Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Atas Nama Profesional
Suasana pagi di kantor saat itu tidak pernah terasa lebih tenang.
Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, suara ketikan keyboard saling beradu. Sebagian orang bekerja sambil membicarakan hal-hal lain.
Mesin kopi yang berada di area open space, tak pernah benar-benar sepi. Orang-orang selalu datang dan pergi hanya untuk secangkir kopi, aroma kopinya memenuhi ruangan.
Aluna menyeruput kopi yang sudah mulai dingin. Tumpukan berkas hampir memenuhi meja kerjanya. Ia harus segera menyelesaikan tugasnya sebelum bosnya memanggil untuk revisi. Jika proposalnya selesai lebih dulu sebelum Arka memanggil, biasanya Aluna langsung menyerahkannya kepada Revan untuk menghindari revisi ulang.
Aluna selalu merasa hasil kerjanya tak pernah benar-benar cukup di mata Arka. Revisi demi revisi, teguran demi teguran—seolah tak ada yang pernah sempurna. Namun anehnya, di sela kritik yang tajam itu, Arka justru kerap memujinya.
Memuji idenya, memuji ketelitiannya, memuji dedikasinya. Pujian yang terdengar tulus tapi tak pernah terasa menenangkan.
Dan dari situlah keraguan mulai tumbuh.
Apakah itu benar pujian?
Atau hanya umpan halus—kesempatan yang sengaja dibuka untuk sesuatu yang belum ia pahami?
Semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa seperti sedang berdiri di tepi sesuatu yang tak terlihat. Sesuatu yang tidak pernah disebutkan dengan jelas, namun perlahan membuatnya waspada.
Sampai kemudian, pria menyebalkan di matanya itu keluar dari balik pintu ruang kerjanya.
"Aluna. Bisa ke ruangan saya sebentar."
Lalu tubuhnya kembali menghilang dibalik pintu.
Aluna menghela napas panjang, rasa kesal jelas tergambar di wajahnya. Proposal itu bahkan belum benar-benar selesai, tapi ia sudah harus kembali menghadap Arka—membawa berkas yang sama, dengan revisi yang entah akan dianggap cukup atau justru kembali dipermasalahkan.
Ia berdiri membawa beberapa berkas ditangannya, mengetuk pintu ruang CEO.
Arka yang menyambut dari dalam justru merasa heran dengannya, "kenapa kamu membawa berkas?"
Wajah Aluna terlihat bingung.
"Bukannya mau revisi, Pak?"
"Kamu mendengar saya mengatakan itu?"
Ia merasa gugup beberapa saat, "oh maaf... saya pikir mau revisi."
Aluna terkekeh malu.
"Duduk."
Dengan nada datar.
Mendengar itu, Aluna segera duduk di sofa dan menatap atasannya dengan penuh tanda tanya.
"Saya panggil kamu karena ada perubahan jadwal,” ujar Arka tanpa basa-basi.
“Perubahan apa, Pak?”
“Presentasi final dipindahkan ke Hotel Madson. Kliennya menginap di sana. Mereka hanya punya waktu malam besok sebelum kembali ke Surabaya."
Aluna mengangguk pelan. “Baik, Pak. Lalu tim yang ikut siapa saja?”
“Kita berdua.”
Aluna terdiam sesaat. “Berdua saja, Pak? Mungkin sebaiknya Revan juga ikut. Dia creative lead.”
Arka menutup map di tangannya, lalu menatap Aluna lurus.
“Revan kuat di visual. Tapi struktur campaign, alur presentasi, dan breakdown strategi—itu kamu yang susun.”
“Saya bisa siapkan catatan detailnya untuk Bapak,” balas Aluna hati-hati.
“Saya tidak butuh catatan.” Nada Arka tetap tenang, tapi tegas. “Saya butuh orang yang bisa menjawab langsung saat klien bertanya, tanpa membaca, tanpa ragu.”
Aluna menelan ludah.
“Ini proyek besar, Aluna. Dan kamu yang paling paham fondasinya.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian.
“Tapi, Pak… presentasi di hotel malam hari—”
“Saya akan ada di sana.” Arka memotong pelan. “Kamu tidak sendiri.”
Hening sebentar.
