NovelToon NovelToon
LABIRIN EGO: DIALEKTIKA DUA JIWA DI KOTA TAK BERNAMA (NOVEL VERSION)

LABIRIN EGO: DIALEKTIKA DUA JIWA DI KOTA TAK BERNAMA (NOVEL VERSION)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Sistem / Misteri / Psikopat
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

"Keadilan di kota ini tidak ditegakkan, melainkan diperdebatkan dengan nyawa."

Bagi Dr. Saraswati, detektif psikolog jenius, semua kejahatan pasti tunduk pada logika dan akal sehat. Hingga "Sang Pembebas" muncul—pembunuh berantai misterius yang membantai para elit korup tanpa jejak, hanya menyisakan teka-teki berdarah yang mengejek hukum.

Di mata publik yang tertindas, pembunuh ini adalah pahlawan. Di mata hukum, ia monster anarkis.

Alih-alih bersembunyi, Sang Pembebas justru mengincar Saraswati. Melalui teror pesan chat rahasia, ia mengajak sang detektif bermain kucing-kucingan mematikan, menguliti trauma masa lalunya satu per satu.

Untuk menangkap entitas di luar nalar ini, Saraswati dihadapkan pada pilihan fatal: mempertahankan kewarasannya dan kalah, atau melepaskan logikanya untuk menyelami kegelapan pikiran sang pembunuh.

Siapa yang memburu, dan siapa yang sebenarnya sedang diburu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 KANIBALISME LEVIATHAN DAN CETAK BIRU PANOPTICON

[20:15 PM] JALANAN DISTRIK FINANSIAL, METROPOLIS

Frekuensi psikoakustik itu tidak memiliki wujud, tidak berbau, dan tidak memancarkan cahaya, namun daya hancurnya jauh melebihi peluru kendali mana pun yang pernah diproduksi oleh umat manusia. Gelombang elektromagnetik yang dirancang oleh Kala dan dialihkan arahnya oleh Dr. Saraswati kini merayap di dalam jaringan komunikasi terenkripsi Aegis Vanguard, menyusup ke dalam setiap earpiece taktis, helm komunikasi, dan pengeras suara di pos-pos pemeriksaan militer korporat tersebut di seluruh penjuru kota.

Di Persimpangan Sudirman, barikade militer Aegis yang awalnya berdiri dengan disiplin Apollonian—kaku, terstruktur, dan tanpa emosi—kini runtuh ke dalam neraka Dionysian.

Seorang kapten tentara bayaran tiba-tiba menjatuhkan senapannya, mencengkeram kepalanya sendiri sambil menjerit histeris. Di sebelahnya, seorang penembak runduk (sniper) yang telah dilatih untuk menekan empatinya mulai menangis tersedu-sedu, menembakkan senjatanya secara membabi buta ke arah armada tank mereka sendiri. Struktur tripartit Sigmund Freud menjelaskan fenomena ini dengan presisi yang mematikan: frekuensi sonik itu melumpuhkan Superego (pusat moralitas dan aturan) dan Ego (kesadaran rasional) para prajurit, membiarkan Id—lautan insting primitif, trauma yang direpresi, ketakutan, dan agresi murni—meledak ke permukaan tanpa ada filter penahan.

Para prajurit bayaran ini, yang selama ini menjadi mesin pembunuh tanpa nurani bagi kaum borjuis, pada hakikatnya adalah manusia-manusia yang sangat teralienasi. Dalam kacamata Karl Marx, mereka adalah kelas pekerja yang menjual hak monopoli atas kekerasan kepada korporasi, memisahkan diri mereka dari esensi kemanusiaan mereka sendiri (Gattungswesen). Ketika frekuensi itu merobek kesadaran mereka, alienasi itu berubah menjadi amuk massa. Mereka mulai saling menyerang. Hierarki komando musnah. Sang Leviathan tidak diserang dari luar, ia sedang memakan tubuhnya sendiri.

Dari balik kaca gelap sebuah sedan antipeluru yang membelah kekacauan itu, Dr. Saraswati mengamati mahakaryanya.

