NovelToon NovelToon
Owned By The Cold CEO

Owned By The Cold CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."

Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.

Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

.. .

Pagi itu, langit Jakarta seolah turut berkabung. Mendung kelabu menggantung rendah, menyaput cakrawala dengan warna abu-abu yang suram. Di dalam kamar mewahnya yang luas, Kalea berdiri mematung di depan cermin. Ia mengenakan gaun hitam panjang berbahan sutra yang kaku, pemberian dari Liam. Wajahnya pucat pasi, namun sepasang matanya yang bengkak tidak lagi memancarkan kerapuhan—melainkan kebencian yang mengeras.

Tahun-tahun bertahan hidup di jalanan dan merawat ibunya sendirian telah menempah Kalea menjadi baja. Kesedihan memang menghantamnya, tapi itu tidak akan membuatnya bertekuk lutut.

Tok, tok.

Dua pengawal berjas hitam berdiri di ambang pintu. "Waktunya berangkat, Nona."

Kalea berbalik, menatap mereka dengan tatapan tajam yang membuat salah satu pengawal itu sedikit salah tingkah. "Aku tahu jalannya. Jangan mengatur langkahku seolah aku narapidana," ucapnya dingin, suaranya parau namun penuh penekanan. Ia berjalan melewati mereka dengan kepala tegak, meskipun hatinya hancur lebur.

Sesampainya di lobi, sebuah sedan mewah hitam sudah menunggu. Di dalamnya, Liam Jionel sudah duduk dengan angkuh. Aroma sandalwood dan aura dominannya langsung memenuhi kabin. Kalea masuk dan duduk sejauh mungkin dari pria itu, menempel pada pintu mobil.

"Kau terlambat lima menit," ucap Liam tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.

Kalea mendongak, menyandarkan kepalanya ke kaca mobil yang dingin. "Lalu apa? Kau mau memotong gajiku? Ah, aku lupa, kau tidak membayarku sebagai karyawan, tapi sebagai tawanan."

Liam berhenti mengetik. Ia menoleh perlahan, menatap Kalea dengan mata elangnya. "Jaga bicaramu, Kalea. Aku bisa saja membatalkan pemakaman ini sekarang juga."

"Lakukan saja," tantang Kalea, memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya beberapa senti. Mata cokelatnya berkilat menantang. "Timbun saja mayat ibuku di halaman rumahmu jika itu membuatmu merasa lebih berkuasa. Tapi ingat satu hal, Liam; kau bisa mengurung tubuhku, kau bisa membeli pemakaman ibuku, tapi kau tidak akan pernah bisa membeli kepatuhanku."

Rahang Liam mengeras, namun ada secercah ketertarikan yang lewat di matanya. Pria itu terbiasa melihat wanita gemetar di hadapannya, bukan menantangnya dengan nyali sebesar ini.

Perjalanan berlanjut dalam keheningan yang mencekam hingga mereka sampai di sebuah pemakaman umum di pinggiran kota. Rintik hujan mulai turun, membasahi nisan-nisan tua yang berjajar bisu. Begitu pintu mobil dibuka, Kalea langsung melangkah keluar, mengabaikan payung yang hendak dipayungkan oleh pengawal Liam. Ia membiarkan helai rambutnya basah, membiarkan dinginnya air hujan menyatu dengan dingin di hatinya.

Di kejauhan, beberapa tetangga lama dari gang sempit tempat tinggalnya dulu sudah berdiri melingkar di depan liang lahat yang masih menganga. Mereka tampak asing dengan iring-iringan mobil mewah yang mengantar Kalea.

"Kalea... ya Tuhan, Nak," Bu Ratna, tetangga paling dekat, menghampiri dengan wajah iba. Pandangannya beralih pada sosok Liam yang turun dari mobil dengan payung hitam besar, tampak seperti bangsawan di tengah tanah becek. "Siapa mereka, Kalea? Kenapa kau bisa bersama orang-orang seperti ini?"

Kalea merasakan tenggorokannya tercekat. Ia ingin berteriak bahwa pria di belakangnya adalah iblis yang membelinya, tapi ia hanya bisa mengepalkan tangan. "Teman, Bu. Hanya... orang yang membantuku."

Tepat saat peti mati ibunya mulai diturunkan dengan tali tambang yang berderit, pertahanan Kalea nyaris runtuh. Ia ingin melompat ke bawah, memeluk peti itu untuk terakhir kalinya. Namun, sebuah tangan kokoh mendarat di bahunya. Bukan untuk menguatkan, tapi untuk mengklaim.

