NovelToon NovelToon
JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Sinopsis:

Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.

Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARAH DI TANAH NETRAL

Langit sore menggantung rendah ketika Liang Chen memasuki wilayah pasar perlintasan Qingshui.

Tempat itu bukan kota, juga bukan dusun. Ia lebih menyerupai simpul jalan: tiga jalur tanah bertemu di satu dataran terbuka, dikelilingi kedai kayu, gudang penyimpanan gandum, serta kandang kuda milik para pedagang keliling. Tidak ada bendera perguruan berkibar. Tidak ada lambang kekuasaan terpampang.

Wilayah netral.

Justru karena netral, tempat seperti ini sering menjadi panggung paling kotor.

Liang Chen berjalan dengan ritme biasa. Pakaian perjalanannya berdebu, pedangnya tetap tergantung tanpa mencolok. Ia membeli semangkuk mi hangat di kedai pinggir jalan dan duduk menghadap lapangan terbuka.

Ia makan perlahan, matanya bekerja.

Di sisi utara, tiga gerobak dagang berhenti terlalu rapi. Kuda-kudanya segar, tetapi roda gerobak tampak jarang dipakai. Di sisi barat, dua pria duduk bermain catur batu, namun tatapan mereka terlalu sering mengarah pada orang-orang yang lewat.

Dan di dekat sumur umum, seorang pemuda berseragam pengawal dagang berdiri dengan tangan terlipat, berpura-pura santai.

Liang Chen menyeruput kuah terakhir.

Hari ini bukan hari biasa.

Ia berdiri, membayar, lalu berjalan menuju gudang penyimpanan di tepi lapangan. Bangunan itu besar, pintunya terbuka separuh. Bau gandum kering bercampur keringat manusia.

Belum sampai lima langkah dari pintu, suara keras memecah udara.

Seseorang berteriak.

Liang Chen menoleh.

Di tengah lapangan, seorang pria tua terjatuh. Kantong kainnya robek, isinya tumpah: koin tembaga berhamburan di tanah. Dua orang berpakaian gelap berdiri di depannya.

Bukan perampok biasa. Gerakan mereka terlalu terukur.

Kerumunan mundur.

Tak ada yang membantu.

Wilayah netral memiliki satu hukum tak tertulis: jangan terlibat.

Salah satu pria gelap menendang pria tua itu hingga terguling. “Utangmu jatuh tempo kemarin,” katanya datar.

“Aku sudah bilang—tiga hari lagi…” suara pria tua itu gemetar.

“Tiga hari cukup untuk menghilang.”

Tangannya bergerak, hendak menarik pria tua itu berdiri dengan kasar.

Liang Chen memperhatikan arah angin.

Dua pria di gerobak utara kini turun. Pemain catur batu berhenti. Pengawal di dekat sumur menoleh, tetapi tidak bergerak.

Ini bukan penagihan utang.

Ini pertunjukan.

Dan targetnya bukan pria tua itu.

Salah satu pria gelap tiba-tiba mengangkat kepala, menatap langsung ke arah Liang Chen.

Mata mereka bertemu.

Jadi begini caranya.

Liang Chen melangkah mendekat.

“Berapa utangnya?” tanyanya tenang.

Kerumunan menahan napas.

Pria gelap itu menyeringai. “Kau mau membayar?”

“Kalau jumlahnya masuk akal.”

Pria itu berdiri tegak. Tubuhnya lebih tinggi setengah kepala dari Liang Chen. “Lima puluh tael perak.”

Beberapa orang di kerumunan mengernyit. Jumlah itu cukup untuk membeli rumah kecil.

Liang Chen menatap pria tua itu. Pakaiannya lusuh, tangannya penuh kapalan. Petani, bukan pedagang besar.

“Kau meminjam sebanyak itu?” tanya Liang Chen.

Pria tua itu menggeleng keras. “Lima tael… hanya lima…”

Pria gelap itu tertawa pendek. “Bunga berjalan cepat.”