“Anggap ini bagian dari tanggung jawabmu,” lanjutnya lebih rendah. “Atau kamu tidak yakin dengan pekerjaanmu sendiri?”
Pertanyaan itu membuat Aluna tercekat.
“Saya yakin, Pak.”
“Bagus.” Arka menyandarkan tubuhnya. “Besok pukul tujuh. Jangan terlambat.”
Tak ada lagi ruang untuk menolak.
***
Lobi Hotel Madson malam itu dipenuhi cahaya hangat dan aroma parfum mahal yang samar. Langkah Aluna terasa sedikit kaku di atas lantai marmer yang mengilap. Di sampingnya, Arka berjalan tenang dengan setelan rapi dan ekspresi yang tak pernah benar-benar terbaca.
Mereka tidak menuju kamar, melainkan ruang meeting di lantai tiga. Pintu kayu besar dengan plakat bertuliskan Private Meeting sudah menunggu di ujung koridor.
Di dalam, dua perwakilan klien telah duduk. Jas rapi, wajah serius, tatapan menilai.
Arka menyapa lebih dulu. Tegas dan profesional.
“Terima kasih sudah meluangkan waktu sebelum keberangkatan Anda besok pagi,” ucapnya, menjabat tangan satu per satu. “Kami akan langsung ke inti presentasi.”
Ia memberi isyarat halus pada Aluna.
Aluna menarik napas pelan, membuka laptopnya, lalu menyambungkan slide ke layar besar di dinding. Tangannya sempat terasa dingin, tapi suaranya tetap terjaga stabil saat mulai berbicara.
Ia menjelaskan alur campaign dengan runtut. Strategi positioning, target market, breakdown anggaran. Setiap kalimat terstruktur, setiap angka disebut tanpa ragu.
Beberapa kali klien memotong dengan pertanyaan tajam.
“Bagaimana jika engagement tidak mencapai target tiga bulan pertama?”
Aluna menjawab sebelum Arka sempat membuka suara.
“Kami sudah siapkan skema aktivasi tahap kedua, dengan penyesuaian platform dan alokasi budget yang lebih fokus pada digital amplification.”
Tatapan klien berubah—dari menguji menjadi mempertimbangkan.
Arka berdiri sedikit di belakangnya, memperhatikan. Sesekali ia menambahkan kalimat penegas, memperkuat apa yang sudah Aluna paparkan, mereka terlihat selaras.
Namun di sela-sela itu, Aluna merasakan sesuatu.
Tatapan Arka bukan hanya tertuju pada layar. Beberapa kali ia menangkap sorot mata itu mengarah padanya, terlalu lama untuk sekadar memastikan jalannya presentasi.
Setelah hampir satu jam, klien saling bertukar pandang.
“Kami tertarik,” salah satu dari mereka akhirnya berkata. “Kirimkan revisi kecil pada bagian timeline, dan kita bisa lanjut ke tahap kontrak.”
Udara di ruangan itu seakan melonggar.
Aluna menutup laptopnya dengan hati-hati. Jantungnya masih berdetak cepat, bukan hanya karena tegang—tapi karena kesadaran bahwa malam itu, ia telah berdiri di ruang yang lebih besar dari biasanya.
Arka mengucapkan terima kasih terakhir, lalu menggiring Aluna keluar dari ruang meeting.
Pintu tertutup di belakang mereka.
Koridor hotel terasa lebih sunyi dibanding sebelumnya.
Dan entah mengapa, di antara langkah-langkah yang kembali berdampingan itu, Aluna merasa presentasi tadi bukan satu-satunya hal yang sedang dinilai malam ini.
Lift berhenti di lantai delapan.
“Klien minta revisi timeline sebelum tengah malam,” ujar Arka datar, berjalan lebih dulu menyusuri koridor. “Mereka ingin kirim draft kontrak pagi ini.”
Aluna menggenggam laptopnya sedikit lebih erat. “Kita tidak bisa kerjakan di lobby saja, Pak?”
“Lobby terlalu ramai.” Jawabannya singkat. “Dan saya sudah booking kamar untuk menginap. Lebih efisien.”
Kata itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa membuat langkah Aluna terasa lebih berat.
Pintu kamar terbuka dengan bunyi klik pelan. Ruangan itu luas, dengan meja kerja di dekat jendela dan lampu kuning yang hangat. Tirai setengah tertutup, memperlihatkan gemerlap kota di luar.
