Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.
Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.
Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal
Otto terdiam, matanya membelalak lebar di tengah badai yang mulai reda. Rasa takut akan kemarahan Tuannya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain—sebuah rasa haru yang dalam, hampir seperti kebahagiaan yang tidak berani diakui. Senyum tipis, terukir di wajahnya yang pucat dan membeku. "Baik, Master. Dengan senang hati, saya akan menceritakan semuanya. Semua yang saya ingat."
"Terima kasih, Otto." Iago mengangguk singkat. Lalu ia memandang ke sekeliling mereka yang masih diselimuti badai salju yang dahsyat, dinding putih yang berputar-putar. "Tapi untuk sekarang," lanjutnya, "kita harus mencari tempat berteduh dulu."
Saat Iago berbalik dan mulai berjalan lagi, kali ini tanpa tujuan yang jelas, Otto dengan sigap mengikutinya di belakang. Matanya yang tajam tertuju pada tangan Iago yang menggenggam erat sisi pakaian tipisnya, jari-jarinya yang pucat dan bergetar halus oleh dingin yang menusuk tulang.
Iago, yang menyadari kehadiran yang selalu setia di belakangnya itu, merasa bingung. Dia melirik Otto dari atas bahunya sambil terus melangkah, kakinya tenggelam dalam salju yang baru turun setinggi mata kaki. "Otto, kenapa kau selalu berjalan di belakangku? Kau bisa berjalan di samping."
"Ah, itu..." Otto sedikit terkejut. "Itu karena... andalah pemimpinnya, Master. Selalu begitu, sejak dulu."
"Pemimpin?" Iago mengulang kata itu. "Apa kita selalu melakukan ini? Aku di depan, kalian semua mengikuti dari belakang?"
"Ya, Tuan," jawab Otto. "Saat Organisasi IV beroperasi, atau bahkan sekadar berpindah tempat persembunyian, andalah yang selalu melangkah paling depan. Anda adalah ujung tombaknya. Itu... sudah menjadi hukum tak tertulis yang tidak pernah dilanggar."
Iago terdiam, memproses informasi baru itu dalam diam. Dia kembali fokus ke depan, pada tirai putih yang tak berujung dan terus bergerak. Ada sesuatu yang terasa sangat benar dalam kata-kata Otto, sebuah gema dari ingatan yang lebih dalam dari yang bisa ia raih dengan sadar, sebuah kebenaran yang tersimpan di tulang-tulangnya.
Merasa tidak nyaman dengan keheningan yang kembali jatuh—dan sangat khawatir dengan kondisi Tuannya yang kedinginan—Otto memberanikan diri untuk berbicara lagi, suaranya hampir tenggelam dalam desisan angin. "Apa Master punya tujuan tempat berteduh? Tempat yang aman?"
"Ya," jawab Iago. "Ada sebuah kedai. Kuda Hitam, namanya. Di suatu tempat dekat sini, kalau tidak salah. Aku... pernah ke sana."
Alis Otto sedikit terangkat, rasa ingin tahu muncul di balik rasa takutnya. "Oh, saya juga pernah ke sana, Master. Beberapa kali. Tempat yang ramai, tapi cukup aman untuk tidak mencolok."
"Bagus." Iago menghela napas panjang, uapnya membubung putih dan langsung diterbangkan angin. "Aku tidak terlalu ingat arahnya sekarang. Salju ini mengaburkan segalanya."
Mendengar pengakuan itu, wajah Otto justru berbinar oleh kebahagiaan yang sederhana dan murni. Akhirnya, setelah sekian lama hanya menjadi bayangan, dia bisa benar-benar berguna lagi. Bukan sebagai algojo yang menumpahkan darah, bukan sebagai mata-mata, tapi sebagai penunjuk jalan yang sederhana. "Baik, Master! Izinkan saya menuntun jalannya. Saya hafal betul rutenya, bahkan dalam badai sekalipun."
"Silakan. Aku percaya padamu."
Dengan hati yang hampir berbunga-bunga di tengah dingin, Otto berjalan melewati Iago, mengambil posisi di depan. Bagi dia, hal kecil ini adalah sesuatu yang selalu ia idam-idamkan dalam mimpinya. Sebuah kehormatan yang lebih berharga daripada pujian atau hadiah apa pun.
