Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meski Susah Dan Miskin, Jangan Minta-minta Sama Orang Lain
"Angkasa.. nanti kalau ibunya tanya pulang dengan siapa, jangan bilang sama om, ya!" Ucap Sean kepada Angkasa saat mengantarkan Angkasa pulang.
"Kenapa om?"
"Om sama ibu kamu lagi berantem. Nanti kalau dia tau om yang nganterin kamu, Om takut kamu dimarahi."
"Baik om." Jawab Angkasa setuju.
"Kita jajan dulu, yuk!" Ajak Sean menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket.
Sean kemudian membantu Angkasa turun dan mengajaknya masuk ke minimarket tersebut.
"Silahkan pilih, Angkasa mau apa."
"Enggak om." Angkasa menggeleng cepat.
"Kenapa sayang?" Tanya Sean heran.
"Kata ibu, meski kita susah dan miskin, kita gak boleh minta-minta sama orang lain. "
Sean mengusap lembut kepalnya Angkasa.
"Om kan bukan orang lain. Bukankah sekarang kita sudah temanan?" bujuk Sean.
" Baiklah om. Angkasa terima apa saja yang ingin om belikan."
Sean tersenyum dan mengangkat tubuh Angkasa, menaikkannya ke troli belanja dan mendorongnya. Angkasa tak henti-hentinya tertawa. Dia merasakan bahagia.
Sean pun begitu semangat memasukkan beberapa jajanan ke dalam troli. Dia cukup selektif memilih makanan dan jajanan untuk Angkasa.
"Om.." Ucap Angkasa.
" Iya."
"Angkasa boleh beli itu?" Tanyanya menunjuk sebungkus ciki.
Sean menatap ciki itu, dan dia sadar kalau ini makanan ringan kesukaan Senja dulu.
" Boleh. Pasti buat ibu kamu ya! "
Angkasa mengangguk.
Sean kemudian mengambil beberapa bungkus dan memasukkannya ke troli belanjaan.
Saat membayar di kasir, Angkasa terus menggenggam tangannya Sean. Mereka tampak seperti ayah dan anak. Dan itu membuat Angkasa senang.
-
-
"Sean?" Rea cukup terkejut melihat Sean dengan seorang anak laki-laki.
"Rea.." Jawab Sean.
"Kamu gak ngantor? Lalu anak ini?" Rea menatap anak laki-laki di samping Sean.
" Ini.. Dia anak teman aku. Tadi dia nitipin ke aku sebentar. " Alasan Sean berharap Rea percaya.
"Oh." Jawab Rea, namun matanya terus menatap Angkasa. Hati kecilnya pun berkata entah kenapa wajahnya begitu mirip dengan Sean.
"Kamu.." Ucap Sean.
"Aku lagi beli sesuatu." Jawab Rea.
"Oh ya beb, kita udah lama gak ngedate. Kapan kamu punya waktu untuk aku?" Rea merangkul lengan Sean sedikit manja.
"Iya maaf. Akhir-akhir ini aku sibuk, sampai gak punya waktu sama kamu. Tapi aku janji, malam Minggu ini kita jalan."
" Serius?" Rea terlihat begitu senang.
"Iya.." Sean mengangguk.
"Aku anterin anak teman aku pulang dulu ya! Kamu bisa pulang sendiri atau aku anterin juga?"
"Gak usah beb. Aku bawa mobil sendiri. Kamu hati-hati nyetir!"
"Iya.." Angguk Sean mengusap lembut kepalanya Rea.
Sean pun akhirnya mengantarkan Angkasa pulang ke rumahnya.
" Ayo om,masuk dulu!" Ucap Angkasa mengambil kunci di bawah pot bunga yang di letakkan Senja.
Hati Sean langsung terenyuh melihat tempat tinggal Senja dan Angkasa. Dari luar saja,sudah terlihat tak layak huni.
" Ayo,om!" Angkasa menarik tangan Sean masuk ke dalam.
Sean melangkah masuk ke dalam. Di dalam cukup rapi dan bersih. Ada dapur,cuma ruang utama dan kamar disatukan.