“Duduk di sana,” kata Arka, menunjuk kursi di meja kerja.
Aluna menurut. Ia segera membuka laptop, mencoba fokus pada file presentasi yang tadi dipuji klien—dan diminta direvisi.
Arka berdiri di belakangnya, memeriksa layar dari atas bahunya.
“Terlalu cepat di bagian awareness,” ucapnya pelan. “Geser dua minggu.”
Jaraknya terlalu dekat.
Aluna bisa merasakan hangat napasnya samar di sisi kepala. Ia menggeser kursi sedikit ke depan, pura-pura untuk meraih mouse.
“Seperti ini, Pak?”
Arka tidak langsung menjawab. Ia justru memindahkan tangannya ke meja, bertumpu di sisi kursi Aluna, membuat ruang geraknya semakin sempit.
“Kamu tegang?” tanyanya tiba-tiba.
“Saya hanya ingin cepat selesai, Pak."
“Bagus.” Nada suaranya rendah. “Saya suka orang yang serius dengan pekerjaannya.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tapi entah kenapa, Aluna tidak merasa bangga.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang aneh. Hanya suara ketikan dan dengungan AC.
Setelah revisi hampir selesai, Arka akhirnya menjauh. Ia berjalan ke arah minibar, mengambil dua botol air mineral.
“Kamu tahu kenapa saya ajak kamu malam ini?” tanyanya tanpa menoleh.
Aluna berhenti mengetik. “Karena saya yang menyusun proposalnya.”
“Bukan hanya itu.”
Suasana terasa Hening.
Arka berbalik, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan.
“Kamu berbeda dari yang lain.”
Kalimat itu menggantung di udara.
"Kamu tetap kerjakan. Saya ingin mandi sebentar."
Arka melangkah ke kamar mandi.
Aluna merasakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Entah karena kalimat yang diucapkan bosnya tadi atau sesuatu yang tidak ia ketahui. Namun demi sebuah tuntutan pekerjaan, ia tetap harus terlihat profesional dan membuang pikiran negatif di kepalanya.
Sampai kemudian suara Arka terdengar dari balik pintu kamar mandi.
"Aluna," teriaknya dari dalam.
Aluna yang mendengar namanya dipanggil sontak menjawab, "iya, Pak?"
"Saya mau minta tolong."
Aluna berlari kecil menuju pintu kamar mandi untuk mendengar lebih jelas, "minta tolong apa, Pak?"
"Tolong ambilkan saya handuk diatas sofa. Saya lupa."
Deg.
Seketika dadanya berdegup tak biasa, ada rasa malu dan aneh didalam benaknya. Bagaimana bisa seorang CEO lupa membawa handuk saat mandi, gumamnya.
Ia melirik handuk yang tergeletak diatas sofa samping ranjang.
Kemudian mengambilnya, "Pak, ini handuknya."
Suaranya sedikit memekik.
Pintu kamar mandi terbuka dari dalam, Aluna langsung menyodorkan handuknya dengan berhati-hati agar dirinya tidak terlihat.
Alih-alih menunggu handuk itu diraih dari dalam, tiba-tiba tangannya ditarik masuk kedalam kamar mandi.
Aluna menjerit sesaat, matanya tertutup oleh kedua tangannya, jantungnya berdegup sangat kencang.
Karena saat ini, Aluna sudah berada di kamar mandi, tubuhnya bersandar ditembok, dan Arka sedang berada dihadapannya.
"Apa yang Bapak lakukan," tanyanya panik. Kedua tangannya masih menutupi wajahnya.
"Kenapa kamu menutupi wajah mu?" tanya Arka datar, seolah apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang biasa.
Aluna mengintip sedikit dari celah jarinya, ingin memastikan bahwa atasannya masih memakai pakaian. Ia melihatnya memakai celana boxer, kemudian menurunkan kedua tangannya dari wajahnya.
"Bapak mau apa?"
Suaranya bergetar, ada rasa takut dari dalam dirinya.
"Cuma mau lihat kamu." Sorot matanya tajam.
Aluna melangkah ingin menuju pintu, namun Arka menahan pundaknya, membuat Aluna tidak bisa bergerak.
