"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Dunia seolah berhenti berputar bagi Daven Teldford tepat di tengah lapangan football sekolah saat jam istirahat. Ia baru saja akan mengirimkan pesan singkat kepada Cheryl, mengingatkan gadis itu bahwa ia meninggalkan kotak pensilnya di kantin—ketika seorang teman sekelas mereka lewat dan menjatuhkan bom yang menghancurkan harinya.
"Daven? Kau belum tahu? Cheryl Alton sudah mengundurkan diri pagi ini. Kudengar keluarganya pindah mendadak ke Brooklyn."
Daven terpaku. Ponsel di tangannya terasa sangat berat. Selama seminggu ini, ia sudah merancang strategi sempurna untuk tiga tahun ke depan di High School yang sama. Ia sudah menghafal rute kelas Cheryl, jadwal praktikumnya, bahkan jam berapa gadis itu biasanya mulai terlihat linglung karena lapar. Namun kini, semua rencana itu menguap begitu saja.
Daven berjalan menuju loker Cheryl. Benar saja, loker nomor 142 itu sudah kosong melompong. Tidak ada lagi stiker kartun lucu yang miring, tidak ada lagi aroma parfum vanila yang biasanya tertinggal di sana, dan yang paling menyakitkan, tidak ada catatan kecil, tidak ada pesan singkat, tidak ada salam perpisahan.
Cheryl pergi begitu saja, membawa serta pipi bakpao yang sangat ingin ia jaga.
Rasa kecewa itu mulai berubah menjadi amarah yang sunyi. Daven merasa dikhianati. Bukan karena kepindahannya, ia tahu urusan keluarga bukan kendali Cheryl, tapi karena Cheryl tidak menganggapnya cukup penting untuk diberi tahu. Selama bertahun-tahun ia menjadi "asisten pribadi" sukarela bagi gadis itu, ternyata ia tetap dianggap orang asing yang tidak perlu tahu kabar kepindahannya.
"Kau benar-benar pelupa, Cheryl," bisik Daven pedih pada loker yang dingin. "Atau kau memang sengaja ingin melupakanku?"
Malam itu, Daven pulang ke penthouse dengan bahu yang merosot. Ia tidak langsung menuju kamarnya, melainkan duduk di meja makan dengan pandangan kosong. Nickholes, yang sedang membaca laporan tim, menyadari perubahan drastis pada putranya. Sang ayah yang biasanya melihat Daven penuh energi, kini melihat bayangan dirinya sendiri saat kehilangan Nadine dulu.
"Daven? Ada masalah dengan pelatih?" tanya Nick hati-hati.
Daven menggeleng. "Cheryl pindah ke Brooklyn, Yah. Dia pergi pagi ini."
Nadine yang baru saja keluar dari dapur membeku. "Pindah? Bukankah kalian baru seminggu mulai bersekolah?"
"Dia tidak mengatakannya padaku, Bu," suara Daven bergetar, ada luka yang dalam di sana. "Seminggu ini kami makan siang bersama, aku membantunya mencari jadwal kelasnya yang hilang setiap hari, aku mencubit pipinya sampai dia marah... tapi dia tidak mengatakan sepatah kata pun soal Brooklyn. Apa aku sama sekali tidak berarti baginya?"
Nadine menghampiri putranya, mengelus punggung Daven dengan lembut. "Mungkin dia takut, Daven. Mungkin dia terlalu sedih untuk mengucap selamat tinggal karena dia tahu dia tidak akan sanggup melihat wajahmu."
"Atau mungkin dia memang ingin bebas dariku," sahut Daven pahit. Ia berdiri dan masuk ke kamarnya, mengunci pintu.
Di dalam kamar, Daven melemparkan tasnya ke sudut ruangan. Ia mengambil ponselnya, jarinya ragu-ragu di atas nama "Bakpao". Ia ingin memaki, ingin bertanya mengapa, ingin berteriak bahwa Brooklyn itu jauh dan ia tidak bisa lagi memijat pipi itu setiap pagi.
Namun, egonya yang setinggi langit, warisan dari keluarga Teldford, menahannya.
Daven merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang mewah namun terasa sesak. Ia teringat betapa ia menantikan usia 16-18 tahun untuk melihat perubahan Cheryl. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi pria pertama yang melindungi Cheryl dari kerasnya dunia High School. Dan sekarang, Cheryl akan menghadapi Brooklyn sendirian.
Siapa yang akan mengingatkannya membawa kunci? Siapa yang akan menjaga pulpennya agar tidak hilang?
Rasa kecewa itu perlahan berubah menjadi rasa rindu yang menyiksa. Brooklyn memang masih di New York, tapi bagi Daven, tanpa sekolah yang sama, Brooklyn terasa seperti planet lain.
Daven tidak bisa diam. Sifat riwehnya tidak hilang, justru bermutasi menjadi sesuatu yang lebih serius. Ia mengambil laptopnya, mulai mencari tahu sekolah-sekolah di Brooklyn yang mungkin menjadi tempat Cheryl mendaftar.
"Kalau kau pikir kau bisa lari dariku hanya dengan menyeberangi jembatan, kau salah besar, Cheryl Alton," gumam Daven dengan mata yang berkilat tajam.
Ia teringat kata-kata ayahnya dulu: "Jika kau mencintai sesuatu, jangan biarkan ia pergi tanpa perlawanan. Tapi jangan juga mengejarnya sampai kau kehilangan harga dirimu."
Daven menarik napas panjang. Ia memutuskan tidak akan menelepon Cheryl malam ini. Ia akan membiarkan Cheryl merasakan bagaimana rasanya hidup sehari tanpa pengawal pribadinya. Ia ingin Cheryl menyadari bahwa di Brooklyn, tidak ada Daven Teldford yang akan selalu ada saat dia jatuh atau lupa.
Tepat pukul 12 malam, ponsel Daven bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal.
''Daven... maaf. Aku baru saja sampai di rumah baru. Aku tidak sanggup memberitahumu langsung di sekolah karena aku tahu aku akan menangis dan kau pasti akan mengejek pipiku yang merah. Aku lupa membawa kotak pensilku yang kau temukan tadi... bisakah kau menyimpannya untukku sampai kita bertemu lagi?''
Daven menatap layar itu lama sekali. Rasa kecewanya mendadak mencair, berganti dengan rasa sesak yang manis. Gadis itu tidak melupakannya. Dia hanya terlalu penakut untuk menghadapi perpisahan.
Daven mengetik balasan dengan jemari yang gemetar, namun tetap dengan gaya konyolnya.
'Kau memang ceroboh, Bakpao. Kau meninggalkan hatimu juga di sini, bukan hanya kotak pensil. Simpan alamatmu baik-baik. Minggu depan aku akan ke Brooklyn untuk mengembalikan kotak pensilmu—dan mencubit pipimu dua kali lipat sebagai denda karena sudah pindah tanpa izin.'
Daven meletakkan ponselnya di dada, menatap jendela yang menampilkan lampu-lampu kota. Brooklyn mungkin memisahkan mereka secara jarak, tapi Daven sudah berjanji dalam hati, ia akan menjadi pria paling riweh yang pernah ada di Brooklyn setiap akhir pekan. Karena bagi seorang Teldford, menyerah bukanlah pilihan, terutama jika taruhannya adalah pipi bakpao yang paling ia cintai di dunia.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