𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 11 - BENUA UTARA DAN JARAK YANG TERUCAP
2 hari berselang Rizuki pergi meninggalkan gedung cakrawala. Ia menuju suatu tempat yang cocok untuk membangun dan menjalankan proyek baru miliknya.
Ia tiba di suatu tempat.
Angin dingin menyapu dataran luas di benua utara.
Langit berwarna abu-abu pucat, seperti kertas kosong yang belum disentuh tinta. Tidak ada suara kota. Tidak ada klakson. Tidak ada keramaian manusia. Hanya angin, tanah luas, dan garis horizon yang seakan tak berujung.
Sebuah mobil taktis untuk area bersalju berhenti di area terbuka.
Rizuki turun tanpa tergesa.
Mantel hitam panjangnya berkibar tertiup angin. Rambut hitamnya tersapu ke belakang, memperlihatkan tatapan mata biru yang kini benar-benar berbeda dari tatapan seorang Anak sekolah.
Di sini,
tidak ada sekolah.
tidak ada seragam.
tidak ada nama kecil yang dipanggil pelan.
Hanya Rizuki Dan jalan pikiran miliknya, sepenuhnya.
“Tempat ini sunyi,” ucap seseorang di belakangnya.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun bernama Mike berdiri dengan jaket lapangan tebal. Wajahnya keras, namun sorot matanya cerdas. Salah satu dari sedikit orang yang direkrut khusus untuk misi ini.
“Sunyi itu bagus,” jawab Rizuki tenang.
“Teknologi lahir paling baik di tempat seperti ini.”
Pria itu mengangguk pelan.
“Semua dokumen lahan sudah siap. Tidak ada keterkaitan dengan Bluesky Corporation.” Ucap mike yang berdiri sedikit di belakang rizuki.
“Pastikan tetap begitu,” kata Rizuki. “Nama Bluesky tidak boleh muncul, bahkan sebagai bayangan.”
“Dimengerti.” sikap sedikit membungkuk dari Mike
Mereka berjalan menyusuri area luas itu. Bekas bangunan industri lama terlihat samar, hampir runtuh, namun fondasinya masih kuat.
Rizuki berhenti.
“Di sini,” katanya pelan. “dirikan Pusat riset.”
Mike itu menatapnya, sedikit terkejut.
“Ini terlalu terbuka.”
“Justru itu,” balas Rizuki. “Tidak ada yang akan menyangka.”
Ia menatap tanah itu lama.
R Technology.
Nama itu kembali terlintas di benaknya.
R TECHNOLOGY – MISI YANG TIDAK DIBAGI
Sore tiba lebih cepat di benua utara.
Rizuki kini berada di ruang sementara—sebuah bangunan kecil yang dijadikan kantor lapangan. Peta digital, skema jaringan, dan desain arsitektur teknologi terpampang di layar besar.
Tidak ada logo.
Tidak ada identitas publik.
Hanya satu folder utama:
R TECHNOLOGY
Seorang teknisi muda berdiri di samping layar.
“Bidang utama yang Anda inginkan?”
Rizuki tidak langsung menjawab. “program yang melampaui Artificial intelligence,” katanya akhirnya. “Keamanan data. Infrastruktur sistem tertutup.”
“Untuk pasar global?” tanya lagi tehnisi muda itu.
“Tidak.” jawab rizuki yang merubah sorot matanya menjadi lebih tajam
Lalu Rizuki menoleh.
“Untuk dunia yang belum tahu bahwa ia membutuhkannya.”
Teknisi itu terdiam, lalu bertanya hati-hati,
“Apakah proyek ini… akan menjadi saingan Bluesky?” tanya tehnisi itu lagi namun dengan Hati-hati.
Rizuki menatapnya datar. “Bluesky adalah korporasi. Ini adalah… kehendak.”
Jawaban itu cukup.
DI KOTA SELATAN & TIMUR — DUNIA YANG TETAP BERPUTAR
Hari-hari tetap berjalan.
Di sisi timur kota, Vhiena menjalani rutinitasnya seperti biasa.
Bangun pagi, Berangkat sekolah, Belajar, Pulang sore. Tidak ada yang berubah — setidaknya di luar.
Namun di sela waktu kosong, pikirannya sering melayang.
Bukan ke sekolah.
