NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 - PERNAPASAN BULAN DINGIN

Lembah Kabut Abadi memiliki sebuah puncak tersembunyi yang disebut Puncak Menangis, di mana suhu udara cukup dingin untuk membekukan darah dalam hitungan menit. Di sanalah Kaelan menghabiskan tahun kedelapannya. Setelah pembantaian di Aula Pengasahan, ia tidak lagi dikurung dalam sel, namun dunianya tidak menjadi lebih luas. Dunia Kaelan kini hanyalah sebilah pedang tanpa sarung dan aliran energi yang menusuk tulang.

"Teknik Pernapasan Bulan Dingin bukan tentang menghirup udara," suara instruktur bertopeng perak, yang dikenal sebagai Penatua Bayang, bergema di antara tebing salju. "Ini tentang menarik es dari langit ke dalam paru-parumu, membiarkannya membekukan emosimu, dan menyisakan hanya insting murni."

Kaelan duduk bersila di atas bongkahan es abadi tanpa mengenakan baju. Kulitnya yang pucat hampir menyatu dengan warna salju di sekitarnya. Rambut putih susunya panjang menjuntai hingga ke punggung, bergerak tertiup angin kencang. Setiap kali ia menarik napas, uap putih yang keluar dari mulutnya tampak lebih padat dan tajam dari manusia biasa.

Di dalam tubuhnya, Kaelan merasakan pertempuran hebat. Energi (Qi) yang ia serap terasa seperti ribuan jarum es yang mengalir melalui meridian—jalur energi tubuhnya. Racun ular yang telah mengendap di sumsum tulangnya selama bertahun-tahun di dalam gua mulai bereaksi dengan Teknik Bulan Dingin. Alih-alih membunuhnya, racun itu bermutasi, menciptakan jenis energi baru yang belum pernah dilihat oleh Sekte Gerhana Biru: Qi Embun Berbisa.

"Sekarang, bangkitlah. Hadapi para boneka besi," perintah Penatua Bayang.

Dari balik kabut, muncul lima orang prajurit tingkat rendah sekte yang mengenakan baju zirah berat. Mereka bukan sedang berlatih; mereka diperintahkan untuk membunuh Kaelan sebagai bagian dari ujian harian.

Kaelan membuka matanya. Pupilnya yang merah tidak lagi memancarkan kemarahan, melainkan ketenangan yang mengerikan—seperti permukaan danau beku yang menyembunyikan monster di kedalamannya.

Tanpa peringatan, kelima prajurit itu merangsek maju. Pedang-pedang berat mereka membelah udara, menciptakan suara siulan yang tajam. Kaelan tidak menghindar dengan gerakan besar. Ia hanya menggeser kakinya beberapa inci. Tubuhnya bergerak dengan kelenturan yang tidak manusiawi, meliuk seperti ular, menghindari mata pedang yang hanya berjarak sehelai rambut dari kulitnya.

Ini adalah hasil dari pengasahan bertahun-tahun di ruang sempit. Kaelan tidak memerlukan ruang luas untuk bertarung; ia adalah master dalam ruang sempit.

*Slap!*

Tangan kanan Kaelan yang ramping menghantam sendi siku salah satu prajurit. Bukan pukulan biasa, melainkan sebuah patukan dengan dua jari yang dialiri Qi Bulan Dingin. Seketika, lengan prajurit itu membeku dan retak dari dalam. Pria itu menjerit saat tangannya terkulai layu seolah-olah tulangnya telah berubah menjadi kaca yang pecah.

Kaelan tidak berhenti. Ia berputar di bawah tebasan pedang lawan kedua, lalu dengan gerakan anggun yang hampir menyerupai tarian, ia meluncurkan tendangan rendah yang mematahkan lutut lawan ketiga.

Gerakannya tidak memiliki beban. Setiap serangan bertujuan untuk melumpuhkan atau membunuh dengan energi seminimal mungkin. Inilah esensi dari pembunuh yang diciptakan oleh Sekte Gerhana Biru: efisiensi mutlak.

"Cukup," teriak Penatua Bayang.

Kaelan berhenti seketika. Tangannya hanya berjarak satu inci dari tenggorokan prajurit terakhir yang sudah gemetar ketakutan. Kaelan menarik kembali energinya, dan hawa dingin yang menyelimuti tubuhnya perlahan memudar, meninggalkan uap tipis yang menyelimuti sosoknya.

Penatua Bayang mendekat, menatap Kaelan dengan campuran rasa bangga dan ngeri. "Tubuhmu telah melampaui batas manusia. Teknik Bulan Dingin dan racun di darahmu telah menyatu. Kau bukan lagi seorang murid. Kau adalah 'Sasin'—sang pencabut nyawa."

Penatua itu menyerahkan sebuah senjata baru kepada Kaelan. Itu bukan pedang panjang yang biasa digunakan para prajurit, melainkan sepasang belati pendek yang melengkung dengan bilah berwarna hitam legam, terbuat dari besi meteorit yang dingin.

"Malam ini, kau akan menerima misi pertamamu," ucap Penatua itu. "Ada seorang gubernur di wilayah selatan yang mulai mencampuri urusan perdagangan sekte. Pergi ke sana. Jangan tinggalkan jejak. Jangan tinggalkan saksi. Biarkan mereka tahu bahwa rembulan telah mengirimkan bayangannya."

Kaelan menerima belati itu. Saat jarinya menyentuh gagang senjata, ia merasakan koneksi instan. Baginya, belati ini bukan sekadar alat, melainkan perpanjangan dari jiwanya yang dingin.

Ia menatap ke bawah lembah, ke arah pemukiman manusia yang mulai menyalakan lampu-lampu kecil di kejauhan. Baginya, dunia luar hanyalah sebuah ladang perburuan yang menunggu untuk dijelajahi. Dan dia adalah predator yang paling sabar.

"Sesuai perintah," bisik Kaelan. Suaranya terdengar merdu namun membawa hawa kematian yang nyata.

Malam itu, Kaelan meninggalkan Puncak Menangis. Sosoknya yang berambut putih menghilang di balik kabut, menandai dimulainya legenda Bayang Rembulan Perak yang akan membuat seluruh dunia persilatan bergetar ketakutan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!