Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Back Story
Jefferson Estate—Gazebo halaman belakang.
Rafael berumur lima tahun—masih anak kecil yang tidak mengerti banyak tentang dunia.
Dia tidur di kamar kecil yang dibagi dengan neneknya—kasur tipis di lantai, selimut yang sudah usang tapi hangat, boneka beruang yang Bundanya jahit sendiri.
Malam itu, Bunda batuk-batuk sangat keras. Rafael terbangun—mendengar suara batuk yang menyakitkan dari kamar sebelah. Dia bangun, berjalan dengan kaki kecil ke kamar Bunda.
"Bunda?" panggilnya dengan suara anak kecil.
"Bunda sakit?"
Bunda tersenyum—meskipun wajahnya pucat, meskipun nafasnya tersengal.
"Bunda ganggu tidur kamu ya. Tidur lagi gih, Bunda nggak papa kok."
Tapi Rafael tidak mau tidur. Dia naik ke kasur Bunda, memeluk Bunda dari samping.
"Aku mau Bunda cepat sembuh," bisiknya.
Bunda mengelus rambut Rafael yang masih halus. "Bunda akan sembuh. Bunda janji."
Tapi itu janji yang tidak bisa Bunda tepati.
Suatu pagi—pagi yang cerah dengan matahari bersinar terang, Rafael bangun dan mencari Bunda. Dia tidak ada di kamar. Tidak ada di dapur. Tidak ada di mana-mana.
Lalu dia mendengar tangisan dari ruang tamu.
Nenek menangis.
Ayah menangis.
Tetangga-tetangga berkumpul dengan wajah sedih.
Dan di tengah ruangan, di atas kasur yang diletakkan di lantai, ada sosok yang ditutupi kain kafan putih.
"Bundaaa!" Rafael berlari.
Tangannya menarik-narik kain kafan. "Bunda! Bangun! Bunda kenapa tiduran disini! Ayo bangun Bunda! Kita harus sarapan. Aku mau di suapin Bunda!"
Nenek memeluknya—memeluk dengan erat meskipun tubuhnya gemetar dari tangisan.
"Bunda sudah pergi, sayang," bisik Nenek dengan suara yang pecah.
"Bunda sudah di surga sekarang."
Rafael kecil tidak mengerti.
Tidak mengerti kenapa Bunda tidak bangun.
Tidak mengerti kenapa semua orang menangis.
Tidak mengerti kenapa dadanya terasa sangat sakit.
***
"Bundaku meninggal karena penyakit," kata Rafael.
Suaranya datar sekarang, seperti robot yang membaca script.
"Aku tidak tahu penyakit apa yang sudah Bunda derita. Saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti. Yang aku tahu—suatu hari aku bangun dari tidur, dan melihat Bundaku ditutupi dengan kain putih, dan di kerumuni oleh banyak orang."
Aurora menutup mulut dengan tangan—mata sudah berkaca-kaca. Thomas menggenggam tangan istrinya lebih erat.
"Setelah kejadian itu," Rafael melanjutkan,
"tidak berselang lama... Ayahku juga meninggal."
***
Ayah bekerja sebagai kuli bangunan—pekerjaan yang berat, yang berbahaya, tapi itu satu-satunya yang bisa dia lakukan untuk menghidupi keluarga.
Pagi itu, Ayah memeluk Rafael sebelum pergi kerja.
"Ayah pergi kerja dulu ya, Raf," katanya sambil mencium kening Rafael.
"Nanti kalau Ayah udah pulang, Ayah bakal bawain bakso buat Rafael. Rafael suka bakso kan?"
Rafael mengangguk dengan semangat.
"Iya Ayah. Aku suka bakso! Nanti beliin yang banyak ya!"
Ayah tersenyum—senyum yang hangat, yang penuh cinta.
"Papa janji."
Itu adalah pelukan terakhir.
Senyum terakhir.
Ciuman kening terakhir.
Janji terakhir.
Dan kehangatan yang terakhir.
Sore harinya, saat Rafael sedang bermain dengan tetangga-tetangga sebaya, ada keributan di depan rumah.
Rafael berlari pulang, melihat Nenek duduk di teras dengan wajah yang hancur total.
Dan di dalam rumah, di atas kasur yang sama dimana sang Bunda yang dulu dibaringkan, ada Ayah.
Tidak bergerak.
