NovelToon NovelToon
Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:161
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.

Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.

Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.

Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.

Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Mak Comblang Amatir dan Perjodohan yang Tertukar

Kepulangan Devan dan Nika dari Bali disambut oleh cuaca Jakarta yang mendung, namun suasana di kediaman utama Adiguna justru terasa lebih panas dari biasanya. Begitu mereka melangkah masuk ke ruang tamu, mereka tidak menemukan pelayan yang membawakan minuman dingin, melainkan pemandangan Mama Sofia yang sedang duduk tegak di sofa dengan sebuah map besar di pangkuannya, sementara adik laki-laki Devan, Arga, tampak mondar-mandir dengan wajah frustrasi.

"Pokoknya Arga tidak mau, Ma! Ini zaman apa? Masa Arga harus dijodohkan dengan gadis yang bahkan tidak bisa membedakan mana rem dan mana gas!" teriak Arga, rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan karena terus-menerus diacak sendiri.

Nika dan Devan saling berpandangan. Devan menghela napas panjang—ia sangat mengenal nada bicara ibunya jika sudah memiliki rencana "strategis" keluarga.

"Ada apa ini, Ma? Kenapa rumah seperti baru saja kena gusur?" tanya Devan sambil meletakkan tas jinjingnya.

Mama Sofia menoleh, matanya berbinar melihat Nika. "Ah, Nika! Kebetulan sekali kamu sudah pulang! Sini, sayang, duduk di samping Mama. Kamu harus bantu Mama meyakinkan adik iparmu yang kepala batu ini."

Nika duduk dengan ragu, sementara Devan tetap berdiri dengan tangan bersedekap, mode "kakak tertua" miliknya aktif secara otomatis.

"Ma, Arga masih kuliah tingkat akhir. Kenapa sudah bicara perjodohan lagi? Belum cukup pengalaman Devan dan Nika kemarin?" tanya Devan dengan nada memperingatkan.

Mama Sofia mengibaskan tangannya seolah hal itu bukan masalah besar. "Justru karena kesuksesan kalian, Mama jadi bersemangat! Lagipula, ini bukan sembarang gadis. Mama ingin menjodohkan Arga dengan Lulu, sepupu Nika yang baru pulang dari Australia itu."

Nika hampir saja tersedak udara. "Lulu? Lulu yang rambutnya pernah dicat warna pelangi dan hampir membakar dapur rumah Tante Ratna karena mau buat eksperimen lilin aroma terapi?"

"Iya! Dia sekarang sudah lebih dewasa, Nika. Dan keluargamu butuh sosok penyeimbang setelah kekacauan yang dibuat Ayahmu. Mama pikir, menyatukan Arga yang kaku dengan Lulu yang... bersemangat, adalah ide jenius," ucap Mama Sofia bangga.

Nika menoleh ke arah Arga yang kini sudah merosot duduk di lantai dengan wajah pasrah. Arga adalah kebalikan dari Devan dalam hal fisik; ia lebih kurus dan berwajah lebih manis, namun ia mewarisi sifat kaku dan logis kakaknya secara berlebihan. Arga adalah mahasiswa teknik informatika yang dunianya hanya berisi kode biner dan algoritma.

"Mbak Nika, tolong aku," bisik Arga memelas. "Aku sudah lihat profil Instagram-nya. Dia punya peliharaan kadal raksasa dan hobinya terjun payung. Aku? Aku bahkan takut pada kecoa yang terbang!"

Nika merasakan simpati, namun jiwa jahilnya mulai menggelitik. Ia teringat betapa Devan dulu juga sangat kaku sebelum ia "hancurkan" dengan keranduman-keranduman miliknya.

"Mas," bisik Nika pada Devan yang masih tampak tidak setuju. "Bagaimana kalau kita biarkan saja mereka bertemu? Siapa tahu Lulu benar-benar bisa membuat Arga berhenti bicara tentang bahasa pemrograman saat makan malam."

Devan menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya. "Ni, Lulu itu badai berjalan. Arga itu menara kaca. Sekali tabrak, Arga bisa hancur berkeping-keping."

"Justru itu seninya, Mas! Mari kita jadi 'panitia perjodohan' yang lebih asyik daripada Mama Sofia," jawab Nika dengan binar nakal di matanya.

Rencana pertemuan pertama pun disusun. Nika yang mengambil alih sebagai sutradara. Ia tidak ingin pertemuan kaku di restoran hotel. Ia justru menyewa sebuah tempat bermain Escape Room bertema horor di sebuah mal ternama.

"Nika, ini ide yang sangat buruk," bisik Devan saat mereka berdiri di depan pintu masuk Escape Room yang gelap dan berbau kemenyan buatan.

"Percayalah padaku, Mas. Dalam tekanan horor, karakter asli seseorang akan keluar. Arga akan terpaksa melindungi Lulu, atau sebaliknya," jawab Nika sambil sibuk mengenakan bando telinga kucing (ia bersikeras bahwa bando ini memberinya keberuntungan).

Tak lama kemudian, Lulu datang. Gadis itu benar-benar definisi "bersemangat". Ia datang dengan jaket kulit warna merah muda terang, sepatu bot perak, dan membawa tas berisi camilan organik untuk kadalnya yang untungnya ditinggal di mobil.

"Halo Kak Nika! Kak Devan! Mana calon tunangan kaku yang kalian ceritakan itu?" seru Lulu dengan suara yang cukup keras hingga membuat beberapa pengunjung mal menoleh.