Liam berdiri tepat di belakangnya, payung hitam besarnya kini menaungi mereka berdua, memisahkan Kalea dari tetangga-tetangganya seolah-olah dia adalah milik pribadi yang tidak boleh disentuh.

"Biarkan ibumu pergi dengan tenang," bisik Liam rendah. "Jangan buat keributan di depan orang-orang ini jika kau masih ingin mereka menganggapmu gadis baik-baik."

Kalea menyentak bahunya, melepaskan tangan Liam. Ia berlutut di tanah yang mulai berlumpur, mengabaikan gaun mahalnya yang kini kotor. "Ibu... maafkan aku," isaknya pelan, jarinya mencengkeram tanah di pinggir liang. "Maaf karena aku gagal menjagamu tetap hidup."

Liam melangkah maju, mengulurkan sekuntum bunga lili putih yang sudah kotor karena rintik hujan. "Letakkan ini di atasnya. Berterimakasihlah karena setidaknya dia pergi dengan layak karena uangku."

Kalea menatap bunga itu, lalu menatap Liam dengan senyum paling pahit yang pernah Liam lihat. Ia mengambil bunga itu, namun bukannya meletakkannya di peti, ia justru meremas mahkotanya hingga hancur dan membuangnya ke genangan lumpur di bawah kaki mereka.

"Ibuku benci bunga dari orang asing. Terutama dari pria yang menganggap nyawa manusia bisa ditukar dengan cek," desis Kalea. Ia kemudian mengambil segenggam tanah dengan tangannya sendiri, lalu menjatuhkannya ke atas peti. "Selamat jalan, Bu. Aku akan bertahan hidup... demi membalas setiap tetes air mata yang jatuh hari ini."

"Kau sangat keras kepala," Liam bergumam, matanya berkilat berbahaya di balik payung hitam itu. "Keberanianmu ini akan menyulitkanmu nanti, Gadis Kecil."

Setelah gundukan tanah menutup sempurna, Liam tidak memberikan waktu sedetik pun bagi Kalea untuk berdoa lebih lama. Ia langsung menarik lengan Kalea, menyeretnya menjauh dari makam yang masih basah itu di bawah tatapan bingung para tetangga.

"Lepaskan aku! Aku belum selesai bicara padanya!" Kalea meronta, suaranya parau karena terlalu banyak menangis.

"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan orang mati, Kalea. Hidupmu sekarang ada di rumahku," balas Liam tanpa belas kasihan. Ia mendorong Kalea masuk ke dalam kabin mobil yang dingin.

Di dalam mobil yang melaju membelah hujan, Liam menyandarkan punggungnya, menatap profil samping Kalea yang keras kepala. Kalea terus menatap ke luar jendela, melihat gerbang makam yang semakin menjauh. Ia bersumpah dalam hati, suatu saat nanti, dialah yang akan melihat Liam hancur di bawah kakinya.

"Cukup sandiwaranya," ucap Liam dingin sambil merapikan manset kemejanya yang sedikit basah. "Ada tamu penting yang akan datang ke rumah siang ini. Aku ingin kau mandi, bersihkan dirimu, dan bersikaplah seperti wanita terhormat di depan kolega bisnisku."

Kalea menoleh, menatap Liam dari atas ke bawah dengan hinaan yang nyata.

"Wanita terhormat? Bukankah kau yang paling bersemangat melabeliku sebagai wanita murahan semalam?" Kalea tertawa getir. "Jangan berharap aku akan tersenyum manis pada tamu-tamumu, Liam. Kau membeli seorang tawanan, bukan boneka pajangan. Jika kau ingin aku bersikap baik, maka belajarlah cara memperlakukan manusia, bukan properti."

Liam hanya diam, namun cengkeramannya pada tablet di tangannya mengencang. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Liam Jionel merasa bahwa "investasi" satu miliarnya kali ini mungkin akan jauh lebih merepotkan—dan mungkin, jauh lebih menarik—daripada yang ia bayangkan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

selamat menikmati. semoga kalian terhibur.. jangan lupa tinggal kan jejak

1
lia juliati
semoga hatinya selalu hangat oleh kalea
arilias
thor kpn cerita nya di lanjut?
arilias
masyaalloh cerita nya bagus bgt. awal awal bikin aku gregetan. dan sekarang cerita nya bikin aku penasaran sama bab selanjutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!