Amukan terakhir angin menghempas dinding sebuah bangunan tua yang ringkih, lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya sebagai desahan yang lelah. Salju yang tadi menyerang horizontal dengan kemarahan buta dan dahsyat, kini mulai jatuh vertikal—kepingan-kepingan besar, lembut, dan putih bersih yang turun dengan lambat dan tenang.
Suara gemuruh putih yang memekakkan telinga selama berjam-jam berangsur memudar, perlahan digantikan oleh bisikan halus—suara salju menimpa salju, kepingan demi kepingan. Kegelapan pekat yang menyelimuti dunia mulai mencair, sedikit demi sedikit mengungkapkan siluet-siluet dunia yang telah berubah bentuk total, semuanya tertutup selimut baru yang masih perawan, putih, dan tak bernoda.
Akhirnya, setelah berjalan melalui labirin jalan yang disamarkan sepenuhnya oleh salju, dengan Otto sesekali berhenti untuk memastikan arah, mereka tiba di depan bangunan yang familiar. Lampu minyak yang redup dan berkedip bersinar dari jendela berkaca buram, memancarkan cahaya kuning yang hangat dan menjanjikan perlindungan dari keganasan malam.
"Kita sampai, Master," ucap Otto dengan napas lega, berhenti dan menunjuk ke arah papan tanda kayu yang sudah memudar dimakan usia dan cuaca, hampir tak terbaca: KUDA HITAM.
"Kerja bagus, Otto." puji Iago. "Aku hampir tidak mengenalinya. Salju telah mengubah segalanya."
"Terima kasih, Master." Kebahagiaan di hati Otto meluap, membuatnya hampir lupa akan rasa dingin dan lelah. Tapi kemudian, seperti bayangan gelap yang selalu mengikuti cahaya, ingatannya kembali dengan paksa pada wajah gadis berambut merah dan anak kecil yang ketakutan di rumah kayu sederhana tadi. Sebuah beban berat yang tiba-tiba menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas.
Ketika Iago melangkah mantap menuju pintu kedai, tangan sudah terulur untuk mendorong, Otto terdiam di tempatnya, termenung di tengah salju yang masih turun lembut membasahi rambut peraknya.
"Ada apa, Otto?" suara Iago yang tenang memecah lamunannya yang gelap. Ia berhenti di tempatnya dan menoleh padanya.
Pertanyaan itu membuatnya tersentak. "Ah, bukan apa-apa, Master. Hanya... kedinginan, saya kira."
"Beritahu aku," ucap Iago. Ekspresi wajahnya tetap datar.
"Yah, itu..." Otto ragu. Tapi dia tahu, di lubuk hatinya yang paling dalam, menyembunyikan sesuatu dari Tuannya adalah bentuk pengkhianatan yang lebih besar daripada apa pun. "Apa... tidak apa-apa kita membiarkan mereka begitu saja, Master?"
"Mereka?"
"Itu... gadis berambut merah. Dan adik laki-lakinya."
Tepat setelah nama-nama itu disebutkan di udara dingin, Iago berbalik dengan gerakan lambat. Dia melangkah mendekati Otto, langkahnya perlahan, meninggalkan jejak dalam di salju. "Maksudmu apa, Otto?"
"Ma-maksud saya..." Otto menelan ludah dengan susah payah, matanya tak sanggup menatap langsung wajah Iago, hanya mampu melihat ke bawah, ke salju di kaki mereka. Tangannya mulai bergetar lagi. "B-bukankah... berbahaya jika membiarkannya hidup? Mereka tahu identitas Anda yang sebenarnya. Mereka tahu wajah saya. Mereka bisa saja... melaporkan kita kapan saja. Ke Penjaga Kerajaan, atau lebih buruk lagi, ke Gereja Cahaya. Mereka bisa menjadi ancaman."
"Jadi," ucap Iago, nadanya datar, "maksudmu kita harus membunuh mereka berdua?"
"I-iya, Master... Itu prosedur standar yang selalu kita terapkan. Menghilangkan semua saksi yang berpotensi mengancam kelangsungan organisasi. Itu yang Anda ajarkan."
Suasana hening sejenak, sunyi yang mencekik di tengah salju yang turun. Tapi bagi Otto, keheningan itu terasa berjam-jam, bahkan berabad-abad. Perasaannya mulai tidak enak, sangat tidak enak. Pikirannya dipenuhi oleh gambaran-gambaran mengerikan—bayangan Iago yang marah besar, kecewa berat, mungkin bahkan memalingkan wajahnya untuk selamanya dan mengusirnya.
