Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Lorong-Lorong Pengkhianatan
Arkanza menatap surat yang terselip di bawah pintu menara dengan tatapan skeptis. Tangannya yang masih dipenuhi bintik merah sisa serangan alergi tadi meremas kertas itu hingga lecek.
"Jangan mempercayainya, Aira. Ini bisa jadi jebakan Edward untuk memancing kita keluar agar dia punya alasan untuk 'mengeksekusi' kita karena mencoba melarikan diri," desis Arkanza.
Aira, yang sedang duduk di tepi ranjang besar berkelambu, menatap Arkanza dengan mata yang memancarkan tekad. "Tapi Arkan, kalau kita diam di sini, kita hanya menunggu waktu sampai dia memutilasimu seperti ancamannya tadi! Setidaknya, pelayan rahasia ini menyebut nama Ibu. Hanya orang-orang dekat yang tahu Ibu punya pelayan setia di kastel ini."
Arkanza berjalan mendekati Aira, berlutut di depannya dan menggenggam kedua tangan istrinya. "Aku tidak takut mati, Aira. Aku takut kehilanganmu. Jika kita keluar lewat jalur pembuangan air itu dan terjadi sesuatu padamu di kegelapan sana, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."
"Kita tidak punya pilihan lain!" Aira menarik tangannya, suaranya naik satu oktav karena frustrasi. "Kau selalu ingin menjadi pelindung, tapi terkadang kau harus membiarkan aku membantumu! Aku bukan lagi pelayan lemah yang kau temui di Jakarta, Arkanza!"
Arkanza terdiam, menatap mata Aira yang berkilat. Ia menarik napas panjang, mencoba menekan egonya yang posesif. "Baiklah. Jam tiga pagi. Tapi kau tidak boleh lepas dari jangkauan lenganku. Sedikit pun."
Pukul 03:00 Pagi – Jalur Pembuangan Menara Utara
Dengan bantuan obeng kecil yang Arkanza temukan di dalam kotak perkakas darurat di kamar, mereka berhasil membuka penutup besi kecil di sudut ruangan yang menuju ke jalur pembuangan air tua. Bau lembap dan lumut segera menyeruak.
"Aku duluan," bisik Arkanza tegas. Ia turun ke dalam lorong sempit yang gelap, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Aira turun.
Mereka merangkak di dalam kegelapan selama hampir lima belas menit hingga sampai di sebuah ruangan bawah tanah yang dipenuhi tong-tong anggur tua. Di sana, seorang wanita tua dengan pakaian pelayan kusam sudah menunggu sambil memegang sebuah lentera kecil.
"Nona Aira... demi Tuhan, kau sangat mirip dengan Nyonya Riana," wanita itu terisak kecil, mencoba menyentuh wajah Aira.
Arkanza segera menghalangi, berdiri di depan Aira dengan sikap siaga. "Siapa kau? Dan kenapa kau membantu kami?"
"Nama saya Martha. Saya adalah pengasuh Riana sejak kecil. Saya yang membantu ibumu melarikan diri tiga puluh tahun lalu," jawab wanita itu dengan suara gemetar. "Edward sudah gila. Dia tidak hanya menginginkan kode itu, dia berencana menghancurkan seluruh bukti keberadaan Riana, termasuk kalian berdua, setelah dana itu cair."
"Lalu apa rencanamu, Martha? Kami tidak bisa keluar dari gerbang depan yang dijaga ketat," tanya Arkanza dingin.
"Ada terowongan rahasia di balik rak anggur nomor 1985—tahun kelahiran ibumu. Terowongan itu menuju ke hutan di balik bukit. Di sana, ada seseorang yang menunggu kalian," Martha menyerahkan sebuah kunci tua ke tangan Aira. "Pergilah, Nona. Jangan biarkan pengorbanan ibumu sia-sia."
"Martha, ikutlah dengan kami!" ajak Aira haru.
"Tidak, Nona. Seseorang harus tetap di sini untuk mengunci pintu dari dalam agar mereka mengira kalian masih di menara. Pergilah!"
Di Dalam Terowongan Rahasia
Lorong itu sangat sempit dan dingin. Arkanza memimpin di depan, sesekali berhenti untuk memastikan Aira masih di belakangnya. Di tengah perjalanan, guncangan hebat terjadi. Suara ledakan terdengar dari arah atas.
"Mereka sudah tahu kita hilang!" Arkanza menarik Aira ke dalam dekapannya saat debu jatuh dari atap terowongan.
"Arkan, aku takut..." bisik Aira, tubuhnya gemetar hebat.
Arkanza memutar tubuh Aira, menekannya ke dinding terowongan yang dingin. Di bawah temaram cahaya senter ponselnya, Arkanza menatap Aira dengan intensitas yang meluap. "Dengar aku, Aira. Jika terowongan ini runtuh, aku akan menjadikanku tameng untukmu. Kau harus tetap hidup."
"Berhenti bicara soal kematian!" Aira menarik kerah kemeja Arkanza dan menciumnya dengan kasar, sebuah ciuman yang penuh dengan rasa putus asa dan cinta yang mendalam.
Arkanza membalas ciuman itu dengan posesif, seolah ingin menyesap seluruh keberadaan Aira ke dalam dirinya. "Kau adalah milikku, Aira Kirana. Bahkan maut pun harus meminta izin padaku untuk menyentuhmu."
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari arah belakang mereka. Cahaya senter yang kuat menembus kegelapan terowongan.
"Tuan Arkanza! Nona Aira! Berhenti di sana!" Itu suara Arthur Kingsley.
Arkanza menyeringai pahit, ia mengeluarkan pisau lipat yang ia sembunyikan di sepatunya. "Sepertinya tikus London ini lebih lincah dari dugaanku."
"Aira, lari terus ke depan! Jangan menoleh!" perintah Arkanza.
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu bertarung sendirian!"
"INI PERINTAH, AIRA!" bentak Arkanza, matanya berkilat merah. "Lari atau kita berdua akan mati di sini!"
Aira ragu, namun saat melihat Arthur dan dua orang pengawalnya sudah mendekat dengan senjata api, ia terpaksa berlari ke ujung terowongan.
Arkanza berdiri tegak di tengah lorong sempit, menghalangi jalan. "Arthur... mari kita lihat siapa yang lebih cepat, pelurumu atau pisauku di ruang sempit ini."
...****************...
Suara tembakan menggema di dalam terowongan sempit itu, diikuti oleh suara runtuhan batu. Aira sampai di ujung terowongan dan menemukan sebuah mobil hitam sudah menunggu dengan mesin menyala. Pintunya terbuka, dan sesosok pria keluar dari sana.
Bukan Alan, bukan pula tim keamanan Malik. Pria itu adalah Syarif Malik, yang seharusnya ada di penjara Indonesia, namun sekarang berdiri di hutan Inggris dengan borgol yang sudah terlepas.
"Masuk ke mobil, Aira. Jika kau ingin suamimu selamat," ujar Syarif dengan senyum licik yang paling mengerikan yang pernah Aira lihat.