Arga keluar dari balik punggung Devan dengan wajah sepucat kertas. "Aku Arga. Dan aku bukan barang dagangan."

Lulu menatap Arga dari atas ke bawah, lalu tertawa keras. "Wah! Kamu lucu sekali! Wajahmu seperti orang yang baru saja melihat bug di kodingannya. Ayo masuk! Aku dengar di dalam ada hantu yang bisa ditarik kakinya!"

Mereka berempat masuk ke dalam ruangan gelap tersebut. Nika dan Devan bertugas sebagai pengamat (meskipun sebenarnya mereka ikut masuk agar Arga tidak pingsan).

Di dalam ruangan pertama, yang didesain seperti kamar mayat tua, Arga langsung memegang ujung kemeja Devan dengan erat. "Mas, ini hanya dekorasi. Ini hanya plastik dan cat merah. Secara logika, tidak ada entitas metafisika di sini..." gumam Arga berusaha menenangkan diri sendiri.

Tiba-tiba, seorang aktor yang berpakaian seperti kuntilanak meloncat dari balik lemari.

"WAAAAA!" Arga berteriak dengan nada yang sangat tinggi, melompat ke arah yang salah dan justru menubruk Lulu.

Bukannya takut, Lulu justru menangkap Arga dengan sigap. "Tenang, Arga! Kuntilanaknya cuma pakai kain sprei diskonan! Lihat, jahitan di lehernya saja tidak rapi!" Lulu kemudian justru mengejar aktor hantu tersebut untuk bertanya di mana ia membeli softlens putihnya.

Nika tertawa terbahak-bahak di pojok ruangan. "Lihat, Mas! Arga baru saja dipeluk Lulu! Strategiku berhasil!"

Devan hanya bisa memijat pelipisnya. "Ni, Arga bukan dipeluk, dia sedang pingsan berdiri karena ketakutan."

Setelah berhasil keluar dari Escape Room (dengan catatan Lulu hampir merusak properti karena penasaran), mereka duduk di sebuah kedai kopi. Arga tampak sangat trauma, sementara Lulu tampak sangat puas.

"Jadi, Arga," Lulu menyenggol lengan Arga dengan ramah. "Aku suka gayamu saat teriak tadi. Frekuensi suaramu sangat unik. Bagaimana kalau minggu depan kita pergi panjat tebing?"

Arga menelan ludah dengan susah payah. Ia melirik ke arah Nika, meminta bantuan.

Nika justru tersenyum manis. "Ide bagus, Lu! Arga butuh banyak latihan fisik agar otot-otot kaku di otaknya sedikit rileks. Dan Arga, jangan khawatir, Mbak akan buatkan kamu baju olahraga khusus yang... ada gambar bebeknya, biar kamu merasa ditemani."

"Mbak Nika... aku benci bebek," bisik Arga frustrasi.

"Tidak ada yang boleh membenci bebek di rumah ini, Arga. Bebek adalah filosofi keberhasilan kita!" sahut Devan tiba-tiba, yang membuat Nika langsung menoleh dengan wajah berseri-seri.

"Wah, Mas Bos sudah mulai menerima filosofi bebekku!" Nika memeluk lengan Devan dengan bangga.

Malam itu berakhir dengan kericuhan kecil karena Lulu bersikeras ingin menunjukkan koleksi foto kadalnya kepada Arga, sementara Arga sibuk menjelaskan bahwa kadal tersebut secara biologis memiliki potensi bakteri yang berbahaya.

Saat mereka berjalan menuju mobil, Devan merangkul bahu Nika. "Ni, aku rasa Mama Sofia benar-benar telah melepaskan 'monster' di dalam rumah kita. Arga dan Lulu... itu akan menjadi bencana yang sangat menghibur."

"Setuju, Mas. Tapi setidaknya, rumah kita tidak akan pernah sepi lagi. Dan siapa tahu, nanti kita bisa punya keponakan yang jenius koding tapi hobinya main sirkus," jawab Nika sambil tertawa.

Namun, saat mereka hendak masuk ke mobil, Nika melihat sebuah amplop cokelat terselip di wiper kaca mobil mereka. Ia mengambilnya dan membukanya. Di dalamnya bukan ancaman, melainkan sebuah undangan pesta topeng eksklusif di sebuah kapal pesiar mewah minggu depan.

Tanpa nama pengirim, hanya ada satu catatan kecil di bawahnya: "Pesta dimulai, Arunika. Mari kita lihat siapa yang paling hebat memakai topeng."

Nika merasakan firasat aneh. "Mas, sepertinya musuh kita tidak benar-benar habis di penjara."

Devan mengambil undangan itu, wajahnya kembali menegang. "Ini tulisan tangan pengacara keluarga Batubara yang lain. Sepertinya paman-pamanmu yang kemarin belum sempat kita bereskan mulai bergerak."

Nika menghela napas, namun ia justru menegakkan punggungnya. "Kalau begitu, kita harus belanja baju baru. Jika mereka ingin pesta topeng, aku akan berikan mereka pertunjukan yang tidak akan pernah mereka lupakan. Dan Mas..."

"Ya?"

"Kamu harus pakai topeng yang serasi dengan gaunku. Tidak boleh ada tawar-menawar!"

Devan tersenyum, meski ada kecemasan di hatinya, ia tahu bahwa selama ada Nika di sampingnya dengan segala ide gilanya, ia tidak perlu takut menghadapi topeng apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!