Tangan kanannya bergerak ke gagang pedang.

Gerakan kecil di sekeliling langsung berubah. Dua pria dari gerobak mendekat perlahan. Pemain catur berdiri. Pengawal di sumur melepas lipatan tangannya.

Liang Chen merasakan lingkaran itu menutup.

Ia tidak menghela napas panjang. Tidak pula menunjukkan gelisah.

“Kalau memang lima puluh,” katanya pelan, “kau tentu memiliki surat utang.”

Pria gelap itu menyipitkan mata. “Kau terlalu banyak bicara untuk orang luar.”

Pedang terhunus setengah.

Liang Chen bergerak lebih dulu.

Langkahnya maju satu setengah tapak, cukup untuk masuk jarak. Tangannya menangkap pergelangan pria itu sebelum bilah terangkat penuh. Putaran kecil pada sendi membuat genggaman lawan melemah.

Bilah pedang terjatuh ke tanah dengan denting tajam.

Pria itu mencoba memukul dengan tangan kiri.

Liang Chen memutar bahu, membiarkan pukulan itu meluncur melewati pipinya. Siku kirinya menghantam rusuk lawan dengan tenaga terukur.

Bukan untuk mematahkan.

Cukup untuk menghentikan napas.

Tubuh pria gelap itu tertekuk.

Namun dua lainnya sudah bergerak.

Satu dari sisi kanan, satu lagi dari belakang.

Liang Chen menendang pedang di tanah hingga meluncur ke arah kaki penyerang kedua. Refleksnya membuat pria itu melompat menghindar, memberi Liang Chen sepersekian detik.

Ia berputar.

Punggungnya hampir bersentuhan dengan tubuh penyerang belakang saat ia merendahkan posisi. Sikutnya menghantam perut lawan itu dari bawah, diikuti dorongan bahu yang membuat pria tersebut terhuyung.

Pisau pendek berkilat dari sisi kanan.

Liang Chen merasakan angin tipis di pipinya.

Terlambat menghindar penuh.

Bilah itu menggores lengannya, merobek kain dan kulit.

Darah mengalir hangat.

Ia tidak mundur.

Sebaliknya, ia melangkah masuk ke dalam jarak pisau, menangkap pergelangan penyerang dan membenturkannya ke lututnya sendiri.

Bunyi retak terdengar jelas.

Pisau terlepas.

Teriakan kali ini lebih keras.

Kerumunan semakin menjauh.

Dua pria dari gerobak kini benar-benar turun tangan. Salah satu membawa tombak pendek.

Jadi inilah ujian sesungguhnya.

Liang Chen mencabut pedangnya.

Bilahnya bersinar redup di bawah cahaya senja.

Tombak menusuk lurus ke dadanya.

Ia memiringkan tubuh, membiarkan ujung tombak meleset sejengkal dari rusuk. Dalam gerakan yang sama, pedangnya menebas batang kayu tombak itu, memotongnya setengah.

Penyerang tertegun.

Kesalahan fatal.

Liang Chen melangkah ke dalam dan menghantam gagang pedangnya ke pelipis pria itu.

Tubuh itu roboh tanpa suara.

Satu lagi datang dari kiri, pedang terangkat tinggi, serangan vertikal penuh tenaga.

Liang Chen mengangkat bilahnya menahan.

Benturan logam memercikkan bunga api kecil.

Tenaga lawan besar, tetapi tekniknya kasar.

Liang Chen memutar pergelangan, menggeser arah tekanan, lalu meluncurkan tebasan cepat ke paha.

Darah memancar.

Pria itu jatuh berlutut, menjerit.

Kini tersisa dua yang masih berdiri—pemuda pengawal dari dekat sumur dan satu pemain catur.

Keduanya ragu.

