Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Lampu neon di lorong unit bank darah berkedip ritmis dengan irama yang tidak teratur, seolah jantung yang sedang mengalami fibrilasi. Suasana rumah sakit pada pukul tiga pagi memang seharusnya tenang. Namun bagi Axel, keheningan ini justru terasa lebih bising daripada ruang gawat darurat yang penuh sesak pada hari Minggu pagi.
Setiap kontraksi jantungnya berdentum keras di tenggorokannya, iramanya seirama dengan langkah kakinya yang diusahakan tetap stabil. Sepatu kulitnya mengeluarkan suara desisan kecil setiap kali menyentuh permukaan lantai, suara itu terdengar sangat jelas di lorong yang sunyi hingga membuatnya merasa ingin berhenti dan bersembunyi. Ia menyelinap melewati area resepsionis yang kosong, matanya dengan hati-hati memantau setiap kamera CCTV yang ia hafal posisinya sejak menjadi dokter residen di rumah sakit ini tiga tahun lalu.
Stok darah di laboratorium bawah tanah sudah mencapai titik kritis yang tidak bisa ditunda lagi. Lusy mulai menunjukkan tanda-tanda penolakan yang semakin parah terhadap darah hewan yang mereka berikan sebagai alternatif sementara; metabolisme mutannya yang semakin agresif menuntut asupan manusia yang lebih murni dan segar, darah yang masih membawa getaran kehidupan dari tubuh sumbernya.
Jika ia pulang dengan tangan hampa malam ini, monster yang sudah lama terkungkung di dalam diri Lusy akan terbangun dengan kekuatan yang luar biasa dan mencabik-cabik sisa kemanusiaan yang masih bertahan dengan sengit di dalam dirinya. Axel tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, tidak setelah semua yang telah ia lakukan dan semua yang telah ia korbanikan.
Axel berhenti di depan pintu ruang inventaris unit bank darah, tangan kanannya meraih kartu akses yang tergantung di lehernya dengan rantai logam tipis. Kartu itu memiliki hak akses penuh karena posisinya sebagai dokter residen senior yang sering menangani kasus darurat yang membutuhkan pasokan darah segera. Ia menyentuhkan kartu pada pemindai dengan gerakan yang cepat namun hati-hati, mendengar suara klik kecil yang menunjukkan bahwa pintu telah terbuka. Setelah memasuki ruangan, ia segera menutup pintunya dengan lembut agar tidak mengeluarkan suara yang terlalu keras, lalu mengunci pintu dari dalam menggunakan sakelar yang terletak di dekat pegangan.
Aroma khas pendingin medis dan besi yang tajam segera menyapa indra penciumannya begitu pintu terbuka, disertai dengan sedikit aroma alkohol yang digunakan untuk membersihkan permukaan meja dan peralatan. Ruangan itu tidak terlalu besar namun terasa sangat dingin, suhunya diatur sekitar empat derajat Celsius untuk menjaga kualitas darah yang disimpan. Ia berdiri di depan komputer pusat yang terletak di tengah ruangan, layarnya menyala dengan cahaya biru yang redup dan menampilkan antarmuka sistem inventaris yang sudah ia kenal seperti telapak tangannya sendiri.
Jemarinya bergerak cepat dan gesit di atas papan tik, mengetikkan serangkaian kode akses yang hanya diketahui oleh beberapa orang di rumah sakit ini. Sebagai salah satu dokter yang paling sering berinteraksi dengan unit bank darah, ia tahu dengan tepat di mana celah sistem logistik ini berada. Ia mencari data stok darah golongan O-negatif, jenis darah universal yang bisa diberikan pada hampir semua pasien dan juga satu-satunya jenis yang bisa diterima tubuh Lusy saat ini.
Dengan tangan yang stabil, ia memasukkan kode penghapusan untuk empat kantong darah dengan nomor seri tertentu, mengisi kolom alasan dengan frasa standar yang sudah ia siapkan sebelumnya: 'kerusakan kemasan saat pemindahan ke ruang bedah darurat'. Sistem meminta konfirmasi dua kali, dan setiap kali ia mengklik tombol 'ya' dengan hati yang berdebar kencang.
𝘒𝘭𝘪𝘬.
