NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Sejak kecil, Nara sudah terbiasa mendengar kalimat, “Kamu memang tidak pintar.”

Bukan dari orang lain,melainkan dari rumahnya sendiri.

Nilai-nilai di rapornya selalu berada di bawah garis aman. Matematika, fisika, akuntansi, semuanya seperti bahasa asing yang tak pernah bisa ia pahami. Setiap kali guru membagikan hasil ujian, Nara hanya menunduk, berharap namanya tidak disebut paling akhir.

Namun anehnya, saat pelajaran menggambar busana dimulai, tangannya seperti hidup.

Pensil menari. Garis-garis terbentuk dengan pasti. Gaun, rok, jas, semua lahir dari imajinasinya tanpa ragu.

“Tapi apa gunanya?” ayahnya Nara pernah berkata dingin.

“Nilai akademikmu saja memalukan.”

Kalimat itu menempel di kepala Nara bertahun-tahun.

Nara lulus SMK dengan nilai yang, menurut keluarganya, “biasa saja”. Tak ada yang merayakan. Tak ada pelukan bangga. Hanya keheningan dan wajah-wajah kecewa.

Saat surat beasiswa itu datang, Nara membacanya berulang kali, takut ia salah paham.

Beasiswa penuh. Sekolah mode di luar kota. Termasuk uang pangkal. Tangannya gemetar. Ini bukan mimpi.

Namun reaksi orang tuanya mematahkan semua harapan itu.

“Kamu mau ngapain sekolah jauh-jauh?”

“Buat apa? Kamu kan tidak pintar.”

“Lebih baik kerja saja.”

Malam itu, Nara menangis diam-diam. Ia tahu, jika ia menuruti mereka, hidupnya akan berhenti di tempat yang sama selamanya.

Dan untuk pertama kalinya, Nara memilih nekat.

Nara memilih untuk mengambil beasiswa itu meskipun tanpa dukungan.

Hari keberangkatan akhirnya tiba, Nara membawa satu koper kecil, beberapa baju sederhana, buku sketsa, dan beberapa barang pribadi, Tak ada yang mengantar. Tak ada pesan perpisahan hangat.

Hanya satu kalimat dari ibunya, “Kalau gagal, jangan pulang.”

Nara mengangguk. Lalu pergi.

Nara akhrinya sampai di kota tujuan. Kota itu terlalu besar. Terlalu ramai. Terlalu mahal.

Harga kos yang Nara lihat membuat dadanya sesak. Beasiswa memang menanggung biaya sekolah, tapi tidak dengan tempat tinggal dan makan. Setiap lembar uang di dompet Nara terasa seperti napas terakhir.

Hingga sebuah lowongan sederhana muncul di papan pengumuman online. Karena Nara memang mencari pekerjaan.

Dibutuhkan asisten rumah tangga. Rumah kosong. Disediakan tempat tinggal dan makan.

Nara membaca berulang kali.

"Rumah kosong berarti aman. Gratis tempat tinggal dan makan berarti bertahan hidup." pikir Nara, apalagi lokasinya tidak jauh dari tempat Nara menimba ilmu.

Tanpa gengsi, Nara melamar. Rumah yang di datangi Nara, jauh dari kata sederhana.

Pagar tinggi. Halaman luas. Bangunan megah dengan desain modern. Nara hampir berbalik pulang. Namun pintu sudah terbuka.

Seorang pria berdiri di sana, tinggi, rapi, dengan aura tenang yang sulit dijelaskan. Usianya sekitar tiga puluh tahunan. Wajahnya dingin, matanya tajam, tapi tidak menyeramkan.

“Kamu Nara?” tanyanya singkat.

“I-iya, Pak.”

“Masuk.”

Di dalam, rumah suasana terasa kosong. Bersih. Sunyi.

“Saya jarang di rumah,” kata pria yang ada di hadapan Nara.

“Kamu masak satu kali sehari, itu jika saya di rumah, hanya untuk sarapan, Urusan bersih-bersih ada petugas lain. Kamu bebas setelah tugas selesai.”

Nara mengangguk cepat.

“Kalau tidak cocok, bilang.” lanjut bosnya Nara.

Nara mengangguk lagi.

Dan pria di hadapan Nara memperkenalkan diri namanya Arkan. Itu saja yang ia katakan.

Malam pertama di rumah besar, Nara menangis pelan di kamar yang tidak kecil yang disediakan untuknya. Bahkan lebih bagus kamar pembantu ini daripada kamar Nara di rumah.

Nara menangis bukan karena sedih. Tapi karena lega.

Ia tidak kelaparan. Ia punya tempat tidur. Ia bisa sekolah. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada yang mengatakan ia bodoh.

***

Hari-hari berlalu pelan. Nara menjalani rutinitasnya tanpa banyak bicara. Ia bangun pagi, memasak, lalu pergi ke kampus dengan langkah kecil berlari agar tidak terlambat. Malam hari, ia mengeluarkan buku sketsanya dan menggambar diam-diam.

Nara tidak tahu, pria pendiam yang menjadi bosnya itu, perlahan mulai memperhatikannya.

Cara Nara selalu tersenyum meski lelah. Cara gadis itu tidak pernah meminta apa pun. Dan cara hidup di rumah itu berubah, tanpa suara, tanpa paksaan.