Ia tidak merasakan penyesalan. Simone de Beauvoir menegaskan bahwa kebebasan harus diraih dengan tindakan yang disengaja, dan terkadang, untuk membebaskan mereka yang tertindas, instrumen penindas itu sendiri harus dilumpuhkan. Saraswati menolak menjadi Sang Liyan—objek yang hanya bisa bereaksi terhadap kekejaman Orion. Dengan memanipulasi algoritma Kala, ia telah mengafirmasi dirinya sebagai Subjek historis yang secara aktif menulis ulang nasib kota ini.

"Jalankan kendaraan ke Menara Aegis. Akses jalur bawah tanah eksekutif," perintah Saraswati kepada AI mobil tersebut. Ia merapikan kerah jas hujannya, menyembunyikan rasa sakit di bahunya di balik wajah yang memancarkan ketenangan absolut. Perang posisi (war of position) gaya Gramsci mensyaratkan infiltrasi yang sempurna. Ia harus kembali ke sisi sang tiran sebelum kecurigaan muncul.

[20:45 PM] RUANG STRATEGI ALPHA, MENARA AEGIS LANTAI 90

Lantai 90 Menara Aegis berada dalam status siaga satu. Alarm berkedip merah, namun berbeda dengan lantai dasar yang dipenuhi kepanikan, lantai eksekutif ini dijaga oleh kesunyian yang mencekam.

Saraswati melangkah masuk ke Ruang Strategi Alpha. Di tengah ruangan, proyeksi holografik raksasa menampilkan peta metropolis yang dipenuhi oleh titik-titik merah—menandakan unit-unit militer Aegis yang saling baku tembak satu sama lain.

Di ujung meja, berdiri Orion. Sang Direktur Operasi Eksekutif menatap kehancuran armada militernya tanpa ekspresi, seolah ia sedang mengamati koloni semut yang sedang disiram air panas. Dalam konsep mistik Ibnu Arabi, Orion menempatkan dirinya dalam posisi Tanzih—sebuah transendensi yang tak tersentuh, berjarak dari penderitaan materiil di bawah sana. Baginya, puluhan ribu prajurit yang saling membunuh itu hanyalah angka di neraca kerugian perusahaan.

Orion menoleh saat mendengar langkah sepatu Saraswati. Mata abu-abunya berkilat tajam, memancarkan kalkulasi yang dingin.

"Dokter," sapa Orion, suaranya tidak meninggi, namun resonansinya menggetarkan udara. "Tiga puluh menit yang lalu, jaringan komunikasi internal kita dibajak dari Menara Penyiaran 314. Sebuah serangan siber yang menargetkan frekuensi neural pasukan kita. Dan jika log sistemku tidak salah, cip enkripsi tingkat direksi yang kuberikan padamu terdeteksi berada di konsol utama menara tersebut tepat pada saat peretasan terjadi."

Ini adalah momen krusial dalam silogisme kebohongan. Jika premis yang diberikan Saraswati cacat, Orion akan mengeksekusinya di tempat.

Saraswati melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka dengan langkah yang memancarkan dominasi, menolak intimidasi spasial pria itu.

"Kau memberiku tugas untuk memburu Sang Pembebas, Orion," jawab Saraswati dengan nada yang sangat stabil dan datar. Ia melemparkan cip hitam itu ke atas meja holografik. Benda itu berdenting keras. "Aku menemukannya di Menara 314. Kala sedang bersiap untuk mengunggah algoritma psikoakustik itu ke jaringan penyiaran publik. Jika aku tidak bertindak, seluruh warga kota—jutaan orang—akan mengalami psikosis massal. Revolusi fisik akan meratakan Menara Aegis ini sebelum fajar."

Orion menyipitkan matanya. "Jadi kau memindahkan sasarannya? Kau mengorbankan pasukanku untuk menyelamatkan rakyat jelata?"

"Gunakan logika Aristoteles-mu, Orion!" balas Saraswati tajam, mengadu kecerdasan sang tiran. "Kala adalah seorang peretas jenius. Ketika aku menyusup ke ruang kontrol dan memasukkan cip itu untuk menonaktifkan pemancar utama (override), sistem pertahanannya mendeteksi aksesku. Id pria itu menolak untuk kalah. Dalam hitungan detik sebelum aku berhasil mencabut cip tersebut, Kala membajak bandwidth cip itu, membalikkan transmisi dari jaringan publik ke jaringan tertutup Aegis. Dia menggunakan senjataku sebagai salurannya."

