“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 23
“Kami akan melakukan pemeriksaan intensive untuk Adam, Pak. Jika dalam waktu dua hari Adam tidak PUP, maka kami harus menjalani prosedur lanjutan. Berdoa saja semoga tidak ada masalah pada usus Adam, agar kita bisa menghindari tindakan pembedahan,” jelas Dokter Retno—dokter Anak yang menangani kasus kelainan pada Adam.
Bahu lebar Rizal merosot seketika, wajahnya pias, suaranya sedikit gemetar. “L-lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dok.”
Dokter Retno tersenyum hangat, lalu mengusap pundak Rizal yang hampir roboh. “Kami akan melakukan yang terbaik, Pak. Untuk sementara waktu, Adam masih harus berada di ruang NICU, hanya Ibu Nadya yang boleh masuk untuk memberi Asi, karena Asi sangat efektif untuk membantu melunakkan PUP yang menggumpal di pencernaan.”
Dokter bermata sipit itu menghela napas pelan, senyum yang terulas di wajah keriputnya sedikit memudar. “Saya ‘kan sudah mengingatkan Anda, Pak Rizal, bahwa kondisi Adam sangat sensitif. Untung saja Ibu Nadya tetap menjaga kualitas Asi-nya, bahkan saat beberapa hari tidak dihisap oleh Adam, kualitasnya masih baik. Lain kali tolong lebih hati-hati, Pak.”
“Dokter yakin itu karena susu formula? Tapi, yang kami kasih ke Adam susu mahal, Adam juga lahap waktu minum, lebih lahap dari netek sama si Nadya,” sela Bu Sartini, wajahnya jelas menyiratkan keraguan. “Dokter mungkin salah periksa, bisa saja ini karena tetek Nadya bukan karena susu yang kami kasih,” imbuh wanita berambut keriting itu.
Alis Dokter Retno mengerut dalam, mata sipitnya sedikit memicing. “Ibu, saya ini Dokter senior di RS ini, sudah bertugas lebih dari dua puluh tahun. Masak masih perlu dipertanyakan kredibilitasnya? Lagi pula, semahal-mahal dan sebaik-baiknya susu formula, masih jauh lebih mahal Asi, karena itu asupan terbaik untuk bayi.”
Rizal menatap tajam ke arah Bu Sar, rahang laki-laki itu mengeras. Ia lalu menunduk sesaat sebelum kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Dokter Retno.
“Maaf, Dok, mungkin Mama mertua merasa asupan Adam kurang, jadi …,” Rizal menggantungkan ucapannya, wajahnya tertekuk malu melihat kelakuan Bu Sar.
“Tidak apa-apa, Pak Rizal, kebanyakan orang zaman dulu memang begitu, masih kolot cara berpikirnya. Yang penting sekarang Adam sudah ditangani dengan baik, kita doakan saja tidak sampai dilakukan prosedur pembedahan,” ujar Dokter Retno dengan suara tenang.
Di pintu keluar ruang NICU, Nadya berjalan dengan langkah berat, wajahnya sedikit pucat. Ia tersenyum hangat saat netranya bertemu dengan Dokter Retno, namun berubah dingin seketika saat menoleh ke arah Rizal dan Bu Sar.
“Bagaimana, Bu Nadya, sudah lebih baik?” sambut Dokter Retno.
Nadya mengangguk pelan, senyum manis terulas di wajahnya. Saat baru datang sambil menggendong Adam, kondisi tetek Nadya membengkak karena dia tidak sempat popping sebelum pergi.
“Anda cukup pintar menjaga nutrisi yang masuk ke tubuh, hingga Asi yang Anda hasilkan juga bagus,” lanjut Dokter Retno, sambil menatap kagum wajah pucat Nadya. “Saya padahal sempat meragukan Anda waktu malam itu, ternyata saya salah. Anda benar-benar mengerti dan siap jadi seorang Ibu,” imbuhnya lagi.
“Terima kasih pujiannya, Dok, ini semua juga berkat pelatihan Anda,” sahut Nadya.
“Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu. Tolong istirahat dan makan yang cukup, Bu Nadya agar kondisi Anda juga terjaga,” ujar Dokter Retno seraya beranjak pergi.
Berbeda dengan Nadya dan Rizal yang mengangguk sopan, Bu Sar menatap kepergian Dokter Retno dengan tatapan sinis, bibir wanita paruh baya itu berkedut, alis lancipnya menukik tajam.
“Dokter senior … Dokter senior, sombong sekali. Pake acara ngatain saya kolot. Kamu itu yang kolot, tidak bisa membedakan orang modus sama tulus. Dasar—”
“Mah! Ini RS. Tolong jaga cara bicara Mamah!” sergah Rizal, suara terdengar berat—menunjukkan betapa kerasnya dia menahan malu bercampur marah.
Melihat perdebatan kecil itu, Nadya menoleh cepat, lalu berujar datar. “Kalian pulang aja, biar saya sendiri di sini. Lagian cuma saya yang bisa nemenin Adam, ngapa pula banyak-banyak orang yang nungguin.”
Bu Sar mendelik seketika, tatapannya menjurus ke arah Nadya. Namun, belum sempat wanita itu mengeluarkan kata-kata, Rizal lebih dulu menyela.
“Nadya benar. Rizal antar Mamah pulang sekalian ambil keperluan Adam dan Nadya.” Ia lalu menoleh ke arah Nadya. “Abang tinggal sebentar nggak apa-apa ‘kan, Nad?”
