Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Angin di atap gedung apartemen Lisa adalah angin yang lelah, berembus pelan dari arah Sungai Han, menyusuri celah-celah gedung pencakar langit sebelum akhirnya mencapai tempat mereka, membawa serta hawa sejuk yang menepis sisa-sisa kepanikan dan ketakutan yang masih menggantung di ruangan bawah. Langit di atas mereka, biasanya hanya kanvas kosong berwarna oranye kotor akibat polusi cahaya, malam ini memberi sedikit keringanan. Awan-awan tipis tersibak, memperlihatkan beberapa titik cahaya berkedip—bintang-bintang yang sebenarnya, bukan lampu pesawat atau satelit. Mereka malu-malu, redup, tapi ada. Itu sudah cukup.
Lisa duduk di atas bangku kayu lipat tua yang selalu ia simpan di sudut atap. Dia menatap lautan lampu kota di bawah, pemandangan yang biasanya membuatnya merasa kecil, kini justru terasa seperti selimut yang menenangkan. Di dekat pagar pembatas besi yang dicat ulang tahun lalu, Sam berdiri. Siluet tubuhnya yang tinggi dan tegap diterpa cahaya bulan sabit yang tipis, membuatnya terlihat seperti patung yang dipahat dari kabut dan kenangan. Dia tidak melayang; kedua kakinya seolah menapak di beton, sebuah ilusi yang ia pertahankan dengan sengaja malam ini.
"Lisa."
Suara Sam memanggilnya, pelan, namun jernih menembus desau angin. Dia tidak menoleh. Matanya, yang memantulkan cahaya bintang yang jauh itu, masih terpaku pada langit.
"Aku punya sesuatu untuk dikatakan. Tentang nama 'Sam' itu."
Lisa menoleh, memandang profil Sam. Cahaya redup menerpa garis rahangnya yang tegas, membuatnya tampak lebih lelah daripada usia fisiknya yang terhenti di awal dua puluhan. "Kenapa tiba-tiba membahas nama itu sekarang?" tanyanya, mencoba menahan nada was-was. Setelah kejadian asap hitam dan kilas balik foto Jack Bahng, setiap perubahan suasana hati Sam terasa seperti pertanda.
Sam terkekeh getir, dan hampa. "Selama ini, di Hotel Emerald... ada yang lain. Tidak banyak. Tapi ada. Mereka yang seperti aku telah terjebak. Beberapa hanya sisa-sisa, seperti gema. Beberapa masih punya... kesadaran." Ia akhirnya menoleh, menatap Lisa. "Mereka yang memanggilku Sam. Awalnya hanya sebuah ejekan, karena aku selalu mondar-mandir, tidak bisa diam, seperti badak yang mengamuk di kandangnya."
Ia memalingkan wajah kembali ke langit, seolah malu mengakui hal berikutnya. "Tapi kemudian... itu menjadi sebutan sayang, kurasa. Karena aku keras kepala. Menolak untuk 'pergi', menerima takdirku yang sudah jelas: menjadi arwah penunggu yang bodoh. Aku terus mencari. Mencari apa? Aku bahkan tidak tahu. Hanya sebuah perasaan bahwa ada sesuatu yang belum selesai." Ia berhenti, menarik napas panjang yang tak berguna. "Tapi setiap kali mereka memanggilku 'Sam', atau setiap kali aku memanggil diriku sendiri begitu... ada sesuatu di sini." Ia menekan dadanya, tepat di tempat seharusnya jantung berdetak. "Yang terasa sakit. Seperti... aku sedang memakai topeng yang bukan milikku. Atau memakai baju yang terlalu kecil."
"Aku lelah, Lisa. Aku lelah dipanggil dengan nama itu. Aku ingin... sebuah nama yang sesungguhnya. Nama yang pernah diucapkan oleh seseorang yang mencintaiku. Mungkin diucapkan dengan lembut saat mengantarku tidur. Atau diteriakkan dengan panik saat aku berlari terlalu dekat ke jalan." Air mata, yang takkan pernah bisa ia keluarkan, seolah-olah membasahi suaranya. "Aku ingin tahu siapa aku. Siapa aku sebenarnya. Bukan hantu. Bukan 'Sam'. Tapi seseorang yang pernah punya wajah di foto keluarga, nama di buku rapor, dan... dan seseorang yang dirindukan."
Hati Lisa terasa diremas oleh tangan yang tak terlihat, diperas hingga nyaris tak bisa bernapas. Selama ini, dalam kesibukannya memecahkan kasus, dalam kekagumannya pada kemampuan Sam, dalam kekesalannya pada kenakalannya—ia telah melupakan kebenaran yang paling mendasar. Sam bukan alat. Bukan fenomena. Dia adalah korban. Seorang korban yang bahkan hak paling dasarnya—sebuah nama, sebuah identitas—telah dirampas bukan hanya oleh kematian, tapi juga oleh kelupaan. Ia melihat kerapuhan itu sekarang, terpampang jelas di wajah tampan yang dipenuhi oleh kesedihan yang berusia tiga puluh tiga tahun. Kerapuhan seorang anak laki-laki yang tersesat di dalam tubuh pria dewasa, terjebak dalam waktu yang tak bisa ia lewati.
"Aku mengerti."
Dua kata itu keluar dari mulut Lisa, lebih lembut dari yang ia rencanakan, namun dipenuhi oleh sebuah ketegasan baja yang baru. Ia berdiri. Kaki-kakinya sedikit kaku karena dingin dan duduk terlalu lama. Ia melangkah mendekati pagar, mendekati Sam, hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter.