"Tolong jangan lakukan ini, Pak." suaranya memohon.
"Lakukan apa?"
Bertanya seolah ia tidak melakukan apa-apa.
Aluna terdiam, matanya sedang menahan sesuatu. Pandangannya hanya tertunduk ke bawah.
Tiba-tiba tangan Arka menyentuh dagu Aluna, membuatnya mendongak ke atas dan kini mereka saling bertatap mata.
Arka menatap dalam perempuan yang hampir menangis itu, ia bisa merasakan tubuhnya gemetar.
Tapi kemudian Arka melepaskan tangannya dari bahu Aluna, melihat kesempatan itu, sontak Aluna langsung berlari keluar dari kamar mandi.
Arka memakai handuk yang terjatuh di lantai, menutupi tubuhnya kemudian mengikuti Aluna.
Aluna sudah berdiri didepan pintu, ia berusaha untuk keluar dari kamar itu. Namun ternyata pintunya tidak bisa dibuka.
"Kamu mau kemana? Pekerjaan kamu belum selesai."
Aluna yang merasa ketakutan hanya diam dan tidak mampu menjawab.
Arka melangkah perlahan mendekati Aluna yang diam mematung disamping pintu.
Tangannya terangkat menyentuh pipi Aluna, melihat reaksi atasannya itu, air mata yang sedari tadi ia bendung akhirnya jatuh.
Melihat reaksi Aluna membuat Arka terkekeh pelan, "kamu kalau sedang begini ternyata lucu juga ya."
Mendengar kalimat itu Aluna menatap kesal bosnya, ia merasa dipermainkan dan diperlakukan tidak baik.
Bahkan ia tidak pernah menyangka jika bosnya bisa berbuat seperti ini.
Melihat tatapan sinis dari Aluna, tanpa banyak bicara ia meraih pinggangnya lalu mengangkat tubuh itu dengan satu tarikan kuat. Dalam hitungan detik, tubuhnya sudah bertumpu di atas pundaknya, menggantung dengan kepala di belakang dan kaki di depan.
Kemudian Arka menjatuhkan tubuh itu diatas ranjang.
Aluna berteriak dan memberontak.
Ia hendak lari dari atas ranjang sebelum akhirnya tubuh Arka menahan tubuhnya.
Arka membungkuk diatas tubuhnya Aluna, tangannya menahan kedua tangan Aluna, membuat perempuan itu tidak bisa bergerak.
Aluna menangis karena tidak bisa berbuat apa-apa, pikirannya penuh oleh hal-hal yang menakutkan.
"Aluna. Lihat saya."
Ia masih menangis dan memalingkan wajahnya.
"Jika kamu ingin malam ini segera selesai, tatap saya."
Aluna mendengar sebuah harapan kecil, yang membuatnya terpaksa menatap wajah Arka.
Tatapan mereka saling beradu, yang satu dengan linangan air mata dan satunya dengan sebuah tatapan iba tetapi dikuasai oleh egonya.
Arka mendekatkan wajahnya perlahan, tatapannya tertuju pada bibir dengan liptint pink milik Aluna.
Melihat reaksi itu, Aluna berteriak dan memalingkan wajahnya kembali.
"Pak, tolong jangan lakukan itu," isaknya.
"Memangnya kenapa? Bukankah atasan melakukan dengan bawahannya—itu hal biasa?"
"Tapi kenapa harus saya?" suaranya terdengar serak.
"Karena kamu adalah bawahan ku."
"Bawahan bukan berarti seseorang yang bisa seenaknya direndahkan."
Kini suaranya terdengar lebih lantang.
Mendengar itu, Arka tertawa kecil.
“Memangnya apa yang kamu pertahankan?” Arka menatapnya lekat. “Harga diri?”
Aluna menarik napas, berusaha menahan gemetar di suaranya.
“Saya hanya ingin Bapak berhenti.”
“Hanya menyentuh sedikit saja kamu sudah bereaksi seperti ini?” Arka tersenyum miring. “Kamu terlalu sensitif.”
“Itu bukan sentuhan yang pantas, Pak.” Kini suaranya lebih tegas. “Dan ini bukan tempatnya.”
“Kamu ada di sini karena pekerjaan. Dan saya atasanmu.”
