Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
"Halo, dengan Best Bakery? ... Jadi begini, Mas, kemarin kan saya dapat panggilan interview dari Best Bakery, tapi udah terlanjur saya tolak, bagaimana kalau saya hari ini bersedia untuk melakukan interview, apakah masih bisa diterima?"
Viola terdiam, menggigit bibir sambil mendengar penjelasan dari orang Best Bakery yang menjawab teleponnya. Ponsel miliknya tertempel di telinga.
"Oh, jadi nggak bisa ya, Mas?" desah Viola. "Yaudah kalau gitu, Mas, terima kasih. Maaf, saya sudah mengganggu waktunya."
Viola meletakkan ponselnya dengan raut kecewa di wajah. Ia tidak bisa mengikuti interview di toko roti karena kemarin sudah menolaknya. Panggilan interview dari restorannya Rasta datang bersamaan dengan panggilan interview dari toko roti ternama.
Sayang sekali, Viola memilih interview di restoran daripada di toko roti. Baru ia sesali kini pilihannya itu setelah tahu restoran tempatnya akan bekerja adalah milik Rasta.
"Kenapa, Vi? Kamu nggak diterima kerja ya di restoran itu?" Ibunya yang bernama Sinta, bertanya.
"Aku diterima kerja di sana kok, Ma, tapi ... Setelah dipikir-pikir kayaknya mending kerja di bakery deh daripada jadi waiters di restoran," jawab Viola.
Sinta mengernyit. "Kenapa pemikiran kamu mendadak berubah gini? kemarin kamu bilang menurut kamu lebih baik kerja di restoran daripada di bakery."
Viola mengulas senyum kecut. "Setelah interview di sana, kayaknya nggak nyaman deh, Ma."
Sinta duduk di hadapan putri semata wayangnya. "Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Baru juga interview, belum mulai kerja."
Viola memutar otak, bingung harus memberi penjelasan apa. Mana mungkin ia jujur jika ia baru saja bertemu dengan Rasya, bahkan Rasta akan menjadi bosnya.
"Kayaknya bosnya galak deh, Ma," cetus Viola.
Sinta terbahak. "Ya ampun, Viola ... Kamu kayak baru pertama kali terjun ke dunia kerja aja deh, pakai takut sama bos yang galak segala." Ia menghela napas. "Di mana-mana yang namanya bos emang gitu, Vi."
Viola tak mempunyai pilihan lain. Ia butuh pekerjaan untuk menyambung hidup, tetapi ia tak pernah berharap akan bersinggungan dengan Rasta lagi. Baginya, itu mimpi buruk.
Tatapan Rasta tadi, Viola sangat mengingatnya. Tatapan penuh kebencian yang menghujam jantung Viola.
Ia pergi ke kamar. Di mana ada Vita, buah hatinya, sedang tidur siang. Balita perempuan berusia empat tahun itu, wajahnya mirip sekali dengan sang ayah. Anak yang lahir tanpa pendampingan ayahnya, bahkan sudah terabaikan sejak ia berada di dalam kandungan. Anak yang ia besarkan sendirian.
Viola berbaring di sampingnya, memandangi wajah Vita yang terlelap damai. Dadanya naik turun beraturan.
"Rasta .... "
*
Ingatan Rasta berputar ke waktu silam. Lima tahun yang lalu ....
Flashback on.
Pada waktu itu, Rasta belum mendirikan Delicious Cafe And Resto. Ia masih bekerja sebagai anggota kru film yang mengharuskannya untuk bekerja di luar kota dan di bawah tekanan. Seringkali, ia meninggalkan Viola yang memang ia larang untuk ikut dengannya.
Rasta sedang ada project di Malang ketika ia menerima sebuah bukti pengkhianatan. Foto Viola dengan pria lain di atas tempat tidur, di mana ranjang itu adalah miliknya. Beraninya Viola membawa selingkuhannya masuk ke dalam rumahnya! Rasta meledak ketika ia pulang.
Kemurkaannya semakin menjadi tatkala mengetahui Viola sedang hamil. Viola pikir, test pack bergaris dua merah yang telah satu tahun dinanti-nantikan itu akan memberinya kejutan dan kebahagiaan? Ya, Rasta memang terkejut. Tetapi ia tak lagi bahagia mendengar kabar yang seharusnya membahagiakannya itu, karena ia tahu, bayi di dalam perut Viola, bukanlah benihnya.
"Bisa-bisanya kamu nggak percaya kalau anak ini anak kamu, Ta? Kamu nuduh aku selingkuh?" Menangis Viola kala itu. Pertama kalinya ia menghadapi kemarahan Rasta.
"Ini buktinya!" Rasta balas dengan bentakan. Tubuhnya bergetar hebat saking marahnya, layar ponsel dengan foto Viola tidur bersama lelaki lain, ia tunjukkan di bawah hidung Viola.