Saraswati menatap lurus ke dalam mata Orion, membangun kebohongan di atas fondasi fakta yang tak terbantahkan. "Itu adalah sebuah pertarungan mesin, Orion. Aku berhasil menghentikan siaran publiknya, tetapi ia berhasil meracuni saluran internalmu. Aku menembaknya, tapi dia melarikan diri ke dalam badai."

Orion terdiam. Ia memutari meja holografik itu, menimbang setiap kata Saraswati.

Dalam perspektif psikoanalisis, Saraswati sedang memberikan narasi yang menyelamatkan Ego Orion. Mengakui bahwa Saraswati (seorang wanita, bawahan, dan mantan buronan) dengan sengaja menghancurkan pasukannya adalah sebuah pukulan narsistik yang tidak bisa diterima oleh Orion. Namun, menerima bahwa Kala (sang Übermensch anarkis yang memang menjadi musuh utamanya) melakukan peretasan itu melalui sebuah manuver putus asa, jauh lebih masuk akal bagi struktur kognitif sang Direktur.

"Kala..." Orion menggumamkan nama itu dengan kebencian yang akhirnya menembus fasad Tanzih-nya. "Dia benar-benar seekor kanker."

"Pasukanmu sedang menghancurkan diri mereka sendiri," Saraswati menunjuk ke arah peta holografik. "Mereka tidak bisa diselamatkan malam ini. Kau harus memutus seluruh sistem komunikasi taktis dan membiarkan efek neurotoksin sonik itu mereda secara alami."

"Aku sudah melakukannya," jawab Orion, menghela napas panjang. Ia mengambil cip di atas meja itu dan menyimpannya. "Jenderal Ares hancur di bunker, dan kini seluruh divisinya saling memangsa. Dewan Direksi panik. Harga saham kita anjlok hingga ke dasar palung."

Orion menatap Saraswati. Anehnya, alih-alih kemarahan, ada sebuah kilatan kekaguman yang gelap di mata pria itu.

"Kau gagal membunuhnya, Saraswati. Tapi kau mencegah kota ini jatuh ke tangan anarki publik," Orion melangkah mendekat. "Dan ironisnya, kehancuran militer ini justru memberikan faksiku di Dewan Direksi sebuah kekuatan politik absolut. Dengan hilangnya kekuatan fisik para loyalis Ares, tidak ada lagi yang bisa menentang rancangan masa depanku."

Saraswati merasakan peringatan Das Unheimliche kembali berdering di amigdalanya. Kengerian yang tidak kasat mata. Orion tidak terlihat seperti seorang pria yang baru saja kehilangan ribuan pasukannya. Ia terlihat seperti seorang arsitek yang baru saja membersihkan lahan kosong untuk membangun sebuah menara yang lebih tinggi.

"Apa maksudmu, Orion? Pasukan pertahananmu lumpuh. Kau tidak memiliki siapa-siapa untuk menjaga aset Aegis di jalanan," uji Saraswati.

"Manusia itu rapuh, Dokter. Hari ini, kau dan Kala membuktikan hal itu dengan sangat brilian," Orion berjalan menuju dinding kaca raksasa, memandang kota yang terbakar di bawah sana. "Sigmund Freud benar. Di dalam diri setiap manusia, tersembunyi monster irasional yang siap meledak kapan saja. Jika sebuah frekuensi suara saja bisa membuat prajurit elitku menangis dan saling membunuh, maka manusia tidak lagi layak menjadi penjaga tatanan."

Orion menekan sebuah tombol di jam tangannya. Kaca ruangan itu seketika meredup (tinted), dan peta holografik di tengah ruangan berubah bentuk.

Peta titik merah kerusuhan itu menghilang, digantikan oleh sebuah model struktur jaringan digital yang sangat masif, menyerupai jaring laba-laba raksasa yang menyelimuti seluruh topografi metropolis. Di setiap simpul jaringan itu, terdapat ikon berbentuk mata elektronik.

"Perang posisi selalu membutuhkan benteng yang tak bisa ditembus," Orion berbalik, merentangkan tangannya menyambut proyeksi tersebut. "Selamat datang di masa depan evolusi Aegis Vanguard, Dr. Saraswati. Perkenalkan... Proyek Panopticon."

