dewasa—menatap Alea dengan tenang.

Terlalu tenang.

“Kak.”

Suaranya lembut. Jauh dari suara Damian dewasa yang dingin seperti logam. Suara ini tipis, sedikit serak, seperti anak kecil yang kehabisan tenaga menangis.

Alea tidak bisa bergerak. Punggungnya terpaku di dinding. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara keluar.

Damian Kecil menunduk, meniup lilin. Nyala itu hampir padam, lalu kembali tegak. Ia mengulanginya sekali lagi—meniup, melihat nyala, tersenyum kecil.

“Kak takut gelap?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari lilin.

Alea akhirnya menemukan suaranya. “Kau... bagaimana kau masuk ke sini?”

Damian Kecil mengangkat bahu. Gerakan kecil yang terlalu dewasa untuk anak seusianya. “Aku selalu ada di sini. Ini rumahku.”

Dia menunjuk ke dinding di belakangnya dengan dagu. Alea mengikuti arah itu dan untuk pertama kalinya melihat coretan-coretan di dinding. Bukan grafiti. Bukan tulisan biasa. Coretan kapur yang sudah memudar, dibuat dengan tangan yang terlalu kecil, membentuk gambar sederhana: pohon tanpa daun, matahari di pojok, dan seorang anak laki-laki berdiri di bawah hujan.

Tapi tidak ada payung. Tidak ada orang lain. Hanya anak itu, sendirian, dengan garis-garis vertikal yang jatuh dari langit.

“Kakak duduk saja,” kata Damian Kecil. “Lantainya dingin, tapi kalau sudah lama, nggak kerasa.”

Alea menatap anak itu. Di tengah ruang hukuman yang dingin dan bau busuk, anak laki-laki bertubuh kurus ini duduk bersila dengan lilin di tangan, tersenyum kecil, seolah mengundangnya untuk minum teh di ruang tamu.

Aneh. Menakutkan. Tapi entah mengapa, Alea merasa kakinya bergerak sendiri. Ia melangkah. Satu langkah. Dua langkah. Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya diisi timah. Ketika ia sampai di samping Damian Kecil, anak itu menepuk lantai di sebelahnya.

“Sini, Kak. Di sini lebih hangat.”

Alea duduk. Bokongnya menyentuh semen dingin dan ia menggigil. Tapi saat Damian Kecil menggeser lilin di antara mereka, nyala itu memantulkan cahaya ke wajah anak itu, dan Alea melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak.

Bekas luka.

Di pelipis kanan Damian Kecil, tepat di bawah garis rambut, ada bekas luka sepanjang jari kelingking. Bekas luka lama, sudah memutih, tapi bentuknya terlalu rapi untuk kecelakaan. Seperti sayatan.

“Kak mau lihat sesuatu?”

Damian Kecil tidak menunggu jawaban. Ia bangkit, membawa lilin, dan berjalan ke dinding seberang. Alea mengikutinya dengan mata. Di sana, di sudut yang paling gelap, ada tumpukan buku. Bukan buku dewasa. Buku bergambar, buku cerita anak-anak dengan sampul warna-warni yang sudah pudar.

“Ayah bacain ini dulu,” kata Damian Kecil sambil duduk di depan tumpukan itu. Ia mengambil satu buku, membuka halaman pertama. “Tapi kalau aku salah baca, aku dimasukin ke sini.”

Alea merasakan ada yang mengganjal di tenggorokannya. “Dimasukkan ke sini? Karena salah baca?”

“Ayah bilang, anak baik harus pinter baca.” Damian Kecil menelusuri gambar di buku dengan ujung jarinya. “Kalau nggak bisa, berarti anak nakal. Anak nakal harus dihukum.”

Ia tersenyum lagi. Senyum yang sama. Kecil, tenang, seperti sedang menceritakan hal paling biasa di dunia.

“Tapi lama-lama aku suka di sini. Sepi. Nggak ada suara ayah. Nggak ada suara ibu tiri teriak-teriak. Cuma aku sama gelap.”

