NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:845
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Abraham menyambar jaket kulitnya dan kunci motor.

Persetan dengan awan hitam yang mulai menggantung rendah di langit Malang.

Pikirannya hanya tertuju pada satu titik: Gunung Kawi.

Baru saja ia memacu motornya keluar dari gerbang mess, hujan deras langsung tumpah dari langit seperti dicurahkan dari ember.

Angin kencang menerpa dadanya, membuat laju motor goyah, namun Abraham tidak peduli.

Pandangannya kabur tertutup air, tapi instingnya sebagai orang lapangan menuntunnya mendaki jalanan yang berkelok dan licin.

Satu jam perjalanan yang penuh perjuangan itu berakhir di pelataran Pesarean Gunung Kawi.

Di tengah guyuran hujan yang membuat suasana menjadi remang-remang, mata tajam Abraham menangkap sosok yang sangat ia kenali.

Prita masih duduk di bangku panjang itu. Tubuhnya yang mungil tampak ringkih, basah kuyup hingga pakaiannya melekat di kulit.

Ia tidak bergerak, hanya menunduk dengan bahu yang gemetar di bawah guyuran air langit yang dingin menusuk tulang.

"Prita!" teriak Abraham.

Ia segera mengerem motornya secara mendadak hingga bannya berdecit di atas aspal basah.

Abraham melompat turun, bahkan tidak sempat mematikan mesin motornya.

Ia menghambur ke arah istrinya dengan napas tersenggal-senggal.

"Kamu gila, Dik?! Kenapa kamu di sini sendirian?! Kenapa HP-mu dimatikan?!" bentak Abraham, suaranya bersaing dengan deru hujan.

Ia mencoba meraih bahu Prita, namun istrinya itu langsung menepis tangannya dengan kasar.

Prita mendongak. Wajahnya pucat pasi, matanya merah bukan hanya karena air hujan, tapi karena tangis yang tak kunjung usai.

"Jangan sentuh aku, Mas! Pergi sana!" teriak Prita histeris. Ia berdiri, menantang tatapan suaminya di tengah badai.

"Ada apa denganmu? Mas pulang kerja capek-capek, kamu malah kabur membawa semua barangmu! Apa salah Mas?!"

"Salah Mas?! Mas tanya apa salah Mas?!"

Prita merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel yang basah dan menunjukkan layar yang sempat ia tangkap sebelum ponsel itu mati.

"Siapa Diana, Mas? Siapa bidan cantik yang dijodohkan ibu tirimu itu? Aku lihat sendiri fotonya! Mas mesra sekali di lapangan tadi!"

"Itu fitnah, Prita! Dia datang sendiri, Mas sudah menolaknya mentah-mentah di depan semua orang!" bela Abraham, suaranya meninggi karena frustrasi.

"Bohong! Semua orang menentang kita, Mas! Papaku tidak merestui, ibumu membenciku, dan sekarang ada wanita lain yang lebih pantas buatmu! Aku capek, Mas! Aku lelah dianggap parasit!" Prita memukul dada Abraham dengan kepalan tangannya yang lemah dan dingin.

"Dengar dulu!" Abraham mencengkeram kedua pergelangan tangan Prita, memaksa istrinya untuk diam.

"Mas tidak peduli apa kata Papa Broto atau Ibu! Mas cuma butuh kamu! Kenapa kamu lebih percaya foto kiriman orang yang ingin menghancurkan kita daripada suamimu sendiri?!"

"Karena aku tidak punya siapa-siapa lagi, Mas! Kalau Mas pergi, aku tidak punya tempat kembali!" isak Prita pecah, suaranya parau tertelan suara petir yang menggelegar di puncak Gunung Kawi.

Pertengkaran hebat itu pecah di bawah guyuran hujan deras, menjadi saksi betapa rapuhnya kepercayaan yang sedang diuji oleh kebencian orang-orang di sekitar mereka.

"Lepaskan, Mas! Aku mau pergi! Jangan cari aku lagi!" teriak Prita dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Ia meronta, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Abraham yang kokoh di tengah guyuran hujan yang kian menggila.