[21:15 PM] PROYEK PANOPTICON DAN ALIENASI ABSOLUT

Saraswati menatap jaring cahaya biru yang memproyeksikan struktur sistem tersebut. Denyut nadinya berpacu. Nama proyek ini diambil langsung dari konsep arsitektur penjara abad ke-18 karya Jeremy Bentham, yang kemudian dianalisis oleh filsuf Michel Foucault sebagai metafora dari kontrol sosial modern. Dalam sebuah Panopticon, para tahanan ditempatkan dalam sel melingkar yang diterangi cahaya, dengan sebuah menara pengawas di tengahnya yang digelapkan. Tahanan tidak pernah tahu apakah mereka sedang diawasi atau tidak, sehingga pada akhirnya, mereka akan menginternalisasi pengawasan tersebut dan mendisiplinkan diri mereka sendiri.

"Apa ini?" tanya Saraswati, berusaha menjaga nadanya tetap klinis.

"Ini adalah akhir dari pemberontakan," jelas Orion dengan antusiasme yang membekukan darah. "Mengapa kita harus menunggu seseorang melakukan kejahatan untuk menghukumnya? Mengapa kita harus menunggu Kala meledakkan pabrik, atau rakyat turun ke jalan? Proyek Panopticon adalah sistem kecerdasan buatan kuantum (Quantum AI) yang terintegrasi secara absolut ke dalam setiap infrastruktur kota ini."

Orion menggeser hologram itu, memunculkan profil puluhan warga acak dari berbagai distrik.

"Algoritma ini tidak hanya memantau kamera jalanan atau transaksi perbankan. Ia membedah psikologi setiap individu," lanjut sang Leviathan. "Panopticon memproses data biometrik dari jam pintar mereka, riwayat penelusuran internet, fluktuasi hormon melalui sensor medis rumah sakit, hingga mikro-ekspresi wajah di layar ponsel mereka. Sistem ini memetakan Id, Ego, dan Superego dari dua puluh juta warga metropolis."

Saraswati merasa mual. Ini adalah penyalahgunaan ilmu psikologi ke tingkat yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia.

"Kau menggunakan psikoanalisis untuk memprediksi probabilitas kejahatan (pre-crime)?" ucap Saraswati, menatap Orion dengan ngeri.

"Bukan sekadar kejahatan, Dokter. Kami memprediksi niat," Orion tersenyum dingin. "Jika sistem mendeteksi seorang buruh mengalami trauma represi yang berpotensi meledak menjadi kekerasan kelas, atau seorang intelektual yang memiliki kecenderungan pemikiran anarkis, Panopticon akan menandai mereka. Dan mereka akan 'dibersihkan' sebelum pikiran mereka berubah menjadi tindakan."

"Dibersihkan?" desis Saraswati. "Maksudmu diculik? Diasingkan ke pulau seperti Benteng Utara? Atau dilobotomi secara kimiawi?"

"Itu bahasa yang terlalu kasar. Mari kita sebut sebagai... pencegahan preventif demi kebaikan mayoritas," jawab Orion tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Tidakkah kau lihat keindahannya, Saraswati? Ini adalah keteraturan Apollonian yang abadi. Tidak akan ada lagi kelas pekerja yang teralienasi, karena mereka tidak akan memiliki kapasitas kognitif untuk menyadari alienasi mereka. Manusia akan hidup dalam damai, tanpa rasa sakit, tanpa trauma masa lalu, dan tanpa kehendak bebas yang membahayakan."

Logika korporat Orion adalah bentuk paling mutlak dari tirani. Karl Marx mengkritik kapitalisme karena merampas kebebasan pekerja secara fisik dan ekonomi, tetapi Panopticon milik Aegis Vanguard merampas kebebasan ontologis manusia. Mereka ingin mencuri kemampuan manusia untuk berpikir, merasa, dan menderita.

Dalam filsafat eksistensialisme, manusia adalah makhluk yang dikutuk untuk bebas (condemned to be free). Penderitaan dan tanggung jawab adalah harga dari kebebasan itu. Dengan menghapus penderitaan melalui lobotomi algoritmik, Orion sedang mencoba menghapus kemanusiaan itu sendiri.

"Kapan sistem ini akan diluncurkan?" tanya Saraswati, merangkai war of position-nya. Ia tidak boleh menunjukkan perlawanannya di sini. Ia harus menjadi parasit yang menyelinap ke dalam mesin ini.

