NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Matahari pukul sepuluh pagi di Desa Asih tidak sedang bersahabat. Teriknya terasa membakar pori-pori, menyatu dengan debu jalanan yang beterbangan setiap kali kendaraan melintas. Mikayla Ashlyn, atau yang akrab disapa Mika, menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan. Rambut kuncir kudanya sudah sedikit berantakan, dan almamater biru kebanggaannya terasa semakin berat serta gerah.

Di usianya yang menginjak 25 tahun, Mika sebenarnya adalah mahasiswi tingkat akhir yang cukup matang. Namun, perjalanan panjang menuju lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini benar-benar menguras sisa-sisa kesabarannya. Bersama lima teman se-jurusannya dari Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Mika melangkah gontai menuju balai desa.

"Bisa pelan-pelan nggak sih, Mik? Balai desanya nggak bakal lari kok," keluh Rendy, salah satu teman jurusannya yang sibuk mengipasi diri dengan map plastik.

"Gue pengen cepet mandi dan selonjoran, Ren. Badan gue udah lengket semua kayak kena air payau," sahut Mika tanpa menoleh. Langkah kakinya yang jenjang dipercepat saat melihat bangunan balai desa yang bercat putih kusam di ujung jalan.

Pikiran Mika hanya satu: melapor ke Kepala Desa, mendapatkan kunci posko, lalu tidur. Ia sama sekali tidak memperhatikan sekelilingnya, bahkan ketika suara deru mesin motor sport yang cukup bising mendekat ke arah balai desa.

Mika baru saja hendak menaiki anak tangga pertama balai desa ketika sebuah motor Ninja hitam mengkilap berhenti mendadak di dekatnya. Suara decitan ban yang bergesekan dengan kerikil membuat debu membumbung tinggi, tepat mengenai wajah Mika.

"Uhuk! Uhuk! Aduh, apa-apaan sih!" Mika terbatuk-batuk, tangannya sibuk mengibas udara di depan wajahnya.

Tanpa menunggu debu mereda, seorang pria turun dari motor tersebut. Ia mengenakan jaket denim pudar yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan hitam yang kokoh. Pria itu melepas helm full-face-nya, menampakkan wajah dengan garis rahang tegas dan tatapan mata yang tajam namun terlihat sangat tidak peduli.

Mika yang masih kesal karena disuguhi debu jalanan, tidak memperhatikan siapa yang ada di depannya. Ia justru merangsek maju, berniat masuk ke balai desa dengan cepat. Namun, pada saat yang bersamaan, pria berjaket denim itu berbalik badan dengan gerakan yang cukup lebar.

BRAAAK!

Tabrakan itu tidak terelakkan. Bahu Mika menghantam dada bidang pria itu dengan keras. Karena kehilangan keseimbangan, Mika hampir saja terjengkang ke belakang jika pria itu tidak secara refleks menarik lengan almamaternya—meski dengan cara yang kasar.

"Aduhh! Bisa nggak sih kalau jalan lihat-lihat!" bentak Mika seketika. Rasa perih di bahunya dan panasnya cuaca membuat emosinya meledak. Ia mendongak, menatap pria yang berdiri tegak di depannya.

Pria itu berumur sekitar 30 tahun. Wajahnya terlihat sangat dewasa, dengan sedikit bayangan janggut tipis yang menambah kesan maskulin namun dingin. Bukannya meminta maaf, pria itu hanya menatap Mika dengan pandangan datar, seolah-olah Mika hanyalah butiran debu yang baru saja ia tabrak.

"Seharusnya saya yang bilang begitu," suara pria itu berat dan dingin. "Ini balai desa, bukan pasar malam. Kalau jalan, mata itu dipakai, bukan cuma buat pajangan."

Mika melongo. "Eh? Lo yang naik motor ugal-ugalan sampai debunya kena muka gue, terus lo yang nabrak gue, sekarang lo yang nyolot? Sopan dikit kek sama tamu!"

Pria itu menaikkan sebelah alisnya. Ia melirik logo universitas di dada Mika. "Mahasiswa KKN?" tanyanya singkat, nadanya merendahkan.

"Iya! Kenapa? Masalah buat lo?" tantang Mika, sambil berkacak pinggang. Teman-teman Mika yang baru sampai di belakang hanya bisa saling lirik, merasa suasana menjadi sangat canggung.

Tanpa membalas ucapan Mika, pria itu hanya mendengus pelan—seperti tawa ejekan yang tertahan—lalu berjalan melewati Mika begitu saja menuju pintu utama balai desa.