Pandangan Prita mulai mengabur. Gabungan antara kedinginan yang ekstrem, perut yang kosong sejak pagi, dan tekanan batin yang luar biasa membuat dunianya mendadak berputar hebat.

Suara bentakan Abraham dan deru hujan perlahan meredup di telinganya.

"Prita! Dengar dulu, jangan keras kepala—"

Belum sempat Abraham menyelesaikan kalimatnya, tubuh Prita mendadak lemas.

Pegangannya pada tas besar yang ia bawa terlepas, dan sedetik kemudian, tubuh mungilnya jatuh terkulai.

"Sayang!!" teriak Abraham histeris.

Dengan sigap, Abraham menangkap tubuh istrinya sebelum menghantam aspal yang keras.

Wajah Prita pucat pasi, bibirnya membiru karena kedinginan, dan napasnya terasa sangat lemah.

Abraham mendekap tubuh basah kuyup itu ke dadanya, mencoba memberikan kehangatan yang tak seberapa di tengah badai.

"Prita! Bangun, Dik! Jangan begini, Mas minta maaf!"

Abraham menepuk-nepuk pipi istrinya dengan tangan yang gemetar hebat.

Ia menoleh ke sekeliling dengan panik, mencari pertolongan di area pesarean yang mulai sepi karena cuaca buruk.

Tiba-tiba, sebuah lampu senter menyorot ke arah mereka, diikuti suara langkah kaki yang terburu-buru.

"Bram?! Abraham?! Itu kamu?"

Seorang pria bertubuh tambun dengan jaket parasit tebal berlari menghampiri mereka.

Ia adalah Mas Gendut, salah satu rekan teknisi senior yang memang tinggal di kawasan dekat Gunung Kawi.

"Mas Gendut! Tolong, Mas! Prita pingsan!" seru Abraham dengan suara parau.

Mas Gendut terbelalak melihat kondisi pasangan itu. Tanpa banyak tanya, ia langsung membantu Abraham.

"Walah! Kenapa bisa begini? Ayo, cepat bawa ke rumahku! Dekat sini saja, cuma lewat gang itu!" seru Mas Gendut sambil menunjuk ke arah deretan rumah penduduk.

Tanpa membuang waktu, Abraham langsung membopong tubuh Prita dengan posisi bridal style.

Ia tidak peduli lagi dengan motornya yang masih menyala di pinggir jalan; Mas Gendut segera mematikan mesin motor itu dan mencabut kuncinya sebelum menyusul Abraham.

"Cepat, Bram! Istrimu kedinginan parah itu!"

Mereka menerobos hujan, menembus gang sempit hingga sampai di sebuah rumah sederhana namun terasa hangat.

Begitu pintu dibuka, aroma kayu dan kopi menyambut mereka.

"Bawa ke kamar tamu, Bram! Istriku, tolong ambilkan handuk kering dan minyak kayu putih!" teriak Mas Gendut memanggil istrinya yang ada di dapur.

Abraham membaringkan Prita di atas kasur dengan sangat hati-hati.

Tangannya masih gemetar saat ia menyibakkan rambut basah yang menempel di wajah Prita.

Rasa bersalah kini menghujam jantungnya lebih dalam daripada dinginnya hujan tadi.

Istri Mas Gendut dengan cekatan membawa tumpukan handuk kering, sebotol minyak kayu putih, dan satu set daster bersih miliknya.

Wajahnya tampak sangat prihatin melihat kondisi Prita yang membeku.

"Ini, Ham. Cepat diganti bajunya biar badannya nggak semakin drop. Aku buatkan teh panas dulu buat kalian berdua," ujar istri Mas Gendut lembut sebelum bergegas kembali ke dapur.

Abraham mengangguk lemah, suaranya seolah hilang ditelan rasa bersalah.

Dengan tangan yang masih gemetar karena dingin dan kalut, ia mulai mengeringkan rambut Prita.

Perlahan dan penuh kehati-hatian, ia mengganti pakaian istrinya yang basah kuyup dengan daster kering.

Setiap kali jemarinya menyentuh kulit Prita yang sedingin es, hati Abraham mencelos.

