NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Rahasia di Balik Panggilan Dila

Pagi itu, aroma antiseptik rumah sakit akhirnya berganti dengan aroma parfum maskulin Arlan yang menenangkan di dalam kabin mobil. Hana duduk di kursi penumpang, menatap jalanan kota yang tampak lebih hidup dari biasanya. Meskipun masih ada guratan lelah di wajah pucatnya, binar matanya tidak lagi kosong. Sejak rahasia sapu tangan biru itu terungkap, ada jembatan kepercayaan yang kokoh terbangun di antara mereka.

​Hana tidak lagi merasa asing saat Arlan menggenggam tangannya di atas gear stick. Ia merasa seolah sedang duduk di samping pahlawan masa mudanya yang kini telah tumbuh menjadi pelindung sejatinya.

​"Mas masih simpan ponselku?" tanya Hana pelan.

Hana memang belum berani menyentuh benda pipih itu karena trauma pada komentar-komentar tajam yang sempat menghancurkan mentalnya.

​Arlan mengangguk, sorot matanya tetap fokus pada jalanan.

"Ada di saku jas saya. Saya tidak ingin kamu terganggu oleh notifikasi yang tidak perlu sampai Dokter Sarah menyatakan kamu benar-benar siap."

​Tiba-tiba, ponsel di saku Arlan bergetar hebat. Melodi panggilan masuk memecah keheningan. Arlan melirik layar; nama Dila tertera di sana.

​"Dila menelepon. Mau diangkat?" tanya Arlan.

​"Iya, Mas. Tolong di-loudspeaker saja," jawab Hana.

​Arlan menekan tombol hijau dan meletakkan ponsel itu di dashboard.

​"Halo, Assalamualaikum, Na! Kamu di mana?"

Suara Dila terdengar melengking, penuh dengan nada cemas yang tidak bisa disembunyikan.

​"Waalaikumsalam, Dila. Aku lagi di jalan pulang sama Mas Arlan. Ada apa? Kamu kedengarannya panik sekali," Hana mencoba menenangkan sahabatnya, meski ia sendiri mulai merasa was-was.

Hana sempat bertukar lirik dengan Arlan yang kini sedikit mengerutkan kening.

​"Gawat, Na! Gawat banget!" seru Dila di seberang sana.

​"Pelan-pelan, Dila. Tarik napas dulu, ceritakan ada apa?"

​"Tomi, Na! Si Tomi nekat! Tadi aku tidak sengaja berpapasan dengannya di parkiran bawah, dia bilang mau melabrak Pak Arlan ke rumahnya sekarang juga!"

​Hana tersentak.

"Melabrak? Kenapa dia mau melabrak Mas Arlan?"

​"Aduh, Hana! Kamu kan tahu dia itu 'Budak Cinta' garis keras kamu. Dia nggak terima dengan berita-berita miring yang beredar. Kemarin saja dia hampir baku hantam dengan anak-anak himpunan yang gosipin kamu pelakor. Sekarang, saat tahu kamu di rumah sakit dan Pak Arlan yang bawa, dia makin murka. Dia pikir Pak Arlan cuma memanfaatkan kamu!" jelas Dila panjang lebar tanpa titik koma.

​Hana menatap Arlan dengan raut wajah bingung sekaligus khawatir. Bagaimana mungkin Tomi yang biasanya konyol bisa senekat itu? Arlan, di sisi lain, justru tetap tenang. Ia meraih tangan Hana, menggenggamnya lembut seolah menyalurkan kekuatan agar istrinya tidak kembali cemas.

​"Biarkan saja dia datang, Dila. Nanti saya yang akan hadapi dia," ujar Arlan dengan nada suara yang dalam dan berwibawa.

​"Waduh, Pak... hati-hati ya, dia bawa motor sport merahnya itu dengan kecepatan cahaya tadi," Dila memperingatkan, lalu suaranya melunak.

"Oiya Na, gimana keadaan kamu? Sudah lebih baik, kan? Perut nggak mual? Dada nggak sesak lagi?"

​Hana terkekeh kecil.

"Dila, ini sudah kesekian kalinya kamu tanya dalam sejam terakhir. Aku jauh lebih baik, sayangku. Sungguh."

​"Syukurlah! Maaf ya aku tidak bisa nemenin kamu di rumah hari ini. Aku lagi dikurung sama 'Bunda Ratu'. Duh, capek banget, Na, dijodoh-jodohin terus sama anak temannya yang katanya 'mapan dan saleh' itu," keluh Dila dramatis.

​"Ya sudah, ikuti saja apa kata Bundamu, Dil. Beliau pasti ingin yang terbaik buat kamu," goda Hana.

​"Hana! Ini zaman sudah canggih, AI di mana-mana, masa iya aku harus ikut metode Siti Nurbaya versi 2026? Nggak keren banget!" protes Dila menggebu-gebu.

​Hana tertawa renyah, sebuah suara yang sangat dirindukan Arlan beberapa hari terakhir. Arlan ikut tersenyum tipis, merasa bersyukur Dila selalu bisa mengembalikan keceriaan Hana bahkan dalam situasi genting sekalipun.

​"Ya kan jodoh siapa yang tahu, Dil. Bisa jadi yang dipilihkan Bundamu itu ternyata..."

​"Sudah, sudah, Hana! Jangan diteruskan! Aku tidak ingin mendengar pembelaan darimu ke Bundaku, kamu malah jadi tim hore-nya Bunda. Aku curiga sahabatmu itu sebenarnya aku atau Bundaku sih?"

​"Ya Kami dong, sudah-sudah, nanti aku telepon lagi kalau sudah sampai rumah ya," ucap Hana sembari masih menahan tawa.

​"Iya, ini Bunda sudah teriak-teriak panggil juga. Bye-bye cintaku! Pak Arlan, titip Hana ya! Jangan sampai lecet!"

​"Assalamualaikum," tutup Dila.

​"Waalaikumsalam," jawab Arlan dan Hana hampir bersamaan sebelum sambungan terputus.

​Keheningan kembali merayap, namun kali ini terasa lebih hangat. Arlan menatap Hana sekilas.

"Kamu tidak perlu khawatir soal Tomi. Biar saya yang urus semuanya. Tugas kamu sekarang hanya masuk ke rumah, bertemu Mama, Papa, Umi, dan Abi, lalu istirahat. Mengerti?"

​Hana mengangguk patuh.

"Mengerti, Mas Dosen."

​Arlan tersenyum mendengar sebutan itu. Meskipun badai Tomi sedang menuju ke arah mereka, Arlan merasa sanggup menghadapi apapun selama Hana ada di sampingnya dengan senyuman yang mulai kembali pulih.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!