"Siapa lelaki ini? Sudah berapa lama kamu selingkuh sama dia? Sudah berapa lama kamu mengkhianati aku? Jadi begini ya kelakuan kamu kalau aku tinggal ke luar kota?"
Rasta lihat Viola menggeleng. Ia mengelak, "Aku nggak selingkuh, Ta. Demi Allah, aku nggak mungkin mengkhianati kamu."
Rasta tertawa hambar. Lucu, pikirnya. Ini benar-benar lucu, mana ada maling ngaku, ya kan? Mana ada seorang pengkhianat mengakui perbuatannya dengan mudah?
"Buktinya udah sangat jelas, dan kamu masih saja mengelak?" desis Rasta.
"Tapi emang itu kenyataannya, Ta. Aku aja nggak tau siapa cowok itu. Gimana aku bisa ada sama dia di tempat tidur, aku nggak tau, Ta. Please, kamu percaya sama aku."
Rasta tergelak, namun matanya ikut mengeluarkan cairan bening.
"Siapa yang kirim foto itu? Aku nggak pernah memasukkan orang lain ke rumah ini, apalagi seorang laki-laki!"
Rasta mendengkus kasar. Penjelasan Viola terdengar lucu di telinganya.
"Sekarang kamu bereskan semua barang-barang kamu, jangan sampai ada yang tertinggal, dan pergi dari rumah ini sekarang juga!" usir Rasta. Di luar, terdengar suara hujan deras disertai petir menggelegar.
"Kamu ngusir aku, Ta? Aku lagi hamil."
"Hamil? Anak siapa? Itu bukan anak aku pastinya, kan?"
"Ya Allah, Ta ... kenapa kamu jadi kayak gini sih? Kita bisa bahas masalah ini baik-baik—"
"Nggak perlu! Nggak ada yang perlu kita bahas lagi, semuanya udah jelas."
Keadaan lengang sejenak, yang terdengar hanya suara petir dan hujan. Keduanya saling menatap dengan sorot penuh luka. Rasta amat terluka karena sudah dikhianati, sementara Viola ... Entah.
"Pergi dari sini, Vi. Aku akan segera urus perceraian kita."
Beberapa bulir air mata berjatuhan membasahi kedua pipi Viola. "Ta, please," mohonnya. Ia berharap apa? Berharap rasta akan mempercayainya?
Rasta menggeleng. Ia tak mentolerir seorang pengkhianat. Walau Viola telah mengiba, walau Viola telah bertekuk lutut meminta kepercayaannya, meskipun Viola dibanjiri air mata, Rasta tetap mengusirnya, memilih sebuah perceraian, perpisahan.
Dan Viola pergi. Malam itu, berjalan sendirian di tengah derasnya hujan.
Flashback off.
Kepulan asap rokok menghembus keluar dari mulut dan hidung Rasta. Ia berada di club malam, tempat penuh bingar musik yang selalu menjadi pilihannya di kala sedang kalut.
pertemuannya dengan Viola tadi siang, berhasil membuka lukanya yang susah payah ia jahit sendiri.
"Brengsek!" umpatnya.
"Kenapa sih lo? Tampangnya kayak lagi dikejar-kejar sama rentenir aja," tanya Baim, salah seorang temannya yang menemaninya datang ke club malam ini.
"Ini lebih buruk daripada dikejar-kejar sama rentenir," balas Rasta, kemudian ia mengisi gelasnya dengan botol berisi alkohol. Menenggak isi gelas itu dengan satu tegukan. Ia lakukan kegiatan itu berulang-ulang, setiap tegukan mengingatkannya pada pengkhianatan Viola.
Baim mengernyit. "Kenapa sih lo?" Baim cukup dekat dengan Rasta. Seingatnya, terakhir Rasta kacau sampai datang ke klub dan minum-minum seperti ini adalah lima tahun yang lalu. Di saat ia bercerai dengan Viola.
"Viola ... Gue ketemu lagi sama dia," kata Rasta.
Baim mengangkat sebelah alisnya. "Viola lagi? Jadi lo minum-minum gini karena Viola lagi?"
Rasta diam. Entahlah, pertemuannya dengan Viola tadi siang, membuat tatanan hidupnya menjadi berantakan.
"Sebenarnya dulu apa sih yang buat lo cerai sama Viola? Lo gak pernah cerita sama gue, setiap gue tanya juga lo cuma diem. Gue pikir lo cinta banget sama dia."
Rasta mengangguk. "Gue emang cinta banget sama Viola. Saking cintanya liat dia berselingkuh, hidup gue jadi berantakan banget."
Baim terbelalak. "Viola selingkuh?" tanyanya, nyaris tidak percaya. Baim juga mengenal Viola, kedengarannya itu tidak mungkin.
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu