Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Di saat terpojok, Iren mengumpulkan kekuatannya lalu mendorong tubuh Kevin agar segera menjauh darinya.
“Cukup, Vin. Ini sudah tidak lucu!” suaranya meninggi, tegas, tidak bergetar. “Tetaplah di situ. Aku sudah janji, kalau aku sudah siap, aku yang akan meminta sendiri.”
Kevin terhuyung setengah langkah ke belakang. Bukan karena dorongan itu kuat, melainkan karena ia tidak menduga Iren akan seberani ini.
“Dulu kamu juga janji,” lanjut Iren tanpa memberi waktu Kevin bicara, “kamu bilang akan selalu menghormati pilihanku.”
Tatapan Kevin menajam, rahangnya mengeras. Namun, Iren tidak peduli ia tetap melanjutkan kalimatnya.
“Jangan jadi lelaki pecundang!”
Kata-kata itu menghantam telak. Lebih keras dari dorongan barusan.
Iren berdiri tegak di hadapannya. Dadanya naik turun, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang selama ini ia simpan rapi. Tangannya mengepal di sisi tubuh, lalu perlahan mengendur saat ia menarik napas panjang.
Kevin masih di sana. Ia tidak maju, tidak juga pergi. Namun sesuatu di bahunya runtuh perlahan. Ketegangan yang tadi menggantung berubah menjadi hening yang canggung, hening yang tidak memberi ruang bagi pembelaan apa pun.
“Aku capek,” ucap Iren akhirnya. Nadanya kini datar, seolah kejadian barusan hanyalah percakapan biasa. “Capek harus menjelaskan hal yang sama berulang kali.”
Kevin menatapnya. Ada banyak hal di matanya, tapi kali ini ia memilih untuk diam.
“Kamu selalu bicara soal empat tahun,” lanjut Iren sambil merapikan rambutnya sendiri.
Gesturnya tenang, terlalu tenang. “Seolah itu beban yang sepenuhnya aku titipkan ke kamu.”
Ia melangkah menjauh satu langkah. Sengaja. Membuat jarak dengan sadar.
“Padahal kamu bisa pergi kapan saja kalau memang tidak sanggup.”
Kalimat itu sederhana, nyaris ringan. Tapi justru di situlah Kevin merasa dadanya ditekan.
“Aku tidak pernah menahanmu,” sambung Iren. “Kamu yang memilih bertahan. Jadi jangan jadikan aku alasan atas keputusanmu sendiri.”
Tangan Kevin mengepal, lalu kembali mengendur. Kali ini benar-benar mengendur.
“Kamu tahu aku tidak seperti itu,” ucap Kevin dengan nada rendah.
Iren menoleh. Tatapannya dingin, tanpa rasa bersalah. “Aku tahu kamu selalu bilang begitu.”
Ia berjalan melewatinya menuju kamar. Di ambang pintu, langkahnya terhenti sesaat.
“Malam ini aku ingin tidur sendiri,” katanya singkat. “Dan, Vin… jangan buat aku merasa bersalah hanya karena aku jujur pada diriku sendiri.”
Pintu kamar tertutup perlahan, tidak dibanting dan tidak pula dilembutkan. Justru itu yang terasa paling menyakitkan.
Kevin berdiri sendirian di ruang itu, merasa aneh pada dirinya sendiri, awalnya ia sudah mengumpulkan semua kekecewaan yang akhirnya bangkit menjadi keberanian. Namun, seperti biasa saat berhadapan dengan Iren melihat kekecewaan di mata wanita itu ia melemah seketika, bahkan tak sanggup melawan setiap kata yang dikeluarkan wanita itu untuknya.
"Dasar tak guna! Benar-benar pecundang!" umpat Kevin pada dirinya sendiri.
***
Esok harinya, seperti biasa, Iren sibuk dengan rutinitas paginya. Ia bersiap untuk bekerja dengan gerakan teratur, seolah kejadian semalam tak pernah ada. Hidupnya memang selalu begitu, rapi di luar, berantakan di dalam.
Iren terlahir dari keluarga yang cukup mampu. Orang tuanya telah lama merintis bisnis mebel yang sempat disegani. Namun semuanya berubah sebelum ia menikah dengan Kevin. Ayahnya meninggal dunia dan meninggalkan utang di mana-mana. Di saat yang sama, Vano pergi tanpa menoleh ke belakang, meninggalkannya dalam kondisi paling rapuh.
Di titik itulah Kevin datang. Bukan dengan janji manis, melainkan dengan tindakan. Saham yang ia dapat dari Vano diserahkan kepada Iren. Dari sanalah Iren perlahan bangkit, menyelamatkan bisnis keluarganya, dan kembali berdiri di atas kakinya sendiri. Kevin tidak pernah meminta balasan. Ia hanya menikahinya.
