Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Gadis Itu Bukan Sembarangan
Lala bukannya tak paham jika cinta yang dulu pernah diberikan Didit dulu tapi sudah ditarik kembali oleh pemuda itu. Tapi semua memang salahnya karena menuruti permintaan mamanya demi kerja sama orang tuanya dengan orang tua Hendi lancar.
Mulanya Lala tak mau tapi mamanya terus membujuk. Anak yang mana yang rela jika orang tuanya jatuh bangkrut, kan jika orang tua bangkrut anak akan jadi imbasnya hidup susah.
Nah si Lala ini paling takut hidup susah, makanya selingkuh dari Didit dan beberapa kali kencan dengan Hendi yang ingin dijadikan memantu oleh mamanya, karena selain pewaris, Hendi juga termasuk lelaki dewasa. Selain kaya umurnya sudah dua puluh empat tahun, tampan pula tak kalah dari Didit.
Hanya yang tak diinginkan Lala dari Hendi gaya kencannya agak mesum. Raba-raba, dan beberapa kali mencuri cium bibir dan untuk tebar pesona beberapa kali memberikan barang mahal dan bermerk seperti tas dan sepatu.
Lala yang hobby dengan barang bermerk tentu silau dan tertarik jadi pacar Hendi, tapi sayangnya ketahuan oleh Didit membuat pemuda itu mundur.
Dan pada akhirnya Lala yang hampir saja diperkosa Hendi tahu lelaki modelan Hendi pacarannya memang sudah terlalu jauh. Urusan mesra harus berlanjut di tempat tidur.
"Dit kamu kok diam ajah, sih?" rajuk Lala mencoba untuk membuat Didit mau bersimpati pada dirinya yang kini mengalami musibah.
"Memangnya aku harus bagaimana, kan sudah baik sebagai teman mau mengantarkanmu," ujar Didit yang tak bisa lagi terbujuk rayu Lala yang sudah membuatnya hampir patah hati melihatnya berpelukan dengan orang lain.
"Kamu kayaknya nggak kasihan ya lihat aku sakit cidera kaki gini, ya ..." suara Lala sangat ingin mengundang rasa kasihan pemuda di sebelahnya yang tetap menunjukkan seakan mereka dulu tak pernah bersama dan tak pernah saling mencintai.
"Aku ini manusia biasa, Lala, melihat teman terluka tentu kasihan dong ..."
"Hanya teman gitu?" Rajuk Lala tak puas.
"Mau apa lagi, jadi pacar sudah, nah sekarang kita baik-baik saja jadi teman," tak mau tergoda lagi rupanya Didit yang kecewa dengan perselingkuhan Lala, apa pun alasannya yang namanya selingkuh dia tak suka. Sudah begitu perhatian pada Lala sewaktu menjadi gadisnya, tapi malah selingkuh, dan hal itu membuatnya yang betulan jatuh cinta untuk pertama kali merasa dunianya jungkir balik.
"Dit aku minta maaf sungguh aku masih perawan aku masih bisa menjaga diri walau Hendi lelaki mesum, aku maunya cuma sama kamu, Dit, aku minta maaf karena sempat menuruti keinginan mama ... Maafkan aku, Dit, setidaknya saat aku cidera gini kasih dong aku perhatian ..."
"Aku sudah memperhatikanmu sebagai teman, sudah menggendongmu untuk diobati, sekarang mengantarkanmu pulang ..."
"Tapi aku maunya jadi pacarmu lagi, Dit," rengek Lala sambil menyentuh tangan Didit yang berada di atas setir mobil.
"Lepaskan tanganmu, La, lihat dong aku lagi nyetir jangan diganggu ..." rupanya Didit sudah pasang perisai untuk tak tergoda mantannya ini lagi.
Lala menurut setidaknya jangan membuat Didit kesal padanya. Biar mengalah dulu. Dia menarik tangannya dari tangan Didit lalu menatap lurus ke depan.
"Aku tahu kamu sekarang nggak suka aku lagi padahal aku sudah minta maaf, aku rela mengejarmu lagi karena pada dasarnya aku memang sangat dan sangat mencintaimu, Dit,"
Didit diam saja pura-pura tak mendengar tapi fokus pada jalanan di depan.
"Dit ..."
"Didit menoleh sesaat lalu kembali fokus pada jalanan.
"Kamu besok mau berkuda lagi?" Ada bias cemas bahkan cemburu di mata Lala. Didit berkuda artinya bertemu lagi dengan gadis yang dipanggil Rayi, pikirnya. Di kampus bertemu, di lapangan berkuda bertemu lagi. Oh itu tak boleh terjadi, batinnya.
"Lho kenapa kamu tanya begitu ya terserah aku." jawaban Didit membuat panas hati Lala.
Maka tanpa pikir panjang dia luapkan kecurigaannya tentang hubungan mantannya itu dengan Rayi.
"Oh aku tahu kamu kan lagi deketin cewek yang sok perhatian padaku tadi itu kan?!"
Didit terkejut memandang Lala dari spion di atasnya, "Maksudmu?"