"Akhir bulan ini. Pada Malam Gala Puncak Musim Dingin Aegis," jawab Orion. "Aku akan mempresentasikan Panopticon kepada seluruh dewan direksi global dan para investor internasional. Begitu tombol aktivasi ditekan, Aegis tidak akan lagi membutuhkan pasukan militer manusia seperti milik Ares yang rapuh. Kita akan memimpin dunia ini melalui algoritma."

Orion berjalan kembali ke mejanya dan menuangkan segelas bourbon antik. Ia menyodorkan gelas itu kepada Saraswati.

"Dan kau, Dr. Saraswati, akan menjadi kunci utama dari kelancaran proyek ini," ujar Orion. "Algoritma AI Panopticon membutuhkan kalibrasi parameter psikologis manusia yang sempurna agar tidak salah mendiagnosis. Aku ingin kau memimpin tim riset analitiknya. Masukkan pemahamanmu tentang trauma, represi, dan kompulsi ke dalam jantung mesin ini."

Saraswati menatap gelas kristal berisi cairan amber tersebut. Jika ia menolak, Orion akan membunuhnya dan mencari psikolog lain. Jika ia menerima, ia akan menjadi arsitek dari penjara pikiran massal ini.

Simone de Beauvoir mengajarkan bahwa dalam kondisi ekstrem, sang Subjek harus berani mengambil risiko untuk masuk ke dalam rawa moralitas, berpura-pura menjadi Sang Liyan, demi menghancurkan sangkar tersebut dari dalam.

Saraswati mengambil gelas itu dengan tangan kirinya.

"Kau benar, Orion," ucap Saraswati, mengangkat gelasnya dengan sebuah senyuman yang menyembunyikan samudra kemurkaan di baliknya. "Manusia terlalu rapuh untuk dipercaya memegang kendali. Aku akan mengkalibrasi Panopticon-mu. Aku akan memastikan mesin ini memahami jiwa manusia hingga ke sudutnya yang paling gelap."

Orion mendentingkan gelasnya dengan gelas Saraswati. "Sempurna. Mari kita ciptakan ketiadaan dari kekacauan ini, Dokter."

[23:30 PM] BARZAKH DI DALAM HATI SANG HANTU

Malam itu, Saraswati kembali ke ruang kerjanya yang sunyi di lantai 85.

Ia duduk di kursi kulitnya, menatap layar komputernya. Ia kini telah mendapatkan akses ke lapisan terdalam dari Proyek Panopticon. Kode-kode algoritma pengawasan massal itu terpampang di hadapannya seperti bahasa dari dewa yang zalim.

Di tengah kesunyian itu, ponsel burner rahasianya di dalam laci bergetar.

Ia mengambilnya. Sebuah pesan teks tak terenkripsi masuk, berasal dari sebuah nomor satelit yang selalu berpindah-pindah.

Kau merusak siaranku, Saras. Kau memilih untuk menjadi anjing korporat daripada menjadi dewa bersamaku. - K.

Saraswati menatap pesan dari Kala itu. Sang Übermensch yang dikuasai oleh Dionysian itu tidak memahami kedalaman dari war of position yang sedang ia jalankan.

Saraswati mengetik balasan dengan cepat.

Kau bermain dengan api di jalanan, Kala. Sementara aku sedang memegang jantung tuhan mereka di tanganku. Jangan halangi jalanku, atau aku yang akan mengakhiri riwayatmu.

Ia mengirim pesan itu, lalu mematahkan kartu SIM ponsel tersebut, menghancurkan jejaknya.

Saraswati menyandarkan punggungnya, menatap kerlip lampu metropolis di luar jendelanya. Kota ini sedang tertidur dalam kepanikan, tidak menyadari bahwa mimpi buruk yang lebih besar sedang dibangun tepat di atas kepala mereka.

Ibnu Arabi mengajarkan bahwa di dalam Hayra (kebingungan), seseorang menemukan tujuan aslinya. Dan tujuan Saraswati kini sangat jernih. Ia akan merancang kalibrasi psikologis untuk Panopticon, tetapi ia akan menanamkan sebuah anomali di dalamnya. Sebuah racun eksistensialis. Ia akan menciptakan sebuah mesin yang pada akhirnya akan menghancurkan penciptanya sendiri di Malam Gala nanti.

Babak baru telah dimulai. Sang Leviathan mengira ia telah menelan sang detektif, tanpa menyadari bahwa wanita itu sedang mengasah pisau dari dalam perutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!