Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Abraham menutup pintu kamar mandi rapat-rapat, mengunci dunia luar yang penuh dengan ledekan teman-temannya.
Di dalam ruangan kecil yang kini dipenuhi uap air hangat, ia menurunkan Prita dengan sangat hati-hati di atas bangku kecil yang sudah ia siapkan.
"Pelan-pelan, Sayang," bisik Abraham.
Prita duduk dengan tubuh yang masih terasa kaku.
Rasa perih itu masih ada, namun kelembutan tangan Abraham saat membantu melepaskan helai demi helai pakaiannya membuat rasa sakit itu seolah teralihkan oleh debaran jantung yang kembali memacu.
Abraham mengambil gayung, memastikan sekali lagi suhu air di dalam bak tidak terlalu panas.
Ia berdiri di belakang istrinya, lalu perlahan mengguyur rambut panjang Prita yang hitam legam.
Air hangat itu mengalir perlahan, membasahi tengkuk dan punggung Prita, memberikan rasa rileks yang luar biasa setelah ketegangan fisik siang tadi.
"Enak?" tanya Abraham singkat sambil mulai mengusapkan sampo ke rambut Prita.
Prita memejamkan matanya, menikmati pijatan jemari Abraham yang kasar namun sangat hati-hati di kulit kepalanya.
"Iya, Mas, hangat sekali."
"Maaf ya, Mas buat kamu jadi begini. Mas sangat mencintaimu, Prita. Terkadang Mas lupa kalau tenaga Mas ini biasa dipakai untuk tarik kabel di lapangan, bukan untuk menghadapi kulit selembut kamu," ucap Abraham jujur, nadanya rendah dan penuh penyesalan.
Prita meraih tangan Abraham yang masih penuh busa sampo, menggenggamnya sejenak.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku bahagia. Aku suka cara Mas memperlakukan aku."
Abraham tersenyum tipis. Ia kembali mengguyur rambut Prita dengan air hangat, memastikan seluruh busa hilang.
Butiran air yang mengalir di wajah Prita membuatnya terlihat sangat cantik di mata Abraham.
Ia tidak hanya membersihkan tubuh istrinya, tapi juga sedang menunjukkan komitmennya bahwa ia siap melayani Prita dalam kondisi apa pun—baik saat Prita kuat, maupun saat Prita sedang rapuh seperti sekarang.
Sore itu, di kamar mandi sederhana tersebut, tidak ada nafsu yang menggebu seperti siang tadi.
Yang ada hanyalah kasih sayang yang tulus dan momen intim yang membuat ikatan batin mereka semakin kuat.
Abraham kembali membopong tubuh Prita yang kini terasa lebih segar dan harum aroma sabun.
Dengan handuk yang melilit tubuh istrinya, ia melangkah keluar dari kamar mandi dengan langkah yang tetap kokoh namun penuh kehati-hatian.
Di ruang tengah, Deddy dan rekan-rekan teknisi lainnya masih berkumpul. Namun, kali ini tidak ada teriakan atau ledekan keras.
Melihat bagaimana Abraham begitu menjaga Prita, mereka hanya bisa tersenyum tipis—sebuah senyum rasa hormat melihat sisi lain dari rekan mereka yang biasanya dikenal sangat kaku.
Deddy hanya mengangguk kecil saat Abraham melintas, seolah memberikan privasi bagi pasangan tersebut.
Begitu sampai di dalam kamar, Abraham menurunkan Prita di tepi ranjang.
Ia mengambil handuk kering yang bersih, lalu dengan penuh ketelatenan mulai mengeringkan rambut panjang Prita.
"Sini, Mas keringkan dulu. Nanti kamu bisa masuk angin kalau rambutnya basah begini," ucap Abraham lembut.
Prita hanya diam menikmati setiap usapan handuk di kepalanya.
Gerakan tangan Abraham sangat perlahan, seolah takut menyakiti Prita lagi.
Setelah rambutnya terasa cukup kering, Abraham mengambil pakaian tidur milik Prita yang sudah ia siapkan di atas bantal.
Dengan teliti, ia membantu istrinya mengenakan pakaian satu per satu.
Ia memasangkan kancing baju Prita dengan jemarinya yang kasar, namun dengan gerakan yang sangat halus.
Prita menatap wajah suaminya dari jarak dekat, melihat betapa fokusnya Abraham mengurus dirinya.