"Dengarkan aku, Sam." Lisa menatapnya, tidak ke arah mata Sam yang sedang memandang langit, tapi langsung ke matanya saat Sam akhirnya menoleh. Lisa mengabaikan getaran dingin yang mulai merambat dari tubuh Sam, mengabaikan naluri logisnya yang berteriak bahwa ini gila. "Aku punya tumpukan berkas setinggi gunung di meja kerjaku. Hendry mungkin mengintai dari balik setiap pintu, menunggu aku membuat kesalahan. Dan kita punya pembunuh di sel yang mungkin masih punya sekutu di luar."
Dia berhenti, memastikan setiap kata berikutnya tertanam. "Tapi. Itu semua bukan alasan. Aku berjanji padamu."
Angin sepoi-sepoi membawa ucapannya, tapi tidak menghanyutkannya. "Aku akan membuka setiap arsip, setiap catatan lama, setiap laporan yang berdebu tentang anak-anak yang hilang atau meninggal di Seoul tahun 1987. Aku akan melacak Jack Bahng. Aku akan mencari tahu di mana dia sekarang, apa hubungannya denganmu, dan apa yang sebenarnya terjadi di Hotel Emerald pada malam itu. Aku tidak akan berhenti. Tidak sampai aku bisa berdiri di hadapanmu, dan memanggilmu dengan nama yang sebenarnya. Nama yang diberikan untukmu saat kau lahir. Bukan Sam yang kau pilih sendiri. Tapi namamu."
Sam terpana. Ia berdiri membeku, matanya membelalak memandangi Lisa seolah-olah wanita itu baru saja tidak hanya menjanjikan langit, tetapi juga bulan dan bintang-bintang yang sedang ia tatap. Cahaya biru pucat di sekeliling tubuhnya berdenyut pelan, kemudian stabil, memancarkan kehangatan yang samar. Perlahan, sebuah senyum tulus merekah di bibirnya hingga Lisa hampir lupa bahwa angin bisa melewati tubuh pria di hadapannya. Pendar kemerahan di rambutnya, di bawah cahaya bintang yang lemah, seolah menyala dengan kelembutannya sendiri.
"Terima kasih, Lisa..." Bisiknya. Hanya tiga kata. Tapi di dalamnya terkandung lautan rasa syukur, kepercayaan, dan sebuah pengharapan yang selama ini ia pendam dalam-dalam.
Dan tepat pada saat itulah, sesuatu yang aneh terjadi pada Lisa.
Di dalam dadanya, jantungnya yang biasanya berdetak teratur dan terkendali tiba-tiba berdebar kencang. Bukan debaran karena adrenalin di tengah pengejaran, atau ketakutan saat menghadapi pelaku. Tapi ini berbeda. Lebih cepat, lebih tidak beraturan, dan terasa... hangat. Sensasi itu menyebar dari dada ke perutnya, lalu ke ujung jari-jarinya yang tiba-tiba terasa dingin. Matanya tertambak pada wajah Sam—pada senyum yang masih tersungging di sana, pada mata yang memandangnya dengan penghormatan dan sesuatu yang lain, sesuatu yang dalam dan mengakui. Pada garis-garis wajahnya yang tampan dan sedih.
𝘚𝘪𝘢𝘭. Batin Lisa, saat pipinya tiba-tiba terasa panas membara.
𝘚𝘢𝘥𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩, 𝘓𝘪𝘴𝘢. 𝘋𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘳𝘸𝘢𝘩. 𝘈𝘳𝘸𝘢𝘩! 𝘋𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘵𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘮𝘶. 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘳𝘦𝘮𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘬𝘴𝘪𝘳? 𝘐𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘳𝘰𝘧𝘦𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴. 𝘐𝘯𝘪—
"Ada apa?" Suara Sam memotong spiral pikirannya. Nada jenaka yang familiar kembali muncul. "Wajahmu merah sekali. Seperti tomat yang kebanyakan sinar matahari."
"Diam!" Seru Lisa, terlalu cepat dan keras. Ia segera memalingkan wajahnya, menatap ke arah lampu kota yang tiba-tiba terasa terlalu terang. "Itu... itu karena angin malam ini terlalu dingin! Membuat pembuluh darah di wajahku... bereaksi!" Alasannya terdengar konyol dan putus asa, bahkan di telinganya sendiri.
Sam tidak menjawab. Tapi dari sudut matanya, Lisa melihat senyum di wajah Sam semakin lebar, matanya berbinar dengan cahaya nakal yang lama tak muncul. Namun, di balik kelucuannya, ada sebuah kelembutan baru, sebuah pengakuan akan sesuatu yang juga ia rasakan namun tak bisa ia beri nama.
Di bawah langit malam yang langka itu, di atap sebuah apartemen biasa di Seoul, sebuah janji baru telah terukir di suatu tempat yang lebih dalam antara dua jiwa. Janji itu mengubah segalanya. Misi Lisa bukan lagi sekadar menegakkan keadilan untuk orang asing atau membuktikan dirinya di kantor. Sekarang, ini adalah perjalanan mengembalikan sebuah nama, sebuah cerita, sebuah identitas yang hilang kepada seorang pria yang telah menjadi lebih dari sekadar partner rahasia.
Dan di tengah semua itu, di antara teka-teki masa lalu dan ancaman dari masa kini, ada benih lain yang tanpa izin mulai bertunas di retakan tembok logika Lisa. Sesuatu yang hangat, kacau, dan sama mustahilnya dengan keberadaan Sam sendiri. Sesuatu yang membuat jantung seorang detektif berdetak untuk seorang arwah, dan membuat senyum seorang arwah terasa seperti matahari di tengah malam yang dingin.
.
.
.
.
.
.
.
— Bersambung —