"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Ribka memutuskan pergi.
"Kamulah yang telah membuatku berubah. Bodohnya aku selama ini. Yang berharap suatu saat kamu akan menyisakan sepotong hatimu untukku. Tapi kenyataannya aku tidak lebih dari pengasuh ibumu dan anak selingkuhanmu!"
"Ribka, kamu ngomong soal apa?"
"Masih juga kamu bertahan dengan kebohonganmu itu. Seolah aku ini hanya batu, hah! Kamu sangat menjijikkan. Aku tidak menyangka selama duapuluh tahun ini aku hidup bersama manusia munafik macam kamu!" Tuding Ribka kasar.
"Hentikan penghinaanmu Ribka. Kamu bicara sudah kelewat batas. Jangan kira aku akan mentolerir setiap ucapanmu." Raymond mulai terpancing emosi.
"Kamu jahat! Memisahkan aku dengan Jason. Hanya untuk mengasuh anak selingkuhanmu! Tapi Tuhan Maha Adil. Dimata Mirza akulah ibunya. Kamu boleh hancurkan hatiku. Khaty boleh merampasmu dariku."
"Tapi, Mirza! Aku pastikan dia akan membenci kalian selamanya!" sergah Ribka tajam. Tidak ada air mata tercurah. Tidak ada tangisan.
Air matanya telah kering.
Hatinya telah mati!
Oleh penghianatan dari orang yang semestinya melindunginya.
"Ka-mu?"
"Ya! Aku tau rahasia yang kamu sembunyikan selama ini. Walaupun terlambat. Setidaknya aku tau hatimu jahat lebih dari iblis!"
"Ribka, siapa yang bilang kepadamu Mirza adalah anak Khaty? Kamu jangan mudah percaya pada hasutan orang."
"Aku tidak bilang dia anak Khaty. Akhirnya kamu mengaku juga. Jadi semua kau anggap fitnah ya. Baguslah. Itu berarti Ibu Mirza adalah aku. Bukan Khaty." ucap Ribka tandas.
"Mari kita bercerai. Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik tajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
"Baik! Kalau memang itu yang kamu inginkan. Oke, aku setuju. Tapi karena kamu yang meminta cerai. Jangan harap aku akan memberimu harta gono gini."
"Tidak masalah. Selama ini pun kamu tidak pernah membiayai hidupku. Aku pastikan tanpa diriku di rumah ini. Semua akan kacau. Kamu buta! Kamu selalu menganggap aku tak punya andil apa-apa di rumah ini." Ribka menarik nafas dan melepaskannya perlahan.
"Aku harap, kamu mengurus semuanya secepat mungkin."
Ribka melangkah masuk. Saat akan mencapai pintu. Raymond mencekal lengannya.
"Aku tidak akan mempersulit. Aku pastikan juga, kamu akan merangkak meminta maafku untuk kembali. Karena kamu tidak punya siapa-siapa di luar sana." ancam Raymond.
"Aku pergi dan tidak akan pernah kembali. Sekali aku melangkah, pantang bagiku menatap ke belakang. Apapun yang terjadi!" ucap Ribka angkuh penuh percaya diri. Menarik lengannya dari cekalan Raymond.
Tidak ada keraguan!
Raymond menatap Ribka dari belakang. Langkah tegak penuh percaya diri membuat Raymond goyah. Dia yang selama ini menganggap bahwa hanya dirinyalah dunia Ribka. Tentunya akan menangis dan memohon kepadanya.
Tapi semua diluar kendalinya. Istrinya benar-benar berubah nyaris tidak mengenalinya.
"Hem, mau sejauh mana kamu akan pergi? Itu tidak akan lama. Kamu pasti akan kembali suatu hari. Dan menyadari kekeliruanmu." guman Raymond tetap masih meragukan sikap Ribka.
Menurutnya Ribka terbawa emosi sesaat. Besok dia akan berubah pikiran. Seperti yang sudah-sudah. Dia hanya menggertak. Toh, bukan sekali dua kali mereka bertengkar. Ribka pada akhirnya akan luluh.
Raymond melanjutkan duduk di teras samping. Mereka-reka jika seandainya dia dan Ribka bercerai. Sudah jelas hidupnya akan lebih baik. Karena bisa membawa Khaty ke rumah mereka. Dan tinggal bersama layak sebuah keluarga.