Setelah memastikan Prita terbalut pakaian kering dan menyelimutinya dengan kain tebal, Abraham baru memikirkan dirinya sendiri.

Tubuhnya mulai menggigil hebat. Ia melepas seragam teknisinya yang berat karena air hujan dan menyampirkannya di kursi kayu.

Mas Gendut datang membawakan selembar sarung kotak-kotak yang masih harum sabun.

"Pakai ini dulu, Bram. Jangan sampai kamu ikutan tumbang. Motor kamu sudah aku amankan di teras," bisik Mas Gendut sambil menepuk bahu sahabatnya itu.

Abraham mengenakan sarung itu, duduk di tepi ranjang sambil terus menggenggam tangan Prita yang pucat.

Ia mengoleskan minyak kayu putih ke kening dan leher istrinya, berharap aroma hangat itu bisa menarik Prita kembali dari pingsannya.

Di dalam kamar yang temaram dan hanya diterangi lampu kuning redup itu, Abraham menatap wajah Prita lekat-lekat.

Rasa marah saat pertengkaran di bawah hujan tadi sudah menguap sepenuhnya, berganti dengan ketakutan luar biasa akan kehilangan wanita di depannya ini.

Tiba-tiba, jemari Prita bergerak sedikit. Kelopak matanya bergetar, mencoba terbuka meski terasa sangat berat.

"Dik, Prita? Kamu dengar Mas?" bisik Abraham lirih, mendekatkan wajahnya ke telinga Prita.

Perlahan, kelopak mata Prita terbuka sempurna. Hal pertama yang ia tangkap adalah temaram lampu kuning dan sosok Abraham yang duduk di sisinya.

Ia sempat tertegun melihat suaminya yang kini hanya mengenakan sarung kotak-kotak milik Mas Gendut, rambutnya masih berantakan dan wajahnya tampak sangat lelah sekaligus cemas.

Sisa-sisa kemarahan di bawah hujan tadi seolah membeku, tergantikan oleh rasa linglung yang hebat.

Tepat saat itu, istri Mas Gendut melangkah masuk dengan nampan berisi dua gelas teh manis hangat yang uapnya masih mengepul tebal.

Aroma melati dari teh itu seketika menenangkan suasana kamar yang sempat tegang.

"Alhamdulillah, sudah bangun, Mbak," sapa istri Mas Gendut dengan senyum keibuan yang tulus. Ia meletakkan gelas itu di meja samping tempat tidur.

"Diminum dulu tehnya, Mbak. Biar badannya hangat lagi. Tadi Mbak dingin sekali sampai bibirnya biru."

Prita menatap wanita asing itu, lalu beralih ke arah Abraham.

Ia tidak menjawab dengan kata-kata, hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanda terima kasih yang lirih.

Tubuhnya masih terasa sangat lemas, seolah seluruh tulangnya telah lolos.

"Sini, Mas bantu," bisik Abraham lembut.

Tanpa menunggu persetujuan, Abraham menyusupkan lengannya di belakang leher Prita, membantunya untuk duduk bersandar pada tumpukan bantal.

Dengan tangan yang sangat hati-hati—seolah takut Prita akan hancur jika ia bergerak terlalu kasar—Abraham meraih gelas teh panas itu.

"Tiup dulu, Mas, masih panas," gumam Prita sangat pelan, suaranya hampir hilang tertelan serak.

Abraham mengangguk, meniup uap teh itu beberapa kali sebelum mendekatkan pinggiran gelas ke bibir istrinya.

Prita menyesapnya sedikit demi sedikit. Rasa manis dan hangat yang menjalar di kerongkongannya perlahan-lahan mulai mengusir rasa beku yang menyiksa di dadanya.

Abraham menatap Prita dengan pandangan yang dalam, penuh dengan permohonan maaf yang tak terucapkan.

Ia tidak ingin memulai perdebatan lagi. Di rumah kayu yang hangat milik Mas Gendut ini, di tengah suara rintik hujan yang mulai mereda di luar sana, ia hanya ingin memastikan Prita tidak pergi lagi darinya.

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!