“Status tidak memberi Bapak hak untuk menyentuh saya,” potong Aluna
Arka tertawa kecil.
“Kamu pikir saya akan mengambil risiko hanya untuk hal sepele?”
“Saya tidak peduli risikonya apa,” balas Aluna. “Saya tidak nyaman.”
Tatapan Arka berubah—lebih dingin.
“Kamu harus hati-hati dengan kata-katamu, Aluna,” ujarnya pelan. “Di dunia kerja, reputasi itu rapuh.”
Ancaman itu tidak diucapkan terang-terangan.
Namun maknanya jelas.
“Saya datang ke sini untuk bekerja. Bukan untuk diperlakukan seperti ini.”
"Baiklah," Arka menghela nafas. "Jika kamu masih butuh pekerjaan mu, biarkan saya merasakan bibir manis mu."
Aluna terbelalak.
"Saya tidak mau!" Tegasnya.
"Kalau begitu, karirmu hanya sampai disini, Aluna."
Arka mencoba mengancam pekerjaannya.
Seketika wajah Aluna menatap mata pria yang berada diatas tubuhnya itu. "Saya tidak peduli dengan pekerjaan saya."
Melihat Aluna yang menantangnya, membuat Arka kehabisan ide untuk membuat perempuan itu luluh pada egonya.
Tanpa memikirkan kalimat lagi, Arka mencium paksa Aluna.
Aluna memberontak dengan menggigit bibir Arka, sehingga membuatnya melepaskan bibirnya dan merintih sakit.
"Aluna. Jika kamu ingin pergi dari sini, turuti saya."
Kini nadanya terdengar keras.
"Saya tidak suka ciuman."
Tangisannya kembali terdengar.
Arka terkekeh, "tidak suka atau tidak bisa?"
"Tidak suka!"
"Tidak suka dan tidak bisa itu dua hal yang berbeda. Buktikan! Itupun jika kamu ingin pergi dari sini."
Aluna terdiam, menatap lama atasannya.
"Tapi jika kamu menikmatinya. Bahkan sampai besok pun saya tidak keberatan."
Hening.
Aluna berusaha mencerna kalimat itu dan memikirkannya.
Arka kembali mendekatkan wajahnya, bibir mereka hampir menyentuh satu sama lain. Namun Arka memberikan jeda, berusaha menunggu reaksi Aluna—Kembali berontak atau mengerti maksud kalimatnya.
Isaknya perlahan mereda.
Bukan karena ia tenang, melainkan karena lelah melawan.
Aluna mengangkat wajahnya, untuk pertama kalinya, ia membalas tatapan Arka tanpa berusaha memalingkan wajahnya. Tidak ada lagi perlawanan di sana, hanya sesuatu yang lebih menyakitkan: keheningan yang menyerah.
Dadanya berdegup begitu keras hingga napasnya sendiri terasa tak teratur. Ia yakin Arka bisa mendengarnya atau mungkin hanya ia yang merasa dunia terlalu sunyi hingga detak jantungnya menjadi suara paling nyaring di ruangan itu.
Mata itu akhirnya terpejam, bukan sebagai undangan, bukan pula sebagai persetujuan.
Hanya karena ia tak sanggup lagi menatap situasi yang tak pernah ia pilih.
Sesaat kemudian, hangat yang asing itu menyentuh bibirnya. Tidak ada kelembutan di sana, hanya dominasi yang datang tanpa diminta. Waktu terasa berjalan lambat, seolah setiap detik ingin memperjelas bahwa ini bukan tentang rasa, melainkan tentang kuasa.
Aluna tidak membalas, ia juga tidak mendorong.
Tubuhnya diam, terlalu kaku untuk disebut menerima, terlalu lelah untuk kembali melawan.
Air matanya jatuh perlahan, satu per satu, tanpa suara. Mengalir melewati pipi yang dingin, menjadi saksi bisu bahwa yang terjadi malam itu bukanlah romansa. Melainkan sesuatu yang merenggut lebih dari sekadar jarak.
Di balik kelopak matanya yang tertutup, hanya ada satu kesadaran yang menyakitkan:
Ia tidak pernah benar-benar punya pilihan.
"Kamu benar, Aluna." Jempol Arka mengusap bibir Aluna, "bukan tidak bisa, hanya tidak suka."