Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Licik
Ada banyak hal yang paling di benci Ruoling di dunia ini, tapi yang paling utamanya adalah dirinya selalu berada di situasi yang tidak tepat.
Benar saja Feixue dan kedua temannya yang tidak begitu di ingat Ruoling adalah sedikit dari anak yang kehilangan keluarganya karna racun yang katanya di lakukan oleh ibunya dan sampai detik ini, perempuan itu masih melakukan banyak cara agar ia di hukum seberat-beratnya.
Selama 'menyiksa'nya Feixue tidak pernah sendiri. Selalu mencari masalah dengannya dengan orang-orang yang berguna menjadi saksi saat mereka melaporkan kejahatannya, yang tentu saja tidak sepenuhnya salahnya, pada Permaisuri.
Sebenarnya Ruoling sudah muak menghadap Permaisuri karna masalah yang sama, tapi dirinya sadar membela diri tanpa bukti selalu berakhir sia-sia.
Akhirnya ia hanya bisa menunduk dalam dengan menahan kekesalan pada mereka yang memberikan keterangan palsu pada Permaisuri.
Ruoling rasanya ingin membela dirinya, tapi karna tidak ada saksi mata sepeti yang Feixue punya maka ia hanya bisa menunggu hukumannya.
Jika di ingat-ingat hukuman sebelumnya belum selesai di tambah lagi dengan hukuman baru yang di terima Ruoling dengan setengah hati.
Sementara ketiga orang yang melapor itu tidak mendapatkan hukuman apapun karna terbukti sebagai korban dan saksinya.
"Jika semua hukuman yang saya berikan tidak bisa mendisiplinkanmu maka harus bagaimana lagi saya mendidikmu menjadi lebih baik lagi?" Tanya Permaisuri setelah semua orang di dalam ruangan itu di minta untuk keluar.
"Tapi saya tidak bersalah," balas Ruoling tanpa berani menatap permaisuri sekalipun hanya ada mereka berdua di ruangan ini. "Mereka selalu mengganggu saya, lalu apakah saya harus diam saja saat di perlakukan seperti itu?"
"Tapi setidaknya jangan melakukan kekerasan fisik! Mereka mengganggumu karna ingin berteman, tapi kau tidak pernah menyambut baik niat mereka."
"Dari awal sampai saat ini tidak sekalipun mereka ingin berteman denganku."
"Jelas tadi mereka bertiga yang bicara sendiri padaku, apa kau tidak denger?"
Ruoling mengangguk sambil menghela nafas kasar menyadari bukan hanya Ruoyi yang tertipu, tapi Permaisuri, Putra mahkota bahkan Kaisar juga termakan oleh kepura-puraan Feixue dengan dalih yang sama.
"Mereka bohong, jika ingin berteman tidak mungkin sampai memaksa. Menurut saya kalau keinginan mereka memang itu maka cara mereka salah."
"Mereka terpaksa melakukan itu karna kau selalu menolak ajakan mereka."
Ruoling hendak membantah, tapi mengurungkannya. Percuma saja meyakinkan Permaisuri karna yang mengetahui niat jahat Feixue yang sebenarnya adalah dirinya sendiri.
Di depan semua orang Feixue berpura-pura baik, tapi di belakangnya mereka termasuk Ruoyi, itu mengeluarkan watak aslinya.
"Untuk kali ini aku akan melaporkan pada, Yang Mulia." Kata Permaisuri tiba-tiba saja membuat Ruoling mengangkat kepala. "Masalah yang sudah kau buat sudah terlalu banyak, aku harus membicarakan jalan keluar dengannya."
"Tapi saya tidak–"
"Ini bukan masalah yang bisa kau tawar!" Sela Permaisuri tajam membuat Ruoling diam tidak berkutik di hadapan wanita paling penting di kerajaan. "Saya pikir dengan mempertahankanmu setelah apa yang ibumu lakukan di istana bisa membuatmu tumbuh seperti anak Kaisar pada umumnya, tapi ternyata kau malah mengecewakanku. Sekarang kau pergilah ke kediamanmu, lakukan apa yang kau mau karna saya tidak akan menghukummu lagi."
Sebenarnya Ruoling ingin tetap di sini, memberikan penjelasan pada Permaisuri, tapi ia sadar tindakannya itu akan membuat wanita itu marah.
Ruoling keluar dari ruangan mengabaikan pandangan ketidak sukaan yang di lemparkan padanya selama melangkah menuju kediamannya.
Berkali-kali ia menghela nafas kasar setiap mengingat pandangan Permaisuri yang selama ini sudah baik padanya. Ruoling tidak menginginkan kehidupan seperti ini, ia tidak ingin ringan tangan atau bermulut tajam.
Tapi kehidupannya setelah kepergian ibu yang memaksanya untuk menjadi seenaknya karna jika tidak orang-orang itu semakin memperlakukan dengan seenaknya. Langkah demi langkah di lakukan Ruoling dengan tatapan angkuh, seolah-olah tidak gentar setelah lagi-lagi di sidang oleh Permaisuri.
Namun, tepat pintu kediamannya di tutup di saat itulah, Ruoling melepaskan keangkuhannya.