Menceritakan tentang Davidson Mahendra seorang pria dengan sikap dingin dan perfeksionis yang tak sengaja di hadapkan dengan Nindi, gadis biasa yang pernah menjadi bagian dari masalalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Rencana yang gagal
David berusaha terlihat ramah, pria itu kemudian kembali beralih pada laptopnya.
"Oiya maaf kalo aku terkesan jahat tapi kenapa file yang kamu kirim ini salah semua ya?" Tanyanya heran.
"Oiya? masa sih? coba aku liat" Sarah berjalan mendekat masuk ke dalam meja David, ia berdiri di samping sang direktur hingga posisi mereka sangat dekat.
"Oh my god! pasti aku lagi gak fokus banget sih! maaf ya?" sesalnya.
"It's okay nanti aku minta tolong nindi buat revisi" Balas David.
"No no no ini kerjaan aku, mumpung nindi juga lagi makan siang aku bantuin kamu ya?"
"Gak apa apa biar nindi aja"
"Gak Dave, aku gak enak sama dia" Tolak Sarah.
David tercenung, setelah pertemuannya dengan keluarga Sarah ia merasa canggung jika harus terus berinteraksi dengan wanita ini, tapi mungkin Sarah akan merasa tersinggung jika ia terus terusan menolaknya.
"Yaudah kamu duduk di kursi nindi aja biar aku kirim filenya" Ujar David.
"Oke" Jawab Sarah tanpa basa basi.
Sarah berjalan pelan sesekali menoleh untuk memastikan apakah David sudah meminum kopi pemberiannya.
Ia duduk di kursi yang biasa nindi pakai, menumpu wajahnya dengan kedua tangan dan menatap David lekat, seringaian samar tercipta di bibir manisnya.
"Udah kamu cek aja dulu" Kata David.
"Oke" Jawabnya.
David kembali fokus pada pekerjaan nya, sebelum Sarah kembali membuka suara.
"Jangan lupa minum kopinya, nanti kalo dingin gak enak loh" Peringat sarah.
David mengangguk mengiyakan.
"Ayo minum Dave" Sarah membatin.
Pria berusia 28 tahun itu meraih kopi tanpa memalingkan pandangannya pada layar laptop, meminum hingga beberapa tenggukan kemudian meletakkan nya kembali.
"Gimana? enak?" Tanya Sarah.
"Enak kok enak"
Sarah tersenyum puas, tak lama lagi obatnya pasti bereaksi.
Di sisi lain...
"Kamu lagi mikirin apa nin?" Tanya mira.
Pasalnya sadari tadi nindi hanya diam, wajahnya juga menyendu tak seperti saat mereka pertama kali bertemu hari ini.
"Ada masalah ya?" Tanya jingga.
"E-enggak kok" Jawabnya ragu
"Kalo gak ada masalah kenapa ngelamun terus dari tadi?"
"Emang iya?" Nindi tertawa canggung.
"Tuh! ketawa lo aja kaya orang punya beban" Balas mira.
"Kenapa nin? padahal kamu habis jadian loh sama pak David, harusnya happy dong, iya gak mir?"
"Iya tuh"
"Jadi beneran keliatan ya kalo aku lagi mikirin david?" Tanya nindi.
"Jadi bener mikirin pak David? kenapa?" Tanya jingga.
Nindi menjeda, haruskah ia menceritakan apa yang mengganjal di hatinya?
"Kalo pacar kalian di kasih perhatian sama cewek lain, kalian marah?" Tanyanya.
"Marah sih, kalo gue sih cemburuan orang nya" Jawab mira tanpa ragu.
"Aku juga marah sih, suami juga tau kalo aku cemburuan, emangnya kenapa nin? siapa yang bikin kamu cemburu?"
"Mbak Sarah" Katanya.
Jingga tersinggung, apa yang sebenarnya di lakukan wanita itu hingga membuat nindi berkata seperti ini?
"Kenapa sama Sarah? bukannya mereka udah gak jadi tunangan ya?" Celetuk mira.
"Tadi ketemu ibu Sri, beliau bilang mbak sarah pesen kopi buat David, enggak tau cemburu atau gimana, atau mungkin aku lagi ngerasa tersinggung ya?"
"Tersinggung gimana maksud kamu?" Tanya jingga memastikan.
"Ya tersinggung karena aku gak pernah kasih David perhatian, bahkan aku gak tau David minum kopi apa" raut wajah nindi tampak kecewa.
