Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Singa yang Terluka
Dua Minggu Kemudian.
Gerbang lembaga pemasyarakatan terbuka dengan suara logam yang berat. Javian melangkah keluar, menghirup udara bebas yang terasa asing di paru-parunya. Ia tidak membawa banyak barang, hanya satu tas kecil dan sebuah buku catatan.
Di seberang jalan, sebuah SUV hitam mengkilap sudah menunggu. Zerya berdiri di samping pintu kemudi, mengenakan kacamata hitam dan setelan kerja yang sangat tajam. Ia tampak jauh lebih dewasa, lebih dingin, dan lebih berwibawa daripada saat terakhir kali Javian melihatnya di balik kaca.
Javian berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Zerya. "Kamu benar-benar menyetir sendiri."
Zerya melepaskan kacamatanya, menatap Javian dengan sorot mata yang sulit diartikan—ada kerinduan, tapi juga ada beban kepemimpinan yang besar di sana. "Aku bilang aku yang akan menjemputmu, kan?"
Mereka masuk ke mobil. Saat Zerya mulai menjalankan mesin, suasana di dalam kabin terasa berbeda. Tidak ada lagi kontrak yang mengikat mereka, namun ada sesuatu yang lebih berat: Talandra.
"Bagaimana rapat pemegang saham pagi tadi?" tanya Javian, matanya mengamati profil samping Zerya.
Tangan Zerya di kemudi sedikit mengencang. "Buruk. Konsorsium Vanguard Atlantic mulai membeli saham kita secara masif di pasar terbuka. Mereka sudah menguasai 12 persen dalam satu minggu."
Javian menyipitkan mata. "Vanguard? Itu firma bayangan. Siapa di belakang mereka?"
"Analisis tim IT kita menemukan jejak yang sangat samar," Zerya melirik Javian sekilas. "Julian Vane. Dia tidak menyerang reputasi kita lagi, Javian. Dia mencoba membeli seluruh perusahaan kita dan membuangmu secara permanen lewat pemungutan suara dewan direksi bulan depan."
Javian terdiam. Ia baru bebas satu jam, dan perang sudah menunggunya di depan pintu. "Dan posisimu?"
"Mereka menawariku posisi Chairman seumur hidup," suara Zerya merendah, ada nada pahit di sana. "Asalkan aku menyetujui mosi tidak percaya untuk menghapus namamu dari seluruh struktur Talandra. Mereka ingin menghapus sejarahmu, Javian."
Javian tertawa kecil, tawa yang kering dan tajam. "Langkah klasik Julian. Dia ingin memisahkan kita. Dia tahu jika kita bersatu, dia tidak punya peluang."
Zerya menghentikan mobil di lampu merah, menoleh sepenuhnya ke arah Javian. "Masalahnya, Javian... dewan direksi mulai goyah. Mereka melihatmu sebagai beban hukum, dan mereka melihatku sebagai pemimpin yang terlalu protektif padamu. Jika aku terus membelamu, aku bisa ikut digulingkan."
Javian menatap Zerya intens. Inilah dinamika baru mereka. Zerya kini memiliki kekuasaan yang dulu dipegang Javian, dan Javian adalah orang luar yang status hukumnya cacat.
"Lalu apa rencanamu, CEO Zerya?" tanya Javian, kali ini dengan nada menantang namun penuh rasa ingin tahu.
Zerya kembali menatap ke depan saat lampu berubah hijau. "Aku tidak akan membelamu di depan dewan, Javian. Itu bunuh diri."
Javian mengangkat alis.
"Aku akan membiarkan mereka berpikir aku berpihak pada konsorsium," lanjut Zerya dingin. "Kita akan memainkan permainan yang sama dengan yang kamu ajarkan padaku di London. Kita biarkan mereka masuk ke dalam rumah, lalu kita kunci semua pintunya dari dalam."
Javian tersenyum tipis. Muridnya bukan lagi sekadar partner; dia telah menjadi seorang strategist yang lebih berani darinya.
"Selamat datang kembali di Talandra, Javian," ucap Zerya saat mereka memasuki pelataran gedung kantor pusat. "Tapi kali ini, kamu adalah rahasiaku. Jangan sampai ada satu pun orang dewan yang tahu bahwa aku masih berbicara denganmu."