Tubuh penuh dengan luka.
Kain putih menutupi sebagian tubuhnya.
"Rafael sayang. Ayahmu... kecelakaan." bisik Nenek dengan suara yang kosong.
"Atap bangunan runtuh. Ayahmu... Ayahmu tertimpa."
Rafael berdiri di pintu, kaki kecilnya tidak bisa bergerak. Mata menatap Ayah yang tidak akan bangun lagi.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada jeritan.
Hanya keheningan yang sangat dalam, keheningan seorang anak kecil yang baru kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu kurang dari setahun.
***
"Ayahku meninggal dalam kecelakaan kerja," kata Rafael.
Tangannya gemetar sekarang, dia meletakkannya di pangkuan, mencoba untuk menyembunyikan getaran itu. Mencoba untuk tetap kuat.
"Pagi harinya dia memelukku. Sore harinya dia pulang... tapi dalam keadaan yang sudah tidak bernyawa."
Air mata mengalir di pipi Aurora. Thomas menggigit bibir bawahnya—keras, sampai hampir berdarah.
"Setelah itu," Rafael melanjutkan dengan suara yang semakin serak,
"aku tinggal hanya berdua dengan Nenek. Sampai aku dewasa. Sampai..."
Suaranya terputus. Dia tidak bisa melanjutkan sejenak.
***
Nenek bekerja membuat kue-kue tradisional, seperti lemper, risoles, pastel—lalu mengantarkannya ke warung-warung kecil di sekitar rumah.
Penghasilannya tidak banyak. Tapi cukup untuk makan tiga kali sehari, untuk sekolah Rafael, untuk hidup yang sederhana tapi layak.
Rafael tumbuh dengan cepat. Dari anak kecil yang pendiam, menjadi remaja yang cerdas. Dia belajar dengan keras, selalu mendapatkan ranking satu di kelas, selalu mendapat beasiswa dan masuk ke sekolah elit di Jakarta.
Nenek bangga.
Sangat bangga.
"Rafael cucuku yang pintar," katanya sambil mengelus rambut Rafael yang sudah remaja.
"Suatu hari nanti, kamu pasti akan jadi orang yang sukses. Nenek yakin. Sangat yakin."
Tapi Nenek menyembunyikan sesuatu.
Penyakit yang sudah berkembang di tubuhnya, komplikasi dari diabetes yang tidak terurus, dari hipertensi yang dibiarkan, dari kerja keras bertahun-tahun yang membuat tubuhnya rusak dari dalam.
Dia tidak mau Rafael khawatir. Tidak mau Rafael fokus pada Nenek daripada pada pendidikan.
Jadi dia menyembunyikan.
Minum obat diam-diam.
Pergi ke klinik tanpa bilang Rafael.
Bertahan dengan senyum meskipun tubuhnya sakit.
Sampai suatu pagi.
Rafael bangun lebih pagi dari biasanya. Dia masak untuk sarapan bersama, nasi goreng simple dengan telur, favorite Nenek.
"Nenek! Ayo bangun!" panggilnya dari dapur.
"Sarapannya sudah siap!"
Tidak ada jawaban.
Rafael mengerutkan kening. Biasanya Nenek sudah bangun lebih dulu, sudah sholat subuh, sudah menyiapkan teh hangat, sudah membuat adonan kue.
Dia berjalan ke kamar Nenek—pintu terbuka sedikit. Di dalam, Nenek sedang sholat.
Rafael tersenyum. Dia menunggu di luar, tidak mau mengganggu ibadah.
Tapi setelah lima menit, sepuluh menit, lima belas menit. Nenek masih tidak keluar.
"Nenek?" Rafael membuka pintu lebih lebar.
Nenek masih dalam posisi sujud.
Tidak ada pergerakan.
"Nek, nanti sarapannya dingin," kata Rafael sambil berjalan mendekat.
Tapi Nenek tidak menjawab.
Rafael berlutut di samping Nenek.
Tangannya menyentuh bahu Nenek, dengan berani, mencoba untuk membangunkan sang Nenek.
"Nek, sholatnya udah selesai belum?"
Nenek tidak bergerak.
Rafael menggoyang tubuh Nenek, lebih kuat sekarang, dengan panic yang mulai merayap.
"Nenek? Nek, bangun!"
Tapi tubuh Nenek dingin.
Sangat dingin.