"Otto." Suara Iago memecah keheningan.
"I-iya, Master?"
"Apa kau datang ke sini hanya untuk memerintahku?"
Otto terdiam sejenak. Matanya yang biru membelalak lebar, penuh ketidakpercayaan dan rasa bersalah yang menusuk. Mulutnya terbuka beberapa kali, gagap, mencari kata-kata yang tak ada, sebelum akhirnya suara serak dan pecah keluar, "T-tidak. Te-tentu saja tidak, Master! Bukan itu maksudku!"
"Siapa," tanya Iago perlahan, "yang berhak memerintah di sini?"
Otto menelan ludah lagi. Tubuhnya yang sejak tadi bergetar kini bergetar lebih hebat. "T-tentu saja... Anda, Master. Hanya Anda."
"Bagus." Iago mengangguk pelan. Lalu setelah jeda yang membuat Otto nyaris pingsan karena ketakutan, dia melangkah melewati bawahannya yang membeku itu. Tapi dia berhenti tepat di samping Otto, begitu dekat. Suaranya turun menjadi bisikan yang hanya untuk mereka berdua.
"Kalau begitu, dengarkan baik-baik perintahku, Otto. Jangan sentuh mereka."
Otto mematung total. Seluruh tubuhnya membeku menjadi satu, getarannya berhenti tiba-tiba. Rasanya seperti seluruh darah di tubuhnya berubah menjadi es dalam sekejap, membekukan jantungnya.
"Jangan mengecewakanku, Otto," tambah Iago, sebelum akhirnya dia berbalik lagi dan benar-benar berjalan pergi menuju pintu kedai, tangannya masuk ke saku celananya yang basah, meninggalkan Otto sendirian di tengah halaman salju yang sunyi dan putih.
Otto tetap berdiri di sana, tak bergerak, lama setelah Iago masuk ke dalam kedai dan pintu tertutup di belakangnya. Dinginnya salju yang menusuk tulang dan membuat kulit mati rasa seolah-olah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dingin yang merambat dari dalam dirinya sendiri—dingin oleh ketakutan yang mendalam telah melakukan kesalahan yang tak bisa diperbaiki, dan oleh realisasi pahit yang menghantamnya bahwa Tuannya, dalam banyak hal, telah berubah.
Di dalam Kedai Kuda Hitam, dunia berjalan dengan normalitasnya sendiri. Udara dalam ruangan yang pengap dan jenuh oleh kehangatan tubuh para pengunjung terbelah oleh simfoni suara yang keras dan tidak harmonis: denting gelas-gelas bir yang diadu dengan paksa di atas meja kayu, cipratan kuah kental dari mangkuk sup yang dihirup dengan lahap dan berisik, tawa lelaki yang parau dan keras, dan gesekan kasar kain lengan yang kotor di atas permukaan meja yang lengket oleh bir dan anggur yang tumpah.
"Akhirnya," gumam Iago pelan pada dirinya sendiri, matanya yang lelah menyapu ruangan yang dipenuhi oleh pelanggan yang sebagian besar adalah lelaki pekerja kasar, para kuli, dan gelandangan. "Aku kembali ke sini."
Dia melangkah mendekati meja kasir kayu yang usang dan penuh goresan. Di belakangnya, pria tua pemilik kedai yang sama seperti beberapa hari lalu sedang asyik merokok pipa tanah liatnya yang sudah menghitam. Saat Iago mendekat, pria itu mengalihkan pandangannya, alisnya yang lebat dan putih sedikit terangkat lalu berkerut dalam.
"Wah," ucap si tua, suaranya serak dan parau oleh tembakau dan usia yang sudah lanjut. "Bukankah kau yang waktu itu, nak? Yang pesan sari apel? Yang mukanya muram?"
Iago tersenyum tipis. "Anda masih ingat saya? Padahal sudah beberapa hari lalu."
"Tentu saja. Wajahmu itu... susah dilupakan, Nak. Tenang, diam, tapi ada sesuatu yang bergerak di balik matamu."
Mendengar tebakannya yang begitu tepat, Iago mengeluarkan tawa kecil, pendek, dan terdengar agak dipaksakan. "Anda benar. Memori yang bagus, Pak Tua."