Bukan ke rumor.
Bukan ke pelajaran.
Bukan ke ekstrakurikuler.
Bukan ke kabar yang tidak pernah ia dengar.
Melainkan ke satu orang.
Vhiena duduk di kamar, membuka jendela saat angin sore masuk perlahan.
Langit mendung, namun hujan belum turun.
Ia memegang ponsel.
Tidak ada pesan baru.
“Sudah lama…” gumamnya pelan.
“Biasanya aku nggak pernah nunggu chat siapa pun.”
Ia tersenyum kecil, getir pada dirinya sendiri.
Ayu mengetuk pintu.
“Vhin, kamu nggak turun? Lala nunggu.”
“Iya,” jawab Vhiena cepat. “Sebentar.”
Ia meletakkan ponsel, namun sebelum menutup layar, ia membuka kembali percakapan terakhir mereka.
Tidak ada yang berubah.
Dan ia tidak tahu alasannya.
MALAM DI BENUA UTARA
Di hotel sederhana yang jauh dari kemewahan Gedung Cakrawala, Rizuki duduk di tepi ranjang. Jasnya tergantung rapi. Ponsel utama berada di meja kecil.
Ia belum menyentuhnya sejak tiba.
Bukan karena lupa.
Melainkan karena menahan diri.
“Kalau aku membuka ini,” pikirnya,
“aku akan kembali menjadi dua orang sekaligus.”
Ia akhirnya mengambil ponsel itu.
Nama Vhiena muncul.
Tidak ada pesan darinya.
Dan tentu saja—tidak ada tuntutan.
Justru itu yang membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Ia menghela napas panjang.
“Aku yang pergi,” gumamnya. “Aku yang harus bicara.”
Ia mengetik perlahan, penuh pertimbangan.
Rizuki:
Maaf. Aku baru bisa menghubungimu sekarang.
Pesan terkirim.
Ia menunggu.
Detik terasa panjang.
Di sisi lain kota, Vhiena sedang duduk di meja belajarnya ketika ponselnya bergetar.
Ia menoleh cepat.
Mata coklatnya membesar.
“Rizuki…?”
Ia membaca pesan itu dua kali, seolah memastikan itu nyata.
Tangannya bergerak ragu, lalu membalas.
Vhiena:
Aku kira kamu sibuk… Tapi aku senang kamu menghubungiku.
Rizuki membaca balasan itu perlahan.
Ada kelegaan.
Ada rasa bersalah.
Rizuki:
Aku memang sedikit sibuk. Tapi bukan berarti aku lupa.
Vhiena menatap layar, dadanya terasa hangat tanpa alasan jelas.
Vhiena:
Kamu di mana sekarang, beberapa hari tidak terlihat?
Rizuki menatap langit gelap di luar jendela hotel.
Rizuki:
Di tempat yang jauh. Yang Dinginnya bukan main.
Vhiena sedikit tekejut dan tersenyum kecil. Namun dalam benak nya bertanya-tanya.
Vhiena:
Hah tempat yang dingin?, tapi. . . . Ya sudah, pokoknya Kamu harus jaga diri.
Kalimat sederhana.
Namun membuat Rizuki terdiam lama.
Rizuki:
Kamu juga.
Mereka berhenti di situ.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Namun jarak itu terasa… lebih bisa diterima.
DUA DUNIA, SATU GARIS TIPIS
Rizuki meletakkan ponsel.
Ia kembali menatap layar proyek.
R Technology masih tanpa wajah, tanpa publik, tanpa cerita.
“Jika suatu hari,” bisiknya pelan,
“aku tidak bisa lagi menyembunyikan ini…”
Bayangan Vhiena kembali muncul.
“Apakah kamu masih mau berdiri di sisiku?”
Pertanyaan itu tidak ia ucapkan.
Dan belum akan.
Di kota yang jauh, Vhiena mematikan lampu kamarnya. Ia berbaring, memegang ponsel di dadanya.
“Aneh,” bisiknya.
“Aku nggak tahu apa-apa tentang kamu tentang duniamu…
tapi aku tetap ingin kamu baik-baik saja.”
Hujan akhirnya turun pelan di luar.
Di dua tempat berbeda.
Di dua dunia berbeda.
Namun untuk sesaat,
mereka berada di keheningan yang sama.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/