Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Malam itu sunyi. Lampu-lampu di lantai bawah padam, meninggalkan ruang keluarga dalam bayangan yang panjang.
Laura mengenakan gaun malam sutra hitam, yang sama dengan yang ia kenakan semalam. Ia tidak punya alasan untuk menggantinya, ia tahu nasib pakaian itu. Ia duduk di tepi ranjang, gemetar bukan karena dingin, tetapi karena campuran rasa takut dan antisipasi yang menjijikkan.
Kuncinya. Ia meraba kalung itu, yang kini ia biarkan melingkari lehernya di bawah lapisan gaunnya. Ia tidak lagi menyembunyikannya dari dirinya sendiri. Itu adalah pengakuan. Belenggu itu kini terasa seperti perpanjangan dari dirinya, sebuah aksesoris yang menandai kepemilikannya.
Tepat pukul sepuluh malam, terdengar suara. Bukan derap langkah tergesa-gesa Alex, atau suara koper Mbok Nah. Itu adalah bunyi kunci diputar di pintu utama, pelan dan terukur, diikuti keheningan yang panjang. Lexi ada di rumah.
Laura tidak bergerak. Ia menekan telapak tangannya ke seprai, memaksa dirinya tetap duduk. Ia sudah menunggu. Ia sudah kalah.
Pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Lexi masuk. Dia tidak lagi mengenakan setelan bisnis yang kaku. Dia memakai kaus hitam polos yang memperlihatkan dadanya yang bidang dan celana training yang santai. Dia tampak rileks, namun matanya, seperti biasa, memancarkan api penguasaan yang tak terbantahkan.
“Aku tahu kamu menungguku,” kata Lexi, suaranya rendah dan serak, sebuah pernyataan mutlak, bukan pertanyaan.
Ia mengunci pintu, melemparkan kunci di tangannya ke atas meja rias dengan bunyi dentingan yang keras.
Dia tidak terburu-buru. Dia berjalan perlahan mengitari ruangan, mengamati setiap sudut, menikmati keheningan yang kini menjadi miliknya. Ia berhenti di depan jendela, menikmati pemandangan kota di malam hari, sebelum akhirnya berbalik menatap Laura.
“Aku suka dengan penampilanmu. Terutama aksesoris barumu itu,” Lexi menunjuk ke area leher Laura, tepat di mana kalung kunci itu tersembunyi. “Kamu akhirnya menerima hadiahku.”
Laura menarik napas dalam-dalam. Ia tidak menjawab. Dia hanya menunduk, tidak mampu menatap mata Lexi yang penuh kemenangan.
Lexi mendekat, langkahnya seperti predator yang tenang. Ia berhenti di antara kaki Laura yang menggantung dari tepi ranjang. Ia meletakkan kedua tangannya di sandaran kepala di kedua sisi Laura, menjebaknya dalam sangkar kehangatan dan dominasi.
“Angkat wajahmu, Laura,” perintahnya lembut, namun mutlak. “Lihat aku. Malam ini, jangan berpikir tentang Alex. Jangan berpikir tentang pekerjaan yang kucampakkan. Pikirkan saja kenapa kamu tidak bisa menolakku.”
Laura mengangkat wajahnya, air mata bercampur hasrat menggenang di matanya. Ia melihat kemenangan di mata Lexi, dan ia membenci betapa benarnya pria itu.
Lexi membungkuk. Ia tidak menc1um bibir Laura. Ia mencium kunci di leher Laura, lidahnya menjilat logam dingin itu. Sebuah tindakan yang lebih intim dan menghinakan daripada ciuman apa pun.
“Aku memegang kendalinya, Sayang. Dan aku akan mengajarimu untuk menikmati belenggumu,” bisiknya di telinga Laura, sebelum menarik Laura berdiri, memaksanya untuk menghadapi malam yang penuh dengan dosa dan pengakuan yang menyakitkan.
Malam itu, Laura tidak lagi melawan. Ia hanya seorang tawanan yang mencari kenyamanan dalam rantainya.
Waktu seolah berhenti. Mereka hanyut dalam pusaran gairah yang dibangun Lexi dengan ketelitian dan otoritas. Lexi memimpin, gerakannya menuntut, brutal dalam kelembutan, dan selalu mengingatkan Laura bahwa ini adalah arena, dan ia adalah satu-satunya penguasa.
Jam demi jam berlalu.
Gaun sutra hitam Laura sudah lama tergeletak di lantai, seperti bendera putih penyerahan. Lexi memastikan bahwa setiap sentuhan, setiap desahan, setiap rintihan Laura adalah pengakuan atas kekalahan moralnya.
Di tengah panasnya hasrat, Lexi mencengkeram kalung kunci di leher Laura, menariknya sedikit untuk memaksakan Laura mendongak, menatapnya.