"Kangan tertipu kebaikan yang pura-pura deh, cewek tadi itu kan yang pura-pura mau bantu aku huh modus ajah ada kamu supaya dia bisa cari muka sama kamu. Aku tak suka cewek munafik kaya gitu penuh tipu-tipu untuk meraih perhatianmu!" Sengit Lala.
"Maksudmu Rayi?"
"Ya dialah siapa lagi yang pura-pura perhatian padaku padahal cuma modus supaya di depanmu itu terkesan sebagai gadis sok baik ..."
"Nah ini nih orang yang suka ngasih penilaian jelek tanpa koreksi dulu. Ya aku akui memang naksir dia ..."
Lala walau sudah menyangka jika Didit lagi pedekate tapi tetap saja terkejut dan tak suka oleh keterus terangan pemuda itu,
"Kok kamu tak bisa menjaga perasaanku duh, Dit.
Didit menoleh pada Lala, tapi cuek saja.
"Aku kan masih mencintaimu,"
Dasar Lala mau menang sendiri waktu dia selingkuh dulu tak mau mempertimbangkan bagaimana perasaan Didit. Nah sekarang Didit naksir gadis lain harus mempertimbangkan perasaannya.
"Tapi Rayi belum tahu kalau aku lagi ngejar dia,"
"Hem baguslah," gumam hati Lala penuh rencana, jangan sampai tuh cewek tahu perasaan Didit padanya, aku harus cepat bertindak, batinnya.
"Dan kebaikan Rayi tadi ingin berulang kali menolongmu bukan karena modus atau apa pun, itu semacam tanggung jawabnya padamu ..."
"Buat apa dia tanggung jawab padaku, emang aku anaknya ...!" Lala betul-betul menunjukkan ketidak sukaannya terhadap Rayi.
Nih cewek bener ya tak punya hati baik, "He Rayi itu akan memperlihatkan keperduliannya pada semua anggota club, karena dia itu pemilik Club Satya dimana kita sebagai anggota club menunggang kuda di area miliknya itu ..."
"Apa?!" Keterangan Didit itu cukup membuat Lala terpukul, ternyata gadis itu memiliki latar belakang bagus juga, pikirnya, padahal kelihatannya penampilannya biasa saja tak cetar seperti dirinya.
"Ya kaget kan, makanya jangan nilai orang semaunya, Rayi itu type gadis yang sederhana kalau kuperhatikan, kalem dan aku suka ..."
Lala yang sudah terkejut dengan kepemilikan Rayi semakin cemberut dengan pujian Didit yang berderet pada gadis itu.
"Tuh udah sampai, ntar aku panggilkan bibik atau sopir kamu biar bantu angkat kamu je dalam "
Tapi tangan Didit sudah ditarik oleh Lala yang membuat pemuda itu tak jadi keluar mobil.
"Masa kamu tega sih aku digendong sopir mama," Lala menatap Didit memelas.
"Ya sudah aku panggil bibik atau mama kamu," tak putus akal Didit.
Tapi dasar Lala banyak akal, maka tak perduli bakal menyakiti kakinya dia langsung bertindak sendiri.
"Ya udah deh kalau kamu tak mau nolongi aku ..." segera dia bergegas turun dari mobil dengan gaya orang sedang normal tidak sedang cidera pergelangan kakinya, "Oh ...!" Tentu saja jeritannya itu bukan pura-pura tapi memang perih dan nyilu beneran, bahkan lebih dari yang tadi dia rasakan, karena kakinya langsung dihentak ke tanah untuk menopang berat badannya.
"Lala ..." Didit langsung memutari depan mobilnya untuk menolong Lala yang terduduk di semen dekat mobil dengan meringis menahan sakit.
Mau demo cari perhatian eh Lala malah menyakiti bengkak di pergelangan kakinya lagi.
Nasib, rintih hatinya.
Tapi begitu Didit menggendongnya kearah rumahnya dia merasa sepadan sakit yang dideritanya.
"Hei Dit kenapa Lala kok digendong ..." tante Ana mamanya Lala tergopoh menyambut Didit yang menggendong anak tunggal anak kesayangannya. Jangan ditanya bagaimana hebohnya perempuan yang sudah bercerai lama dari suaminya itu khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan pada Lala.
"Lala terjatuh dari kuda, Tante," lalu Didit mendudukkan Lala di sofa di ruang tamu.
Lala yang memang merasakan sakit teramat sangat di pergelangan kakinya itu masih meringis.
"Sayang sakitnya dimana?" Tante Ana langsung meraba-raba badan anaknya.
"Pergelangan kaki kirinya terkilir Tante, tapi tadi sudah diurut dan diberi minyak akar-akaran, itu minyaknya juga dibawai jadi hanya tinggal polesi diarea yang bengkak saja," jelas Didit, "Saya pamit Tante,"
"Oh ya nanti biar Tante yang olesi,"
Didit keluar dari rumah.
"Ma ..."
"Ayo Mama papah ke kamarmu,"
"Didit naksir gadis lain pemilik rang pacuan kuda tempat Lala mendaftar jadi anggota, Ma," suara Lala memelas, membuat tante Ana yang merasa telah memisahkan putrinya dari Adit merasa bersalah.
suka banget alurnya