"Mas, terima kasih sudah mau merawatku sampai seperti ini," bisik Prita sambil menyentuh tangan Abraham yang baru saja selesai memasangkan kancing terakhirnya.
Abraham menatap mata Prita, lalu mengecup kening istrinya lama.
"Ini bagian dari janji Mas, Prita. Kamu adalah tanggung jawabku sepenuhnya sekarang."
Abraham tahu Prita butuh makanan yang bisa membangkitkan seleranya setelah seharian hanya berada di dalam kamar.
Ia teringat di depan gerbang mess ada penjual sate ayam langganan para teknisi yang bumbunya sangat mantap.
"Tunggu sebentar ya, Sayang. Mas beli makan dulu di depan," pamit Abraham sambil mengelus pipi Prita.
Hanya butuh beberapa menit bagi Abraham untuk kembali.
Aroma harum bumbu kacang yang dibakar bersama daging ayam langsung menyeruak masuk saat pintu kamar dibuka.
Abraham membawa dua porsi sate ayam lengkap dengan lontong yang masih hangat.
"Mas beli sate ayam. Lontongnya sudah Mas minta potong kecil-kecil biar kamu gampang makannya," ucap Abraham sambil menata bungkusan kertas minyak itu di atas meja kecil samping tempat tidur.
Ia duduk di samping Prita dan mulai menyuapi istrinya dengan sabar.
Setiap potongan lontong yang sudah berlumur bumbu kacang kental ia arahkan ke mulut Prita.
"Enak, Mas. Bumbunya terasa banget," gumam Prita sambil mengunyah perlahan. Rasa lapar yang sempat tertahan kini terobati.
Abraham tersenyum melihat istrinya mulai lahap makan.
Sambil menyuapi, ia sesekali meniup sate yang masih sedikit panas.
Di dalam kamar yang tenang itu, mereka menikmati momen sederhana namun bermakna ini.
Tidak ada meja makan mewah, hanya bungkusan sate dan kehangatan yang tak ternilai harganya bagi Prita yang kini merasa benar-benar dicintai.
Setelah sate ayam di bungkusan itu habis tak bersisa, Abraham merapikan kertas minyaknya dan memberikan segelas air putih hangat kepada Prita.
Kemudian ia duduk bersandar di kepala ranjang, membiarkan Prita menyandarkan punggung di dadanya.
Suasana kamar menjadi lebih serius namun tetap tenang.
"Prita," panggil Abraham pelan, suaranya terdengar sangat dewasa.
"Mas berpikir, kita tidak bisa selamanya tinggal di mess ini. Meskipun teman-teman di sini baik, Mas ingin kamu punya tempat yang lebih nyaman.
Tempat di mana kamu bisa bebas mengatur dapurmu sendiri, tidak perlu antre kamar mandi, dan punya privasi penuh sebagai istriku."
Prita terdiam sejenak, ia menatap jemari Abraham yang sedang membelai tangannya.
Memang benar, meskipun ia merasa dilindungi di mess, ia merindukan sebuah rumah yang bisa ia urus dengan tangannya sendiri.
"Mas sudah tanya-tanya ke Deddy soal daerah sekitar sini yang lingkungannya tenang dan tidak terlalu ramai," lanjut Abraham.
"Mas ingin kita punya kehidupan yang mandiri, jauh dari gangguan siapa pun."
Prita menganggukkan kepalanya dengan mantap. Senyum kecil terukir di wajahnya yang mulai kembali cerah.
"Aku setuju, Mas. Aku juga ingin kita punya tempat tinggal sendiri. Kecil tidak apa-apa, yang penting milik kita berdua."
Abraham mencium puncak kepala istrinya. "Besok hari Minggu kita cari kontrakan ya. Mas libur, jadi kita bisa keliling pakai motor pelan-pelan."
"Janji ya, Mas? Besok kita cari tempat baru?" tanya Prita memastikan sambil menatap mata suaminya.
"Janji, Sayang. Besok kita mulai babak baru hidup kita," jawab Abraham mantap.
Malam itu, mereka tertidur dengan rencana indah di kepala mereka.
Harapan akan sebuah rumah kecil yang sederhana namun penuh cinta membuat tidur mereka jauh lebih nyenyak dari malam-malam sebelumnya.