"Jadi, sari apel dingin lagi hari ini? Meski cuaca dingin begini?" tanya pemilik kedai, tangannya sudah meraih cangkir dari rak.
"Tidak. Jangan dingin," jawab Iago. "Dan dua gelas."
"Dua?" Pria tua itu mengangkat alisnya, matanya berpindah ke belakang Iago, di mana Otto baru saja masuk dengan langkah gontai, masih terlihat pucat pasi. "Oh! Sepertinya aku juga kenal dengan anak yang satu itu. Yang rambutnya perak, yang pakai topeng kelinci aneh waktu itu."
Mendengar itu, Otto yang tadi menatap lantai kayu dengan pandangan hampa mengangkat kepalanya perlahan. Dia memaksakan senyum ke arah pemilik kedai.
"Hai, Pak. Masih ingat saya?"
"Bagaimana kalian bisa saling kenal?" tanya Iago.
"Yah, anak itu..." Pemilik kedai mendekatkan tubuhnya yang gendut, suaranya turun menjadi bisikan yang berisik namun tetap bisa didengar. "Pernah bertarung dengan Lavernus di kedai sini. Salah satu prajurit elit Gereja Cahaya yang sombong itu. Itu hampir menghancurkan tempatku." Dia terkekeh pelan.
Mendengar cerita itu, alis Iago terangkat tinggi dan matanya sedikit melebar. Dia melirik Otto sejenak sebelum kembali ke pemilik kedai. "Itu... sangat mengesankan. Baiklah, kami akan ke meja kami dulu. Pojok seperti biasa, kalau masih kosong."
"Silakan, nak. Pesanan kalian menyusul sebentar lagi."
Setelah membayar dengan koin-koin yang diberikan Otto, Iago membawa bawahannya itu ke sebuah meja kecil di pojok paling gelap, jauh dari kerumunan dan sorotan lampu.
Tempat itu memberikan privasi semu yang mereka butuhkan, diterangi hanya oleh lilin tunggal yang nyaris padam di tengah meja, sumbunya sudah hampir habis.
Sambil menunggu pesanan datang, Iago duduk bersandar di kursi kayu yang keras, matanya mengamati sekeliling.
Sinar api dari perapian besar di tengah ruangan menerangi wajah-wajah para lelaki yang menghuni kedai itu secara bergantian: rahang yang tegang dan keras oleh kerja berat seharian, mata yang berbinar redup oleh kelelahan hidup dan alkohol yang mulai bekerja.
Kemudian, Iago menoleh ke Otto yang duduk kaku di seberangnya, diam seribu bahasa dan masih terlihat sangat terguncang. "Apa maksud pemilik kedai tadi, Otto? Kau bertarung dengan prajurit Gereja Cahaya?"
"Ah, itu..." Otto menunduk dalam-dalam. "Beberapa hari lalu, saya terlibat insiden dengannya, Master. Si Lavernus itu. Dia sedang menyiksa seorang pria tua di dalam kedai ini, dan saya... ikut campur."
"Hasil pertarungannya? Siapa yang menang?"
"Tidak ada yang menang, Master. Tidak pasti. Tapi karena pertarungan itulah saya akhirnya bertemu dan... mendapat kepercayaan dari Putri Stella Valemira."
Iago sedikit mengangkat alisnya, tertarik. "Putri Stella? Yang dari Kerajaan Valemira itu?"
"Benar, Master. Dia yang datang melerai pertarungan, dan sejak itu... dia menganggap saya sebagai 'Steve', seorang pemuda yang membantunya."
Setelah mendengar kepastian itu, Iago menyenderkan dirinya lebih dalam ke kursi kayu yang keras. Sebuah napas panjang keluar dari mulutnya. "Kerja bagus, Otto. Sungguh kerja yang bagus."
Otto terdiam, merasa bingung dan lega sekaligus.
Pujian? Di saat seperti ini?
"Master...?" Otto mulai dengan hati-hati, suaranya hampir berbisik.
Iago diam sejenak, matanya yang hitam dan dalam tertuju pada nyala lilin yang berkedip-kedip lemah di antara mereka, hampir padam. Lalu, perlahan, bibirnya yang tipis terangkat sedikit.
"Rencana pertamaku sejak pecahan ingatanku mulai kembali," ucap Iago, "adalah memanfaatkan gadis itu."