Alea mengepalkan tangan. Kuku-kukunya menusuk telapak tangan sendiri. “Berapa lama kau di sini?”

*“Nggak tahu. Kadang sehari. Kadang seminggu. Pernah sebulan.” Ia menunduk, menyentuh bekas luka di pelipisnya. “Itu waktu aku bilang nggak mau bunuh anjing kesayangan ayah. Anjingnya galak, Kak. Sering gigit aku. Tapi ayah sayang banget sama anjing itu. Ayah suruh aku bunuh. Aku nggak mau. Jadi ayah kunci aku di sini.”

Napas Alea terputus. “Kau di sini sebulan? Sendirian?”

“Bukan sendirian.” Damian Kecil mengangkat kepala. Matanya menatap lurus ke arah Alea, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di balik ketenangan itu. Bukan kesedihan. Bukan kemarahan. Tapi sesuatu yang lebih tua dari usia anak itu. Sesuatu yang seharusnya tidak pernah dimiliki anak kecil.

“Ada ibu tiri.”

Alea merinding. “Ibu tirimu?”

“Dia mati di sini.”

Lilin bergoyang. Entah karena angin dari celah pintu atau karena tangan Damian Kecil yang mulai gemetar. Alea menatap anak itu, menunggu kelanjutan, tapi Damian Kecil hanya diam. Ia membalik halaman buku bergambar itu, menunjukkan gambar anak kucing dan matahari.

“Ayah bunuh,” katanya akhirnya. Suaranya datar. “Ibu tiri ketahuan selingkuh. Ayah bunuh di sini. Terus ayah kunci pintu. Aku di sini sama...”

Ia tidak melanjutkan kalimat. Tapi Alea mengerti.

Tiga bulan. Damian kecil dikurung di ruang bawah tanah selama tiga bulan. Dengan mayat ibu tirinya yang membusuk di sudut yang sama.

Alea ingin muntah. Perutnya mual, kepalanya berdenyut. Tapi di saat yang sama, tangannya bergerak sendiri—mencapai Damian Kecil, menyentuh pundaknya yang kurus.

Anak itu menoleh. Matanya membesar. “Kak nggak takut?”

“Takut,” jawab Alea jujur. “Tapi lebih sedih.”

“Sedih? Kenapa?”

“Karena kau sendirian di sini selama itu. Karena tidak ada yang menyelamatkanmu.”

Damian Kecil diam. Lalu perlahan, ia mencondongkan tubuh, bersandar ke lengan Alea. Tubuhnya dingin. Sangat dingin. Seperti baru keluar dari ruang berpendingin.

“Damian dewasa jahat,” bisik anak itu. “Dia yang bunuh aku.”

Alea membeku. “Apa maksudmu?”

“Dulu aku Damian. Yang asli. Tapi supaya bisa kuat, supaya bisa selamat dari sini, aku buat Damian dewasa. Aku kasih dia semua yang jelek. Semua yang kejam. Supaya aku bisa tidur.”

Ia mendongak. Matanya penuh dengan air mata yang tidak pernah jatuh.

“Tapi Damian dewasa nggak mau aku hidup. Dia kunci aku di sini. Di dalam kepalaku. Di ruang yang sama. Gelap. Sepi. Sendirian.”

Alea merasakan ada yang pecah di dadanya. Ia memeluk anak itu tanpa berpikir. Tubuh kecil itu kaku di pelukannya, lalu perlahan melunak. Damian Kecil menyembunyikan wajahnya di bahu Alea, dan untuk pertama kalinya, Alea mendengar suara tangis yang tidak pernah keluar dari Damian dewasa.

Bukan isak. Bukan jeritan.

Hanya getaran kecil yang teredam di kain blusnya.

“Kak... tolong selamatkan aku.”

“Bagaimana caranya?”

“Bunuh Damian dewasa.”

Alea melepaskan pelukannya. Menatap mata anak itu yang basah. “Kau serius?”