Liang Chen berdiri di tengah lapangan, napasnya stabil meski darah menetes dari lengannya. Di sekelilingnya, lima pria sudah tergeletak—sebagian mengerang, sebagian pingsan.

Ia tidak mengejar.

“Cukup,” ucapnya.

Suara itu tidak keras, tetapi menggema.

Pemuda pengawal menatap rekan-rekannya yang tumbang, lalu pada pria tua yang masih terduduk gemetar.

Rencana mereka gagal.

Ini bukan mangsa mudah.

Beberapa detik yang terasa panjang berlalu sebelum keduanya mundur perlahan.

Tidak ada perintah. Tidak ada ancaman lanjutan.

Mereka pergi, menyeret yang masih bisa berdiri.

Lapangan sunyi.

Liang Chen menurunkan pedangnya, mengibaskan darah dari bilah sebelum menyarungkannya kembali.

Ia menghampiri pria tua itu, membantu mengumpulkan koin-koin yang tercecer.

“Pergilah dari sini,” katanya pelan. “Malam ini juga.”

Pria tua itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih… aku—”

“Jangan menyebut namaku.”

Pria itu mengangguk cepat.

Liang Chen berdiri.

Ia tahu pertunjukan ini memiliki penonton lebih besar dari sekadar mereka yang hadir di lapangan. Kabar akan menyebar. Tentang pemuda yang melawan kelompok penagih utang bayangan. Tentang darah yang tumpah di tanah netral.

Ia menyentuh luka di lengannya. Tidak dalam, tetapi cukup untuk mengingatkannya satu hal:

Lingkaran pengamatan telah berubah menjadi tekanan terbuka.

Dan mulai hari ini, ia tidak lagi sekadar diawasi.

Ia sedang diuji melalui darah.

Liang Chen melangkah meninggalkan pasar saat matahari tenggelam sepenuhnya.

Di belakangnya, bisik-bisik mulai tumbuh.

Di depannya, jalan semakin sempit.

Namun langkahnya tetap mantap.

Karena kini ia paham—

Dunia persilatan tidak akan puas sampai ia benar-benar memilih sisi.

Dan setiap tetes darah yang jatuh hari ini telah membawa namanya lebih dalam ke pusaran itu.

1
Restu Agung Nirwana
Cocok untuk yang suka adegan pertarungan berdarah-darah 🔥🔥
Happy Alone
Kapan Liang Chen baku hantam? Terima Kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Bab 20+, mulai lebih bnyk adegan pertarungan 🤭
total 2 replies
Happy Alone
Tuh orang gak kedinginan kali ya tidur dibawah pohon begitu. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: hehehe... namanya jg pengembara kak, bisa tdr dmn saja 😄
total 1 replies
Happy Alone
udah aku diduga, hidupnya bakal dipenuhi kemalangan. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Nasib pengembara bebas (Liang Chen) yg gak pny tujuan dan ambisi, cuma mau hidup bebas. Tp tanpa sengaja malah terseret ke dalam konflik dunia persilatan gara-gara di kasih kitab yg blm di ketahui asal-usulnya oleh orang sekarat (Xu Fan). Ya beginilah jdnya 😄
total 1 replies
Happy Alone
Umpan untuk seseorang yang pantas mempelajari kitab. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: smoga suka ya... 🙂
total 3 replies
Happy Alone
Sebenernya awal awal baca agak bingung. Maksudnya, si Liang Chen siapa? Xu Fan siapa? mereka ada dimana? terus tuh buku apaan? tapi udahlah. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Trims apresiasinya kak, mohon dukungannya biar gak kendor 😄
total 6 replies
Happy Alone
Liang Chen, dia pria baik yang akan selalu dapat kemalangan. Namanya ada kata Liang, artinya baik hati. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Wow, sampai arti namanya pun di nilai. Terimakasih, semoga suka sama ceritanya 😍
total 1 replies
Happy Alone
Semangat, Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Iya, terimakasih mohon dukungannya biar makin semangat nulisnya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!