Rafael menarik tubuh Nenek dengan hati-hati, memiringkannya dari posisi sujud.
Wajah Nenek sangat tenang.
Mata tertutup.
Bibir sedikit tersenyum, seperti sedang bermimpi indah.
Tapi dada tidak naik turun.
Tidak ada nafas.
"Nenek?" suara Rafael keluar sebagai whisper—pelan, tidak percaya.
"Nek... jangan main-main kayak gini lah nek. Ini nggak lucu!"
Tangannya mencari denyut nadi di leher Nenek.
Tidak ada.
"NEK!" Rafael berteriak sekarang.
Tangannya mengguncang tubuh Nenek dengan desperate.
"BANGUN! KUMOHON BANGUN! JANGAN TINGGALIN RAFAEL!"
Tapi Nenek tidak akan pernah bangun lagi.
Tidak akan pernah membuka matanya lagi.
Tidak akan pernah memeluk Rafael lagi.
Dia sudah pergi, meninggalkan Rafael sendirian di dunia yang terlalu kejam untuk anak remaja yang sudah kehilangan semua orang yang dia cintai.
Rafael memeluk tubuh Nenek, memeluk dengan erat, dengan putus asa, dengan penuh penyangkalan yang total.
"Kumohon," bisiknya sambil menangis.
"Kumohon jangan pergi. Aku masih butuh Nenek. Aku belum jadi orang sukses. Aku belum bisa buat Nenek bangga. Kumohon... jangan tinggalin Rafael sendirian..."
Tapi doa itu tidak dijawab.
Nenek sudah dipanggil Yang Maha Kuasa.
Dan Rafael, untuk pertama kalinya sejak Ayah meninggal, menangis dengan keras.
Menangis sampai tidak ada air mata lagi.
Menangis sampai suaranya hilang.
Menangis sampai tetangga-tetangga datang dan menariknya dari pelukan dengan Nenek yang sudah tidak bernyawa.
***
"Nenek meninggal saat sujud," kata Rafael.
Air mata mengalir di pipinya sekarang, tidak bisa ditahan lagi.
"Dia menyembunyikan penyakitnya dariku. Komplikasi. Diabetes. Hipertensi. Dia tidak mau aku khawatir."
Suaranya pecah total sekarang.
"Suatu pagi aku bangun. Aku masak sarapan untuk kami berdua. Nenek sedang sholat di kamarnya. Aku menunggunya untuk sarapan bersama. Tapi Nenek tidak keluar-keluar. Gerakan sholatnya hanya... hanya terus bersujud."
Rafael menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahu gemetar dari tangisan yang sunyi.
"Aku menunggu di samping Nenek. Tapi Nenek tidak bangun dari sujudnya. Aku mencoba untuk menggoyang tubuh Nenek. Dan seketika itu... Nenek sudah tidak bernafas lagi."
Aurora menangis terisak sekarang, tidak bisa menahan emotion.
Thomas menarik nafas yang sangat dalam—matanya merah, air mata mengalir di pipinya.
"Saat itu," Rafael melanjutkan dengan suara yang hampir tidak terdengar,
"aku benar-benar putus asa. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Semua orang yang aku cintai sudah pergi. Aku sendirian total."
Dia mengangkat wajahnya, menatap Thomas dengan mata yang merah, yang basah.
"Setelah situasi mereda, setelah pemakaman Nenek selesai, aku butuh fresh start. Aku harus bangkit dari keterpurukan. Aku harus bisa memulai semuanya dari nol. Tanpa orang tua. Tanpa Nenek. Tanpa ada orang yang kusayangi. Jadi aku memutuskan untuk pergi ke Amerika. Memulai semuanya dari nol di sini. Dengan bantuan Om Anwar aku bisa pergi kesini, ke Amerika."
Thomas dan Aurora tidak bicara. Tidak bisa bicara. Tenggorokan mereka tercekik oleh emotion yang overwhelming.
"Hari itu, hari terakhir sebelum aku pergi, aku berpamitan ke rumah orang yang selalu menganggap aku seperti keluarga," kata Rafael.
"Rumah Tante Cindy. Hanya mereka yang selalu ada untukku, memberikan support, memberikan nasihat, mengajari banyak hal dan yang paling penting. Mereka menganggapku sebagai keluarga mereka sendiri."
***
BERSAMBUNG...