“Damian dewasa nggak akan pernah lepas. Dia terlalu kuat. Satu-satunya cara biar aku bisa keluar, ya Damian dewasa mati.”

“Tapi kalau dia mati, kau juga mati.”

Damian Kecil tersenyum. Senyum yang sama. Kecil. Tenang. Menghancurkan.

“Aku sudah mati, Kak. Dua puluh tahun lalu. Yang hidup sekarang Damian.”

Ia menunjuk ke dada sendiri.

“Aku cuma hantu yang lupa kalau sudah mati.”

Lilin padam.

---

Gelap kembali merayap.

Tapi kali ini, Alea tidak sendirian. Ia bisa merasakan tangan kecil yang menggenggam jari-jarinya. Dingin. Tapi menggenggam erat.

“Kak mau janji?”

“Janji apa?”

“Kak nggak akan cerita ke Damian dewasa. Kalau dia tahu aku masih hidup, dia akan bunuh aku lagi.”

“Dia tahu aku bertemu denganmu. Dia sudah lihat.”

“Damian dewasa cuma lihat bayangan. Dia nggak pernah percaya aku nyata.” Suara Damian Kecil mengecil. “Dia pikir aku cuma halusinasi. Penyakit yang harus disembuhin.”

Alea menarik napas panjang. “Aku tidak akan membunuhnya.”

Keheningan.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak tahu siapa yang lebih pantas hidup. Kau atau dia. Dan karena...”

Ia berhenti. Menggigit bibir.

“Karena apa, Kak?”

“Karena aku rasa kalian berdua butuh ditolong.”

Damian Kecil tidak menjawab. Hanya genggamannya yang mengeras.

“Kalau Kak nggak mau bunuh dia, setidaknya... jangan tinggalin aku. Jangan lupa aku di sini.”

Alea membalikkan telapak tangan, menggenggam balik tangan kecil itu. “Aku tidak akan lupa.”

“Janji?”

“Janji.”

Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan yang anehnya terasa hangat. Seperti selimut tipis yang menutupi dua orang asing di ruang bawah tanah yang penuh kematian.

Lalu suara itu datang.

Bukan dari Damian Kecil. Dari luar pintu.

Derap langkah. Berat. Teratur. Diselingi suara gesekan logam—kunci digerakkan di lubangnya.

Damian Kecil menarik tangan Alea keras-keras. “Cepat, Kak. Dia datang.”

“Tunggu—”

“Kak ingat janji Kakak! Jangan bilang apa-apa! Nanti kalau Kakak butuh aku, panggil namaku. Nama asliku!”

“Nama aslimu apa?”

“Li—”

Pintu terbuka.

Cahaya senter menyilaukan mata Alea. Ia mengangkat tangan menutupi wajah. Saat matanya mulai beradaptasi, bayangan Damian Kecil sudah tidak ada. Yang tersisa hanya lilin yang sudah padam di lantai, dan selembar kertas kecil di sampingnya.

“Kau di sini.”

Suara Damian dewasa. Dingin. Tidak ada emosi. Tapi Alea bisa mendengar sesuatu di baliknya. Sesuatu yang mirip dengan... ketakutan.

Alea mengangkat kepala. Damian berdiri di ambang pintu, jas hitamnya masih rapi meski sudah larut malam. Senter di tangan kanan, kunci di tangan kiri. Wajahnya seperti topeng—tidak ada kerutan, tidak ada perubahan. Tapi matanya.

Matanya bergerak cepat, mengamati seluruh ruangan, lalu berhenti di lilin padam di lantai.

“Itu bukan aku,” katanya cepat. Terlalu cepat. “Aku tidak pernah bawa lilin ke sini.”

Alea meraih kertas kecil di samping lilin. Dalam gelap, ia hampir tidak bisa membaca. Tapi saat senter Damian menyorot, ia melihat tulisan tangan anak kecil dengan kapur:

“Nama aku LIAM.”