Data terhapus dari sistem secara total, tidak meninggalkan jejak yang bisa dilacak kecuali dengan akses ke server utama yang berada di lantai bawah tanah rumah sakit. Jejak digitalnya tertutup, setidaknya untuk sementara waktu—sampai pihak manajemen melakukan audit bulanan yang masih ada dua minggu lagi. Waktu yang mungkin bisa ia manfaatkan untuk menemukan solusi yang sebenarnya, bukan terus melakukan tindakan yang semakin membuatnya merasa seperti seorang penjahat.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Axel membuka pintu lemari pendingin besar yang terletak di dinding belakang ruangan. Uap dingin putih keluar deras seperti kabut pagi yang tebal, menyentuh wajahnya yang sudah terasa pucat dan dingin. Ia meraih empat kantong darah yang masih terasa hangat oleh suhu penyimpanan optimal, kantong plastik transparan itu terisi penuh dengan cairan merah pekat yang tampak begitu indah dan mengerikan pada saat yang bersamaan. Ia memasukkannya satu per satu ke dalam tas medis kulit besar yang selalu ia bawa saat bertugas, kantong-kantong darah itu terasa seolah membawa beban dosa yang nyata dan berat di pundaknya setiap kali ia menambahkan satu lagi.
"Dokter Bahng? Sedang apa di sini?"
Suara itu menghantam Axel seperti petir yang menyambar di tengah siang bolong, membuat seluruh tubuhnya terasa kaku dan beku sejenak. Ia tersentak dengan keras, hampir menjatuhkan tas medisnya yang sudah terisi penuh ke lantai jika tidak segera mencengkeram pegangan tasnya dengan kekuatan ekstra.
Di ambang pintu yang baru saja ia kunci dari dalam, berdiri Kepala Perawat Choi. Ia dikenal memiliki intuisi yang sangat tajam dan sulit dikelabui oleh kebohongan, salah satu alasan mengapa ia bisa menjabat sebagai kepala perawat di unit ini selama lebih dari sepuluh tahun. Ia memegang papan jalan yang berisi jadwal pemeriksaan pasien malam hari, matanya menatap Axel dengan kening yang berkerut menunjukkan kecurigaan yang jelas.
"Ah... Perawat Choi." Axel memaksakan sebuah senyum yang rasanya seperti wajahnya sedang diregangkan oleh paku-paku kecil. Ia segera menutup pintu lemari pendingin dengan tumit kakinya agar tidak terlalu mencolok, meskipun ia tahu bahwa gerakan itu sudah terlambat untuk tidak menarik perhatian lebih jauh.
"Aku sedang memeriksa stok darah untuk persiapan operasi darurat di lantai lima. Ada beberapa kasus kecelakaan beruntun yang datang sekitar satu jam yang lalu, pasiennya membutuhkan transfusi darah dalam jumlah besar."
Perawat Choi melangkah masuk ke dalam ruangan tanpa meminta izin, matanya cepat bergerak mengamati setiap sudut ruangan sebelum beralih ke tas medis Axel yang tampak menggembung tidak wajar di bawah lengan kirinya.
"Operasi darurat di lantai lima? Bukankah tim bedah telah mengambil jatah darah mereka sepuluh menit yang lalu? Aku sendiri yang membantu mereka menyiapkan alat dan mencatat jumlah yang diambil. Dan kenapa Dokter sendiri yang turun ke sini untuk mengambilnya? Biasanya tugas perawat jaga yang mengurus inventaris dan pengambilan darah seperti ini."
Keringat dingin mulai merembes perlahan di balik jas putih Axel. Ia bisa merasakan bagaimana sirkulasi udara di ruangan itu mendadak menjadi sangat tipis, seolah ia sedang terjebak dalam ruang kecil yang terus menyempit. "Aku... aku hanya ingin memastikan semuanya siap dan tidak ada kesalahan dalam pencatatan. Kamu tahu sendiri bagaimana kondisi ruang bedah bisa menjadi sangat kacau pada malam hari dengan kasus darurat yang banyak. Aku tidak ingin ada keterlambatan yang bisa membahayakan nyawa pasien hanya karena kesalahan kecil dalam inventaris."
Perawat Choi menyipitkan mata, langkahnya semakin mendekat ke arah Axel. "Tas Dokter terlihat sangat berat untuk hanya membawa catatan atau alat kecil. Apa Dokter membawa peralatan tambahan yang tidak terdaftar? Sesuai dengan prosedur rumah sakit yang telah kita sepakati bersama, tas pribadi tidak boleh diletakkan di dekat area penyimpanan darah steril untuk menghindari kontaminasi dan penyalahgunaan barang."