" Kamu tidur di sini?" Tanya Sean pada Angkasa saat melihat ada kasur kapuk yang tipis dan hanya ada satu.
" Iya om. Ini tempat tidur Angkasa. Semangat ibu,tidur di atas karpet ini."Jawab Angkasa merapikan jajanan yang dibelikan untuknya tadi.
Mata Sean terasa menghangat saat melihat ini semua.Air matanya,dia tahan agar tak menangis di depan Angkasa.
Sean kemudian menatap beberapa lembar foto Senja dan Angkasa yang di tempel ke dinding dengan selotip.
"Kamu terlihat bahagia,meski tak ada aku di situ Senja." lirihnya dalam hati menatap satu foto Senja dengan Angkasa yang lagi tertawa.
"Om,pulang dulu ya!" Ucap Sean akhirnya tak kuat lama-lama melihat keadaan hunian Senja dan Angkasa.
"Iya om. Terimakasih udah anterin Angkasa dan jajanin juga ."
" Iya sayang. Sama-sama."Jawab Sean.
"Kamu yakin sendirian di sini?"
"Gak apa-apa om,nanti Angkasa setelah ini mau ke warung Nini sambil nungguin ibu pulang"
"Yaudah,kalau gitu om pulang dulu." Ucap Sean meninggalkan Angkasa sendirian,meski dia sendiri juga tak tega. Namun dia tak bisa berlama-lama di sana. Takut nanti ada yang lihat dan melaporkan ke Senja.
***
Sementara itu Senja masih berkutat di depan komputer. Dia cukup lega, saat Dina mengirim pesan dan mengatakan kalau dirinya yang mengantarkan Angkasa pulang, karena ojek langganan yang menjemput Angkasa, motornya rusak.
" Senja! Ayo ikut saya!" Ucap Dirgantara berdiri dari meja kerjanya.
" Mau kemana pak? " Tanya Senja singkat. Dia masih kesal dengan sikap Dirgantara pagi tadi.
" Temani saya mengantarkan berkas ini ke ruang direktur. "
"Ruang direktur? Berarti ruangan om Reno dong?" gumam Senja dalam hati.
"Baiklah!" Ucap Senja setuju begitu saja.
Mereka kemudian naik lift menuju ruangan Direktur. Namun saat pintu lift akan terbuka, Senja malah memencet ke lantai dasar. Lebih tepatnya dibagian parkiran.
"Senja!Apa maksud kamu?" Dirgantara kaget dengan sikap Senja.
Saat pintu lift terbuka, Senja menarik Dirgantara keluar .
" Saya tak tau apa tujuan anda sebenarnya. Tapi tolong jangan bawa-bawa saya dan anak saya dalam misi anda! "
"Maksud kamu!"
"Jangan berpura-pura bodoh pak Dirgantara. Soal pertolongan anda terhadap saya di masa lalu, saya ucapkan terimakasih. Namun saya tak menyangka anda punya rencana licik seperti ini. Menggunakan hubungan masa lalu saya dengan Sean, untuk mengancam Sean dan keluarganya kan?" Lanjut Senja emosi.
Dirgantara malah terkekeh mendengar ocehan kesal Senja.
" Saya dan anak saya, hanya ingin hidup tenang. Dan saya tak mau anda memanasi-manasi Sean lagi. Anda sendiri juga tau, Saya dan dia hanya masa lalu. Dia punya wanita yang dia cintai saat ini. Jadi jangan rusak hubungan mereka! "
" Maksud kamu, yang saya lakukan tadi pagi untuk membuat Sean cemburu?"
Senja mengangguk.
" Kamu salah paham. Bagaimana kalau saya benar-benar tertarik kepada kamu? " Bisik Dirgantara ke telinga Senja. Membuat Senja menatapnya.
Sean ternyata melihat mereka saat memakirkan mobilnya. Dari posisi dia, terlihat Senja dan Dirgantara seperti sedang bercumbu,padahal tidak sama sekali. Sean mengepalkan tangannya dan memukul setir mobil. Hati kecilnya tak terima, jika ada yang menyentuh Senja. Cukup egois memang. Namun entah mengapa dia benar-benar tak rela melihat ini semua.