“Apa itu?” Damian melangkah masuk. Satu langkah. Dua langkah. Tangannya meraih kertas itu, tapi Alea lebih cepat—ia memasukkan kertas ke saku celana.

“Tidak ada.”

Damian berhenti. Matanya menyipit. “Kau bicara dengan sesuatu tadi. Aku dengar suaramu.”

“Aku bicara sendiri. Karena kau mengurungku di sini berjam-jam.”

“Kau berbohong.”

“Buktikan.”

Damian menatapnya. Tatapan yang biasanya membuat semua orang menunduk. Tapi Alea tidak. Ia menatap balik, dan untuk pertama kalinya, ia melihat Damian dewasa dengan cara berbeda.

Bukan sebagai monster.

Tapi sebagai anak laki-laki yang pernah mati di ruangan yang sama, lalu memilih untuk menjadi iblis agar bisa bertahan.

“Kau tidak takut padaku,” kata Damian akhirnya.

“Kau tidak ingin aku takut.”

Dia tidak menjawab. Tapi untuk sepersekian detik, Alea melihat ada yang retak di wajah itu. Seperti topeng yang mulai merekah di bagian tepi.

“Keluar dari sini.” Damian menepi, memberi jalan. Suaranya lebih rendah dari biasanya. “Dan lupakan semua yang kau lihat di sini.”

Alea berdiri. Lututnya lemas, tapi ia memaksa berjalan. Saat melewati Damian, aromanya menusuk hidung: cendana, disinfektan, dan di bawah semua itu, aroma yang sama dengan ruang ini.

Bau kematian.

Ia berhenti di ambang pintu. Menoleh.

“Kau pernah punya nama lain? Sebelum jadi Damian?”

Damian membeku. Seluruh tubuhnya kaku seperti patung. Untuk waktu yang lama, ia tidak bergerak, tidak bernapas. Lalu perlahan, ia menggeleng.

“Tidak.”

“Kau berbohong.”

“Aku tidak pernah berbohong.”

“Kau berbohong pada dirimu sendiri.”

Alea melangkah keluar. Di koridor gelap, ia mendengar suara pintu ruang hukuman tertutup rapat. Bunyi kunci berputar dua kali.

Tapi Alea sudah tidak mendengar itu lagi.

Ia membuka kertas di sakunya, membaca ulang nama yang ditulis dengan kapur:

LIAM.

Dan di bawahnya, tulisan yang lebih kecil:

“Aku di sini menunggumu, Kak.”

Alea menekan kertas itu ke dada. Matanya basah, tapi ia tidak menangis. Tidak di sini. Tidak di rumah yang penuh kamera pengintai ini.

Ia berjalan cepat ke kamarnya, melewati lorong-lorong panjang yang dingin. Tiga kali ia berpapasan dengan Rania yang sedang berpatroli, tapi wanita itu hanya tersenyum manis, tidak bertanya apa-apa.

Di kamarnya, Alea mengunci pintu. Ia duduk di tepi ranjang, membuka kertas itu lagi, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berdoa.

Bukan kepada Tuhan yang tidak pernah ia yakini.

Tapi kepada anak laki-laki bernama Liam yang terperangkap di dalam tubuh suaminya.

Aku tidak akan melupakanmu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji.

Lampu kamar berkedip. Sekali. Dua kali.

Lalu padam.

Dan di kegelapan yang tiba-tiba, Alea merasakan hembusan napas dingin di telinganya.

“Makasih, Kak.”

---BERSAMBUNG---

“Apakah Alea akan memberitahu Damian tentang nama aslinya? Atau rahasia ini justru akan menjadi senjata yang bisa membunuh salah satu dari mereka?”

Jika cerita ini membuat dada kalian sesak, jangan lupa tinggalkan vote, komentar, dan share ke sesama pecinta dark romance. Setiap dukungan kalian adalah lilin yang menerangi jalan Damian Kecil untuk keluar dari ruang hukuman. Siapa yang ingin Liam selamat? Tulis di kolom komentar ya! 🖤🕯️

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!