Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Kenyataan
Rombongan tim relawan bersiap untuk berangkat. Bukan hanya membawa perlengkapan medis saja, tetapi juga bantuan logistik berupa sembako, pakaian dan yang lainnya. Sebelum berangkat Direktur Rumah Sakit menyampaikan kata-kata penyemangat untuk mereka.
"Kalian adalah pahlawan kemanusiaan. Kami semua bangga dengan pengabdian kalian. Jaga diri baik-baik, dan berikan yang terbaik untuk saudara-saudara kita di sana."
Setelah berpamitan dengan rekan-rekan, mereka memasuki kendaraan dan mulai bergerak meninggalkan halaman rumah sakit menuju lokasi bencana.
Renata berada di sana, tetapi Davin sama sekali tak meliriknya apalagi berpamitan dengannya. Seolah dirinya hanya makhluk tak kasat mata yang kehadirannya tidak diharapkan.
"Dia benar-benar berubah, seolah tak mengenalku." Renata menghela napas -- kecewa? Pastinya, tetapi dirinya tak bisa berbuat apa-apa.
"Dok, kenapa Anda nggak ikut berpartisipasi? Bukankah Dokter Davin juga bergabung di sana?" tanya Dokter Ana, rekan Renata yang mengetahui keakraban antara Renata dan Davin.
Renata menggeleng sambil tersenyum. "Nggak, Dok. Dokter Davin nggak mengijinkan saya untuk ikut. Mungkin dia berpikir medannya berbahaya," jawab Renata.
"Waaah...! Sampai segitunya ya, Dokter Davin perhatian sama Anda," ucap Dokter Ana penuh kekaguman.
Renata hanya tersenyum malu-malu. "Kalau begitu saya pamit ke ruangan saya ya, Dok," pamitnya.
"Oh, silakan," Dokter Ana tersenyum mempersilakan.
Akhirnya dengan langkah cepat, Renata segera meninggalkan tempat itu untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut dari rekannya tersebut.
Sampai di depan ruangannya, ia seolah teringat sesuatu. Matanya tanpa sengaja menangkap kamera CCTV yang terpasang di ujung koridor.
"Kenapa aku bisa lupa kalau ada CCTV di sana?" gumamnya pelan. "Sebaiknya nanti aku ke ruang keamanan untuk melihatnya."
Baru saja akan masuk ke ruangannya, tiba-tiba Renata dikejutkan oleh suara sirine yang memekakkan telinga, pertanda ada sesuatu yang darurat. Ia segera menuju ke sana dengan sedikit berlari kecil.
"Dokter Renata, Anda tolong bantu saya untuk menyiapkan operasi sekarang juga," ujar Dokter Rangga, seorang dokter yang senior di rumah sakit itu.
Ia pun dengan gerakan profesional mengikuti dokter tersebut menuju ruang operasi.
Satu jam kemudian operasi selesai dan berjalan lancar, tetapi Dokter Rangga tampak tidak puas dengan kinerja Renata.
"Dokter Renata, saya tidak tahu apa masalah yang Anda hadapi, tapi saat berada di ruang operasi Anda harus fokus karena yang kita hadapi adalah nyawa manusia," ujar Dokter Rangga dingin, lalu pergi meninggalkan Renata yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Maafkan saya," lirihnya seraya membungkukkan badannya.
Ia lalu berjalan gontai menuju ruangannya.
"Aaahh... Davin si*lan. Kenapa pikiranku penuh dengan dia, sih!" geramnya ketika telah berada di dalam ruangannya.
Ia akui selama mendampingi Dokter Rangga di ruang operasi, memang pikirannya tak bisa fokus. Ia masih terus kepikiran oleh perubahan sikap Davin padanya.
"Kalau begini terus karirku di sini bisa stagnan di tempat," gumamnya, kekhawatiran mulai melanda jiwanya.
"Aku harus melakukan sesuatu agar aku tetap aman bekerja di sini."
"Ah, ya, apa sebaiknya aku datangi ruang keamanan untuk melihat rekaman CCTV?"
.
.
.
Sementara itu, setelah beberapa jam perjalanan yang melelahkan, Davin beserta tim rombongan akhirnya tiba di lokasi bencana. Mereka turun dari kendaraan dan tanpa lelah langsung mendirikan tenda untuk tempat tinggal mereka sementara.