Tidak perlu lagi berbohong dengan alasan ke luar kota dan tetek bengek kebohongan lainnya. Yang selama ini dijejalkannya ke telinga istrinya.
Mirza juga tidak akan punya pilihan lagi kalau Ribka sudah pergi. Karena selama ini papanya lah yang membiayai uang kuliahnya. Tentunya dia akan berpikir dua kali mengikuti ibunya.
Perlahan tapi pasti, Mirza akan mengakui Khaty sebagai ibunya. Hanya tinggal menunggu waktu. Ribka akan menyaksikan sendiri dan dia akan hancur melihat kenyataan itu.
Raymond tersenyum sumringah. Saat membayangkan semua rencananya akan terwujud. Yang menurutnya berada dibawah kendalinya. Sungguh naif!
*
*
Pagi harinya Ribka mendapat notifikasi, dari Kenny. Bahwa rumah kontrak yang dicari Ribka sudah ditemukannya.
["Hubungi aku Tante, kapan saja Tante siap pindah."]
"Ribka mengetik pesan. "Hari ini juga Tante siap pergi." Ribka memutuskan pergi secepatnya. Tidak perlu menunggu sampai mereka resmi bercerai.
Pesan terkirim dan centang dua. Tapi belum di baca. Mungkin Kenny masih sibuk. Ribka akan menunggu jawabanya. Seraya menyusun pakaiannya ke dalam koper. Tidak banyak barang yang dimilikinya. Kopernya tidak sampai penuh.
Ribka hanya membawa pakaian yang dibeli Mirza. Dan beberapa pakaian lamanya yang masih layak pakai.
Ting!
Pesan masuk lagi. Kenny membalas akan datang lima belas menit lagi dan menyuruhnya menunggu.
Ribka keluar dari kamar. Semalam, suaminya tidak masuk ke kamar mereka. Pastinya dia menginap di rumah Khaty. Ribka merasa lega. Berarti tidak ada yang akan melihatnya pergi meninggalkan rumah.
Ribka menulis pesan di secarik kertas. Dan meletakkannya di atas meja. Siapapun yang masuk rumah pasti akan menemukan kertas itu.
"Masuk Tante." Kenny membukakan pintu mobilnya. Karena Ribka sudah menunggu di ujung gang.
"Eh, Bu Ribka. Mau kemana pagi-pagi begini Bu?" seseorang menyapa Ribka saat mau masuk ke dalam mobil.
"Eh, Bu Naomi. Saya mau menjenguk Mirza." ucap Ribka sekenanya.
"Oh, trus yang jaga Bu Nora di rumah sakit siapa, Bu?"
"Kan ada Alisya, Bu."
"Oh, iya. Tumben dia peduli ya. Biasanya kan gak mau tau tentang Ibunya. Kasihan juga sebenarnya dengan Bu Nora. Tubuhnya melepuh tersiram kuah sup panas. Padahal Alisya ada di rumah. Tapi gak mau mengurus ibunya."
"Ibu, tersiram kuah sup? Kok, bisa?" beliak Ribka heran.
"Lha, Bu Ribka belum tau ya. Kalau Bu Nora masuk rumah sakit?"
"Sudah tau, tapi saya tidak tau karena tersiram kuah sup. Saya pikir masih soal sakit perut Ibu. Karena saya sibuk mengurus keberangkatan saya, Bu." ucap Ribka berbohong.
"Nanti saya sempatkan mampir sebentar." lanjutnya lagi.
"Iya, Bu. Semoga perjalanannya lancar ya. Titip salam sama Mirza."
"Iya Bu, terima kasih. Akan saya sampaikan." Ribka buru-buru masuk ke dalam mobil.
Jadi ibunya masuk rumah sakit karena tersiram kuah sup panas? Kenapa tidak minta Alisya yang ambilkan kalau memang sia sudah pulang? Nekad sekali ibu mertuanya. Sampai mengabaikan keselamatannya.
Seingat Ribka dia sudah meletakkan semua hidangan di meja. Bahkan sup itu juga ada di atas meja di dalam panci tahan panas. Kenapa ibu mertuanya nekad mengambil dari atas kompor?
"Kenapa Tante? Ada masalah?" tanya Kenny.
"Nenek Mirza masuk rumah sakit karena tersiram kuah sup panas."
"Astaga! Kok bisa begitu Tante?
"Entahlah, Tante juga tidak mengerti."
\*\*\*\*\*