Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 ADPH
Jangan pernah melihat seseorang dari kacamata luarnya saja, karena sejatinya yang terlihat baik belum tentu baik juga sebaliknya.
Adhikara Subroto memang anak sulung dikeluarga Raharjo Subroto, akan tetapi sejak kecil ia selalu mengingat kata kata bahwa dialah sang penerus.
Yang selalu ia dengar tidak ada kata kalian atau nanti kamu sama adikmu, melainkan hanya dia saja.
Kemudian Prasha lahir dan semua berubah setelahnya.
Apalagi Prasha bukanlah adik kandung satu ibu yang membuat Adhikara bukan cuma menganggap dia adik tapi lebih dari itu, yaitu Ancaman.
Yang membuat rasa keserakahan menggelayuti akal pikirannya. Melihat isi perjanjian lama yang telah dibuat membuatnya kesal marah bercampur aduk.
Bukan hanya dari segi saham melainkan satu klausul yang tidak ia terima sampai kapanpun, yaitu hak pengendali bisa saja turun dan bergeser pada Arden kakak Aluna setelah berusia tiga puluh lima, apalagi saat ini usia Arden sudah memasuki usia tiga puluh empat tahun, hanya tinggal menunggu satu tahun untuk menduduki kursi jabatan tersebut.
Namun saat misi menghancurkan Arden gagal, Adhikara geram rencananya gagal. Dan ia tidak suka dengan hasil yang setengah.
Apalagi dalam perjanjian itu hak waris bisa dipatenkan untuk Prasha dan Aluna jika Arden mati, jadi Adhikara tidak bermaksud untuk membunuh Arden secara langsung saat itu.
Kembali pada kondisi Prasha saat ini, meskipun dua ekor kerbau sempat menyeruduknya tapi tidak sampai membuat ia celaka dan terluka saat itu, hanya tergelincir karena licinnya area persawahan lah yang membuatnya terkena lumpur.
Namun pada bahunya, ia sempat terkena peluru yang melesat menembus bahunya saat sebelum tergelincir.
Dan Arden menatap Aluna saat dirumah sakit mengantar Prasha, Aluna dengan tatapan kosong, membuat kepingan ingatan bermunculan.
Rasa ingin melindungi Aluna jauh lebih besar, kilatan bayangan masa lalu tawa ceria Aluna yang membuat merasa ia harus melindungi dan kasih sayang itu muncul pada Aluna, naluri sebagai kakak muncul begitu saja pada jiwanya.
Tak lama ponsel berdering
"Halo"
"Belum, methong ternyata."
"Kamu gagal."
"Tidak, Tapi aku hanya ingin kamu ingat lebih cepat."
"Karena kalau kamu ingat lebih cepat, akan memperparah kondisimu sekarang ini untuk kedepannya, ingatan yang dipaksakan akan membuat memorymu lumpuh total secara permanent apa kamu tau, hahah?."
"Apa adikmu atau Prasha hmm atau doktermu tidak cerita tentang penyakitmu, sayang sekali,..kamu itu menderita cedera hippocampus yang tidak stabil bro."
Arden terdiam sejenak. Hening. "Kak."..
"Tidak apa dek,..."
"Jangan dipaksakan kak."
"Maafin Luna enggak bilang soal ini."
****
Sepulang dari rumah sakit, Aluna menuju apartemennya, Ia begitu terkejut ada layang layang kertas yang tergantung di depan pintu apartemennya.
Aluna membuka pintu kamarnya dan begitu terkejutnya, Adhikara ada didalam ruangan itu.
sambil tersenyum dan mendekati Aluna, memainkan rambut Aluna, dan berkata "Anak pertama tidak akan kalah Luna, dan kamu sangat mudah terlacak ya gadis manis."
"Apa maumu?."
"Mauku?,..."
"Kamu menghilang."
"jika aku menghilang kamu tidak akan menggangu kakakku kan?."
"Tidak janji, tapi setidaknya itu akan membantu."
"Baik,..Aku akan menghilang dan pergi jauh dari kota ini, tapi jangan sentuh kakakku."
Saat itu tak lama Arden kembali, dia memilih mengingat semuanya tak perduli nyawa menjadi taruhannya.
Saat sudah sampai apartemen, ia melihat Aluna yang sudah siap dengan koper kecilnya. Dengan wajah pucat, tubuh yang masih lemah, ia brtanya dengan nada serak ciri khas orang sakit.