"Lagian sejak kapan deh mbak sarah beliin kopi buat pak David, setau gue pak David juga jarang banget mau minum kopi, kalo pengen aja baru dia beli sendiri" Ungkap mira.
"Aku juga gak inget David suka kopi, dulu gak pernah liat dia ngopi" Nindi membalas.
Jingga membisu, rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya, gadis sebaik nindi mungkin akan ada dalam masalah karena rencana Sarah.
"Mbak? kenapa diem aja?" Tanya mira saat melihat Keterdiaman jingga.
...****************...
Suhu ruangan sudah di atur sedemikian rupa, tapi David merasa sangat tak nyaman, rasanya gelisah dan panas, ia bahkan berkeinginan untuk melucuti pakaian nya.
Sarah berdiri, ia mendekat pada David, "Kamu kenapa?" Tanyanya.
David mengangkat tangannya yang bergetar, mengisyaratkan Sarah untuk berhenti di tempatnya.
"Aah k-kamu gausah kesini" nadanya bergetar melarang.
Tarikan napasnya semakin tak beraturan, David mengoyak dasi kerja dan membuka beberapa kancing baju bagian atasnya.
Kakinya bergetar, ada sesuatu dari dirinya yang bergejolak, ia menegang.
"Aku bantu ya kamu kenapa?" Tanya Sarah berpura pura, gadis itu mendekat.
Sarah memegang kedua pundak David hingga mereka tak memiliki jarak sedikit pun.
"Aah a-aku gak tau kenapa, k-kamu keluar!" Perintah nya mendorong Sarah dengan sisa tenaga yang ada.
David mendesis, harum wangi tubuh Sarah merangsangnya, menggoda namun sebisa mungkin ia menahannya.
"Aku gak mungkin ninggalin kamu sendirian Dave, aku bantu ya kamu kenapa? kamu mau apa?" Tanya Sarah.
Wanita itu kembali datang mendekat padanya, kali ini bahkan semakin dekat.
"S-sarahh s-saya minta kamu keluar dari ruangan saya" perintah david lagi.
"Aku gak mungkin ninggalin kamu kamu kenapa?" Sarah menangkup kedua pipi David, menghadap padanya
David menutup matanya, ia berusaha menghindari pandangan Sarah dan menahan hasratnya.
"Dave? aku bisa bantu kamu, aku mau kok" Ujarnya.
"Aah-" David menggeleng ribut.
"Aku bantu ya?"
"Nindi? Nindi!" Panggil David kuat.
"Bahkan nindi gak lepas dari ingatan dia!" Saran membatin kesal.
"Nindi gak ada, ini aku Dave, Sarah"
"A-aku mau ke kamar mandi" Dave berusaha bangkit namun sarah menahannya.
"Di sini aja, aku bantu ya"
"Lepa-ssin aku sarah" Pintanya.
"No kamu gak baik baik aja Dave, aku bisa bantu sayang" Rayunya.
Tok tok tok...
"Dave?!" Nindi membuka pintu dengan gerakan kasar.
"Nindi?" Panggil David pelan, tatapan matanya satu, pria itu menyadarkan badannya pada kursi kerja.
"Kamu ngapain mbak?!" Tanya nindi marah.
Sarah reflek menjauh, bagaimana bisa nindi kembali dengan cepat?
"Kamu ngapain saya Tanya!?" Nindi berteriak marah.
"Berani kamu neriakin saya!?" Sulut sarah tak Terima.
Nindi mendekati sarah, menarik tangan wanita itu kasar untuk menjauhi David.
"Keluar!" Usir nindi.
"Kamu ngusir saya?"
"KELUAR!" Teriaknya lagi.
Sarah menatap marah, namun bibirnya kelu tak mampu memberi alasan, bagaimanapun posisinya tak dapat di jelaskan, ia harus berhati hati ketika bicara.
Dengan pelan sarah mundur, ia mendekati pintu dan keluar dari ruangan David setelahnya.
Nindi beralih pada David, pria itu berdiri dari kursinya cepat, menarik pinggangnya merapat.
"N-nindi" Panggilnya merintih.
"Ya aku disini dave?"
"A-aku butuh kamu" Katanya.
Nindi mengangguk tanpa ragu, David menarik tengkuk belakang kepalanya dan memberi nya ciuman yang menuntut, nindi pun membalasnya tanpa ragu.