Setelah pernikahan itu, Kevin memilih bekerja dari rumah sekaligus mengurus rumah tangga mereka. Sebuah keputusan yang sejak awal tidak pernah benar-benar diterima keluarga Iren. Bagi mereka, Kevin hanyalah lelaki yang bersembunyi di balik rumah, tidak menghasilkan apa pun, dan hidup dari bayang-bayang istrinya.
Hinaan datang tanpa jeda. Sindiran demi sindiran dilontarkan terang-terangan, tanpa usaha untuk ditutupi.
Kevin menerimanya. Ia menelan semuanya dengan tenang. Bukan karena tidak terluka, melainkan karena ia percaya. Percaya bahwa pengorbanannya akan membuat pernikahan itu tumbuh kokoh. Percaya bahwa suatu hari nanti, semua yang ia tahan akan terbayar.
Ia tidak tahu, atau mungkin tidak mau tahu, bahwa tidak semua pengorbanan berakhir dengan penghargaan.
Namun pagi ini, rumah terasa berbeda.
“Vin, di mana blazerku? Aku sudah terlambat,” suara Iren terdengar dari kamar, tajam dan terburu-buru.
Tidak ada jawaban.
Iren keluar kamar dengan langkah cepat. Dapur sunyi dan meja makan kosong. Tidak ada aroma kopi, tidak ada suara peralatan masak.
“Kok belum ada sarapan?” tanyanya, nada kesalnya naik.
Kevin muncul dari ruang kerja, bukan dari dapur. Kemejanya rapi, wajahnya tenang, terlalu tenang.
“Aku tidak menyiapkan apa pun,” katanya singkat.
Iren terdiam. Bukan karena marah, melainkan karena tidak terbiasa.
“Kamu kenapa?” tanyanya akhirnya.
Kevin menatapnya. Tatapan yang sama sekali tidak meminta pengertian.
“Aku hanya melakukan apa yang kamu minta semalam,” jawabnya pelan. “Berhenti memaksakan diri.”
Iren tercekat. Kata-kata itu sederhana, tapi menghantam lebih keras daripada teriakan. Namun, Iren justru menarik sudut bibirnya dan berkata, "Kamu masih marah karena kejadian semalam. Vin... Pertengkaran antara suami istri itu wajar, kamu jangan langsung mengambil hati lalu bertingkah seperti anak kecil."
"Iren..."
"Baiklah, aku minta maaf, kali ini aku akan anggap kamu hanya ngambek saja. Tapi jangan lama-lama, rumah ini terasa kosong kalau kamu diam dan tidak melakukan apapun," ucap Iren.
Kevin menarik napas perlahan. Bukan napas orang yang hendak marah, melainkan napas seseorang yang sedang menahan diri agar tidak kembali runtuh.
“Aku tidak sedang ngambek,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, stabil. “Dan aku juga tidak sedang marah.”
Sejak tadi, Iren berdiri dengan satu tangan meraih tas kerjanya. Jemarinya sempat ragu, lalu tanpa sadar meraba ponsel di dalamnya. Layar itu menyala singkat, notifikasi masuk, lalu ia kunci kembali seolah tak penting.
Iren menatap Kevin dengan alis terangkat, jelas tidak percaya.
“Aku hanya berhenti melakukan sesuatu yang membuatku merasa tidak dihargai,” lanjut Kevin. “Itu saja.”
Iren tertawa kecil, hambar. “Vin, kamu terlalu sensitif.”
Kalimat itu membuat bahu Kevin menegang sesaat. Namun ia tidak membalas dengan nada tinggi. Ia justru melangkah mendekat, berhenti pada jarak aman, jarak yang tidak mengintimidasi, tapi cukup untuk membuat suaranya terdengar jelas.
“Selama ini, setiap kali aku diam, kamu bilang aku dewasa. Setiap kali aku mengalah, kamu bilang aku pengertian,” ujarnya. “Tapi begitu aku berhenti, sedikit saja, kamu bilang aku kekanak-kanakan.”
Di tengah kalimat itu, ponsel Iren kembali bergetar. Kali ini ia tak menahannya. Layar dibuka. Satu pesan masuk, disusul pesan lain. Nama Vano terpampang di sana.
Iren menunduk sedikit, jarinya bergerak cepat membalas. Dunia di sekelilingnya seakan menyempit menjadi layar kecil di genggamannya.
Kevin masih berbicara. Suaranya tetap tenang, tetap terkontrol. Namun kata-katanya tak lagi punya tujuan.
“Iren.”
Tidak ada reaksi.
“Iren,” ulangnya, sedikit lebih keras.
Tetap tidak ada jawaban.
Kevin berhenti bicara. Dadanya terasa kosong saat menyadari satu hal yang selama ini ia abaikan dengan sengaja. Bukan karena Iren tidak mendengarnya. Tapi karena ia tidak lagi dianggap penting untuk didengar.
“Iren Winata!”