"Heh! Gue belum selesai ngomong!" teriak Mika.

"Sudahlah, Mik. Malu dilihatin orang desa," bisik Rendy sambil menarik lengan Mika. "Ayo masuk, kita harus ketemu Kepala Desanya."

Dengan gerutuan yang tak kunjung henti, Mika merapikan pakaiannya dan masuk ke dalam ruangan. Di dalam, sudah ada beberapa perangkat desa yang duduk rapi. Namun, mata Mika membelalak saat melihat pria berjaket denim tadi sedang duduk dengan tenang di kursi utama di balik meja kayu besar bertuliskan: KEPALA DESA ASIH.

Seorang pria paruh baya, sekretaris desa, berdehem. "Selamat datang adik-adik mahasiswa. Silakan duduk. Perkenalkan, ini adalah Pak Alvaro, Kepala Desa kami yang baru menjabat satu tahun ini."

Mika merasa dunianya seolah runtuh dalam sekejap. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, tapi karena rasa malu yang luar biasa bercampur kesal. Pria yang tadi ia maki-maki, yang ia sebut 'ugal-ugalan' dan 'nyolot', ternyata adalah orang nomor satu di desa ini.

Alvaro, pria itu, perlahan membuka jaket denimnya, menyisakan kaos hitam polos yang membungkus tubuh atletisnya. Ia melipat tangannya di atas meja, menatap rombongan mahasiswa itu satu per satu, dan tatapannya berhenti cukup lama pada Mika yang kini menunduk pura-pura sibuk membetulkan tali sepatunya.

"Jadi," suara Alvaro memecah keheningan. "Ini mahasiswi yang katanya mau melakukan pemberdayaan di desa saya? Jalan di teras saja tidak becus, bagaimana mau mengurus perairan desa?"

Sindiran itu tajam, menusuk tepat di ulu hati Mika. Mika memberanikan diri mendongak, matanya berkilat marah meski ia tahu posisinya terjepit. "Mohon maaf sebelumnya, Pak... Alvaro. Saya tidak tahu kalau Bapak adalah Kepala Desa. Tapi tetap saja, prosedur keselamatan berkendara di area publik itu penting."

Alvaro menyeringai tipis, sebuah seringai yang lebih mirip tantangan daripada keramahan. "Di desa ini, prosedur pertama yang harus kamu pelajari adalah: jaga mulutmu. Saya tidak suka orang yang terlalu banyak bicara tapi sedikit bekerja."

Ia kemudian menggeser beberapa berkas di mejanya. "Laporan kalian sudah saya terima. Tapi jangan harap saya akan memberikan kemudahan kalau sikap kalian seperti ini. Kalian di sini untuk mengabdi, bukan untuk wisata kuliner atau sekadar cari nilai."

Suasana di dalam ruangan itu menjadi sangat kaku. Arga, salah satu teman Mika yang memang memiliki sifat kaku dan serius, mencoba menengahi dengan suara formalnya. "Mohon maaf, Pak Alvaro. Saya Arga, koordinator desa. Kami mohon bimbingannya selama di sini. Teman saya, Mikayla, mungkin hanya kelelahan karena perjalanan."

Alvaro melirik Arga datar. "Saya tidak butuh alasan. Besok pagi jam tujuh, saya tunggu kalian di dermaga. Kita lihat apa mahasiswi perairan ini cuma tahu teori atau memang bisa menyentuh air lumpur."

Setelah memberikan instruksi singkat mengenai tempat tinggal (posko), Alvaro langsung berdiri dan berjalan keluar ruangan tanpa basa-basi lagi. Aroma parfum woody yang maskulin tertinggal sejenak saat ia melewati Mika, membuat gadis itu mendengus kesal.

"Gila ya, itu Kades atau bos mafia? Dingin banget!" bisik Rendy setelah Alvaro menghilang dari balik pintu.

Mika hanya bisa mengepalkan tangannya. 25 tahun hidup, baru kali ini ia merasa sangat diremehkan oleh seorang pria. Apalagi pria itu hanya terpaut lima tahun darinya, namun bersikap seolah-olah ia adalah penguasa mutlak.

"Lihat aja nanti," gumam Mika dalam hati. "Alvaro atau siapa pun nama lo... gue bakal buktiin kalau gue bukan cuma mahasiswi manja yang nggak tahu apa-apa!"

Namun, Mika tidak menyadari bahwa tatapan tajam Alvaro tadi bukan sekadar rasa tidak suka, melainkan sebuah awal dari ujian yang akan mengubah masa KKN-nya menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar meneliti kualitas air desa.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!