"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24. Masalah bertubi-tubi
Aksara mengajak teman-teman dan Ki Satya untuk singgah di rumahnya. ternyata ada pak Hamdan juga beserta isterinya. Ki Satya bertatapan dengan isterinya pak Hamdan yaitu Bu Tuti.
Bu tuti sedikit tersentak melihat kedatangan laki-laki tua itu. Ia langsung melihat ke arah Rehan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Rehan!" Bu Tuti memeluk Rehan erat seakan takut jika putranya di ambil orang
"Iya Bu, rehan udah pulang dan berhasil membawa senjata itu" ucap Rehan yang membalas pelukan ibunya
Bu Tuti masih terisak karena ia ingat betul siapa Ki Satya. Pria itu adalah orang tua kandung Rehan yang dulu menemuinya untuk merawat Rehan kecil. Namun seiring berjalannya waktu, Bu Tuti sangat menyayangi rehan dan memilki ikatan batin yang kuat.
"Aksara, kamu sudah pulang" pak Rusdi dan Bu Mutia memeluk anak tunggalnya itu dengan sayang
"iya, yah Bu aku juga berhasil mendapatkan busur ini" ucap Aksara bangga
"Alhamdulillah nak, semoga kami bisa menggunakan senjata ini untuk kebaikan" ucap pak Rusdi.
"ah maaf pak karena mengabaikan anda. Kalo boleh tau nama sampean siapa?" tanya Pak Hamdan
"saya Satya, sering di panggil Ki Satya. Saya sengaja ikut kesini karena ingin melihat langsung pertempuran Mereka dengan kolonyowo. Saya juga pasti akan membantu terlebih, anak saya juga akan bertempur dengan iblis itu" ucap Ki Satya
"eemm apakah anak anda Si Elsa ini?" tanya Rusdi
"Ehh bukan Om anaknya Ki Satya itu- hmmpp" ucapan Elsa terhenti ketika mulutnya di sumpal roti yang Ki Satya bawa dari rumah
"kenapa sih Ki?" ucap Elsa kesal
"jangan mengatakan apapun tentang aku dan Rehan!"
Elsa celingak celinguk karena barusan mendengar suara Ki Satya tapi ia melihat jika orang tua itu hanya diam tidak menggerakkan bibirnya sama sekali
"hah apa itu tadi? Masa qorinnya ki Satya" batin Elsa
"dasar Bocah ge*blung!" ketus Ki Satya yang memang sedang telepati dengan Elsa agar tidak ada yang mendengar
"benar-benar qorinnya ini, aku harus hati-hati sama orang tua ini"
Ki Satya hanya memutar bola matanya malas. ia jika menghadapi sifat asli Elsa maka hanya akan darah tinggi.
""ayo kita masuk, semuanya pasti lelah" ajak pak Rusdi mempersilahkan tamu-tamunya masuk
"emm Bu, tadi aku kayak liat mobil ayah sama kak zayy, apa mereka memang kesini?" tanya Nadira yang sedari tadi hanya diam
"huuffttt mereka memang kesini, tapi terjadi sedikit keributan karena para warga yang emosi dengan menghilangnya para anak gadis beberapa bulan ini. dan mereka beranggapan jika semua ini karena keluarga kalian" ucap Pak Hamdan
"hah? Maksudnya gimana om?" tanya Nadira
Pak Hamdan dan pak Rusdi menceritakan tentang kejadian hutan yang terbakar dan hilangnya para gadis desa yang hingga kini belum ditemukan. Para warga merasa jika keluarga Nadira lah yang harus bertanggung jawab.
karena semua yang terjadi ini dulunya karena sang kakek bersekutu dengan iblis hanya ingin kejayaan dan kekayaannya abadi. Hingga tidak memikirkan konsekuensinya jika anak keturunannya yang harus menanggung akibatnya. Hingga setelah ia terlalu jauh masuk ke lembah dosa, rasa sesal menghampiri.