“Lama juga nggak apa-apa, sampai Adam boleh dibawa pulang lebih baik malahan. Pening palak saya kalo terlalu banyak orang,” sahut Nadya, lalu melangkah pergi dari tempatnya.
Rizal buru-buru menyusul langkah Nadya, diikuti Bu Sar yang terus menggerutu di belakangnya.
“Nad,” panggil Rizal saat Nadya seolah tak mengindahkan kehadirannya. “Nadya,” ulang Rizal sambil menarik tangan gadis manis itu. “Jangan kaya gini, tolong. Abang tau Abang salah. Kamu boleh lanjut marah sama Abang, tapi jangan sekarang, kita perlu kerja sama untuk Adam, Nad.” Mohon laki-laki itu kemudian.
Nadya menoleh pelan, bibirnya terkatup rapat, tatapannya tajam—seolah berbicara tanpa perlu berucap.
Rizal menghela napas pelan, ia kemudian mengeluarkan dompetnya, menarik kartu ATM Berwarna gold lalu menyerahkan pada Nadya.
“Kata sandinya ulang tahun Adam,” ucap laki-laki itu kemudian.
Melihat kartu yang dikeluarkan Rizal, mata Bu Sartini membelalak, hatinya seketika di penuhi bara panas.
“Cuma nunggu di RS sakit saja memang sampai harus dipegangin ATM, kasih seratus ribu juga udah kebanyakan,” celetuknya, sambil terus melirik sinis ke arah Nadya.
Senyum sarkastis muncul di wajah Nadya, dengan gerakan lambat dia mengambil ATM dari tangan Rizal.
“Saya boleh pake sesuka saya?” tanyanya, sambil melirik wajah Bu Sartini yang merah.
“Iya, pake sesuka kamu,” sahut Rizal.
Baru saja Rizal ingin berpamitan, terdengar suara berat seseorang memanggil nama Nadya.
“Nadya, jadi bener ini kamu,” seru seorang laki-laki dengan pakain dokter bername tag Jeffry. “Kirain salah lihat, kemana aja nggak pernah keliatan di caffee?” cerca Jeffry.
“Kak Jeff,” sambut Nadya, matanya sedikit blingsatan ke kiri dan kanan. “Itu … anu …,”
“Lagi nunggu siapa? Kok di poli anak?” Tatapan Jeffry lalu beralih ke Rizal mematung di samping Nadya. “Jangan bilang ini—”
“Ah, Kak maaf, saya lagi buru-buru, lain kali kita ngobrol lagi,” sergah Nadya. Ia kemudian menarik tangan Rizal, berjalan tanpa menoleh hingga ke parkiran.
Menyadari sikap aneh Nadya, alis Rizal mengerut dalam, sesekali ia menoleh kebelakang, melihat ke arah Jeffry yang masih berdiri di depan ruangan khusus anak.
“Cepet turunin koper saya, saya harus buru-buru balik ke ruang NICU. Takut suster nyariin,” ucap Nadya.
Rizal masih termangu, pikirannya berkecamuk hingga pukulan kecil Nadya mengejutkannya.
“Bang!”
“Hah!” sahut Rizal, cengoh.
“Turunin koper saya. Malah ngah-ngoh,” sungut Nadya.
Bu Sartini yang juga berdiri di dekat mobil, langsung membuka pintu, lalu menurunkan koper yang dibawa Nadya. “Cuma nurunin koper begini saja nyuruh Rizal, dasar pembantu tidak tau diri,” ujarnya ketus.
Wanita bermulut pedas itu masih menyimpan murka karena Rizal memberikan ATMnya pada Nadya, ditambah melihat seorang dokter tampan dengan senyum ramah menyapa gadis manis itu. Api iri dengki seketika berkobar di hatinya.
“Kamu yang bener jagain Adam, Nadya, awas saja kalau sampai terjadi apa-apa sama cucu saya,” imbuh wanita itu.
“Dih, Adam bisa masuk rumah sakit juga karena kelakuan kamu sama geng sok pintermu itu, kok malah nyalahin saya,” balas Nadya.
Tidak ingin terjadi perdebatan yang lebih panjang, Rizal buru-buru menyela berpamitan meski pikirannya tak sepenuhnya rela meninggalkan Nadya sendirian. Ia menatap sekilas gadis manis itu, lalu mencuri pandang ke arah pintu ruang anak, Jeffry sudah tidak ada di sana, namun gelisah justru semakin memenuhi hatinya.
“Abang pulang dulu, Nad. Kamu hati-hati di sini, kalau ada apa-apa langsung telepon Abang,” pesan Rizal sambil mengusap puncak kepala Nadya.
Nadya berdehem pelan, sembari berusaha menghindar dari sentuhan Rizal.
“Udah sana pergi.” Usirnya kemudian.
Rizal menjalankan mobilnya dengan ragu, pikirannya dipenuhi cara Nadya menghindari dokter muda tadi.
‘Siapa dokter itu tadi, dan apa hubungan dia sama Nadya?’ batinnya semakin berisik menerka-nerka.
Ia lalu memutar kendali mobilnya, mengambil arah yang berbeda dari jalan yang seharusnya sambil berujar tajam.
“Mamah pulangnya Rizal titipkan mobil yang setor ke pabrik saja, nanti masuk ke rumahnya biar di jemput Yasir.”
Bersambung.
Semangat 🔥