"Siapa yang kamu inginkan?" Lexi berbisik tajam.
Laura yang kelelahan, dengan suara yang pecah karena kepuasan dan rasa bersalah, tidak mampu lagi menyebut nama Alex. "Kamu..." rintihnya, sebuah pengakuan yang membebaskan dan menghancurkan.
Lexi tersenyum, senyum kemenangan murni. "Bagus. Jangan pernah lupa kuncinya ada padaku."
Penyatuan mereka berlanjut, berulang-ulang, menghapus batas antara jam malam dan fajar.
Kelelahan fisik Laura bercampur dengan pemenuhan emosional yang menyimpang, menciptakan sensasi yang adiktif dan mengerikan.
Lexi menghunjam milik Laura dengan sedikit brutal,menambah sensasi yang bergelora.
Membakar gairah yang semakin membuat Laura kehilangan akal.
"Lebih cepat lagi Lexi,,aku,,aku mau keluarrr...!" Erang Laura terbata bata.
"Memohon lah sayang," Lexi menghentikan hunjamannya,membuat Laura kecewa,bahkan memelas.
"Lexi,,lebih cepat lagi,," tanpa malu Laura memohon.
"Baiklah,aku akan mengabulkan permintaan mu," Lexi menghunjam milik Laura dari belakang,membuat Laura mendesah kencang.
Aaahhhhhh...!!!
Menyembur lah cairan hangat dan kental miliknya.
Lexi segera mencabut miliknya lalu menjilati liang lembab milik Laura.
Laura menggelinjang antara nikmat dan geli bercampur jadi satu.
Benar benar permainan yang sangat nikmat.
Ketika jam menunjukkan angka empat pagi, dan cahaya pertama mulai merayap di cakrawala, Lexi akhirnya berhenti. Kedua tubuh mereka terbaring di seprai yang kusut, basah oleh keringat dan gairah.
Lexi memeluk Laura erat-erat, pelukan seorang pemilik, bukan seorang kekasih.
"Hanya aku yang bisa memberimu ini," katanya, suaranya kini kembali tenang, kembali menjadi Lexi yang kejam dan profesional. "Kamu tahu suamimu tidak bisa menandingiku."
Laura tidak punya energi untuk membantah. Dia hanya bisa merasakan kehangatan tubuh Lexi, yang kini terasa seperti satu-satunya tempat aman sekaligus penjara baginya.
Lexi bangkit. Seperti malam sebelumnya, ia membersihkan semua bukti dengan presisi seorang kriminal. Ia mengambil kembali kunci kamar dan mengembalikannya ke tempat kunci pribadinya, memastikan tidak ada yang melihatnya.
Ia menyentuh kalung di leher Laura sekali lagi, seperti seorang penanda.
"Tidur," perintahnya. "Dan jangan pernah tunjukkan wajah lelah ini pada Alex. Tugasmu adalah terlihat seperti istri yang bahagia dan tidak bersalah."
Lexi mengecup kening Laura, sebuah tindakan yang terasa dingin dan transaksional.
Sebelum Lexi benar benar pergi,dia masih sempat mengkenyot pucuk pink Laura yang menantang.
"Pastikan Alex tidak menyentuh mu sampai kamu datang bulan hmm?aku ingin memastikan benihku yang tumbuh didalam sini,jangan sampai tercampur."
Laura tidak menanggapi apapun yang dikatakan Lexi,dia terlalu lelah walau hanya sekedar berucap.
Ia berjalan ke pintu. Sebelum pergi, ia menoleh ke belakang, menatap Laura yang terkapar, kelelahan, tetapi matanya kini lebih gelap, lebih liar.
"Sampai jumpa, Laura. Sampai malam datang lagi," bisik Lexi, lalu ia menghilang, menutup pintu kamar dengan keheningan yang mematikan.
Laura tidak lagi berharap semua itu mimpi. Ia tahu ini adalah realitasnya. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya yang remuk perlahan terlelap dalam tidur yang penuh dosa, sambil menanti pagi yang akan kembali membawa Alex dan sandiwara yang harus ia mainkan.
Matahari pagi adalah musuh Laura. Sinar pertamanya menusuk tirai kamar, terasa seperti pengkhianatan yang kejam terhadap malam penuh dosa yang baru saja berakhir.
terbangun bukan karena alarm, melainkan karena pergeseran kecil di sampingnya. Alex.
Laura membuka mata. Langit-langit putih kamar terasa asing, tidak lagi menawarkan perlindungan. Ia merasakan setiap ototnya memprotes, setiap inci kulitnya panas dan sensitif.