Namun, rasa sesal itu tak berguna karena yang namanya iblis, tidak akan pernah melepaskan pengikutnya atau mangsanya terbebas begitu saja. Iblis selalu serakah, ia akan meminta lebih dari batas kemampuan. Hingga sang pengikut pun akhirnya menjadi budaknya untuk selama-lamanya walaupun si penyembah sudah tiada
"lalu, kemana ayah dan kakak sekarang?" tanya Nadira yang sudah cemas
"sebenarnya..." Bu Mutia ingin mengatakan yang sebenarnya namun ragu
"sebenarnya apa bu? Tolong katakan sama Nadira apa yang terjadi" Nadira mendesak Bu Mutia
"sebenarnya ibumu diculik seseorang dan kemungkinan dibawa ke hutan larangan" ucap Bu Tuti pelan
Nadia terdiam dengan air mata yang mengalir dipipinya. Ia sangat terkejut mendengar kabar bahwa bundanya telah diculik. Setelah berbulan-bulan ia pergi ternyata begitu banyak kejutan yang menghantam pikirannya
"Nadira kamu mau kemana!" Elsa mencoba mengejar Nadira yang berlari keluar rumah
"Cepat kejar dia dan jangan biarkan ia memasuki hutan larangan! Kita harus menunggu kiyai Syafiq terlebih dahulu" ucap Ki Satya
Aksara dan Rehan langsung bergegas mengejar Nadira yang sudah berlari dengan membawa pedangnya. Elsa sudah terlebih dahulu menyusul
"tadi maksud Ki Satya, kiyai Syafiq akan kemari?" ucap pak Hamdan
"iya, dia yang menyegel iblis itu. Namun jika beberapa bulan ini para gadis sudah hilang kemungkinan iblis itu telah terbebas namun sengaja tidak menampakkan diri karena ia akan memancing darah pilihan untuk memasuki kawasannya" jelas Ki Satya
"ya Allah lindungilah putra putri kami" Para orang tua itu merasa cemas dan sedih karena membayangkan nasib mereka yang masih muda justru harus menghadapi iblis yang bisa saja kekuatannya sangat dahsyat.
Akibat ulah satu orang, maka anak keturunannya yang menanggung imbasnya.
.
Nadira terus berlari tanpa menghiraukan orang-orang yang menatapnya dengan kebencian. Ia hanya memikirkan nasib keluarganya yang sudah masuk ke hutan larangan.
"ya Allah lindungi keluarga ku, lindungi bunda ku" Dengan berderai air mata nadira terus berlari hingga sekarang ia sudah berdiri di depan hutan larangan yang sebagian sudah hangus
"aku tau! Aku tau kau sudah bebas! akan ku pastikan malam ini kau akan musnah kolonyowo!" gumam Nadira dengan menatap tajam kedepan
"Nadira berhenti!" Elsa mencekal tangan sahabatnya
"lepaskan aku Elsa! Aku harus menyelamatkan bundaku!" Nadira memberontak dan tangannya terlepas dari genggaman Elsa.
"tunggu Nadira! Kita tidak bisa bertindak gegabah kita harus tenang" Aksara mencoba untuk menenangkan Nadira
"tenang? Aku harus tenang?! Apa kamu g*la aksara! keluarga ku didalam sana! Entah bahaya apa yang akan mereka hadapi disana aksara!" Nadira menangis Terisak
"iya, kita tidak bisa bersikap tenang saat ini. Tapi kita juga harus memikirkan hal ini dengan matang Nadira, jika seperti ini maka iblis itu akan sangat mudah mengalahkan kita " ucap Aksara
"iya, Nadira kurasa bundamu diculik kesana juga pasti hanya untuk memancing mu agar mentalmu lemah dan menjadikan bunda Liana kelemahan mu nanti" ucap Rehan
"Nadira please Kita tunggu kiyai Syafiq sebentar lagi ya" ucap Elsa memeluk sahabatnya
Nadira semakin terisak karena ia ingin cepat-cepat menyelamatkan bundanya, namun apa yang di ucapkan oleh teman-temannya itu benar. Jika ia bersikap gegabah maka iblis itu akan sangat mudah mengalahkannya.
"hahaha ini saat yang ku tunggu-tunggu. Sebentar lagi dendam ku akan terbayar lunas. Aku akan bisa menghidupkan putriku kembali" Seseorang yang mengawasi Dari balik pohon merasa senang karena ia berhasil membuat mereka kelimpungan dengan masalah yang menimpa keempat sekawan itu.
Para warga membenci keluarga Nadira juga bukan murni dari hati, namun karena ia yang menyebarkan fitnah dan tuduhan agar wijaya dan keluarganya merasa bersalah dan perlahan mental mereka yang hancur lebur duluan.
"Tuanku akan membangkitkan anakku sebentar lagi hahaha"