"Kamu mau kemana dek?."
"Kakak, sudah mengingatnya, kamu adikku."
"Kak, jangan dipaksakan, nanti kakak sakit lagi."
Satu yang pasti saat itu Aluna begitu bimbang dan rapuh, melihat kondisi sang kakak, tetesan cairan merah keluar begitu saja dari hidung Arden.
Aluna menghubungi Prasha. "Mas Prasha, kak Arden mas."
Ya saat itu tak lama menyapa Aluna dan memberitahu jika dirinya sudah mengingatnya tubuhnya roboh. Kembali ia harus mendapatkan penanganan yang intensif.
Kenangan bersama Aluna, canda tawa Aluna sejak kecil,mendengar segala celotehannya. terus terpatri dalam ingatannya.
Kata kata anak pertama tidak akan kalah, lalu kecelakaan itu, dan peluru yang melesat di bahu Prasha, semua berputar diotaknya.
Arden tidak kuat, Ia memegang kepalanya kuat, semua berputar diotaknya. Di ingatannya.
Aaargh,..ia berteriak lalu roboh terjatuh dilantai kamar apartemennya.
Aluna memeluk Arden dengan tangis sejadi jadinya, "Kak,..Bangun kak." lalu Prasha datang beberapa menit kemudian.
"Apa yang terjadi lun?."
"Kakak berusaha mengingat semuanya mas?".
Prasha memejamkan matanya, menarik nafas seraya menghembuskannya perlahan. "Kita bawa kerumah sakit"
Darto ikut membantu menggotong Arden saat itu. Dirumah sakit Aluna berjalan mondar mandir tidak tenang, ia memeluk dirinya sendiri.
"Tananglah lun, semoga kakakmu baik baik saja kita do'akan saja ya."
"Mas, Titip kak Arden ya."
"Kenapa?."
"Luna mau pergi, Ada kerjaan diluar kota."
""Kamu jangan bohong Aluna, apa ini karena kakakku mengancammu?."
"Tidak mas."
"Kamu itu belum lulus Luna, mau kerja apa diluar kota."
"Aluna keliatan bohong ya mas?."
"Yaiyalah mana ada yang percaya, kalonkamu bilang ada kerjaan, sementara kamu belum lulus sekolah Luna."
"Sudah tidak usah berpikir macam macam, urusan kakakku biar aku yang tangani, kamu cukup jaga kakakmu saja."
"Tapi ."
"Enggak ada tapi Luna, ada enggak adanya kamu kakakku pasti tidak akan menyerah selama tujuannya belum tercapai."
"Baiklah kalau begitu." Pada akhirnya Aluna yang polos pun menurut saja,
Sementara Darto, memantau dari kejauhan sikap Prasha pada Aluna. Diluar sana Arsen sudah bersiap kembali ke kota jakarta.
Sudah tidak sabar ingin menemui ayahnya, dan tentunya ingin menemui Prasha juga. Entah apa yang ingin ia lakukan sampai ia begitu antusias sekali saat ini.
Dari Surabaya terbang dan lepas landas menuju Jakarta. Di bandara ia sempat berpapasan dengan Arden Sanjaya sahabat Prasha.
Keduanya berbincang perihal bisnis dan lainnya, hingga tak terasa roda kendaraan melaju dan berhenti tepat dirumah besar Raharjo.
"Hello everybody, brother Prasha I'm coming." begitulah kelakuan absurd Arden Sanjaya. Nama yang begitu mirip dengan kakak Aluna.
Siapa sangka keempat orang itu akan mengalami pergulatan panjang dalam membongkar misteri yang belum juga terpecahkan.
Bersama Prasha, Arsen, Arden dan Aluna mereka akan dihadapkan pada situasi yang diluar dari ekspektasi mereka.
Kedua tangan terlentang sambil menghirup udara jakarta. Tak lama ia berlari menuju kamar Prasha. disambut Darto Jatmiko sang sopir pribadi yang randomnya ga ketulungan.
"Jiah, Prashanya mana To? tanya Arden. Celingak celinguk dirumah besar namun seperti tak berpenghuni. Semua sibuk dengan aktivitasnya masing masing.
"Den Prashanya dirumah sakit, den?."
"Siapa yang sakit?." Tanya Arden dan Arsen bersamaan membuat Darto bingung mau jawabnya.