Tangannya terjulur perlahan, ujung jarinya sudah hampir menyentuh permukaan tas medis yang Axel pegang erat di bawah lengannya. Pada detik itu, dunia seolah berhenti berputar sama sekali. Axel bisa membayangkan dengan jelas bagaimana kariernya yang selama ini ia bangun dengan susah payah akan hancur berkeping-keping dalam sekejap, namanya akan terpampang di berita utama sebagai pencuri darah dari rumah sakit yang dipercaya masyarakat, dan yang paling mengerikan dari semua itu—Lusy akan ditinggalkan sendirian di bawah tanah tanpa perlindungan dan pasokan darah yang ia butuhkan untuk bertahan hidup, hingga akhirnya monster di dalam dirinya menguasai seluruh tubuhnya dan menghancurkan sisa-sisa kemanusiaan yang masih ada.
"Perawat Choi!" Axel meninggikan suaranya secara tiba-tiba, membuat wanita itu terkejut dan berhenti sejenak.
Ia berdiri tegak dengan sikap yang menunjukkan bahwa ia sedang menangani situasi darurat yang sungguh-sungguh, matanya menatap langsung ke dalam mata Perawat Choi dengan ekspresi penuh dengan keprihatinan.
"Pasien di kamar 402—wanita hamil dengan komplikasi preeklamsia—mengalami takikardia hebat saat aku lewat melewati lorong tadi. Denyut jantungnya mencapai lebih dari 160 denyut per menit dan ia mulai mengalami kejang pada anggota badan atas. Aku butuh bantuanmu di sana sekarang, atau kita akan kehilangan dia dan bayinya sebelum dokter jaga yang sedang menangani kasus lain di lantai tiga bisa sampai!"
Wajah Perawat Choi berubah secara drastis dalam sekejap. Ia tidak punya waktu untuk berpikir panjang lagi tentang keanehan yang ia lihat pada Axel. "Kamar 402? Baiklah Dokter, saya akan segera ke sana dengan alat bantu pernapasan dan obat penenang jantung. Tapi Dokter, jangan lupa untuk melaporkan inventaris darah yang telah diperiksa secara tertulis ke bagian administrasi besok pagi ya. Kita tidak bisa membiarkan ada ketidaksesuaian data di sistem kita."
Wanita itu berbalik dengan cepat dan berlari keluar dari ruangan menuju arah lift. Axel menyandarkan seluruh berat tubuhnya ke dinding lemari pendingin setelah pintu tertutup, napasnya keluar dalam satu embusan panjang yang gemetar dan tidak terkontrol. Kakinya hampir tidak bisa menopang berat tubuhnya, ia nyaris terjatuh jika tidak segera mencengkeram tepi meja yang terletak di sebelahnya. Jantungnya masih berdegup dengan sangat cepat, menghantam bagian dalam rusuknya dengan rasa takut dan lega yang luar biasa karena berhasil lolos dari bahaya yang hampir menghancurkannya.
Ia segera menyambar tas medisnya yang sudah terisi penuh dengan darah yang dicuri, keluar dari ruangan itu dengan langkah yang cepat dan hati-hati. Ia menghindari setiap kamera CCTV yang ia kenal dengan posisi yang tepat, menggunakan sudut-sudut lorong dan furnitur yang ada untuk menyembunyikan diri dari pandangan kamera yang tidak memiliki sensor gerak aktif pada malam hari. Saat ia mencapai pintu keluar rumah sakit yang tidak terawat dan jarang digunakan oleh staf, ia merasa seperti telah berlari jarak jauh meskipun hanya berjalan beberapa ratus meter saja.
Mobilnya berdiri sendirian di sudut paling dalam parkiran yang gelap dan sepi, jauh dari area pencahayaan utama yang mungkin bisa menarik perhatian orang lain. Axel membuka pintu mobil dengan tangan yang masih bersimbah keringat dingin, tubuhnya terasa sangat lelah namun pikirannya tetap terjaga dengan waspada. Ia menggenggam kemudi dengan kedua tangan yang gemetar, menekan kontak dengan hati-hati agar mesin tidak mengeluarkan suara yang terlalu keras.
Ia telah berhasil mencuri waktu satu malam lagi untuk Lusy, memberikan pasokan darah yang bisa membuatnya bertahan hidup selama beberapa hari ke depan. Namun ia tahu dengan sangat jelas bahwa setiap risiko yang ia ambil adalah langkah menuju lubang jarum yang semakin sempit dan tidak mungkin bisa dilewati selamanya.
𝘚𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘓𝘶𝘴𝘺. 𝘉𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪.
Ia memacu mobilnya perlahan keluar dari area parkiran dan menembus kegelapan fajar yang mulai menghampiri langit. Lampu jalan menyala dengan cahaya kuning yang redup di sepanjang jalan yang sepi, menerangi jalanan yang masih basah oleh embun pagi.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