Nara datang sebagai gadis yang diremehkan. Tanpa ia sadari, takdir sedang menyiapkan jalan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.

Arkan tidak pernah menyukai rumahnya sendiri. Terlalu besar. Terlalu rapi. Terlalu sepi.

Ia terbiasa pulang larut malam, membuka pintu tanpa suara, lalu menutupnya kembali dengan perasaan hampa. Tidak ada lampu yang menyala, tidak ada aroma masakan, tidak ada suara selain langkah kakinya sendiri.

Namun setelah satu minggu kehadiran Nara, ada sesuatu yang berubah. Dan Arkan menyadarinya tanpa perlu berpikir panjang.

Malam itu, Arkan pulang lebih awal dari biasanya.

Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sembilan malam. Ia sempat ragu, biasanya di jam segini rumah sudah gelap. Namun begitu pintu terbuka, cahaya lampu temaram menyambutnya.

Ada suara pelan. Bukan televisi. Bukan musik.

Suara mesin jahit. Arkan berhenti melangkah.

Di sudut ruang kerja kecil yang jarang ia gunakan, Nara duduk dengan fokus penuh. Rambutnya diikat asal, wajahnya serius, tangannya bergerak lincah mengatur kain dan benang. Mesin jahit tua yang selama ini hanya menjadi pajangan, kini hidup di tangan gadis itu.

Ia tidak menyadari kehadiran Arkan.

Arkan berdiri cukup lama, hanya mengamati.

Entah sejak kapan, rumahnya memiliki denyut.

Beberapa hari sebelumnya, Nara sempat menghampiri Arkan dengan wajah ragu.

“Pak… saya boleh tanya sesuatu?”

Arkan menoleh sekilas dari laptopnya.

“Apa?”

“Mesin jahit di ruang kerja itu… boleh saya pakai?”

Arkan mengernyit tipis. Ia bahkan lupa memiliki mesin jahit itu. Sebuah mesin lama yang entah kenapa dulu ia beli, lalu diletakkan di rumah tanpa pernah disentuh.

“Kalau rusak?” tanya Arkan datar. Yang sebenarnya hanya untuk mengetes Nara.

“Saya akan bertanggung jawab,” jawab Nara cepat.

Arkan mengangguk.

“Pakai saja.”

Tak ada larangan. Tak ada pertanyaan.

Namun Arkan tak menyangka, sejak hari itu, mesin itu benar-benar menemukan tuannya.

Masakan Nara juga perlahan masuk ke lidah Arkan.

Awalnya biasa saja. Tidak istimewa. Bahkan cenderung sederhana. Tapi entah kenapa, setiap kali Arkan duduk di meja makan, piringnya selalu bersih.

Tidak ada rasa dipaksa. Tidak ada basa-basi.

Nara memasak dengan porsi pas, rasa yang tenang, dan tidak banyak bertanya.

Arkan yang merasakan sekarang rumahnya lebih hidup, Arkan mulai pulang lebih cepat.

Bukan karena pekerjaan berkurang, tapi karena ada sesuatu yang menunggunya, meski ia sendiri belum berani mengakuinya.

Kadang Arkan mendapati Nara masih terjaga, duduk di lantai dengan buku sketsa terbuka. Kadang ia melihat gadis itu menguap sambil tetap menjahit, menahan kantuk karena tugas kampus.

“Kamu tidak tidur?” tanya Arkan saat mendapati Nara masih terjaga.

“Sebentar lagi, Pak,” jawab Nara sambil tersenyum.

Arkan mengangguk.

“Jangan terlalu memaksakan diri.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dan Nara membeku sesaat sebelum mengangguk patuh.

Ada perubahan kecil yang Arkan rasakan.

Ia mulai mengenali suara langkah Nara. Mulai terbiasa dengan aroma kopi yang diseduh malam-malam. Mulai merasa aneh jika rumah terlalu sunyi.

Dan tanpa sadar, ia mulai memperhatikan.

Cara Nara tidak pernah meminta tambahan apa pun. Cara gadis itu selalu bangun lebih pagi darinya. Cara ia tetap sopan, menjaga jarak, tahu batas.

Padahal Arkan tidak akan keberatan jika Nara meminta lebih.

Malam ini, Arkan duduk di sofa, membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan. Nara masih di ruang kerja kecil, menjahit dengan fokus penuh.

Lampu rumah tidak lagi terasa dingin.

Arkan menutup laptopnya perlahan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menyadari satu hal sederhana, Rumahnya kini, terasa hidup.

Dan penyebabnya adalah seorang gadis muda yang datang tanpa membawa apa-apa, selain ketekunan dan senyum sederhana.

Arkan tidak tahu sejak kapan. Tidak tahu bagaimana.

Yang ia tahu hanya satu, kehadiran Nara telah mengisi ruang kosong yang selama ini ia abaikan.

Dan ia belum siap jika suatu hari, rumahnya kembali sunyi.

1
Risma Surullah
alurnya bagus
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
Drama Queen
lanjut
piah Hasan
1001 ya cara pwrempuan mau jadi pelakor..
Uthie
keep dulu ya 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!