Bau. Ia bisa mencium aroma Lexi—aroma maskulin yang dingin bercampur gairah. Itu masih menempel di kulitnya, di udara, di seprai yang kusut.
Ia panik.
Ia dengan hati-hati memiringkan badannya dan melihat Alex.
Suaminya baru saja bergerak dan mengucek matanya, tampak polos dan damai. Rasa mual karena rasa bersalah langsung menghantam Laura. Lexi telah merenggut bukan hanya kesetiaannya, tetapi juga kemampuan Alex untuk menjadi seorang suami. Lexi telah mengubah Alex menjadi seorang sandera.
Tiba-tiba, ia teringat perintah terakhir Lexi. Pastikan Alex tidak menyentuh mu sampai kamu datang bulan.
Sebuah belenggu baru.
“Sayang? Kenapa sudah bangun?” suara Alex terdengar serak, dan ia mengulurkan tangan.
Laura segera bergeser menjauh, pura-pura meregangkan ototnya. “Oh, selamat pagi, Alex. Kapan kamu datang? Aku... tidurku kurang nyenyak. Mungkin aku harus mandi air hangat dulu.”
Ia bangkit dari ranjang, memastikan ia bergerak cepat. Ia meraih jubah sutra yang tergeletak di kursi dan mengenakannya, menutupi dirinya sepenuhnya, termasuk kalung kuncinya yang tersembunyi.
Alex, yang tidak curiga, tersenyum dan duduk. “Kamu terlihat agak pucat. Sakit?”
“Tidak, hanya sedikit lelah.,” jawab Laura, suaranya terdengar terlalu ringan, terlalu ceria, seperti topeng yang retak.
Ia buru-buru masuk ke kamar mandi, menutup pintu dengan bunyi ‘klik’ yang tegas. Di dalam, ia berdiri di depan cermin, menatap bayangannya. Matanya tampak lelah, tetapi ada kilau liar di dalamnya—seperti seekor binatang yang baru saja dilepaskan dan dikurung kembali dalam sekejap.
Di balik gaun tidurnya, ia menyentuh kalung kunci itu. Logam dingin itu kini terasa seperti cap kepemilikan. Laura membenci kenyataan bahwa Lexi telah menggunakannya untuk menjebak janin yang mungkin mereka ciptakan.
Lexi tidak hanya menginginkan tubuhnya, dia menginginkan masa depannya dan Alex.
Laura segera menyalakan shower, membiarkan air panas mengguyur tubuhnya, berusaha mencuci bersih bukan hanya aroma Lexi, tetapi juga ingatan dan pengakuan yang ia ucapkan di tengah puncaknya.
Namun, ia tahu, air tidak bisa menghapus apa yang telah tertanam di hatinya dan, mungkin, di rahimnya.
Ketika ia keluar, ia sudah mengenakan pakaian rumahan yang santai, rambutnya diikat rapi. Ia telah berhasil menyembunyikan kelelahan fisiknya dengan make-up tipis, memasang kembali topeng "Istri Bahagia dan Tidak Bersalah."
Alex sedang berpakaian, mengenakan kemeja kerja.
“Aku harus berangkat lebih pagi hari ini, meeting dengan klien dari Singapura,” katanya, sambil mengencangkan dasinya. Ia mendekati Laura, dan Laura harus memaksa dirinya untuk tetap berdiri diam.
Alex mencium pipinya. “Semoga harimu menyenangkan, Sayang.”
Ciuman itu terasa hambar, kosong. Alex tidak tahu bahwa kulit yang ia cium baru beberapa jam lalu dibakar oleh sentuhan orang lain, yang kini menyimpan rahasia terbesar dan terburuk mereka.
“Hati-hati di jalan, sayang,” balas Laura, memeluknya sekilas, memastikan kontak fisik minimal.
Setelah Alex pergi, pintu utama tertutup, dan keheningan kembali. Kali ini, keheningan itu terasa berat, penuh dengan kehadiran Lexi yang tak terlihat.
Laura pergi ke ruang makan dan duduk sendirian di meja besar. Mbok Nah sudah menyiapkan sarapan, tetapi ia tidak berselera.
Pandangannya kosong, menatap keluar jendela, di mana mobil Alex sudah menghilang.
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Satu pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal. Laura ragu sejenak sebelum membukanya.
Pengirim: Lexi
Aku suka dramamu tadi pagi. Kamu hampir membuat Alex curiga. Jangan ulangi kesalahan itu.
Dan ingat: Tuanmu masih memegang kuncinya. Jangan sentuh milikku.
Laura tersentak. Ia menoleh ke sekeliling, mencari-cari, seolah Lexi bersembunyi di suatu tempat.
Bagaimana dia tahu? Apakah dia masih ada di sekitar rumah?
bersambung...