Keesokan harinya, setelah beristirahat beberapa jam, tim relawan memulai aktivitas mereka. Ketua tim membagi tugas di mana mereka akan di tempatkan. Kebetulan Davin ditempatkan di puskesmas pembantu yang ada di desa itu, tepatnya Desa Sukun.
"Oke, teman-teman semua, selamat bekerja. Semoga niat baik kita mendapatkan ridho dan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa."
Davin segera berangkat menuju puskesmas pembantu. Sesampainya di sana dia langsung berbaur dengan yang relawan lainnya memeriksa kondisi para korban. Rata-rata mereka mengalami luka memar, patah tulang hingga luka dalam akibat tertimbun material tanah longsor atau terbawa arus banjir.
Dengan cekatan dan terampil, Davin memberikan pelayanan yang terbaik untuk mereka. Tak ada raut kelelahan di wajahnya, karena dirinya melayani dengan sepenuh hati dan dedikasi tinggi.
Namun, ketika dia mengedarkan pandangannya, ada yang menarik perhatiannya. Seorang anak laki-laki kira-kira berusia tujuh tahunan. Sendirian berbaring di ranjang pasien yang berada di pojok ruangan, bermain mobil-mobilan plastik. Tak ada yang menemaninya. Davin menghampiri bocah itu dan menyapanya,
"Halo, kamu sendirian?" Dia tersenyum lembut. "Kenalkan namanya saya Davin. Boleh tahu siapa namanya?" tanyanya sembari mengulurkan tangan.
Bocah itu menatap Davin sesaat, lalu beralih pada tangan Davin. "Alvian," jawabnya dengan serak.
"Oke, Alvian. Kakak periksa, ya."
Alvian mengangguk, Davin menjalankan tugasnya. Namun dia tampak mengernyit saat tangannya memegang kaki Alvian. Ada sesuatu yang tak biasa.
"Adik saya lumpuh..." Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan Davin.
Dia lantas menoleh ke belakang dan mendapati sesosok gadis manis berhijab dan wajahnya tampak sendu.
"Dia jatuh dari sepeda dan nahasnya saat itu ada motor melintas sehingga dia tertabrak," jawabnya.
"Sempat dirawat sebulan di rumah sakit, tapi tidak semua biaya ditanggung oleh jaminan kesehatan," lanjutnya menambahkan.
"Apa kata dokter?" tanya Davin cepat.
"Dia harus menjalani fisioterapi."
"Sudah mengikuti fisioterapi berapa kali?"
"Baru empat kali, karena keterbatasan kami. Lagipula harus ke rumah sakit daerah dan itu jauh sekali."
Davin menghela napas dalam. Apa yang dikatakan gadis itu benar. Letak Desa Sukun memang jauh dari jalan raya.
.
.
.
Di tempat lain, Renata akhirnya mendatangi ruang keamanan tepatnya tempat kontrol CCTV. Dengan hati-hati ia mengetuk pintu ruangan tersebut, tak lama kemudian seseorang membukanya dari dalam.
"Permisi," ucapnya gugup.
"Ya, ada yang bisa saya bantu, Dok?" tanya Roni.
"Boleh saya masuk, Mas?" Tatapan mata Renata tampak memohon.
Roni menarik napas berat. Dia membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan Renata masuk.
"Ada keperluan apa sebenarnya Anda datang kemari?" tanya Roni, meskipun sebenarnya dia sudah bisa menebak.
"Em...begini, Mas. Saya ingin tahu rekaman CCTV di koridor ruangan saya tiga hari yang lalu tepatnya sore hari jam pulang kerja," jawab Renata tanpa basa basi.
"Sebenarnya ini sangat dilarang..."
"Tolong lah, Mas. Ini mengenai keamanan dan kenyamanan saya," potong Renata cepat.
"Baiklah..." Roni segera memutar rekaman yang diminta Renata.
Dengan perasaan tak karuan Renata memperhatikan dengan seksama hingga dia menutup mulutnya dengan mata membelalak.
"Nggak mungkin...!" gumamnya seakan menyangkal apa yang dilihatnya.
Renata menggelengkan kepalanya cepat. Tanpa kata ia pergi begitu saja dari ruangan itu. Pikirannya kacau, dirinya sangat syok dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya.
"Bodoh...bodoh kamu, Renata," sesalnya, seraya mencengkeram rambutnya dengan frustasi.